Jumat, 25 November 2011

Tiga cerita, Satu Narasi. Disabilitas






Anugerah Tuhan dan Luka

Seorang pria paruh baya duduk termenung sendirian. Matanya menerawang jauh entah kemana. Kerutan-kerutan di dahinya serupa perigi yang mengalir. Entah sudah berapa banyak cerita yang orang itu lalui. Asap rokok merambati mulut dan hidungnya. Sesekali ia hembuskan dengan perlahan. Ada sebuah rasa haru yang lindap dalam hati pria itu.

Pria itu adalah Modhar, warga Suko Jember, Dusun Leces. Ia sedang menunggui putrinya Siti Nurfadilah di sebuah sekolah yang terletak di kawasan patrang. Sesaat kemudian gadis cilik berusia sekitar 13 tahun datang menghampiri. Seketika itu juga wajah Modhar berubah ceria. Senyum tulus terkembang lebar dan tak jua berhenti ia lantas memeluk gadis itu. Tapi ada yang aneh, si gadis tak berkata satu kalimatpun. Ia hanya mengerjapkan bibir dan menggerakan tangannya.

“Putri saya itu tuna rungu wicara, ia tak bisa bicara dan mendengar,” jawabnya serta merta. Siti fadilah tetap bergelayut manja dibahu ayahnya. Modhar lalu mematikan rokoknya dan menuntun Siti masuk ke dalam kelas. “Saya mau ambil rapor siti dulu,” katanya tersenyum. Siti berjalan bersampingan dengan ayahnya, sesekali gadis itu tersenyum nakal dan mencuri tengok pada orang di belakangnya.

Modhar adalah salah satu orang tua wali murid yang hari itu khusus datang untung mengambil rapor di SDNLB Patrang. Sekolah itu sedikit tersembunyi dari jalan raya utama jalan patrang. Terletak tepat di Jalan. Dr Soebandi, gang Kenitu no 56 Jember. “Saya dulunya juga tak tahu kalau di sini ada SLB,” kata Modhar sambil keluar ruangan kelas. Siti sudah tak nampak di sampingnya, gadis cilik itu sedang seru bermain dengan sebayanya di lapangan sekolah.

Tak banyak orang tua yang berkenan menyekolahkan anak istimewa mereka di SDNLB. “Banyak orang tua yang malu sama anak mereka yang cacat, saya ndak gitu, saya justru makin sayang dengan Siti,” ujar Modhar tiba-tiba. Ia menyulut sebatang rokok lagi, lalu membetulkan topinya. Ada binar mata kebahagiaan saat ia melihat Siti bermain bersama temannya. “Saya gak habis pikir sama orang yang jahat sama anak cacat. Mereka itu kan titipannya Gusti Pangeran,” serunya lesu.

Siti awalnya diasuh Modhar secara pribadi. Ia tak tahu jika di Jember ada Sekolah Inklusi yang bisa merawat anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum sekolah di SDNLB Patrang, Siti selalu rewel dan menangis jika ada anak yang sekolah. Ia seringkali tak mampu berkomunkasi dengan baik. Siti hanya bisa menangis dan memberontak jika tak dapat dipenuhi kemauannya. “Tapi sekarang sudah bisa nulis, kadang saya diajari bahasa isarat juga sama bu gurunya,” ungkap Modhar bangga.

Tiap hari selama tiga tahun terakhir Modhar bolak balik tiap pagi mengantarkan Siti ke sekolah. Jarak yang lumayan jauh tak menjadi kendala bagi pria yang berusia 50an tahun ini. “Saya tak mau anak saya tertinggal, pokoknya harus sekolah sampek saya gak mampu lagi (biayai),” katanya tegas. Ia ingin menebus janji pada ibu Siti yang sebulan lalu meninggal. “Ibunya siti sudah meninggal sakit stroke, sebelum mati ia bilang Siti itu anugrah, jangan disia sia,” ujar Modhar. Ada rasa haru yang lindap saat Modhar mengucap kata anugrah.

Riva Akmalia Amanda, atau yang biasa disapa Icha, adalah seorang gadis berkerudung yang enerjik di usia pertengahan dua puluh. Ia tengah bermain dengan anak-anak di tengah lapangan. Ada Siti diantara mereka, dengan senyum lebar mereka bermain dan bekejaran. “Kadang orang suka menggunakan kata cacat, itu kurang tepat, lebih baik gunakan kata berkebutuhan khusus atau disabilitas,” ungkap gadis yang juga berstatus pengajar di sekolah itu. Disabilitas sendiri berasal dari kataDifferent Abled People atau orang yang memiliki kemampuan berbeda.

Icha menyebutkan bahwa penggunaan kata cacat kadang sudah berkonotasi negatif. Lebih dari itu dapat mengurangi nilai kemanusiaan dari seseorang. “Kesannya jelek,” tandasnya pendek. Lelah bermain, Icha lantas duduk di depan kelas bersama Modhar. “Anak-anak di sini itu semua istimewa, semua spesial, Allah memberi mereka semua kelebihan,” kata Icha. Modhar tak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan-lahan.

Di kejauhan seorang anak berlari-lari riang sambil tertawa lepas. Ada seorang ibu yang mengejar anak itu seraya berteriak-teriak. Anak itu adalah Desy Mintriani, seorang penderita down syndrome, yang berkejaran dengan ibunya Mimin. Dengan telaten Mimin akhirnya bisa menangkap dan mendekap erat Desy. “Sini ibu betulkan dulu bajunya, jangan gerak-gerak,” ujar Mimin lembut. Desy seketika terdiam, ia masih saja menatap kosong pada langit langit saat ibunya mengikat erat tali di belakang bajunya. “Nah sekarang anak ibu sudah cantik,” katanya

Ibu dan anak itu lantas berpelukan mesra dan memasuki ruang kelas untuk mengambil rapor. Di dalam anak-anak yang lain sedang asik bersenda gurau dengan rekan sebayanya. Ada orang tua pula yang duduk menenangkan mereka yang mulai rusuh itu. “Sebentar lagi rapor dibagikan,” kata seorang guru. Selepas menerima rapor Mimin dan Desy keluar ruangan dan berencana pulang. “Dulu anak saya 10 bulan di sekolah biasa, tapi tak mampu. Di sini saya senang dia bisa baca tulis,” kata Mimin sambil tersenyum.

Beberapa orang tua yang anaknya memiliki kebutuhan khusus sering kali menafikan kondisi anak mereka. Orang tua semacam itu kadang memaksakan anak mereka untuk sekolah di sekolah biasa, akhirnya anak-anak tadi tertinggal dan semakin tertekan. “Desy sudah lima tahun disini, salah satu yang pertama, sekarang ia bisa juga menggambar dan mewarnai,” kata Mimin.

Hal-hal sederhana dari anak terkadang mampu membuat kebahagiaan bagi seorang ibu. “Saya terima Desy apa adanya, ia bisa nulis nama saya saja itu sudah luar biasa, bikin saya nangis,” ungkap Mimin. Dukungan keluarga dan merupakan faktor utama dalam perkembangan anak-anak disabilitas. “Bapaknya Desy jauh lebih sayang dari saya, kita sebagai orang tua kan bisa mendorong dan merawat,” katanya.

Seperti Mimin dan keluarganya, Modhar juga tak ingin Siti Nurfadilah hanya berhenti pada SDNLB. “Kalau nanti mau kuliah saya kuliahkan, pokoknya jadi orang,” kata Modhar. Kini Modhar yang hanya seorang petani berharap adanya fasilitas dan perhatian yang lebih banyak terhadap kaum disabilitas. “Buat sekolah saja jauh, memang sekarang sulit. Semoga saja nanti SLB nya makin banyak,” katanya penuh harap.

Pengabdian dan empati

Seorang gadis duduk di pelataran Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember yang terang karena pantulan cahaya pagi itu. Angin datang semilir menerpa rambutnya yang ikal. Gadis itu berwajah oval, berhidung bangir, kulitnya kuning langsat dan tatapan matanya tegas. Ia punya pesona kasat mata serupa dengan bintang iklan di televisi.

“Panggil saja saya Lutfi,” ujarnya singkat. Ia sendiri adalah seorang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam kelengkapan anggota tubuh. Meski demikian gadis dengan senyum manis ini tak sedikitpun tampak sedih atau malu. “Ini titipan yang diberi Allah sama saya, kenapa harus malu?” katanya singkat.

Gadis asal Bondowoso itu baru saja bersiap membaca koran pagi. Radar Jember yang tergeletak di atas meja ia baca sepintas lalu. “Saya suka membaca, setidaknya memberikan pengetahuan. Kebiasaan ini sudah ada sejak saya kuliah dulu,” katanya. Ya, Lutfi adalah seorang sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Meski memiliki keterbatasan Lutfi tak hendak bergantung pada orang lain.

Awalnya Lutfi diterima di fakultas MIPA dengan jurusan Biologi. Tetapi akibat keterbatasan fisik ia ditolak untuk kuliah di sana. “Saya terima saja, meski demikian saya bertekad untuk tetap kuliah,” imbuhnya. Dengan perjuangan yang cukup keras, dalam tempo empat tahun setengah Lutfi mampu lulus dengan predikatcumlaude.

Selepas kuliah Lutfi berusaha untuk melamar kerja di beberapa instansi dan perbankan. Namun ditolak karena alasan keterbatasan fisik. Ia sempat geram dan patah arang menganggap dunia tidak adil. “Saya kecewa, belum dicoba kok dianggap tak mampu,” ungkapnya. Atas desakan dan dorongan orang tua yang selalu suport, Lutfi akhirnya kembali percaya diri. “Akhirnya saya iseng melamar di sini (YPAC), almamater saya, eh diterima ya sudah saya jalani,” ungkapnya.

Lutfi mengajar di sekolah itu dengan tujuan memberi inspirasi bagi sesamanya. “Yang dibutuhkan orang berkebutuhan khusus bukan rasa kasihan, tapi dukungan dan kesempatan yang sama,” katanya. Ia selalu berusaha memberikan semangat pada semua anak didiknya untuk dapat meraih cita-cita. “Kami juga sama dengan orang normal,” tandasnya tegas.

Seperti juga Lutfi, Nanang Ahsanurohim juga tak ingin anak didiknya yang disabilitas patah arang. Nanang, begitu ia disapa, bertekad menjadi seorang guru bagi anak-anak disabilitas karena melihat keponakannya yang berkebutuhan khusus kesulitan mencari sekolah. “Saya terenyuh melihat ponakan saya itu, dia ingin seperti anak-anak kebanyakan, bisa sekolah dan main,” ungkapnya.

Meski awalnya ia tak berniat untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus, Nanang tak ingin tinggal diam melihat keponakannya tak terdidik. Berbekal kenekatan ia berusaha mencari tahu informasi mengenai jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Awalnya ada di Surabaya, tetapi saat saya main di IKIP PGRI Jember ternyata juga buka jurusan itu,” katanya. Ia lantas kuliah di sana dan bertekad mengabdikan ilmunya untuk dapat mengembangkan anak-anak disabilitas.

Hari itu Nanang tampak rapi dengan balutan baju batik berwarna gelap. Pria muda yang mengajar di SDNLB Patrang ini hendak membagikan rapor kepada wali murid. Wajah Nanang tampak sangat bersemangat, ia tak sabar untuk bertemu dengan para muridnya. “Jarang sekali bisa ketemu sama orang tua nya anak-anak,” katanya senang.

Nanang hanya salah satu dari beberapa anak muda yang memutuskan mengabdikan diri sebagai pengajar di SDNLB itu. Umumnya mereka ingin berbagi kepada para siswa-siswa yang istimewa tersebut. “Anak-anak di sini membutuhkan banyak perhatian dan cinta yang tulus,” kata Nanang. Ia tahu jika pekerjaan ini tak akan memberikan kemapanan apalagi kekayaan. “Saya puas jika bisa melihat senyum anak-anak ini,” katanya singkat.

Di ruang sebelah kelas Nanang, Riva Akmalia Amanda atau Icha, sedang asik bercanda dengan Siti Nurfadilah. Seorang anak tuna rungu wicara yang tersenyum sangat riang. “Saya akan kangen saat-saat seperti ini,” katanya tiba-tiba. Icha adalah seorang guru yang mencintai anak-anak disabilitas sejak remaja. “Saya aktif di PMR saat SMP dan SMA, dulu sering bertemu dengan anak-anak ini,” katanya. Melihat mata anak disabilitas yang polos membuat Icha jatuh hati dan selalu ingin bersama mereka.

“Saat saya bersama anak-anak ini, saya menjadi tenang. Mampu membuat saya lupa terhadap masalah yang ada,” katanya. Ia cenderung merasa nyaman berbagi dengan anak-anak disabilitas daripada dengan orang normal. “Kalo sama anak-anak saya bisa ngajari mereka bernyanyi, tiap anak memiliki karakter sendiri. Yang membuat saya jatuh cinta,” katany halus.

Icha sedapat mungkin bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak ini. Banyak orang yang tak sadar bahwa kaum disabilitas adalah manusia utuh yang punya hak untuk dihargai. “Seringkali orang acuh dan jahat, itu karena mereka tak tahu bahwa mereka punya kebutuhan khusus,” katanya. Masyarakat perlu membuka mata dan bersikap adil dan jangan bersikap apriori pada kaum disabilitas. “Jangan memusuhi apa yang tak kita ketahui,” lanjutnya.


Tersisih dan Terbuang

Gedung tua di pinggri jalan Imam Bonjol nomor 42 itu ringkih diterpa zaman. Cat tembok yang berada di masing-masing sisinya sudah terkelupas. Belum lagi rerimbunan tanaman di depan gedung itu. Jika tak jeli orang akan menganggap gedung itu berhantu dan ditinggalkan.

Ada sebuah monumen nama yang menunjukan identitas gedung tersebut. Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember. Beberapa huruf di monumen itu sudah hilang entah kemana. Tangan-tangan jahil merusak kisi-kisi dinding halaman gedung itu dengan berbagai coretan. Belum lagi poster-poster dan spanduk yang dipasang seenaknya di pagar gedung itu. Gedung itu seolah sendiri di tengah degilnya masyarakat sekitarnya.

Di dalam gedung tua itu ada dua orang yang tengah bercakap-cakap. Seorang ibu muda dan gadis berambut ikal yang asik membaca koran. Ibu itu adallah Mubarokah, kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Jember. Disampingnya adalah Lutfi, salah satu guru di sekolah itu. “Gedung ini mulai beroperasi ejak 89 yang merintis adalah istri bupati saat itu,” katanya.

Ya, gedung tua itu telah berumur lebih dari 22 tahun. “Awalnya YPAC merupakan pusat rehabilitasi bagi penderita polio,” tapi kini kondisinya tak begitu baik. Memang beberapa tahun lalu sempat ada upaya perbaikan dan penambahan fasilitas. Namun semua dirasa kurang. “Idealnya setiap kelas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya. Saat ini SLB YPAC Jember hanya mampu menampung dua kelas saja perangkatan.

Tak hanya kurang kelas, tenaga pengajar juga menjadi kebutuhan yang penting dipenuhi. “Saya memang kepala sekolah, tapi ikut mengajar rangkap beberapa pelajaran,” katanya. Ia sendiri telah berulang kali meminta agar ada guru baru, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan baik dari Diknas maupun yayasan. “Sabar saja,” ujarnya seraya tersenyum.

“Saya tak banyak menuntut, tapi memang begini kondisinya,” ujar Mobarokah. Dalam ruangan utama YPAC memang ada lantai yang terkelupas sepanjang dua meter. Langit-langit yang tak tertutup internit. “Belum lagi fasilitas bagi anak anak, semacam mesin jahit dan komputer,” katanya. Meski demikian Mubarokah dan seluruh pengajar yang ada tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Mubarokah sendiri adalah salah satu dari sedikit pengajar yang merintis usaha pendidikan pada anak disabilitas di Jember. “Saya dulu bersama pak Tamsun (salah satu pengelola SDLB Bintoro) yang memulai mengajar disini,” katanya. Dalam 20 tahun terakhir sudah banyak perkembangan menggembirakan yang terjadi. “Kini mulai ada kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak disabilitas, dulunya mereka diasingkan bahkan dipasung,” ungkapnya

Mubarokah telah mengecap pahit getir sebagai pendidik anak-anak disabilitas. Meski telah banyak berkembang tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi perhatian wanita ini. “Dari lingkungan sini saja tak tau apa itu YPAC, kadang masih ragu menyekolahkan, padahal tiap anak disabilitas punya potensi,” katanya. Ada pekerjaan besar yang masih menunggu diselesaikan.

Umi Salman adalah kepala SDNLB Patrang Jember. Dalam komplek sekolah itu ada pula SMPLB dan SMALB, semua dikelola dengan swadaya dan dibantu oleh dinas pendidikan setempat. Seperti juga Mubarokah, ia masih khawatir dengan pola pikir masyarakat yang menafikan keberadaan kaum disabilitas. “Mereka (anak disabilitas) diasingkan dan tak diurus, padahal mereka manusia juga,” ungkapnya.

Perempuan yang juga telah mengabdi sejak 1989 ini tak berhenti mengembangkan sekolahnya. “Dulu hanya ada SDNLB, tapi karena banyak permintaan dari orang tua wali murid. Saya ajukan untuk membuat SMPLB dan SMALB,” aku Umi. Ia ingin memberikan kesempatan bagi para anak-anak untuk mengeyam pendidikan terbaik. “Mereka adalah anak bangsa yang berhak dapat pendidikan,” lanjutnya.

Keberadaan SDNLB Patrang sebenarnya cukup tersembunyi. Dari jalan utama dr Soebandi, sekolah ini terletak didalam sebuah gang kecil. Plang pengumuman sekolah ini pun tertutup rimbun pohon dan warung di pinggir jalan. “Memang tersembunyi, tapi ini yang ada,” ujar Umi sambil tersenyum.

Baik SDNLB Patrang dan SDLB YPAC merupakan sedikit diantara sekolah yang berbasis pendidikan inklusif bagi kaum disabilitas. “Ada juga sekolah di Bintoro, tapi ini semua terpusat di kota,” kata Umi. Ia tak hendak membandingkan apalagi berkomentar. Namun jarak yang harus ditempuh orang tua siswa demi pendidikan anak disabilitas memang lumayan jauh.

Modhar misalnya, pria asal Jelbuk ini tak tahu jika di Jember ada sekolah bagi kaum disabilitas. “Saat pertama datang kayak sekolah yang gak diurus, tapi ternyata pendidikannya baik,” ungkap pria yang memiliki anak tuna rungu wicara ini. Ia tak ambil pusing yang penting putrinya bisa mendapat pendidikan yang baik. Tetapi apakah akan seperti ini terus? “Mereka yang berkebutuhan khusus juga berhak mendapat pendidikan baik,” ujar ibu guru Mubarokah lesu.(*)

8 komentar:

  1. yes, i said yes they can..
    bahkan seorang berkekurangan fisik yang tadinya ditolak masuk kuliah akhirnya jadi sarjana berpredikat cumlaude?
    what a great scene!
    dan yang paling penting, kita nggak boleh diskriminatif terhadap mereka, betul? :)

    BalasHapus
  2. hey...dari dulu saya merindukan tulisan2 seperti ini..:) just so you know, I do really concern for them meskipun saya tidak pernah bisa berbuat apapun untuk mereka..:(

    tapi, gimana kalo diganti saja difabilitas..:) mereka hanya berbeda dari kita, itu saja..:) tidak ada yang kurang dari mereka, hanya berbeda itu saja..:)

    ah ya, Dan..kalo sempat saya ke Jember dan ketemu kamu, ajak saya ke sana ya..:) saya ingin bertemu mereka..:)

    ah, satu lagi *maaf banyak omong sekali saya*, it'd better if u write this on ur own style..just write with all your feelings Dan, seperti biasa..:)

    BalasHapus
  3. komen awal: Panjang dan lebar, saya asyik nikmati bagian awalnya...biasanya kalo saya ikuti lagi mungkin tulisan ini asyik.... tp kalo kita ikut standar tempo, mana lead tulisan???? (itu masalah dariku) intronya dah cukup apik...
    smoga kribomu membawa berkah bagi tulisan selanjutnya

    BalasHapus
  4. mm, 3 cerita ini maksutnya dari sudut pandang guru, mereka yang spesial, dan orangtua ya... begitu bukan? *pertanyaan oon*

    eh iya, apa kamu tidak berminat meliput cerita anak-anak spesial yang lain, seperti autistic. di jember ada juga kan sekolah yang concern untuk mereka...

    BalasHapus
  5. rencananya mau nulis soal autistis, tapi lagi nunggu momen. kan harus dapet kepercayaan dulu.
    aku emoh nulis kalo gak dapat emosi sama ceritanya

    BalasHapus
  6. Love this.. Ngena di hati dan. Yaaa..walopun kesa nnya le bih cewek dibanding tu lisan yg lain.

    BalasHapus
  7. secara ide.. sangat menyentuh dan menarik. tetanggaku di papua juga anak down syndrom, tp pelan-pelan, dia bisa mengerjakan beberapa hal dan dia bisa menyanyi. sebenarnya, mereka bisa sembuh. kalo disabilitas yang secara fisik, mereka pastinya punya kelebihan lain.

    setuju ma mbak Fayza, km berusaha menyuguhkan tulisan yg berkualitas, tp km trlalu hati-hati, jadi malah kaku. mengalir dengan gaya mu sendiri. tp diedit dikit-dikit biar enak dibaca

    BalasHapus