Senin, 07 November 2011

Skłodowska

~ I am among those who think that science has great beauty.

Saya membayangkan di ujung hidupnya, Skłodowska, sedang memandang rerumputan hijau. Mengingat masa kecilnya di pinggiran kota Warsawa. Segala kenangan berkelindan dalam pikirannya dan sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya. Sementara seperti biasa tatapan mata Skłodowska datar. Seolah tak pernah ada emosi dalam hidupnya.

Suatu pagi di Sancellemoz Sanatorium Passy, Haute-Savoie, di timur Prancis. Skłodowska sedang terbaring sangat lemah. Kanker dalam tubuhnya sudah memasuki tahapan yang tak tersembuhkan. Ia menyadari bahwa hidupnya sudah memasuki tahap akhir dan sebentar lagi tirai tertutup. Tak ada gurat kesedihan atau penyesalan dalam hidupnya. Sebuah tahapan kebebasan yang terlepas dari hiruk pikuk dunia.

Sebuah usaha moksa dari betari ilmu pengetahuan yang menghendaki kesempurnaan hidup. Ia tak mengenal agama. Segala pengetahuan mengenai ajaran kasih sudah lama ditinggalkan dalam tumpukan tabung kimia. Namun ujung hidupnya merujuk sebuah kemiripan pada jalan para bodhi. Dukkha Nirodha Ariya Sacca. Jalan kerelaan dan keikhlasan untuk melepaskan segala keinginan.

Skłodowska muda adalah seorang ilmuan brilian yang jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. Serupa Faustus yang menjual jiwanya untuk pengetahuan pada Mephisto, maka si gadis brilian dari Warasawa menjual jiwanya demi sains.

Apakah ia menyesal? Tidak. Sejarah mencatatkan ada harga mahal untuk sebuah perubahan. Tumbal dari martir sebagai sebuah jalan lain pencerahan. Kisah Ibrahin dan Ismail. Komodor Yos Sudarso dan berbagai kisah epik lainnya. Bahwa ada sebuah sisi tengah mata uang yang jarang sekali dipahami sebagai proses.

Tentu ada melankolia. Romantisme. Apalah arti sebuah epos tanpa kisah romantik? Si gadis kecil dari pinggiran Polandia jatuh cinta dengan seorang Pieere Curie si kutu buku dari paris. Bukan karena ia mencintai magnet sehingga Skłodowska dan Pieere bersatu. Tapi karena memang seringkali cinta terjadi dengan cara yang salah.

Maka sesungguhnya tak ada radium tanpa Skłodowska dan Pieere.

Tapi seperti setiap drama yang baik. Maka tragedi adalah salah satu ending paling monumental dalam kisah cinta manapun. Pieere harus meluluh dalam kematian karena sebuah kecelakaan tragis. Apakah sekali lagi Skłodowska kecewa? Tidak. Ia menemukan eskapisme baru. Radiologi memperoleh messiahnya.

Kita tahu tak pernah bisa dan tak boleh bermain-main dengan kematian. Seperti mendekati nuklir dan mengotak-atiknya sebagai sebuah sumbu pemanas. Melarutkannya dalam tabung-tabung kimia. Serta memaparkan sinarnya kepada tubuh. Sebuah usaha bunuh diri yang manis demi umat manusia.

Seringkali tak banyak para martir sadar akan perbuatannya. Mereka seperti sedang berbincang mengenai tiket konser untuk bertemu santo Petrus di gerbang surga. Atau meniti sirathul mustakim seperti sebuah kegiatan akhir pekan. Skłodowska tak pernah menyadar bahwa eskapisme masokisnya adalah sebuah titik balik pengobatan.

Ada ritus kemudian yang mengenang jejak mereka sebagai tindakan profetik. Bahwa ada campur tangan tuhan dalam kisah-kisah transenden penemuan umat manusia. Dimana seringkali ada sebuah mitos-mitos dan kisah kisah sampingan tak perlu dalam narasi tersebut. Bukankah semua tragedi harus diawali dari sebuah sikap nyinyir yang pejal?

Bahwa Skłodowska adalah seorang genit yang mengganggu pria muda beristri?

Entahlah. Saya tak pernah percaya santo dan rasul membawa kebaikan pada dunia. Para pendosa-lah yang memberi gigir dunia sebuah perspektif baru. Penyeimbang akan kebaikan yang harus dihindari, ditinggalkan dan dimusuhi. Tapi seringkali nilai-nilai normatif degil memberi kabut paling besar pada pencapaian yang luar biasa.

Dan inilah ia Skłodowska si Gadis Dari Pinggiran Warsawa. Masih menjadi satu-satunya wanita yang meraih dua penghargaan raja dinamit. Bahkan melampaui ekspektasi semua laki-laki, jika anda berpikir dari kaca mata feminis. Seorang wanita yang terluka bisa menemukan pengobatan dengan cara melukai diri. Konyol? Mungkin, tapi seluruh dunia menikmatinya.

Seraya mengamini Chairil Anwar bahwa hidup hanya menunda kekalahan. Karena kita tahu ada banyak hal yang tetap tidak terucapkan meski telah coba diutarakan. Kata-kata sudah kehilangan makna dan kekuatannya saat hati dan pikiran kita sudah tak lagi linier. Namun sebelum pada akhirnya kita menyerah mengapa tak buat keabadian.

Ah Marie Skłodowska Curie yang malang. Untuk apa hidupmu terbuang?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar