Senin, 19 Agustus 2013

Islam yang memuliakan Perempuan.

Sebenarnya ada yang lebih baik dilakukan daripada sekedar merayakan kebodohan. Salah satunya adalah tidak membiarkan kedunguan seorang misoginis yang merendahkan perempuan. Tapi tentu saja kita terbiasa untuk kemudian mengamati dan cenderung comel dengan negativitas. Alih-alih menjawab dengan argumentasi dan kritik yang berdasar, banyak yang lebih suka mengejek. Itu adalah satu hal yang membuat kita lemah, dalam konteks ini Islam, seringkali menjadi korban olok-olok sebagai agama yang barbar.

Akhir-akhir ini ramai perbincangan tentang orang yang melabeli dirinya ustadz namun merendahkan keberadaan perempuan. Katanya perempuan itu lebih baik begini, harus begitu dan tidak boleh begini. Perempuan yang ideal adalah yang tunduk patuh pada suami lantas diam di rumah dan merawat anak. Perempuan yang benar dan suci harus menggunakan penutup karena yang tidak akan masuk neraka. Saya tidak keberatan ia berkata demikian. Dalam islam perbedaan tafsir dan mazhab sudah biasa, namun merendahkan perempuan, apalagi ibu dengan legitimasi agama, bagi saya adalah kebiadaban.

Perempuan dalam islam mempunyai andil dan penghormatan yang besar. Tentu saja dalam kazanah keilmuan orientalis, agama ini cenderung patriarkhis dan merendahkan posisi perempuan hingga ke ranah yang paling personal. Poligami, pembatasan akses aktualisasi diri dan ayat juga hadits misoginis sering menjadi dalil bahwa islam cenderung tidak ramah pada perempuan. Apakah itu salah? Tidak, hal pertama yang perlu diakui adalah mengakui bahwa pada beberapa derajat, tanpa elaborasi lebih jauh, islam terkesan demikian.

Sejarah juga aparatus agama dalam islam kerap membuat mitos ini hampir menjadi sebuah kepastian yang nyata. Tak terbilang perempuan yang kemudian menjadi korban domestifikasi dan berakhir menjadi sekedar konco wingking pemuas birahi belaka. Padahal dalam sahih hadits juga literatur-literatur islam banyak bukti dan tafsir yang mengkritik praktik semacam ini. Salah satu yang masyur adalah ayat dari QS. Al-Ahzaab : 33 yang mengatakan: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.

Apakah ayat tersebut salah? Tentu saja tidak, tetapi seperti yang kita ketahui. Menafsirkan sebuah ayat juga hadits memerlukan ilmu dan pemahaman yang luas tentang konteks peristiwa yang melingkupinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy, berkata: "Firman Allah tentang hendaknya kamu (perempuan) tetap di rumahmu, sebenarnya ditujukan kepada istri-istri Nabi." Pendapat ini didasari oleh 3 ayat sebelumnya yang menekankan kepada peran dan tugas dari para istri-istri nabi, sehingga ia seharusnya ditempatkan kepada masa dimana ia diturunkan.

Yusuf Qardhawi pada pengantarnya untuk kitab Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah karangan Abdul Halim Abu Syuqqah, ada sabda Nabi : 'Jihad yang paling baik dan paling indah bagi kalian adalah menunaikan haji' namun bunda Aisyah harus menahan diri karena terhalang ayat tadi. Lantas Menurut ulama yang juga salah satu tokoh IM Mesir ini, Umar selaku kalifah saat itu bersikap tawaqquf (berdiam diri) sehingga menggantungkan apakah boleh istri-istri nabi melaksanakan ibadah haji. Namun, setelah Aisyah memberikan argumentasi tentang pentingnya beribadah, seperti juga pergi ke masjied, akhirnya Umar mengizinkan mereka (istri-istri Nabi saw) melaksanakan haji pada akhir masa pemerintahannya.

Jadi ketika ada seseorang yang menggunakan ayat ini sebagai dalih untuk merumahkan perempuan, maka isi kepala dan ijasahnya sebagai mubaligh perlu diperiksa. Selain menyesatkan, ia juga tak memberikan pandangan yang jelas perihal bagaimana sebuah ayat mesti ditempatkan. Orang-orang berpengetahuan seadanya memang kerap kali memotong sebuah nukilan ayat tanpa ada penjelasan perihal azbabun nuzul atas turunnya ayat tersebut. Terlebih lagi banyak umat muslim yang terlalu malas dan dogmatis untuk mencari tahu dan membandingkan pengetahuan yang mereka terima.

Lantas adapula mubaligh celaka yang mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan, jati diri mereka adalah sebagai ibu. Sebagai ibu perempuan selayaknya hanya tinggal di rumah dan tidak bekerja. Karena mengurus suami dan anak adalah keutamaan seorang perempuan. Hal yang demikian selain dungu juga terdapat sesat logika yang parah. Pertama pernyataan di atas mengesankan bahwa perempuan harus di rumah dan menjadi subordinan terhadap lelaki. Kedua mengesankan bahwa perempuan yang baik tidak bekerja dan hanya diam menanti nafkah suami.

Mari kita perjelas bahwa dalam surat yang saya sebutkan sebelumnya Allah telah jelas menurunkan, bahwa mereka (para istri nabi) yang diberikan kewajiban untuk tinggal di rumah dan menjaga diri. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian ahlul baiyt. Namun yang demikian itu tidak membuat peran perempuan menjadi kerdil, karena baik lelaki atau perempuan mempunyai tanggung jawab dan hak yang sama. Seperti yang tertuang dalam banyak surat dimana beberapa di antaranya terdapat dalam an-Nahl ayat 97, an-Nuur ayat 2 dan al-Ma'idah ayat 38.

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa Aisyah pernah ditanya: "Apa yang dilakukan Nabi saw. di rumahnya?" Aisyah menjawab: "Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya." Apabila Nabi yang mulia saja hendak berbagi tanggung jawab dan egaliter. Apa hak umatnya untuk membuat klaim semberono dan ngaco? Apakah kita kan menelan mentah klaim misoginis yang merendahkan perempuan hanya karena seseorang itu menulis buku dan bisa mengutip satu dua ayat tanpa penjelasan konteks sejarah yang jelas?

Lalu pada riwayat yang lain Abu Burdah mengaku bahwa pernah mendengar dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: "Barangsiapa yang mempunyai budak perempuan, lalu dia mengajarnya dengan baik dan mendidiknya dengan baik kemudian memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua ganjaran ." Di sini kita bisa meneladani bahwa tak hanya menganjurkan memerdekakan, Nabi Muhammad juga meminta agar perempuan mendapatkan pendidikan. Apabila Nabi menafikan hak dan keberadaan perempuan, maka hadits semacam ini tidak akan pernah ada.

Apakah sampai disitu? Tidak. Dalam hadits lain terungkap pula bahwa Ummu Athiyyah ikut berperang sebanyak tujuh kali bersama Rasulullah dan enam kali diantaranya ditemani suaminya. Meski ia bertugas membuat makanan untuk mereka, mengobati yang terluka, dan merawat yang sakit. Hal ini membuktikan bahwa peran dan tanggung jawab perempuan tidak melulu hanya beredar di dapur, ranjang dan merawat anak. Nabi membiarkan perempuan ikut membantu di medan perang!

Apakah perempuan harus diam dan menanti nafkah dari suami? Tentu saja tidak dalam satu riwayat dikatakan bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Nabi "Siapa di antara kami yang paling cepat menyusulmu?" Beliau menjawab "Orang yang paling panjang tangannya di antara kalian". Panjang tangan di sini bukanlah maling seperti yang kita ketahui. Namun orang yang paling banyak bersedekah. Zainab binti Jahsy adalah orang yang gemar bersedekah dengan uang yang ia terima dari bekerja.

Ah yang benar? Istri nabi bekerja? Bukannya perempuan dilarang bekerja? Tapi demikian adanya. Zainab binti Jahsy adalah seorang penyamak kulit dan ahli tenun yang menghidupi banyak anak yatim dan bersedekah. Lantas apabila Nabi Muhammad yang mulia saja mengijinkan istrinya untuk bekerja, menyamak kulit bukan pekerjaan mudah, dan bersedekah. Apa hak seseorang untuk merekomendasikan perempuan tinggal dan menjadi hamba di rumahnya sendiri? Sungguh celaka dan lemah akal orang yang demikian itu.

Maka dari contoh yang sedikit ini hendaknya menjadi sebuah pembelajaran bahwa Islam tidak merendahkan perempuan. Islam juga tidak semudah mengatakan sudah berpisah saja hanya karena kalian berbeda mazhab perihal sosok ideal suami atau istri. Islam juga bukan sekedar kultwit tapi juga perlu pemahaman yang jelas tentang konteks sejarah, acuan literasi dan perdebatan yang menyertainya. Benar islam tidak rumit tapi, bagi saya, menyederhanakan tafsir hanya untuk dijual murah merupakan kehinaan yang keterlaluan. 

Semoga tulisan singkat tendensius ini bisa memberikan wacana yang lebih luas. Kebenaran milik Allah dan segala yang salah milik saya yang dhaif ini.

2 komentar:

  1. kamu tahu dhan,

    menjadi perempuan itu menyenangkan.. dan sungguh kamu ngga perlu khawatir.. kami, perempuan, sudah paham kok how and who we are.. :D

    kami juga tahu, kalo ustadz yang kamu omongkan itu menjengkelkan sekali.. iya..aku pun geregetan luar biasa..dan berharap bia membejeg-bejeg dia.. haha..

    tapi..terus manfaatnya apa..?

    kamu tahu dhan, justru mereka yang merasa pintarlah yang mempermasalahkan keperempuanannya yang sebenarnya tidak bermasalah.. coba mereka yang hidup tenang di pelosok? mereka mempermasalahkan mencari kayu di hutan? mereka mempermasalahkan jika mereka harus bergantian ke sawah dengan suaminya?

    menjadi perempuan itu hanya masalah menempatkan diri.. sebagaimana laki-laki menempatkan dirinya untuk bertanggung jawab atas keseluruhan keluarganya..

    apakah perempuan akan memilih tunduk kepada suami, memposisikan diri sejajar, atau bahkan lebih.. apapun, itu pilihan mereka sebagai manusia.. :) dan aku menihilkan agama atau adat di sini..

    percayalah dhan, perempuan tahu whats fits best on them.. mereka juga ngga akan semata-mata mendengar ustadz yang mentolo ta labur lombok mulutnya itu.. haha...

    dont angry too much.. dont worry too much..

    to make it simple : berapa perempuan yang mengiyakan twit si ustadz itu? berapa persen dari total perempuan di indonesia? dunia? :) buat perempuan, omongan ustadz itu tentang perempuan hanya semacam upil.. didengar sekilas kemudian dibuang.. :) he knows nothing bout being a woman.. :)

    meladeninya hanya akan membuatnya merasa semakin benar..

    thanks anyway for making any comparation.. :)

    #aku kok malih koyok tutur2 ngene :|

    BalasHapus
  2. Lagi2 tulisan yg km bikin sambil jungkir balik membawa kontroversinyaa hahahahahaha

    BalasHapus