Rabu, 09 November 2011

Palagan Jumerto

~ sejarah menguburkan para pelakunya diam-diam

“Nama saya Hj Siti Romlah. Tapi dulu saya dikenal sebagai Arsiti,” kata perempuan renta itu bertutur. Ada segurat rasa curiga saat saya mendekatinya. Ia enggan bercerita lebih banyak. Namun setelah beberapa lama kami mengobrol ia lantas mau membuka diri dan sesekali tersenyum.

Bu Haji, begitu ia disapa, merupakan salah ssatu janda peristiwa palagan Jumerto. Dan satu dari sedikit saksi sejarah yang masih hidup. Di tengah usianya yang beranjak senja ia hidup secara sederhana bersama keponakan dan kerabatnya. “Saya tak punya anak. Dan dua suami saya terdahulu sudah meninggal,” katanya lirih.

Ibu yang juga janda pahlawan ini tinggal di Desa Jumerto kecamatan Patrang. Rumahnya berjarak sekitar enam kilometer sebelah utara dari kota Jember. Udara desa ini terasa sejuk. Karena masih banyak rindang pepohonan yang tumbuh dikawasan itu. “Kalau musim hukan seperti ini makin dingin. Suka sakit tengah (pinggang) kalau malam,” tuturnya.



Monumen Palagan Jumerto


Tiba-tiba raut wajah Bu Haji berubah saat melihat monumen tinggi di sebelah rumahnya. Bangunan itu adalah monumen peringatan palagan Jumerto, dibuat sebagai penghormatan pada para pahlawan yang gugur saat peristiwa peristiwa tahun 1949. “Dulu suami pertama saya mati di tembak belanda. Kakak kandung saya juga,” katanya tiba-tiba. Bagi beberapa orang menceritakan kematian bukan perkara mudah.

Tepat pada 11 Februari 1949 terjadi peristiwa heroik, perlawanan masyarakat desa Jumerto dan pasukan Mobrig (sekarang Brimob) terhadap penjajah Belanda. Saat itu pasukan Mobrig di bawah pimpinan AKP Soekari, datang ke desa Jumerto dengan kekuatan 3 Pleton atau kurang lebih 90 orang. Mereka tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang dan Jember.

“Pak Soekari mampir untuk istirahat. Itu sudah malam kalo gak salah jam 1an,” tutur Bu Haji. Namun kehadiran mereka ternyata diketahui oleh salah seorang mata-mata Belanda. Sepanjang malam pasukan Mobrig yang beristirahat itu tak menyadari bahaya yang mengintai. “Kalau ingat itu saya sering menangisi saudara saya,” seru Bu Haji.

Esok harinya pukul 06.00 tentara Belanda yang terdiri dari KNIL dan Gurkha (pasukan elit India dari Inggris) mengepung tempat peristirahatan tentara Mobrig. “Waktu itu dak pake ngomong. Sukur tembak aja dor dor dor saya yang di rumah jaraknya jauh sampai dengar,” kata Bu Haji.

Pertempuran memang tak bisa dielakkan. Karena pada saat itu telah ditanda tangani perjanjian Renvile yang bersisi semua pasukan Republik harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Timur. “Kakak saya yang jadi tentara pelajar langsung kesana. Suami pertama saya juga padahal udah rame bak tembakan,” serunya.


Nama-nama korban Mobbrig


Sebagian tentara Mobrig yang tak sadar dengan mudah dihabisi oleh pasukan KNIL dan Gurkha. Mengetahui itu warga desa Jumerto yang setia pada Negara Indonesia tak terima dan melakukan pertempuran melawan pasukan Belanda. Sampai menjelang siang, disaat pertempuran berlangsung pasukan Brimob mendapatkan perintah untuk tidak melanjutkan perlawanan. “Pas mau Ashar itu pak Sukari mundur padahal sudah banyak yang mati,” runut Bu Haji.

Dari puing pertempuran ditemukan bahwa ada 13 anggota Mobrig yang gugur dan 20 warga Jumerto. Bu Haji yang kehilangan saudara dan suaminya berusaha tegar sebagai kerabat pejuang.

Nama-nama korban dari desa Jumerto


“Saya rela sungguh rela. Ini demi negara,” katanya pelan.

Kini telah 62 tahun sejak peristiwa itu terjadi Bu Haji masih sendiri memperjuangkan hidup. Rumah sederhananya tak ada yang istimewa. Dingin dan sepi dari hiruk pikuk. Tak satupun penghargaan yang ia terima selain sebuah monumen mati dan seperangkat mukena atas jasa keluarganya. “Saya pernah diberi mukena sama pak Kapolres itu saja,” katanya.

Konon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Kini Bu Haji menikmati sisa umur dalam kesunyian. Ia ikhlas merelakan keluarganya sebagai tumbal perjuangan kemerdekaan.

“Ya sudah mungkin ini rejeki saya. Alhamdulillah seng penting merdeka,” ujarnya lirih.


Bu Haji

1 komentar:

  1. klo sejarah nama desa jumerto sendiri gmn yah,spertinya nama2 desa di patrang utara unik-unik

    BalasHapus