Rabu, 02 Juni 2010

Skateboard, Budaya Pop Tandingan

The globalization of culture – the effect upon culture of the “increasing connection

Of the world and its people” – is perhaps nowhere more visible than in the changing

Nature of the relationship between the world’s youth and their sense of identity

(Solomon & Scuderi 2002:13)

Sekelumit upil tentang budaya anak muda

Keberadaan remaja selalu menjadi bagian yang menarik untuk dibahas. Remaja adalah mereka yang mengalami periode transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, biasanya berumur dari 10-20 tahun. Secara definitif remaja memiliki 2 ciri yaitu berupaya untuk mencapai tujuan dari apa yang diharapkan oleh norma budaya yang berlaku, dan tumbuh dengan cepatnya perkembangan mental, emosi dan sosial.[i]

Dalam usaha untuk mencapai kesesuaian dengan norma budaya yang berlaku, remaja seringkali mengalami benturan pemikiran dan keinginan. Sehingga melahirkan sikap-sikap pemberontakan terhadap norma-norma tersebut. Norma budaya yang telah mapan atau establish culture kemudian menjadi hal yang dirasa mengekang kebebasan dan ekspresi dari kaum muda tadi. Lahirlah perlawanan budaya (counter culture) yang dilakukan oleh kaum remaja. Dan kebudayaan baru yang dilakukan oleh remaja inilah yang kemudian disebut dengan youth culture.

Youth culture atau kebudayaan remaja/anak muda adalah semua hal yang menjadi kebiasaan, gaya hidup, perilaku dan pemikiran yang dilakukan oleh remaja/anak muda. Atau menurut Dick hebdige [ii] youth-based subculture with distinct styles, behaviours and interests. Kebudayaan remaja/anak muda adalah sebuah produk zaman yang akan selalu ada dalam setiap periode waktu. Keberadaanya selalu ditandai oleh semangat perlawanan dan gejolak kawula muda dalam menunjukan eksistensi mereka.

Perlawanan ditunjukan dalam bentuk cara berpakaian (fashion style), bahasa dan istilah (language style), modifikasi kepemilikan benda, ragam jenis musik, dan tempat nongkrong. Perlawanan yang dilakukan adalah bentuk penolakan atas institusi sosial (hukum, peraturan hidup, norma, agama dan adat istiadat) dan kemapanan (kemewahan, kemudahan, fasilitas) yang dianggap tidak sesuai dengan pola pikir para remaja saat itu.

Keberadaan mereka yang menolak institusi sosial dan kemapanan kemudian seringkali dianggap sebagai bentuk ketidak teraturan sosial (sosial disorder). Ketidakteraturan yang diekspresikan dalam subkultur yang berlawanan terhadap budaya mayoritas. Subkultur sendiri adalah budaya yang terbentuk sebagai counter culture atau budaya tandingan dari budaya yang telah mapan. Ketidakteraturan sosial ini kemudian cenderung dan seringkali menjurus pada kenakalan remaja atau (juvenile deliquency).

Padahal apa yang disebut oleh orang dewasa sebagai kenakalan tersebut tidak lebih dari upaya mencari perhatian dan kebutuhan akan eksistensi dari seorang manusia. Remaja yang juga manusia memiliki dorongan libido untuk bisa dikenal, diketahui dan diakui eksistensinya oleh orang lain. Libido dalam hal ini bukan berarti tentang seks semata, libido menurut Carl Gustav Jung adalah energi yang memanifestasikan diri dalam proses kehidupan dan dipersepsi secara subjektif sebagai usaha atau hasrat.[iii] Gampangnya kelebihan energi yang ga tau musti digimanain, yang penyaluranya positif jadi bagus kalo ga ya ngerusak.

Hegemoni global dari Indonesia sampai Kabul, Afganistan

Tahun 2002 generasi muda dunia dikejutkan dengan sebuah penyanyi pendatang baru yang bernama Avril Lavigne. Penyanyi muda asal Kanada ini melejit lewat anthem-nya skaterboy. Lagu yang bercerita tentang kehidupan seorang pemain papan luncur (skateboard) yang ditolak oleh seorang gadis, namun sang pemain skateboard ternyata menjadi terkenal dam masuk MTV. Oke cut the Sh**, maksud saya adalah bagaimana lagu itu kemudian menjadi sebuah cerminan kebudayaan anak muda amerika. Di Indonesia sendiri booming skateboard mulai muncul sejak awal tahun 2000, namun kemunculan fenomena skateboard sendiri ditengarai sejak pertengahan 70an.

Skateboard konon lahir dari komunitas peselancar di California. Budaya yang lahir dari anak muda ini berkembang begitu pesat di sana. Skateboard sendiri adalah olahraga ekstrim yang menggunakan sebuah papan luncur sebagai media olahraganya. Skateboard dimanapun di dunia dianggap sebagai perilaku nakal dari anak muda. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar, setiap tanggal 21 juni diselenggarakan skater’s day. Sebuah hari dimana setiap skater bebas dari segala tugas yang ada dan melakukan skate sepanjang hari.

Tujuan dari skater’s day adalah hari dimana skateboarder berkumpul untuk meningkatkan kepedulian mengenai isu-isu yang sedang berkembang, terutama yang berhubungan dengan skateboarding[iv]. Jadi salah besar jika kemudian budaya papan luncur (skateboard culture) dikatakan sebagai kelakuan anak muda ga ada kerjaan. Seperti mbah marijan bilang, don’t judge book from its cover. Jangan komentar kalo ga kenal. Kebencian orang tua terhadap permainan ini mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang makna filosofis dari olah raga ini. Sesungguhnya, skateboard adalah olah raga yang menantang nyali para pemainnya. Setiap pemain skate sadar betul akan resiko apabila memainkan olah raga ini. Sehingga rasa tanggung jawab dan solidaritas sangat kental pada olah raga. Hal ini merupakan suatu nilai penting dari keberadaan skateboard yang selalu dikecam oleh masyarakat.

Contoh baik lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Oliver Percovich, Sharna Nolan dan Travis Beard saat mereka menunjukkan kepada anak-anak Afghanistan bagaimana cara menggunakan skateboard, ketiga warga Australia itu menyadari bagaimana sebuah persahabatan dibentuk dan melihat salah satu cara menjembatani suku-suku yang berseteru[v]. Skateboard bukan lagi menjadi kegiatan yang menakutkan apalagi kegiatan yang harus disisihkan keberadaannya. Karena Indonesia pernah mengukir prestasi melalui skateboard. Karena lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya berkumandang di ajang Asian Indoor Games 2007 setelah atlet skateboard, I Putu Yogi Darmawan, meraih medali emas dari nomor park di arena MUST Pavilion, Makau, Minggu (28/10/08).[vi]

Namun pertanyaanya adalah “emang penting gitu skateboard?”. Jawabanya beragam tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Skateboard diakui atau tidak merupakan anak haram dari peradaban industri. Karena kehadiran skateboard tidak akan pernah bisa sebesar ini tanpa media global yang kemudian membentuk citra tentang ”betapa kerennya menjadi seorang skateboarder”. Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer dalam the cultural industry: Enlightenment as Mass Deception, berujar seperti ini “Films, radio and magazines make up a system which is uniform as a whole and in every part”. Dengan kata lain adanya berbagai media yang dirangsang oleh kapitalisme telah melahirkan skateboard culture sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan.

Lebih kasar lagi mereka mengatakan “The truth that they are just business is made into an ideology in order to justify the rubbish they deliberately produce. They call themselves industries; and when their directors’ incomes are published, any doubt about the social utility of the finished products is removed”. Singkatnya budaya yang dulunya adalah sebuah media perlawanan saat berhadapan dengan modal dan media global maka yang terjadi adalah komodifikasi! Komodifikasi sendiri adalah sebuah penurunan nilai awal dari sebuah budaya dan tergantikan dengan nilai intrinsik yang bersifat ekonomis.

Skateboard culture gaya tanpa jiwa?

Skateboard kini sudah kehilangan giroh (jiwa.red) dalam perlawanan terhadap kemapanan. Mengapa tidak, coba lihat dandanan kaum skateboarder saat ini dari papan (deck), sepatu, celana, kaus ampe kolor (boxer) adalah barang-barang branded yang tidak murah. Lalau kemanakah semangat perlawanan itu pergi? Jika anda seorang skateboader pasti atau setidaknya pernah mendengar film the lord of dog town. Sebuah film sejarah tentang perkembangan skateboard di Amerika, film yang berkisah tentang perjalanan karir skateboard dari, Tony Alva, Jay Adams and Stacy Peralta.

Film yang sangat menarik jika kita bisa menganalisisnya dari kacamata kajian budaya. Film yang bercerita tentang tiga anak muda dari ”dogtown” yang awalnya adalah sekelompok anak muda yang sangat menggandrungi olaharaga selancar. Karena keterbatasan media dan tempat, akhirnya mereka berselencar di darat dengan papan seluncur. Singkat cerita mereka kemudian menjadi bintang-bintang remaja melalui papan seluncur tadi. Disaat mereka jadi bintang itulah datang para kapitalis yang bertopeng manis menawarkan kejayaan dan kemapanan.

Film ini sesungguhnya menggambarkan realita dimana posisi skateboarder dalam sejarah peradaban youth culture. Keberadaan remaja jangan sampai menjadi korban dari kaum kapitalis yang sembunyi dalam kolong budaya. Artinya saat kalian ingin menjadi seorang skateboarder, janganlah terjebak pada penampilan fisik, kepemilikan akan barang, dan eksklusifitas komunal. Penampilan fisik tidak harus dilengkapi dengan kepemilikan barang-barang yang ”seakan wajib dimiliki”. Sehingga kalian menjadi terasing dari lingkungan tempat kalian tinggal dan menjadi kelompok eksklusif.

Legenda-legenda skateboarder seperti Rodney Mullen dan Tony Hawk harus menjadi patokan bagaimana seorang skater ingin terus bereksistensi. Mereka ber-skateboarder untuk kesenangan, untuk kepuasan pribadi, dan sebagai media berinteraksi. Bukan sebagai ajang gaya-gayaan semata. Namun kenyataannya adalah para skateboarder masa kini hanya terjebak pada penampilan luar. Mereka bingung mencari model terbaru dari sepatu Mcbeth, DC shoes atau Adio daripada mencari jalan agar dapat diterima dalam masyarakat. Padahal kita semua tahu berapa harga dari produk-produk skate yang kebanyakan adalah import tadi. Harganya tentu mahal dan membuat kesan sangat ekslusif pada pemakainya. Hal ini malahan akan semakin membuat kesinisan pada para skateboarder makin meningkat.

Sedikit penutup saya akan mengutip sedikit pesan dari the godfather of skateboard Rodney Mullen. ”i dont know anything about style, but one thing i sure. I like skateboard” keep on grinding and do some ollie guys!!!

*oleh Arman Dhani B.



Sumber-sumber tulisan

http://frontside180.com

http://martabahrull.wordpress.com/

http://seirawan-homelesscrew.blogspot.com

http://www.surf-time.com

http://bandungcreativecityblog.wordpress.com
The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception by Theodor Adorno and Max Horkheimer (1944)

Kapitalisme, teori dan sejarah perkembangannya by Robert Lekachman dan Borin Von Loon

end notes:
[i] WHO, oleh Dr, dr, sri adiningsi MS, MCN lembaga perlindungan anak Jatim

[ii] Hebdige, D. (1979) Subculture in the meaning of style, Menthuen & Co, London

[iii] http://id.wikipedia.org/wiki/Libido

[iv] http://www.surf-time.com/contest_skate/detail/26.htm

[v] http://dw-club.net/dw/article/0,2144,3496640,00.html

[vi] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/29/or/3947932.htm

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Skateboard, Budaya Pop Tandingan.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id

    BalasHapus