Jumat, 04 November 2011

[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku


Ada banyak peristiwa sederhana yang kasat mata kita pahami sebagai keseharian. Namun apabila hal tersebut dibingkai dalam sebuah sudut pandang yang berbeda. Akan ada estetika, keharuan dan perasaan bebal.

Keseharian mencengkeram kita kedalam kubikel kubikel kumal yang mengharuskan kita jadi robot. Menjadikan kita sebagai individu yang mekanis dan acuh pada sekitar. Lalu secara perlahan kita kehilangan identitas diri sebagai manusia, sebagai mahluk yang memiliki perasaan, dan yang paling mengerikan kita kehilangan cinta.

Ini yang coba diretas Revolvere Project (RP). Project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. RP ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus.

Tema-tema yang diangkat project ini merupakan tema-tema sederhana di keseharian namun berusaha dilihat melalui sudut pandang yang berbeda; untuk meninjau ulang maknanya dan memperdalam perannya dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia biasa yang seharusnya luar biasa. :)

Didirikan pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Al Jihadi (seniman visual).

Mari membuka mata, telinga, dan rasa... Selamat menikmati karya mereka yang pertama.

Kau Yang Mengutuhkan Aku
Revolvere Project
Naskah Fahd Djibran

Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.

Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.

Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.

“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”

Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.

“Kamu mau menginap?” tanyamu.

Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?

“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”

Aku mengangguk. Kita sudah sampai.

Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.

Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

“Aku memilih yang kedua,” kataku.

“Aku juga,” katamu. Tersenyum.

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”

Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.

“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.

“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”
Nanyikan lagu kesukaan kita
Percepat laju roda
Ku tak peduli dengan mereka
Asal kau di sini

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

Tak bosan-bosan
aku ucapkan tiga kata itu
Aku tak pernah merasa lengkap
Sampai kau datang

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

…dan dunia seakan membenci kita
Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri
…dan aku melihat segalanya
Saat aku melihatmu

Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.

Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.

Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.

Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.


Bertahanlah,
sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar