Kamis, 03 Juni 2010

Khalam Sudra


Si Sudra sudah lelah bekerja. Tenaganya habis diperas, kepalanya pusing memikirkan SPP anak-anaknya. Uang kontrakan belum juga dibayar. Uang pinjaman dari bandar togel gang senggol sudah habis. Sawahnya sudah digadaikan buat uang gedung si bungsu. Matanya nanar, menahan perut lapar yang sudah setengah hari ditahannya. Istri si Sudra sudah lama mati bersalin di dukun anak mak Ijah. Si Sudra kini hidup ber 4 dengan 3 anaknya. Sulung menjadi kuli panggul pasar beras, yang kedua pengangkut pasir, si bungsu jadi ojek payung tiap musim hujan tiba.

Sudra sendiri sudah sejak akil balig jadi penarik becak. Cuma tenaga yang bisa ia jual, lain tidak. Hari ini ia resah sekali, jika sampai nanti bedug Ashar belum punya uang. Dia dan keluarganya akan ditendang dari rumah kontrakan, yang serupa kandang kerbau itu. Rumah itu tak seberapa luasnya, hanya 6x6 meter saja. Itu pun harus berdesakan dengan ke empat anaknya.

Sudra sudah lelah berdoa. Sarung dan sajadahnya sudah lama rusak dimakan tikus. Namun ia percaya seorang manusia tidak akan selamanya sengsara. Nampaknya ia dikhianati kepercayaannya. Sejak tadi ia melirik-lirik obat nyamuk cair cap asoi yang ada dibawah meja. Berulang kali terlintas untuk menegak dan menyerah pada keadaan. Namun ia terlalu sayang si bungsu. Si bungsu yang selalu bersemangat saat pulang sekolah. Selalu bangga bisa mengeja kata B-L-A-C-K-B-E-R-R-Y dengan baik dan benar.

Sudra mendengar suara berisik dari masjid. Sudra berteriak-teriak bagai orang gila. Ia mengumpat tuhan, tuhan diam saja, ia memaki tuhan, tuhan pun diam saja, ia menghina tuhan, tuhan pun tak berbuat apa-apa. Akhirnya sudra duduk lemas dibawah pohon kelapa. Lelah ia berteriak, nafasnya satu dua. Badannya berkeringat. Orang-orang mengerumun mendekat. Pak Haji datang membawa air. Disuruhnya sudra ibadah. Sudra marah, mengumpat dan meludah.

Pak Haji lari. Orang-orang juga berlari. Sandal bertebaran. Sudra berdiri. Ia berjalan tak tentu arah. Sudra berhenti. Di depan sebuah kuburan. Sudra menangis. Sudra duduk menangis. Sudra melihat nisan istrinya. Lahir Nopember mati Oktober. Tulis di nisannya. Sudra menangis. Meraung raung. Anaknya datang. Anaknya senyum dikatakannya.

“Ayah, jika kami jadi beban, rela kami dijual. Jika kami anugrah, rela kami melacur untukmu ayah”

Adalah sudra, meski bengis dan kejam dunia merombak imannya. Tak sanggup ia membenci ke tiga anaknya. Digandengnya si sulung. Beranjak ia ke surau, tempat yang sudah asing baginya. Lebai sudah menanti, tersenyum ia melihat sudra.

“ah kau sudah datang sahabat, tak percuma aku menunggumu dalam gelap” sapanya sambil merangkul sudra bak kawan lama.

Wajah tua Lebai Habib Achmad Badrawi bin Umar Bin Said Bin Soleh datang mampir sedikit. Senyumnya tulus, seutas lunas tanpa pamrih. Wajah tenang yang sudah kenyang ditubruk malang. Wajah sejuk yang sudah tamat melihat kutuk.

“sudah kah kau sujud Ashar kawan?” Tanya Lebai Tua.

Yang ditanya diam tanpa suara. Lebai tua datang hendak merangkul, namun sudra mundur seperti takut dipukul.

“ada apa kawan lamaku? Tak bolehkah renta tua ini memeluk sahabat lamanya?” tanya lebai sambil tersenyum.

“malu aku Lebai, pantaskah pendosa dipeluk wali macam kau?” kata Sudra meringkuk.

“aih, sejak kapan aku yang hina ini jadi wali? Dikutuk Munkar dan Nakir aku nanti” katanya.

“aku, seperti dirimu adalah pendosa kawan, tak sedikit dusta mengalir dari mulutku, tak sedikit hatinya yang kusobek karena ulahku, dan tak ayal sikapku pernah menghunus hati orang” kata Lebai tua menambahkan.

“aku

“aku lupa cara mencintai-Nya Lebai” Sudra bicara.

“tapi ia tak lupa beri kau cinta sudra” jawab Lebai tua.

“aku sudah menghujat-Nya Lebai” Sudra kembali bicara.

“jika ia murka, sudah lepas kau punya kepala” jawab Lebai tua.

“aku pernah membenci-Nya Lebai” Sudra sekali lagi bicara.

“pernah ia tak memaafkan hambanya sudra? Bahkan iblis laknat pun akan diberinya ampun jika ia mau bertobat dan bersujud dibawah makam Adam” jawab Lebai tua.

“mau kau lebih laknat dari Iblis Sudra? Sudah lupakau cara sholat kawan?” kembali Lebai bertanya.

“tidak lebai, meski aku membenci-Nya, dalam sumpah syahadat tak mungkin aku lupa cara memuja-Nya” jawab Sudra. Membanjir sudah air matanya. Kembali ia menatap ke tiga anaknya. Sungguh tidak ada warna lacur kebohongan dari anak yang dibesarkan penderitaan. Dihembuskan nafas kerelaan, yang entah sudah keberapaia hembuskan.

Hari ini aku berhutang nafas perjuangan padamu Yang Maha Menguatkan. Berjalan ia dalam keheningan. Diajak anaknya serta. Sebelum lepas nafas dari tenggorokan, aku bersumpah pada ia yang memutar bumi dan mengendalikan waktu. Tak akan kubiarkan anakku lepas kering bibir mereka mengingatmu Yang Maha Tak Tersamai.

Pelan-pelan air bejana tanah itu mengalir, membasuh muka, tangan, rambut, telinga dan kakinya. Di ikuti oleh anak-anaknya, beserta lebai tua disampingnya. Matahari waktu Ashar terasa lembut datang. Sudah lupa mereka tentang hutang, tentang SPP, dan tentang kontrakan. Ia bersatu dalam remang suara takbir, bibir merapal Al Fatihah, bersemadi memohon jalan yang lurus.

Maka ia yang selalu memohon kekuatan iman padanya akan datang lebih mulia di alam raya. Dan mereka yang memohon kemuliaan di jagat raya, akan tersungkur berteman mesra dengan iblis di neraka. Sudra sudah lepas hutang tobat pada penciptanya. Kini ia hidup berempat, dijalan, tanpa asuransi esok makan apa. Namun ia punya deposito berbunga, berlipat-lipat, beranak-pinak. Kelak saat lepas nafasnya, sebuah rekening pahala akan tuntas dibayar oleh yang Maha Memberi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar