Selasa, 01 Juni 2010

Junkvora

Those that kill animals, to eat their flesh, tend to massacre their own
Phytagoras

DULU waktu saya masih sekolah, guru biologi saya menjelaskan ada tiga jenis mahluk hidup berdasarkan makanannya. Pemakan tumbuhan atau yang biasa disebut dengan herbivora dan pemakan daging yang disebut dengan karnivora. Diantara keduanya ada omnivora, mahluk hidup pemakan segala. Omnivora yang dimaksud disini bukan pemakan segala dalam arti harfiah, ya gak mungkin dia makan batu atau gelas. Omnivora disini artinya mahluk hidup yang bisa mengkonsumsi daging dan tumbuhan sekaligus.

Manusia itu mahluk luar biasa. Sebagai mahluk yang berada di puncak rantai makanan, manusia bebas memilih untuk mengkonsumsi segala jenis mahluk hidup yang disukainya. Mulai dari hewan, seperti sapi, kambing, dan ayam. Atau tumbuhan seperti bayam, pakis, dan kemangi. Hebat nian kawan!

Mengkonsumsi makanan entah daging ataupun tumbuhan pastilah memiliki tujuan. Daging yang kaya protein penting umtuk perkembangan fisik tubuh kita, sedangkan tumbuhan mengandung nutrisi dan vitamin yang bagus untuk daya tahan tubuh kita. Katanya sih begitu, toh kenyataannya banyak kaum ekstrim yang menganggap memakan daging hewan adalah bentuk penyiksaan terhadap mahluk hidup. Mereka mengklaim manusia bisa hidup sehat dan layak tanpa mengkonsumsi daging. Benarkah demikian?

Vegetarian sebagai Gaya Hidup

Nohara Sinosuke (Shincan) kembali membuang paprikanya, “Mama-mama-mama aku minta daging saja”.

Ibunya kemudian menjawab, “Shincan jangan begitu, kalau kamu mau disukai kak Nanako kamu harus makan sayur”.

“Kenapa begitu ma?” tanya Shincan.

“Karena memakan sayur itu keren sekali,” jawab ibunya.

Sepenggal cerita diatas adalah sebuah dialog sederhana dari film yang kebetulan saya tonton. Kondisi tersebut hanya sebuah kesadaran kecil yang coba ditanamkan banyak orang tua terhadap anaknya. Dulu saya juga seringkali malas apabila disuruh orang tua untuk makan sayur, rasanya pahit dan tidak enak. Namun seiring berjalannnya waktu dengan banyak penyadaran akan pentingnya fungsi sayur membuat saya mau tidak mau harus mengkonsumsinya. Akhirnya, seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, karena terus-terusan makan sayur saya kemudian menjadi suka dengan sayur. Bukan main.

Konsumsi sayuran sendiri di beberapa kebudayan dan kepercayaan menjadi sebuah jalan hidup. Kaum Budha misalnya percaya bahwa segala macam hewan yang ada di dunia adalah bentuk reinkarnasi dari manusia. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Hindu, mereka mempercayai bahwa ada beberapa hewan keramat yang dilarang untuk dimakan dagingnya. Ajaran ini disebut Ahimsa. Seperti yang ada dalam Bhagavad-gita 3.13 kaum Hindu percaya bahwa: “The devotees of the lord are released from all kinds of sins because they eat food which is offered first for sacrifice. Others, who prepare food for personal sense enjoyment, verily eat only sin”. Kedua kepercayaan tersebut kemudian melahirkan gerakan vegetarian sebagai jalan hidup (vegetarian as way of life).

Secara terminologi vegetarian berasal dari kata latin yaitu 'vegetus' yang artinya hidup. Vegetarian secara sederhana adalah mereka (manusia) yang hanya mengkonsumsi sayuran dan bahan makanan yang terbuat dari non daging seperti susu dan telur. Menurut Manimaran Subramaniam dalam An Introduction To The Concept Of Vegetarianism Among Hindus In Malaysia Vegetarianism, “Vegetarian is a practice of abstaining from eating meat, fish or their by products including lard, gelatin, rennet and other related animal products.”

Secara umum ada dua jenis vegetarian; lacto-vegetarian dan ovo-vegetarian. Lacto-vegetarian adalah kaum vegetarian yang menolak mengkonsumsi daging dan segala olahannya termasuk telur namun terkadang bersedia mengkonsumsi susu. Sedangkan Ovo-vegetarian yaitu vegetarian yang menolak segala produk olahan dari susu namun masih mengkonsumsi telur dan madu.

Vegetarian sendiri konon selain muncul dari ajaran Hindu juga muncul dari gerakan vegan, sebuah kepercayaan yang menolak menyakiti alam (hewan dan tumbuhan). Selain itu seperti yang dikutip dalam Vegan Starter Pack “Banyak orang yang tertarik menjadi kaum vegan karena mengurangi penderitaan dan menolong lingkungan kita beserta isinya. Selain itu menjadi sehat disaat yang sama”. Penganut vegan dan vegetarian percaya akan kesinergisan antara konsumsi manusia akan hewan dan tumbuhan. Apabila salah satu dieksploitasi secara berlebihan maka akan terjadi chaos.

Chaos yang dimaksud adalah ketidakseimbangan alam yang akhirnya akan berakibat buruk pada manusia. Peristiwa flu burung, sapi gila,dan hama wereng merupakan bentuk nyata dari chaos tersebut. Keadaan over exploited yang dilakukan korporasi pangan global membuat alam menjadi tidak seimbang. Tahun 1980 di Brazil misalnya, hutan-hutan ditebang dan dihancurkan untuk membuat peternakan hewan. Peternakan tersebut digunakan untuk memenuhi suplai daging beefburger di negara tersebut (Harry Mather dalam Vegan View No. 102). Di Indonesia sendiri bisa kita lihat hutan di kawasan Sumatera dan Kalimantan, telah hampir habis untuk pekebunan kelapa sawit. Disisi lain dikawasan perbelanjaan dan jalanan metropolitan, puluhan gerai makan cepat saji mulai berjamur.

Intensifikasi pertanian mengkarbit padi, buah dan sayur menjadi lebih cepat panen. Efeknya, kandungan bahan kimia lebih banyak daripada kandungan nutrisi yang kita butuhkan. Oleh karena itu, kaum vegetarian juga dikenal sebagai kaum yang hanya mengkonsumsi makanan organik. Vegetarian terkadang hanya mengkonsumsi sayuran yang ditanam tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia. “Biarlah alam yang merawatnya”, mungkin begitulah intinya.

Haruskah Makan Daging?

Dalam film lainnya saya menyaksikan sedikit dialog tentang vegetarian.

“Kamu tahu? Hotdog yang kamu makan itu terbuat dari dinding usus sapi mati,” kata si gadis.

“Kenapa? Apa kamu sejenis aktifis hotdog atau apa?” kata laki-laki itu.

“Tidak, aku hanya seorang vegetarian. Dan kamu tahu? Apa saja yang mungkin terkandung di dalamnya? Aku tak mau membayangkannya,” lanjut si gadis.

“Oke! Aku berhenti makan hotdog ini! Kalau timun, kamu tidak keberatan aku makan timun kan!” kata laki-laki itu seraya mengunyah acar timun.

Sebuah penggalan dialog dalam film Bad Boy I, dimana Julie Mott mengatakan pada si Marcus Burnett tentang fakta dibalik hotdog yang dimakannya. Hal ini merupakan penggambaran nyata Amerika segagai salah satu negara dengan konsumsi daging tertinggi di dunia.

John Robbins dalam Diet for a New America mengungkapkan bahwa 56% lahan pertanian di Amerika dipergunakan untuk produksi daging. Hal inilah yang kemudian membawa banyak sekali gerakan yang melawan korporasi daging di Amerika. Alasannya beragam, mulai dari penyayang binatang, kelompok keagamaan, dan pecinta lingkungan. Yang menarik adalah fakta apabila konsumsi daging selama ini ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya global warming.

Konsumsi daging dunia juga dituduh penghasil emisi karbondioksida paling tinggi (20%). Hal ini diungkapkan FAO (Food and Agriculture Organization) pada tahun 2006 kemarin. Dalam laporannya FAO menyatakan bahwa industri ternak telah menghasilkan 9% racun karbondioksida, 65% nitrooksida, dan 37% gas metana. Jauh melampaui jumlah emisi gabungan dari semua kendaraan di dunia. Selain itu, industri ternak juga memerlukan banyak energi untuk mengubah ternak menjadi daging siap konsumsi. Untuk memproduksi 1 kg daging saja misalnya, maka akan menghasilkan emisi karbondioksida sebanyak 36,4 kilo.

Data lain dari U.S. Geological Survey, untuk membuat satu tangkup hamburger membutuhkan setidaknya 1.300 galon air. Jadi, tidak heran jika produk pangan hewani dan junk food memerlukan lebih banyak energi dibanding dengan mengolah sayuran, buah dan beras. Nah kini apakah kita tetap akan berpikir jika mengkonsumsi daging itu baik? Sebagai perbandingan saja, untuk 1 hektar lahan dapat menghasilkan 20.000 kg kentang tapi jika digunakan untuk menanam pakan ternak hanya mampu memproduksi 125 kg daging.

Manusia dan Buah

Sebenarnya ada sebuah gerakan lain yang coba memberi alternatif konsumsi pangan kita. Mulai dari slowfood, macrobiotic diet, rawfood sampai dengan fruitarian. Fruitarian merupakan orang yang dalam kehidupannya berusaha untuk mengkonsumsi hanya buah saja. Buah yang dikonsumsi pun harus segar, non pestisida, alami dan tanpa ada proses pemupukan. Bahkan ada kaum fruitarian yang hanya mengkonsumsi buah yang jatuh secara alami dari pohonnya.

Tunggu dulu ini bukanlah sebuah ritual keagamaan yang menuntut pengikutnya untuk puasa tidak makan daging. Atau sebuah sekte yang bertujuan untuk mendapatkan kekuatan gaib. Ini adalah sebuah gambaran masyarakat liyan. Sebuah legitimasi diri yang melakukan pernyataan perlawanan terhadap gaya hidup modern. Bukan gaya hidup secara keseluruhan, namun lebih spesifik pada konsumsi jenis makanan.

Keyakinan fruitarian sebagai gaya hidup, didasari bahwa manusia sejatinya ditakdirkan hanya untuk makan buah saja. kaum firutarian yakin bahwa Adam dan Hawa pada awalnya hanya makan buah saja, seperti yang tertulis dalam Genesis 1:29 ; lihatlah aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, dan itulah yang akan menjadi makananmu”. Sejalan dengan pemahaman tadi. Mahatma Gandhi, dalam usahanya mempraktekan Brahmacharya meyakini, bahwa memakan buah dan kacang-kacangan, akan membawa pada tahap spiritualitas yang lebih baik dan badan yang lebih sehat.

Namun The Health Promotion Program at Columbia University melaporkan bahwa, gaya hidup fruitarian dapat menyebabkan kekurangan kalsium, protein, zat besi, zinc, vitamin D, dan beberapa jenis vitamin B (khususnya vitamin B-12) dan beberapa asam lemak. Sehingga dalam hal ini, pola konsumsi makanan yang tidak berimbang sebenarnya juga tidak baik. Pola konsumsi yang terus menerus linier tidak selamanya sehat. Dalam the Health Promotion Program at Columbia reports, tertulis bahwa penolakan dan pengengakangan terhadap beberapa jenis makanan dapat menyebabkan kelaparan, gangguan pola makan seperti bulimia dan anorexia, food obsessions, dan gangguan kehidupan sosial.

Junkvora

“Makanan cepat saji yang telah membudaya telah menghilangkan esensi budaya dan citarasa makanan kita”, begitulah yang dikatakan Jean Boyazoglu dalam European Forum on Food Quality di Orvieto 3 Juni, 2005. Sebuah kepanikan akan histeria efisiensi telah memudarkan makna makanan dalam hidup kita. Alam yang dahulu menjadi jantung utama kebutuhan utama konsumsi kita, kini sudah digantikan mesin-mesin pabrik pencipta makanan sintesis. Pencerahan dalam teknologi pengalengan makanan sintesis melahirkan sebuah imaji banal tentang konsumsi makanan. Sehingga manusia modern sedikit melupakan peran alam dalam proses penciptaan makanan.

Pendapat yang serupa diucapkan oleh Alison Stone. Ia sedikit mengingatkan kita tujuan manusia untuk mengejar pencerahan. Pencerahan yang didapat telah memudahkan kita untuk memahami alam. Pengetahuan yang telah kita miliki membantu kita untuk meningkatkan kemampuan kita untuk mengatur perilaku dari entitas natural (Adorno and the disenchantment of nature). Maka seyogyanya kita untuk memperlakukan alam sebagai sumber makanan dengan sebaik-baiknya.

Jean Boyazoglu mengatakan bahwa jargon “there is food for all, everywhere” hanyalah sebuah jargon belaka. Kapitalisasi pertanian pada kenyataannya malah melahirkan banyak masalah baru. Mulai dari kandungan kimia tanaman pangan akibat pestisida hingga kerusakan alam akibat pembukaan lahan baru. Lebih jauh ia kemudian menggambarkan: “Every day, even in developed countries, people die of hunger and malnutrition - despite the plethora supposition as sustained by international organizations – even those less technical ones.

Anda tidak usah jauh-jauh untuk melihat ilustrasi menakutkan tadi. Indonesia contohnya, sebagai negara agraria dan katanya baru saja berswasembada ini, tetap saja masih bertebaran penyakit busung lapar dan malnutrisi. Seperti sebuah pepatah “tikus mati dilumbung padi”. Maka pantaskah kita kemudian mengkonsumsi makanan seharga Rp. 14.999 seorang (yang belum termasuk pajak) di KFC sementara di luar sana masih ada manusia yang mengais sampah untuk makan? Sebuah pilihan yang saya yakin membuat anda cukup cerdas untuk memaknai arti makan.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar