Kamis, 24 Oktober 2013

Hatimu Bianglala Pasar Malam

Hatimu adalah bianglala. Pada pasar malam pertama bulan paling terang kau biasanya berputar. Cahayanya merah, kuning dan sesekali biru. Tiang tiangnya kurus dari baja pilihan anti karat. Kursinya dari kayu cendana. Setiap aku mengendarainya aku akan lupa cara menangis. Pelan pelan kesedihanku akan gugur seperti buih sabun dibasuh air.

Hatimu bianglala paling cerah. Kanak-kanak riang gembira bermain di teras hatimu. Gulali dan permen menjadi among tamu. Rindu adalah tiketnya gelak tawa adalah jaminannya. Lantas pada setiap putaran kau akan diajari cara tersenyum. Lantas mengabadikan keriuhan jiwamu. Hatimu terlalu ramah untuk mengabadikan amarah. Pada setiap hati yang hancur bianglalamu menawarkan pelukan dan teh hangat.

Aku sekarat menunggumu. Bianglalamu selalu penuh dengan kecemasan-kecemasan orang lain. Sementara kau membiarkan hatimu, bianglala, pelan pelan keropos dari dalam. Apakah kau akan terus pura pura kuat? Pura-pura menjadi karang yang tegar lantas terus menerus membahagiakan orang lain? Hatimu butuh diurus. Petugas bianglala yang cakap dan tegas. Yang paham kapan harus memberi jeda dan kapan harus memperbaiki kerusakan.

Hatimu bianglala. Keriuhan pasar malam tak membuatmu kurang bersinar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar