Rabu, 02 Juni 2010

Belenggu Pengasingan



-->
Saya percaya kreativitas, karya dan pencerahan sejalan lurus dengan kebebasan dalam berpendapat dan berpikir. Segala macam belenggu, penjara, ikatan dan kekangan tidak membuat manusia menjadi lebih baik. Malah akan membuat manusia makin keras melawan, sebuah laten pembawaan hasrat manusia akan pencapaian diri. Penjara dan kerangkeng kebebasan adalah sebuah blunder yang dibuat karena sikap paranoid terhadap pemikiran. Saya tidak membenarkan perbuatan jahat tanpa ganjaran, kurungan dalam hal ini masih dibutuhkan. Namun benarkah institusi penjara atau lembaga pemasyarakatan hal ini akan membawa kebaikan? Tidak juga saya pikir. Penjara dalam banyak kisah malah melahirkan pesakitan yang lebih ahli dalam kejahatan.

Anda tentu pernah mendengar Joni Indo, Robin Hood dari Indonesia. Perampok yang beken pada tahun 80an, sering keluar masuk penjara. Dan konon setiap kali keluar dari penjara ia makin ahli dalam menjalani aksi perampokannya. Memang hal ini tidak bisa dijadikan sebuah indikator empiris dalam pembuktian bahwa penjara menjadi sekolah kejahatan (school of crime). Tetapi paling tidak akan memberikan anda sebuah gambaran betapa institusi yang harusnya menyadarkan, malah membuat ‘pasien’ makin parah.

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja pulang dari Jogja, di sana saya bertemu dengan kawan-kawan lama sesama pegiat pers mahasiswa. Selain mencari percetakan untuk majalah edisi berikutnya saya juga menyempatkan diri untuk mencari beberapa buku yang memang sudah lama saya inginkan. Salah satunya adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Pertama kali saya membaca buku ini saat saya bekunjung dirumah Pras, kawan saya yang juga tinggal di Jogja. Pras ini adalah salah satu anggota Ekspresi[i]. Di kamarnya banyak sekali buku-buku, diantara sekian ratus buku yang sebagian besar adalah buku sastra, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu- lah yang paling menyita perhatian saya.

Sejak lama saya menginginkan buku ini, karena di dalamnya adalah pengalaman dan pandangan Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya sejauh yang saya ketahui, adalah seorang wartawan, seorang penulis, kritikus sastra, penerjemah karya sastra, dan pengarang dari Tetralogi Pulau buru, sebuah roman kebangkitan nasional indonesia. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sendiri di tulis antara 6 Februari 1925 sampai dengan 1995, sebagian besar ditulis di pengasingannya di pulau Buru.

Menjadi menarik, karena Pramoedya yang dipenjara dan diasingkan di pulau buru tidak pernah merasa diadili dan mengetahui, kesalahan apa ia perbuat hingga akhirnya harus dihukum. Jika pun ia harus dihukum, maka saya berpikir ia dihukum karena menyerukan kebenaran dan keberanian untuk berpikir bebas. Hal ini diungkapkannya saat diwawancarai tim psikologi gabungan Univesitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada yang di pimpin Prof. Dr Fuad Hasan. Saat itu Pramoedya berkata “saya merasa diperlakukan tidak menurut hukum. Belum pernah saya dijatuhi hukuman oleh suatu pengadilan saya selalu menulis dengan nama jelas, setiap orang boleh menyalahkan, apalagi pemerintah yang memiliki kementrian penerangan… saya tidak bicara tentang kekuasaan yang sedang berlaku. Saya bicara tentang Indonesia, jika kami bersalah maka hukumlah dengan setimpal. Jika tidak, bebaskanlah”.[ii]
Tindakan pemerintah yang menangkap dan mengurung Pramoedya dalam Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba adalah sikap pengecut. Pramoedya diciduk dari kediamannya oleh militer, lalu buku-buku koleksi pribadinya dibakar. Sebuah bentuk tirani dari pemerintah, dalam menekuk intelektualitas yang dianggap laten dan berbahaya bagi ketertiban umum. Namun apa itu ketertiban umum? Apa itu melawan pancasila? Apa itu separatisme? Pemahaman yang konyol dan tidak utuh terhadap suatu terminologi. Kekonyolan macam ini yang akhirnya membuat Pramoedya pada akhirnya diasingkan di Pulau Buru.

Keresahan dan ketidakadilan yang dirasakan selama pengasingan di Pulau Buru bukan milik Pramoedya seorang, ada sekitar 12.000 tahanan politik (Tapol) lainnya. Dalam catatannya, Pramoedya mengungkapkan, hampir sebagian besar yang diasingkan tidak menjalani proses peradilan yang layak. Hal ini Ia ungkapkan dalam surat terbuka kepada Goenawan Muhamad (GM), Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.” Mungkin hal inilah yang membuat Pramoedya menjadi seorang apatis dan pensiun percaya terhadap segala institusi pemerintah. Yang dianggapnya sama saja dan merupakan perpanjangan tangan pemerintahan fasis.[iii]
Banyak pengalaman pahit dan getir yang dilalui Pramoedya saat di Pulau Buru, ia merasakan kekejaman dan ketidakadilan terhadap haknya sebagai manusia. Penyiksaan batin dan fisik menjadi sebuah keseharian. “berdua kami ditempeleng dan aku mendapatkan tambahan semburan ludah. Dan waktu tinjunya tiba-tiba mengenai ulu hatiku aku meliuk nyaris roboh.”[iv]. Apakah ini tujuan pengasingan? Terlebih-lebih yang katanya penjara bagi Tapol eks Komunis yang membahayakan stabilitas pancasila? Buat saya tak lebih dari pertunjukan sirkus penjara.

Penjara, meminjam istilah Michel Foucault sebagai monumen Panoptikon. ‘to induce in the inmate a state of conscious and permanent visibility that assures the automatic functioning of power’[v]. Sebuah monumen yang kelahirannya dibuat sebagai institusi menakutkan, sebuah teror tidak sadar yang membayangi pemikiran setiap manusia untuk berpikir dua kali jika ingin melakukan hal buruk. Namun bagaimana jika monumen yang sejatinya dibuat untuk melindungi dan mencegah perbuatan jahat menjadi institusi yang melegalkan dan membiakan kejahatan? Hal ini tentu akan menjadi sebuah ironi yang akan kita (saya) tertawakan dengan getir.

Pramoedya memperoleh pemikiran gilang gemilang dan karya baik ini bukan karena karbitan sejarah. Dimulai dari didikan ayahnya pendiri Klan Toer, Pramoedya muda melihat bagaimana ayahnya yang seorang Priyayi rela membuang segala privilage nya untuk terjun berorganisasi bersama rakyat, mengajarkan wanita baca tulis, organisatoris Boedi Oetomo. Seperti yang diungkapnya “ dan yang selalu aku hormati; tabah dalam mengambil keputusan dan memutuskan sesuatu… ia mempunyai pengetahuan luas tentang literatur jawa, sendiri seorang penggerak…[vi]. Watak tak kenal lelah dan kemandirian yang membuatnya bertahan dari kejamnya Pulau Buru juga tak lepas dari peran Ibundanya. Pramoedya yang selama pengasingan hampir tidak pernah menggantungkan diri (dan memang tidak bisa mengharapkan) terhadap pemerintah, selalu berusaha untuk berdikari dalam pemenuhan kebutuhannya.

Watak mandiri dan sikap anti kompromi Pramoedya, yang digambarkan dalam buku ini membuat saya malu. Sebagaimana saya masih bergantung pada kakak dan sesekali pada orang tua saya. Pramoedya sendiri tidak mengelak dan mengakui bahwa kedua orang tuanya yang telah membentuk sikap dan kepribadiannya. “memang dua-dua orang tuaku menduduki tempat terpenting dalam awal kehidupanku. Sikap, tingkah, ucapan dan cita-cita mereka telah menjadi bagian dari diriku..”[vii]. pramoedya adalah sebuah model dari ‘hasil didikan sejarah’, di mana Ia menyerap pemikiran, tingkah laku dan sikap dari kedua orang tuanya. Dan dalam perkembangan hidupnya hasil didikan itu mengendap dan membentuk Pramoedya seperti yang kita baca dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Dalam kesempatan lain Pramoedya pernah berujar, menulislah, karena dengan menulis kau tak akan dilupakan sejarah. Menulis bagi Pramoedya adalah sebuah perjuangan, perjuangan melawan lupa. Berusaha mengingat dan memberikan ingatan tersebut sebagai warisan bagi sejarah bangsa ini. Pramoedya adalah seorang penulis yang dalam terminologi Cak Nun “penulis selilit”,[viii] Anda tahu selilit? Peristiwa di mana ada semacam makanan yang menjadi benda asing dalam barisan gigi kita, yang mengganggu kita dan membuat kita tidak nyaman. Dan itulah Pramoedya, menjadi selilit sejarah bagi penguasa tiran Orde Baru dan pemerintahan fasisnya.

Dalam catatan pinggirnya, GM pernah berujar, “sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman Demokrasi Terpimpin Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman Orde Baru ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun[ix]. Tapi mungkin GM lupa, Pramoedya dipenjara bukan karena ia menulis, Pramoedya dipenjara karena ia berusaha jujur dan berani berkata tidak pada pemerintah Orba.

Pramoedya bukanlah GM dan Jacoeb Oetama yang rela berkompromi paska Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974). Ia serupa Mochtar Loebis[x], serupa Soe Hok Gie, serupa Munir, serupa Marsinah dan serupa Wiji Thukul yang secara lantang menolak tunduk patuh dan “melupakan” penindasan yang ada di hadapan mereka. Pramoedya bukanlah seorang santo yang dapat dengan legowo memaafkan para penindasnya, ia manusia biasa yang bisa sakit hati dan dendam. Dan hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada karyanya.

Penjara apapun tak akan menyekap kerativitas dan kebebasan Pramoedya dalam berpendapat, berpikir dan menjadi diri sendiri. Penjara hanya sekedar belenggu, belenggu pengasingan dari hingar bingar dunia. Meminjam kata-kata Tan Malaka, “siapa Ingin merdeka, hendaklah mereka siap dipenjara.” Pramoedya telah melalui hal itu, dan menang melawan lupa. Dan mereka yang dibungkam akan tetap bersuara meski dalam kubur. Tak akan ada penjara yang sanggup memasung pemikiran, membelenggu kata-kata dan menahan kebebasan. Semua hanya menunggu runtuh, entah oleh waktu atau kerasnya si pesakitan dalam melawan! []





[i] Lembaga Pers Mahasiswa, Universitas Negeri Yogyakarta, didirikan pada tanggal 20 April 1992
[ii] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I. Hasta Mitra. Jakarta, 1995 (hal. 19)
[iii] Ibid 87
[iv] Ibid 87
[v] Michel Foucault, Discipline & Punish: The Birth of the Prison (NY: Vintage Books 1995)
[vi] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II. Hasta Mitra. Jakarta, september 2000 (hal. 4)
[vii] Ibid. 11
[viii] Istilah serupa pernah diberikan oleh Muhidin M Dahlan dalam obituari Pramoedya Ananta Toer “Pram, Buku yang tak selesai dibaca”
[ix] Majalah Tempo NO. 08/XXVIII/27 April - 3 Mei 1999
[x] Menarik, karena Mochtar Lubis adalah salah satu sastrawan “Manikebu” yang berseberangan pandangan dengan Pramoedya yang dianggap sastrawan Lekra. Dalam suatu waktu Mochtar Loebis pernah mencibir Tetralogi Pulau Buru, namun mereka sama-sama menjadi korban fasisme Orba saat harian Indonesia Raya milik Mochtar Lubis di bredel pemerintah Orba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar