Sabtu, 31 Agustus 2013

Mazel Tov

Beberapa orang mengatakan manusia terlalu dipusingkan oleh remeh temeh. Soal bagaimana mereka terlalu ribut soal perasaan. Tentu saja ada hal yang kita pikir menjadi sumber kebahagiaan malah menjadi rupa lain penderitaan. Juga hal-hal yang kita pikir menjadi sebuah kebenaran, ternyata hanya sebuah bopeng dengan gincu yang tebal. Tapi cinta, seperti juga ukuran Top yang tiap hari mengecil, barangkali adalah kerumitan yang lain.

"Kamu itu seperti isi busway di senin pagi pukul 7. Sumpek dan menyebalkan," kata si perempuan merajuk.

"Kamu seperti Seperti Tuhan dalam kisah Tolstoy, kamu tahu tapi memilih untuk menunggu." kata si lelaki.

Hidup seringkali tidak serumit membaca atau menerjemahkan karya Proust dalam bahasa Swahili. Perempuan murung itu diam. Ia yang memiliki mata lebih muram dari malam memilih tidak lagi bicara. Si lelaki itu tahu mengapa. Karena ia alasan mengapa hidup si perempuan dikebiri harapan-harapan. Barangkali memang benar, nyeri paling hebat bukanlah luka badan, tapi luka yang lahir dari penantian.

"Kamu baca dongeng lagi dong. Aku suka caramu membaca. Terserah dongeng siapa," kata si perempuan. 

Si perempuan hanya pekerja kantoran biasa. Ah frasa pekerja kantoran biasa itu menyebalkan. Seolah-olah ada strata pekerja kantoran luar biasa dan pekerja kantoran tidak biasa. Di kota yang memelihara mayat hidup ini semua pekerja kantoran adalah sama. Mereka adalah zombie yang bangun pagi, berdesakan di kendaraan umum, mengutuk macet, terlambat kerja untuk besok mengulangi hal yang sama. Di kota ini fungsi harapan hanyalah untuk diinjak lantas dilumat tanpa sisa.

"Haruskah kita bekerja hari ini? Aku malas sekali. Aku ingin kamu disini bercanda soal karakter-karakter di Kota Bebek sepanjang hari," kata si perempuan.

"Sejak kapan kamu melankolis?" kata si lelaki.

"Sejak kita bertemu. Sejak kamu bilang kamu sayang aku dan kamu gak peduli aku sayang kau atau tidak," lanjut si perempuan.

Si lelaki hanya diam. Ia masih terus berkutat di depan komputer. Membaca data laporan pencemaran limbah tambang dan korelasinya pada kerusakan hutan di Kalimantan. Dia bukan aktivis lingkungan, hanya seorang konsultan analisis resiko yang disewa perusahaan tambang besar untuk membela diri. "Ini makin ngaco aja metode estraksi batu baranya," si lelaki tak peduli.

Ia malah bingung mencari gelas kopi yang sedari tadi hilang tertutup kertas-kertas laporan dari daerah.

"Hei kamu dengerin aku gak sih?" kata si perempuan merajuk.

Si lelaki tetap tak peduli. Ia hanya butuh si perempuan untuk melepaskah kebosanan dan penat kepala, sementara pekerjaan ini maha penting. Ia hendak pergi ke Vienna untuk konvensi analis geologi dunia. "Hah? Apa?" kata si lelaki itu datar. Ia tak punya ruang untuk hal-hal sentimentil. Barangkali karena kepalanya yang hanya berisi batu dan isi bumi itu tak bisa mencerna puisi. Ia hanya tahu sebab akibat dan keberadaan rumus-rumus fisika.

"Kamu itu anak geologi atau fisika sih sebenarnya?" kata si perempuan.

"Aku anak jadah google. Aku cuma belajar sendiri cari tahu sendiri, asal ngomong dan orang percaya," kata si lelaki menjawab sekenanya. Ia benar. Dengan internet, kemauan belajar dan sedikit usaha untuk banyak membaca. Kau bisa tahu banyak hal. "Tapi paham tentang sesuatu dan tahu tentang sesuatu itu berbeda. Pemahaman didapat setelah proses kontenplasi. Sedangkan pengetahuan bisa didapat lewat bacaan atau pengalaman. Kamu tahu?," lanjut si lelaki.

"Tahu apa?" si perempuan masih di situ. Di tempat yang sama dimana ia duduk sedari tadi. Lingkar gelap maya karena kurang tidur tak membuat ia menjadi kurang menarik. "Hei. Kalau bicara jangan setengah-setengah. Tahu apa?"

"Ilmu tukang." katanya datar tanpa menoleh. "Setiap tukang lahir dari kuli. Mereka hanya bisa meniru, bikin kesalahan, belajar, bikin kesalahan, belajar. Begitu berulang-ulang sampai akhirnya menjadi mahir. Menjadi virtuoso."

Hening. Hanya suara keyboard yang ditekan dan dengung suara laptop yang kepayahan setelah semalaman tak berhenti bekerja. Barangkali dalam jeda itu mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menyoal harga pangan yang makin mahal, petik lagu Eyes Set To Kill, rasa kue cucur atau sekedar racauan tentang masa lalu yang membosankan. "Kita sepertinya harus berpisah," kata si perempuan tiba-tiba.

"Aku tidak pernah memintamu untuk tinggal," kali ini si lelaki cepat menjawab. Ia lantas membalik badan dan tersenyum. "Kita tidak pernah menjadi apa-apa. Kita bukan siapa-siapa dan seharusnya juga tidak perlu ada apa-apa," katanya seraya menggenggam tangan si perempuan.

Si lelaki menunggu perbincangan ini sejak lama. Bukan karena ia membenci perempuan itu. Ia, lebih dari siapapun di belahan tengah bumi, mencintai perempuan itu dengan tulus. Barangkali lebih tulus dari ibu si perempuan itu sendiri. Lebih dari dirinya sendiri. "Ada hal yang baiknya tidak dimulai atau segera diakhiri sebelum ia kemudian berkembang terlalu jauh," kata si lelaki datar. Tanpa emosi.

"Cepet banget ngejawabnya. Gak suka aku di sini?" Si perempuan merajuk. Ia tak tahu si lelaki hampir saja menyerah dan memeluknya. Ia dengan wajah merajuk yang membikin leleh dunia. "Kok gak ada perjuangannya sama sekali sih? Kita mau pisah loh. Mungkin gak akan ketemu lagi," katanya beruntun. Cepat dan tanpa jeda.

"Lho kita memang tidak pernah memulai apapun kan? Hanya sekedar rekan flâneur menyusuri biadabnya kota ini. Tidak pernah lebih, mungkin kurang dari itu." si lelaki mulai melepaskan genggaman tangannya.

Kini si perempuan gugup. Wajahnya yang tadi serupa batu mulai runtuh dan tangis itu hanya perkara menunggu. "Tapi sebentar, kenapa harus perempuan yang menangis dalam perpisahan?" Pikirnya.
Mengapa tidak si lelaki? Aku bukan korban dan ia bukan agresor. Kami setara. Aku tak ingin menangis. Aku tak mau menangis. Aku tak bisa menangis." Pikiran-pikiran si perempuan menuliskan ceritanya sendiri.

"Oh ya udah sih kalo gitu," kata si perempuan. Mengemasi segala benda yang ia bawa. Sebuah buku berjudul Paradise Lost, I pod dan syal rajut yang dikerjakan dengan buruk.

"Syalnya mau dibawa kemana? Katanya buat aku," goda si lelaki.

Senja turun dan ruangan kamar temaram. Cukup untuk membuat mata minus laki-laki itu tak menyadari bahwa si perempuan hangus dibakar malu dan kemarahan. "Hih. Ni ambil," katanya seraya berjalan keluar kamar dan tak menoleh ke belakang.

Si lelaki diam di tempat. Ia tak berniat mengejar apalagi memperbaiki apa yang mungkin bisa mereka selamatkan. "Kau narator tak usah ikut campur. Ini urusan kami para tokoh dalam tulisanmu. Yang tidak jatuh cinta tak boleh ambil bagian," kata si lelaki mengambil alih kerja penulis blog ini.

Sementara di luar si perempuan gamang. Ia masih duduk dalam mobilnya. Mini Cooper dengan warna merah hitam. Ia menunggu. Menunggu si lelaki keluar memanggilnya lantas mereka akan kembali bercengkrama. Bicara soal musik dan buku. Tidak ada premarital sex. Hanya teh madu, kopi pahit dan berderet nama penulis yang tak pernah tercatat dalam buku sastra Indonesia. "Ayolah keluar panggil aku. Ayolah," si perempuan bergumam.

Aku bisa saja membantumu menuliskan cerita ini jadi indah. Misalnya kutuliskan si lelaki keluar mengejarmu lantas memeluk dan mencumbumu.

"Kau bisa?" tanya si perempuan pada penulis kisah ini.

Aku bisa. Aku berkuasa atas apa yang aku tulis. Tapi kau yakin itu maumu? Mendapatkan lelaki karena kontrol orang lain, bukan karena ia menginginkanmu.

"Tapi aku cinta dia. Lebih dari dia mencintai dirinya sendiri," kata si perempuan memohon.

Oh aku tahu sekali. Aku yang menulis kisah ini, kau tahu? Aku bisa saja menuliskan ia tiba-tiba berahi memperkosamu lantas membunuhmu keji, atau kubikin ia mengemis-ngemis meminta cintamu, juga dapat kubuat si lelaki tadi pergi hilang saat ini juga dengan plot ia diculik alien dari galaksi terluar bima sakti.

"Oh tuhan jangan. Aku mohon aku masih butuh dia," kata si perempuan semakin memohon.

Agak aneh. Aku tak suka perempuan lemah yang memohon. Kupikir aku menuliskanmu menjadi sosok yang kuat dan mandiri. Merdeka pada pilihanmu sendiri. Atau aku yang lupa sebenarnya cerita ini kutulis untuk apa?

"Kami perempuan bebas merdeka! Bahkan dari kehendak yang menuliskan kisah kami," kata si perempuan menyalak keras. Ia mengacungkan jarinya ke atas mencari penulis kisah ini.

Jadi kamu mau dia mencitaimu karena aku menuliskannya. Atau kau mau rebut sendiri apa yang seharusnya bisa kau peroleh sendiri.

"Kau tak akan mengganti cerita ini kan? Nanti begitu aku berusaha kau bikin dia mengganti hati." kata si perempuan menawar.

Well, kita tidak pernah tahu itu. Saat aku menuliskan kisah ini aku hanya mau menulis prosa pendek saja. Tiba-tiba kalian meloncat dari naskah dan merebut peranku untuk bercerita. Aku bisa apa? Membuat kisah ini berhenti saat ini dan menggantungkan akhir cerita? Itu menggelikan. Lagi pula kalian itu cuma tokoh cerita. Kenapa begitu ngotot ingin menentukan nasib sendiri?

"Karena kami ini tokoh cerita. Kami yang menjalani, bukan kau. Kau hanya menuliskan apa yang kau pikir bagus. Tapi sejatinya kami yang hidup di sini. Dibaca orang. Sudah berapa pasangan yang kau bikin terpisah di cerita-cerita sebelumnya?" kata si perempuan menantang penulis kisah ini.

Err banyak sekali. Aku suka ending yang tragis.

"Kali ini tidak! Aku akan kembali. Aku akan memintanya mencintaiku. Aku akan memperjuangkan kebahagianku sendiri. Kau penulis tidak berhak menentukan kisahku seenaknya sendiri," si perempuan lantas ke luar dari mobil. Berlari dengan gegas, dengan wajah penuh kemenangan, dengan rupa kebahagiaan yang hanya bisa disanding dengan kanak-kanak berebut layangan putus.

Kisah ini seharusnya berakhir disini. Sayang dua tokoh cerita itu menolak takdirnya ditentukan penulis. Oh harusnya aku menulis kisah yang biasanya saja.

2 komentar:

  1. master shifu iki ancen ajaib.
    Salam kagum dari Surabaya kang.

    BalasHapus
  2. apa yg terjadi ketika si peria menyadari kehilangan si wanita? atau mungki di vienna dia menemukan wanita idaman, lalu kemudian di campakan dengan asalan yg sama (kesibukan)??

    BalasHapus