Jumat, 09 Agustus 2013

Idul Fitri

Selamat hari raya Idul Fitri, saya minta maaf atas segala kata-kata saya yang memang pretensius dan snobs. Mungkin yang perlu kita ingat sebulan terakhir, terlepas dari sahih atau tidaknya ramadhan sebagai proses laundry dosa, kita belajar untuk menyadari bahwa kita bisa salah dan tak sempurna. Sampai kemudian datang 1 Syawal dan kita memakai wajah lain untuk beranjang sana bersama sanak famili yang setahun lalu entah kita lupakan keberadaannya

Kemarin saat lebaran, saya memutuskan untuk menghapus empat SMS terakhir almarhum kakak yang disimpan sejak dua tahun terakhir. Barangkali ini waktu yang tepat untuk melanjutkan hidup dan sejenak menempatkan masa lalu di belakang. Saya paham yang direbut kematian bukan hanya hidup tapi juga ingatan. Pelan-pelan waktu membuat kita melupakan hal-hal penting yang kita simpan dengan hati-hati. Tapi waktu juga bisa membuat kita sadar, bahwa hidup di masa lalu bukan hal yang baik. Ia hanya membuat kita jengah dan linglung dengan kebergegasan masa depan.

Lebaran ini juga membuat saya sadar bahwa saya sudah waktunya saya bertanggung jawab pada hidup. Meminjam istilah seseorang asing di Internet, bukan lagi waktunya mengutip buku tapi melakukan sesuatu yang nyata. Bukan lagi waktunya menunjuk muka dan menyalahkan orang lain, tapi mengambil alih kemudi dan melakukan perubahan nyata. Meski saya juga bingung perubahan nyata itu apa? Melakukan revolusi? Melakukan intervensi sosial? Melakukan gerakan di sosial maya? Kadang kata-kata besar memang lahir dari mulut orang yang kerjanya hanya bisa duduk dan pragmatis memanfaatkan reputasi orang lain.

Tapi itu tak penting. Bagi saya bagaimana bisa membuat hidup ibu dan keluarga di rumah lebih baik itu jadi prioritas. Saya sempat berpikir untuk mendonasikan semua buku saya kepada orang lain. Toh di rumah juga tak ada yang membaca. Sebagian besar koleksi adalah buku sastra, yang kata orang lagi, hanya membuat kita berpikir dan ngawang-ngawang. Meski suka sebal dan protes 'apa salahnya ngawang-ngawang?' toh saya memaklumi. Barangkali orang yang benci hal yang ngawang-ngawang itu adalah orang apatis yang mimpinya dilumat harga susu anak dan realitas beban kerja dari atasan. Sehingga ketika melihat orang lain berkata jujur ia merasa punya kewajiban untuk berkata keji.

Lebaran artinya bertemu dengan kawan-kawan lama. Di SMA saya dekat dengan beberapa orang yang cukup gila mau melakukan hal bodoh bersama. Tapi kini kegilaan itu barangkali sudah jadi relik purba. Ketika kami berjumpa terlalu banyak basa-basi yang tak perlu dipajang. Tapi tentu itu juga tak penting. Kebersamaan dan kebersamaan ketika mengingat masa sekolah, bukan melankolia, adalah penawar segala yang menyebalkan. Bukan hanya sekedar vakansi masa lalu tapi lebih pada sebuah penghargaan proses. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah dan jadi lebih baik.

Idul fitri adalah hari lain yang kita rayakan sebagai sebuah kemenangan. Kemenangan yang mungkin tak jelas alasannya apa. Juga sebagai alasan untuk pulang juga memperbaiki sesuatu yang rusak. Menyambung sesuatu yang putus. Mengikat kembali hal yang lepas. Idul fitri memang seperti maknanya menjadi baru juga menjadi bebas. Namun tak semua hal yang rusak perlu diperbaiki. Beberapa harus dibuang jauh dan dikutuk keberadaanya. Seperti juga hari-hari yang lain, idul fitri hanya sekedar label di kalender.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar