Kamis, 09 Februari 2012

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (III)


Klenteng Fung San Sie terletak di kawasan pertokoan Jompo yang padat. Anda harus blusukan masuk ke sebuah gang kecil dan menempuh jalan yang lumayan berliku untuk sampai kesana. Tak banyak orang yang tahu bahwa Klenteng ini merupakan yang tertua di Jember. Dibangun setahun sebelum Indonesia merdeka oleh ekspatriat asli China daratan yang mengadu nasib di Jember.


Setiap perayaan Imlek, sejak pukul empat pagi para pengunjung klenteng sudah mengantri untuk melakukan sembahyang. Bagi umat yang percaya, kelenteng tertua ini dapat membawa berkah tersendiri. “Padahal nyelekit ke dalam gang. Tapi sejak subuh sudah banyak pengunjung yang sembahyang,” kata Sugiono Putra, pengurus klenteng Fung San Sie ini.

            A Kiem, begitu Sugiono Putra biasa disapa, merupakan generasi ketiga pengurus klenteng ini. Salah satu pendiri klenteng Fung San Sie adalah nenek langsung dari A Kiem. Dan memang sejak awal didirikan keluarga A Kiem lah yang mengurusi klenteng tersebut. “Ngurusi ini (klenteng) bukan seperti dagang. Tidak ada keuntungan materi. Ini perkara ikhlas dan berbagi,” katanya.





           Meski berdiri lebih dari 61 tahun tapi klenteng ini masih terlihat terawat. Bahkan masih ada salah satu bilik ruangan yang masih berupa bangunan asli dari tahun 46. Cerobong asap yang berdiri di salah satu sudut klenteng juga masih tegak beridiri. Beberapa patung dan lukisan juga masih terawat meski sudah berumur lebih dari beberapa dekade.


           Pada masa jayanya klenteng ini memiliki halaman yang luas. Dibangun di tepi sungai Bedadung yang mengalir jernih. A Kiem mengingat masa kecilnya dahulu pada tahun 1950 sebelum pergolakan PKI, sungai Bedadung dipenuhi ikan mujair. Aliran sungai yang tenang dan rindang pepohonan membuat klenteng ini sangat damai. Seperti sebuah sajak dari penyair China daratan Li Bai. "I do not dare to speak in a loud voice, I fear to disturb the people in heaven."


Sayang seiring dengan kemajuan kota Jember Klenteng ini semakin tersingkir. A Kiem bukan seorang pedagang sehingga sedikit demi sedikit tanah kosong di kanan kirinya dibangun rumah. Kondisi klenteng Fung San Sie meski tak buruk tapi terjepit diantara pembangunan rumah dan kos-kosan yang semakin sesak. Selain itu sungai Bedadung kini sudah tak lagi bersih. Bau menyengat limbah pasar membuat sungai ini tak mungkin lagi bisa di buat mandi. "Padahal baru seperti kemarin saya mandi di sana dan mengail mujair."


A Kiem mewarisi perawatan klenteng ini sejak tahun 70an dari sang Ibu. Sebagai generasi ketiga ia telah melakukan pemugaran sedikit demi sedikit. “Dulu lantainya dari tanah, lalu diganti tehel dan ada rejeki ya di ganti keramik,” katanya. Kondisi Klenteng Fung San Sie bisa dikatakan lumayan megah. Meski harus  di desak rumah rumah petak kawasan pertokoan Jompo.
         
           Pada perayaan Imlek 2563 kemarin ia tetap berusaha menjaga dan membantu persiapan hari raya. Meski tubuhnya terserang sakit stroke dan harus duduk sepanjang hari di kursi. Namun ia tetap ramah menyapa ratusan tamu yang hadir sejak pagi. “Biasanya ramai pas Imlek dan ulang tahun Dewi Kwan Im. Di sini banyak juga yang mencari berkah keselamatan dan kesehatan,” lanjut A Kiem.
            
            Walau disebut klenteng, namun Fung San Sie merupakan rumah ibadat bagi umat Tridharma. Artinya di rumah ibadat ini terdapat sesembahan untuk umat Kong Hu Cu, Budha dan Hindu. Pada 1968 klenteng ini mendapatkan sertifikat dari direktorat urusan agama Hindu Bali dan Budha. “Intinya bagaimana menyikapi keragaman. Pancasila sudah menjawab itu. Bahwa kita harus toleran dengan perbedaan,” katanya.
            
            Bagi mereka yang hadir dan sembahyang di klenteng ini para pengurus telah menyediakan makanan dan minuman. Mereka ingin berbagi rejeki pada hari raya Imlek ini dengan sesama. Bahkan tak cukup sampai disitu bagi mereka para pengunjung yang hadir diberikan angpau berupa beras dan buah tangan kue keranjang. “Kue keranjang itu kan liat. Sebagai simbol rejeki yang tak habis-habis. Sedangkan angpau beras itu agar pangan kita selama setaun bisa dicukupi,” kata seorang pengunjung yang hadir.
            




            Tak ada larangan bagi umat lain untuk memasuki klenteng ini. Walau dikatakan rumah ibadat bagi umat tridharma. Tapi A Kiem mempersilahkan siapapun yang ingin masuk, tanpa memandang suku agama dan ras. Ini merupakan bentuk penghormatan para pengurus terhadap Gus Dur yang dianggap sangat pluralis. “Saya kira tak ada orang tionghoa yang tak kenal dan ingat jasa Gus Dur. Bahkan putrinya saya dengar sangat menghargai perbedaan.” 
            
           Para pengunjung klenteng Fung San Sie juga tak berasal dari Jember saja. Bahkan ada mereka yang datang dari Sulawesi, Jakarta, Medan dan Surabaya. Beberapa waktu lalu bahkan ada orang dari Amerika yang datang ke klenteng ini untuk melihat-lihat. “Saya gak tat mereka tau darimana klenteng ini. Tapi saya sih senang saja artinya Fung San Sie dikenal sampai ke luar.”

Pada tahun Naga Air ini para pengurus Klenteng Fung San Sie berharap agar kedamaian tetap terjaga di Indonesia. Selain itu para pengurus juga berharap keberagaman dan perbedaan yang ada di Jember bisa tetap ada. Jember bisa dikatakan satu-satunya daerah yang mampu menjaga perbedaan tanpa terjadi kekerasan. “Semoga bangsa Indonesia bisa lebih aman. Lebih rukun dan sejahtera.” Sementara langit bergemuruh seperti naga yang sedang mengamuk.

5 komentar:

  1. Alhamdulillah, nulisnya kue kerangjang, bukan kue ranjang lagi :D
    Nice post, Dhan! Dulu aku pikir Jember kota ngga punya kelenteng...

    BalasHapus
  2. ada banyak sebenarnya pyut..
    tapi emang bagusan kue ranjang. kesannya enak dibuat ngiler.

    BalasHapus
  3. Mantap tulisannya Mas, Baru tw juga ternyata ada klenteng ya di daerah Jompo,... yang saya tau sih klenteng cuman didaerah rambipuji,...

    BalasHapus
  4. nice post :)
    jadi pingin liat ke sana deh, tapi pasnya di sebelah mana yaah

    BalasHapus
  5. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus