Dalam sepenggal puisi kelam Bertold Brecht yang berjudul to posterity, tertulis sebuah pesan yang
kuat. “Indeed I live in the dark ages! A
guileless word is an absurdity. A smooth forehead betoken.” bahwa pada satu
masa kita akan menyerah pada rasa takut, sementara negativitas adalah
keseharian yang lain. Tapi benarkah kita
akan menyerah pada kegelapan? Saya percaya kita dibekali pemikiran untuk
melawan segala yang tak kita ketahui. Seperti Ahmad Wahib, seorang pemikir muda
subversif, yang pemikirannya telah melampaui masa ia hidup.
Pada catatannya yang tertanggal 16 Agustus 1970 misalnya. Wahib muda telah mengkritisi agama dan politik sebagai sebuah bangunan utuh. Baginya tak ada yang tak bisa dibongkar dan dipertanyakan lagi nilanya. Tentu saja usaha ini harus punya nilai dan tujuan yang jelas. Bukan sekedar kritik kosong tanpa ada upaya perbaikan. "Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah," katanya "yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif."
Sejalan dengan puisi Brecht, ketakutan Wahib hingga hari ini masih sangat relevan
untuk dimaknai sebagai kalatida. Zaman yang tenggelam dalam teror. Zaman dimana
menjadi berbeda adalah kesediaan untuk dipancung dan disingkirkan. Tapi kita
semua pasti sepakat jika setiap zaman memiliki pembaharunya sendiri. Melalui “Pergolakan Pemikiran Islam” sedang
bertanya-tanya tentang zaman yang muram. Ia meletup lebih keras dari petasan,
meragu terhadap segala yang pakem dan kesepian karena segala pemikirannya
sendiri. Ia manusia yang disingkirkan zaman.
Buku Ahmad Wahib menjadi penting bukan lagi dibaca sebagai
sebuah epos upaya pembaharuan nilai-nilai dogmatis Islam. Tapi sebagai memoar
tentang bagaimana manusia yang menyadari dirinya dhaif dan naif untuk mau
bertanya. Saya tak benar benar memahami mengapa ia harus peduli kepada rupa
zaman yang bopeng. Namun jika dengan kita merayakan kebodohan dan kebencian, maka
mencari dan bertanya adalah upaya untuk memperbaiki keadaan. Wahib sadar itu
dalam catatan hariannya.
Pada 9 Juni 1969 ia menuliskan sebuah refleksi teologis yang sangat dalam. Ia bertanya pada tuhan perihal oemahaman kita terhadap keyakinan. Bagi Wahib, sebelum meyakini, manusia harus terlebih dahulu meragu. Karena keraguan menuntun pada usaha mencari tahu dan usaha itu akan berujung pada keyakinan yang tidak bergoyah. Wahib menulis "Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang."
Pembacaan kita hari ini menganggap pemikiran semacam itru adalah sebuah tindakan radikal. Karena selama ini kita meyakini agama dan keyakinan sebagai berkah dari tuhan yang diterima apa adanya. Lebih jauh usaha untuk bertanya dan berdialektika dibawa Wahib melalui pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam. Pola bertanya lantas menjawab ini adalah ciri khas dari perenungan filsafat. Melalui pertanyaan-pertanyaan manusia didorong untuk berpikir. Melalui pikiran manusia mencari pembenaran dan pembenaran itu membuahkan kebijaksanaan.
"Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri."
Catatan harian yang disusun oleh Ahmad Wahib tidak dibuat
untuk melakukan perubahan besar. Ia hanya sebuah goresan pena yang muram,
berjarak, ragu dan bertanya-tanya. Ia tak berusaha membuat dunia lebih baik
dengan idealisme yang muluk, ia bicara tentang kesederhanaan, tentang apa yang
ia rasakan dan alami. Hidup barangkali seperti itu, merasakan keresahan,
menuliskannya lantas berusaha untuk tidak menjadi bagian dari skenario brengsek
hidup yang monoton. Wahib, seperti juga Soe Hok Gie dan Anne Frank, menuliskan
memoar bukan untuk glorifikasi diri. Ia menulis untuk catatan agar dirinya tak
menjadi bagian yang brengsek tadi.
"Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan." katanya pada 17 Januari 1969. Ini adalah upaya dingin bagi seorang umat beragama. Karena Wahib ingin memisahkan antara islam sebagai sebuah ajaran teologis dan islam sebagai sebuah jalan hidup. Baginya akibat pembacaan yang cenderung tradisional dan tekstual, umat islam menjadi "orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif."
Memoar Wahib juga memberikan kita sebuah pandangan pada
sebuah zaman. Bahwa pada satu waktu keadaan bisa sangat pelik dan menunut
seseorang tetap waras adalah sebuah kemustahilan. Kita mengenali sebuah buku
sebagai sebuah representasi pengetahuan. Tapi ia juga bisa menjadi petasan,
obor dan pendobrak yang meruntuhkan dogma. Memoar pribadi yang awalnya hanya teronggok
menjadi catatan yang sunyi, intim dan personal. Bisa jadi sebuah letupan baru
kanal yang menjadikan keraguan-keraguan hilang. Ia adalah mahluk hidup lain
yang menulari kita untuk tidak tunduk pada ketakutan-ketakutan.
Pada akhirnya catatan pribadi adalah representasi dari sikap
paling sederhana kita terhadap suatu hal. Ia tak harus besar, tak harus rumit
dan juga tak mesti serius. Gelap masa yang ditakuti Brecht adalah zaman yang
menghamba pada kezaliman fikir. Sementara kezaliman semacam ini hanya bisa
ditaklukan dengan menyadari bahwa sebagai manusia kita dhaif dan lemah. Wahib
menemukan caranya sendiri untuk tak menyerah pada ketakutan itu. “Dengan membaca aku melepaskan diri dari
kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih,”
tulisnya pada 20 April 1970.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar