Kamis, 03 Juni 2010

Sedikit Jejak Tegalboto

Memori Telah Terekam,

Refleksi,… Sebuah Evaluasi Dalam Perjuangan Untuk Kemajuan…

Terus Bergerak, Bergerak Terus.

Untukmu Cita-Cita Pers Ku, Ku Gadaikan Nyawa Dan Raga Ini

Dalam Genggaman Penaku…

Untukmu negeri kutorehkan kata di dinding sejarahmu…

Untukmu tirani kuhujamkan penaku di dinding kebenaran…

Penaku… layaknya pasukan Bonaparte

Kataku… layaknya peluru-peluru Bonaparte

Dan Bonaparte pun berkata :

“Lebih baik menghadapi seribu tentara daripada menghadapi sebuah pena”

Dan Bonaparte pun,… lari tunggang langgang[i]


Selamat datang di ruang kumuh berantakan ini, silahkan anda melihat-lihat. Saya tahu anda masih malu, masih risau untuk dapat nyaman. Saya pun demikian, saat anda datang saya gemetaran. Senang dan bersemangat, masih ada beberapa manusia-mahasiswa-yang masih mau datang ke ruang ini. Silahkan melihat-lihat, tempat ini adalah UKPKM Tegalboto, saya biasa menyebutnya tebe. Ruangan yang anda tempati ini melahirkan saya untuk kedua kalinya. Disini saya akan belajar bersama anda tentang kehidupan, tentang seluloid, tentang diagfragma, tentang kata, tentang diksi, tentang reportase, tentang redaksi, tentang trace, tentang layout dan tentang filsafat jika anda berkenan.


Maaf, saat anda datang belum sempat saya bersihkan ruangan ini. Maklum, saya tak biasa melihat tempat ini bersih. Kumuh bukan berarti jorok dan tak karuan. Tapi memang kumuh karena mahluk didalamnya tak lelah bergulat dengan segala absurditasnya, jika anda lihat disebelah lemari besi ada tumpukan koran butut, maaf itu bukan karena rayap. Tapi karena kami disini berulang kali membacanya, menelaah, mencerna dan kalau bisa memahami kata-demi-kata didalamnya. Jika anda teliti kawan, boleh saya panggil anda kawan? Anda akan melihat beberapa poster menggantung, ada sang Jalang Chairil Anwar, si Burung Merak Willibrordus Surendra Broto atau anda biasa memanggilnya W.S Rendra, dibawahnya nampak potongan koran sobek, “kembalikan mereka” poster itu berujar, dan diatasnya ada sebuah poster merah menyala sebuah jejak kaki yang diatasnya terpampang wajah para pemimpin kita, itu sebuah hadiah dari seorang kawan, “rawat ingatan” katanya. Poster itu berisi tentang beberapa peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia, ada banyak, nanti kawan, jika kau mau akan saya ceritakan.


Saya yakin anda penasaran dengan sebuah ruang diatas poster-poster tadi. Ruangan itu ruang istirahat, ada sebuah televisi besar didalamnya punya seorang kawan yang dititipkan, ada sebuah kasur didalamnya, saat saya sedang lelah biasanya saya tidur disana, ah menyenyangkan. Nanti saya ajak anda naik kesana. Ruangan lantai dua ini punya kisah, ia dibangun oleh orang-orang hebat dimasanya, para soko guru Tegalboto. Dibangun tahun 2006 dengan arsitek seadanya, dengan biaya sebisanya dan dibangun sekuatnya. Nanti kawan, saya janji akan saya ceritakan kisah suka-duka ruangan ini.


Maaf, saya khilaf, seharusnya saya disini berkisah atau bertutur tentang sejarah berdirinya UKPKM Tegalboto dan PPMI. Tapi sekali lagi saya terlalu bersemangat, banyak kisah yang hendak saya bagi dengan kalian kawan, semoga kalian masih betah. Ada beberapa nama yang saya ingat turut membidani berdirinya organisasi pers mahasiswa ini kawan, diantaranya Susilo Darma, Khudori, Muhammad Fauzi dan Insan Kamil. Saat itu mereka gelisah akan sebuah ide memiliki pers mahasiswa universitas. Jadi sepanjang 1992 berbagai diskusi memunculkan gagasan yang mendukung berdirinya sebuah pers mahasiswa universitas. Mendapat dukungan dari lembaga pers mahasiswa yang sudah ada saat itu, maka media pers mahasiwa universitas jember lahir dengan nama TEGALBOTO sesuai tempat dimana ia menghirup udara pertama kali. Dengan menorehkan motto “amanat hati nurani mahasiswa” kehadirannya disambut antusias untuk merefleksikan kondisi bangsa yang sebenarnya carut marut.


Sehingga pada tanggal 26 november 1993 SK Rektor no: 7395/PT.32.H/SK/013 tahun 1993 tentang penerbitan majalah muncul. Dan pada bulan November 1993 majalah mahasiswa tegalboto terbit untuk pertama kali dengan dukungan LPM SAS, Plantarum, Pijar, Prima , Ecpose, Imparsial dan Aspirasi. Dengan Moto awal “amanat hati nurani mahasiswa“ terutama untuk mengusung perspektif wacana sosial politik dan budaya disetiap tema redaksi. Moto ini bertahan pada edisi 1-2. Karena setelah itu tahun 1996 moto berubah menjadi “menuju demokrasi kerakyatan” selaras dengan pergolakan kondisi politik yang makin memanas. Pergerakan mahasiswa menyatukan visi meruntuhkan rejim.


Pergulatan mahasiswa saat itu jauh lebih keras dan represif kawan, hampir setiap hari mahasiswa saat itu dihantui oleh panoptikon[ii] aparat. Pergulatan antara kuliah, demonstrasi, menulis, membaca, pacaran, dan mengorganisir gerakan. Bukan sebuah karir yang menyenangkan untuk dilakukan, tapi hal tersebut merupakan sebuah panggilan hati nurani untuk bergerak dan perduli terhadap nasib bangsa kita kala itu. Pernah kawan sekalian mendengar pepatah latin Accipere quam facere praestat injuriam? Lebih baik tersiksa dalam ketidakadilan daripada berpartisipasi di dalamnya. Diam saat penindasan terjadi adalah sebuah sikap afirmasi terhadap penindasan tersebut. Sehingga konon tokoh mahasiswa sekelas Ahmad Wahib pun pesimis sehingga ia berujar “Perjuangan kita menjadi semacam perjuangan yang emosional dan sloganistis![iii]”.


Di awal kemunculannya Tegalboto mengusung motto “amanat hati nurani mahasiswa“, kemudian “menuju demokrasi kerakyatan” dan akhirnya berganti menjadi “menuju pencerahan masyarakat” sampai sekarang. Hal ini karena pada awal kemunculannya, Tegalboto memiliki cita-cita dan semangat tersendiri. “Amanat hati nurani mahasiswa“ dipilih karena Tegalboto merasa perlu untuk memberikan sebuah ruang untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa yang masih terkekang suasana kebijakan NKK/BKK. Tegalboto menjadi sebuah wadah untuk berdiri menyuarakan kepentingan mahasiswa dalam beraktualisasi diri. Hal ini kemudian berubah menjadi “menuju demokrasi kerakyatan” karena arus penolakan dan rasa muak terhadap Rezim Orde Baru begitu menggebu-gebu.


Paska runtuhnya tirani Orba dan masuknya arus informasi yang begitu riuh, Tegalboto menemukan jiwa barunya. Semangat pembaharuan, semangat bernama Dialektik der Aufklarung[iv]. Di agitasi sebuah perkumpulan kuno bernama Mazhab Frankfurt, Tegalboto mengimani sebuah agama baru. Dan iman tersebut adalah “menuju pencerahan masyarakat”. Dengan cita-cita luhur melakukan pencerahan keilmuan, kebudayaan, pemikiran, perilaku dan sikap. Tegalboto berusaha meramu hal tersebut dalam banyak cara, melalui diskusi kajian budaya, filsafat, advokasi dan reportase. Sehingga pada akhirnya segala macam hal tadi diruntutkan dalam barisan kata sehingga melahirkan karya tulis yang mungkin pernah anda baca.


Dalam perkembangannya Tegalboto melahirkan banyak manusia-manusia luarbiasa, ia melahirkan banyak intelektual muda yang berhasrat melakukan pencerahan nyata melalui tulisan dan karya. Dan kawan, semoga saya bisa membantu anda menjadi salah satunya. Dari sedikit karya tersebut adalah buletin bulanan bernama “Buletin Tegalboto”, Newsletter per semester bernama “Tegalboto Pos”, selebaran insidental “Lembar Tegalboto”, dan Majalah Mahasiswa Tegalboto, dan yang baru saja diluncurkan tegalboto.org. sebuah dunia maya dimana kita bisa berbagi informasi dan absurditas.


Tegalboto dibangun dengan semangat kebersamaan yang hidup alamiah di Red Carpet Community. Diantara orang-orang yang berdiskusi, ngopi, membaca, menulis, berkelakar tentang filsafat, tertawa diantara caci maki dan sedikit nyleneh dalam berkarya. Tegalboto hidup dalam sebuah tongkrongan lokal berparadigma global. Sebuah nafas yang tak pernah berhenti berhembus. Dan seperti inilah wajah itu sekarang. Belum terbentuk sempurna tapi terus berproses. Satu tekad kami: berpikir berbeda untuk pencerahan adalah keharusan![]



[i] Sebuah puisi pengantar yang ditulis oleh mantan sekjend Nasional PPMI, Agung Sedayu pada tahun 2004 di Semarang.

[ii] Konsep yang dikenalkan filsuf posstrukturalis Michel Foucault, tentang rasa takut yang diakibatkan oleh simbol-simbol represi aparatus negara seperti polisi.

[iii] Dalam buku Pergulatan pemikrian Ahmad Wahib, LP3ES

[iv] Sebuah diktum dalam buku karangan Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, yang diterbitkan pada tahun 1944, buku yang berisi terhadap kritik kebudayaan dan masa

1 komentar:

  1. Ass.wr.wb. Mas Arman, membaca tulisan diatas terasa spt kembali mengenang masa kuliah di Unej dg berbagai aktivitas yg saya lakukan, termasuk mengelola majalah Tegalboto. sy lama tdk mengikuti perkembangan majalah ini, meskipun saya dengar sampai saat ini Tegalboto masih terbit. selamat dan tentu saja saya senang. saya adalah pemimpin redaksi pertama majalah Tegalboto, termasuk pengaggas kelahirannya. nama" spt Susilo Darma, Khudori, Muhammad Fauzi dan Insan Kamil memang terlibat dalam pendirian majalah ini. ada nama lain spt hadi winarto (Pemimpin umum pertama), dwidjo maksum, yudi, umar fatah wijaya, dll yg saat itu bergerak bersama-sama membangkitkan majalah di kampus tercinta. alhamdulillah, majalah ini awal kelahirannya sdh diapresiasi oleh majalah mahasiswa dari perguruan tinggi lain karena komitmentnya thd advokasi dan reformasi saat itu. banyak cerita yg ingin saya sampaikan pada saat yg tepat, dan saya menanti event utk reuni pengelola Tegalboto suatu saat bisa terwujud meskipun barangkali hanya utk satu atau dua jam saja sdh cukup.

    BalasHapus