Kamis, 24 November 2011

Tentang kematian yang tak perlu jadi Melodrama

~ Saya percaya kematian itu bukan ending, tapi sekedar prolog untuk episode hidup yang berikutnya.

Apa yang lebih menyedihkan dari kematian? Saya belum tahu dan semoga saya tidak akan hidup untuk merasakan hal yang lebih menyedihkan dari kematian. Karena dalam hidup saya yang Cuma 2 dekade lebih sedikit ini, saya cukup melihat banyak kematian. Saya melihat bagaimana Ibu saya terdiam sedih melihat nenek meninggal dan 4 tahun lalu saya sendiri begitu terkapar melihat sahabat saya meninggal. Dan sejauh yang saya tahu, itulah hal yang paling menyedihkan yang bisa dirasakan manusia.

Hari ini sebenarnya saya ingin tidur seharian, bermalas-malasan, karena semalam saya memeriahkan natal bersama saudara yang kebetulan beragama nasrani. Saya sudah beranjak pada ranjang empuk saya, saat tepat pukul 10.05 ponsel saya berbunyi nyaring. Entah apa yang menggerakan tangan saya meraih ponsel itu, karena biasanya saya membiarkan saja dan lanjut tidur. Beberapa detik setelah pesan terbuka, uluhati saya seperti dihantam Mike Tyson. Ayah teman baik saya meninggal.

bapakku baru aja meninggal dunia, ak minta maaf kalo almarhum pernah punya salah

Saat itu waktu rasanya berhenti, saya mematung melihat pesan itu, statis dalam diam. Saat itu saya merasa de javu, mengingat perasaan saat kita menghadapi kematian. Saat semua kata tak mampu lagi melukiskan rasa kehilangan, maka hanya dalam diam kehilangan itu akan berbahasa.

Kesadaran saya kembali saat Ibu saya masuk dan menyuruh saya memberi makan Ayam dan bebek peliharaan kami. Saya menatap Ibu dan bercerita tentang peristiwa yang baru saja berlangsung. Beliau hanya tersenyum dan berkata “kalau kamu umat islam yang baik, tugas kamu sekarang adalah menghibur temenmu dan berdoa buat Bapaknya”. Saya bergegas bangun dan memberi melaksanakan tugas dari Ibu lalu mandi dan siap-siap menuju Jember.

Sebelum berangkat saya menyampaikan kabar duka tersebut kepada teman-teman saya. Setelah mengetik pesan singkat itu kemudian saya mengirimkannya, sekali lagi saya terdiam. Hampir separuh dari phonebook saya adalah temannya juga.

Konon anda bisa menilai karakter dan kebaikan kehidupan seseorang dari suasana kematiannya. Saya percaya itu, karena dalam hidup saya mengalami dua kali momen kematian yang dihadiri banyak orang. Dan hari ini adalah salah satunya

Hari ini saya menemani teman baik saya itu sejak dalam pengusungan jasad almarhum sampai dengan dikuburkan di liang lahat. Saya terpukau melihat dia diam dalam ketabahan, melihat dia kuat ditonjok kehilangan. Dan sesekali tersenyum bercanda dengan saya. Hari ini saya merasa dia jauh lebih dewasa dari dua kali umur saya yang tidak seberapa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar