Sabtu, 30 April 2011

Fandy Ahmad


~ jangan biarkan timur berkembang

Saya lupa sebenarnya yang mengucapkan kata itu. tapi saya pikir ia benar. Orang-orang (baca peradaban) timur adalah fondasi awal peradaban dunia. Kalian tentu tau peradaban Sumeria, Tigris Eufrat dan Persia. Segala yang menjadi dalih kemajuan bangsa dunia saat ini, asalnya dari timur. Orang orang dari timur adalah para pembaharu yang dipaksa menyerahkan keagungan mereka pada barat.

Ada seorang kawan saya yang berasal dari timur Indonesia. Menurut pengakuan terakhir darinya, ia sempat tinggal di Jayapura, Makasar dan terakhir di Sorong. Kawan saya itu bernama Fandy Ahmad. Orang yang sebenarnya malas mau saya bicarakan. Karena selain baik hati dan tidak sombong, selebihnya ia adalah epigon cita-cita Syahrir tentang Indonesia.

Jika GM menggambarkan Syahrir berdiri di Banda Naira dengan segala kesederhanannya. Saya membayangkan Fandy turun pertama kali di tanah jawa dengan dagu terangkat dan tangan terkepal. Dalam amuk semangat hatinya mungkin ia berujar "hei ko tanah jawa, sa trada takut, sa taklukan ko punya tanah, sonder mundur!" Memang semua itu sekedar imaji. Tetapi setelah sekian tahun bersamanya. Saya rasa imaji itu benar.

Fandy adalah manusia biasa, mukanya standar sekali untuk dibilang tampan. Selain muka kotak dan badan tegap berotot, ia tak punya pesona lain. Jika tak kenal benar dengannya, anda mungkin akan menganggap ia sebagai seorang buruh tani atau Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan sana. Petani militan yang kerap dipaksa baku pukul dengan aparat demi sejengkal tanah yang menjadi penghidupan.

Adalah ayam jantan dari timur, julukan Hasanudin, Raja Gowa ke-16 yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sejarah Indonesia terlalu sempit untuk menuliskan namanya dengan tinta yang lebih terang. Tetapi suatu saat, saya percaya Fandy akan menuliskan sejarahnya sendiri. Sebagai pembaharu, bukan lagi sebagai penjilat macam Malarangeng tentunya.

Pernah dalam suatu masa yang sial ia dipaksa menjadi sekertaris jendral sebuah organisasi tengik yang seolah-olah ingin memberikan perubahan pada bangsa ini. Sebagai pejuang dari tanah timur 'pantang kata ditarik, wajib beban ditakik'. Segala macam kisah dan perjuangan yang kuanggap semu itu pun kau jalani. Jika kalian bertanya apa itu, cukup kau ingat PPMI.

Pada 19 Maret lalu ia terpaksa harus lulus kuliah. Entah kenapa saya tak merasa senang. Dalam senyum kecut yang ia paksa untuk tunjukan. Ada sebuah beban yang besar disana. Ia harus lulus, orang tua dikampung sudah tak sudi lagi menopang idealismenya. Saya selalu benci keadaan yang memaksa manusia untuk jadi murah. Fandy sebenarnya masih punya semangat lain. Ia hendak menjadikan Pers Mahasiswa dimana ia sempat besar untuk jadi lebih besar lagi. Tapi Tuhan rupanya hendak menguji nyalinya lagi.

Selamat lulus dik. Dalam tengik riuh membahana para wisudawan itu saya mendengar Pushkin, si penyair bebal Rusia itu bersajak tentang pertemuan kita.

A magic moment I remember:

A magic moment I remember:

I raised my eyes and you were there,

A fleeting vision, the quintessence

Of all that's beautiful and rare

I pray to mute despair and anguish,

To vain the pursuits world esteems,

Long did I hear your soothing accents,

Long did your features haunt my dreams.

Time passed. A rebel storm-blast scattered

The reveries that once were mine

And I forgot your soothing accents,

Your features gracefully divine.

In dark days of enforced retirement

I gazed upon grey skies above

With no ideals to inspire me

No one to cry for, live for, love.

Then came a moment of reinessance,

I looked up - you again are there

A fleeting vision, the quintessence

Of all that's beautiful and rare

Jikalau kau harus melacur pada bank dunia, ingatlah Dik. Bahwa akupun pernah melacur. tak ada yang mati perawan kawan. Setidaknya dalam dunia yang terlanjur banal dan pesing ini. Kita telah menuliskan kisah kita sendiri. Lengkap dengan segala tanda bacanya. Sesekali banyak koma yang tertinggal, sedikit titik, berbagai tanda tanya dan selalu ada tanda seru untuk segala penindasan. Ingat Dik, saat kita duduk minum kopi kita mau hidup seribu tahun lagi dan menunda kekalahan!

*ditulis saat rindu skripsi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar