Sabtu, 08 Desember 2012

Ad Captandum Vulgus

Jajang Kusnandar boleh jadi tak pernah berpikir keputusannya membuat akun pada laman twitter akan menarik banyak perhatian. Saya kira ia adalah pemuda sederhana yang hendak mengenal sosial media. Tak ada yang salah dari hal ini. Kecuali anda sepakat bahwa terma kata ngentot dan ngewe adalah sebuah kata yang main-main. Ia tak membawa implikasi serius pada sebuah pemikiran, atau jika saya boleh berlebihan, menunjukan kepribadian sebuah bangsa.

Itu pun kalau tokoh Jajang ini benar-benar ada.

Jajang, yang saya perkirakan hanya sebuah tokoh rekaan hasil konspirasi (atau pemikiran jenius?) dari orang-orang yang ditasbihkan menjadi selebtweet. Terma terahir tadi barangkali hanya di Indonesia. Penokohan seseorang menjadi selebritas, seseorang yang dirayakan kehadirannya, karena tweet tweet yang dirasa fenomenal atau bahkan sendu merasuk. Saya tak pernah benar-benar paham apa itu selebtweet.

Apakah ini wisdom of the crowd? Saya kira tidak. Ini hanya ulah iseng mengisi masa senggang dari segelintir pemilik akun twiter yang memiliki banyak pengikut. Jajang sendiri ketika nama akunnya belum berubah menjadi sebuah akun penjualan produk telah memiliki 22.327 pengikut. Mengapa perlu membuat sensasi besar hanya untuk meraih pengikut? Toh mereka hanya sebuah statistik mati yang ada dalam akun jejaring sosial media.

Saya kira awalnya begitu.

Dalam artikel menarik yang ditulis oleh Rhenald Kasali, ketua program MM UI, menjelaskan sebuah fenomen yang ia sebut sebagai revolusi Twitter. Ia berargumen bahwa hari ini Twitter sangat membantu pewartaan karya-karya yang baik. Twitter telah merevolusi banyak hal, termasuk dalam mengedukasi masyarakat. Tapi apakah ini saja? Saya kira banyak juga dari kita yang mengenal atau setidaknya pernah melihat akun Twitter yang mengabarkan keburukan, kebencian dan juga teror.

Lebih lanjut Rhenald lantas menjelaskan bahwa media jejaring sosial media telah membentuk banyak komunitas-komunitas virtual. Baik itu community of problem (dibentuk mereka yang punya masalah sama), community of profession (kesamaan profesi), dan community of interest (kesamaan minat). Setiap komunitas tadi menjaring jenis pengikutnya sendiri, yang belakangan, dimanfaatkan sebagai semacam potential customer.

Pengikut adalah sekumpulan kambing congek yang punya potensi sebagai ladang emas.

Ad Captandum Vulgus, asal kerumunan berbahagia, saya kira relevan disematkan pada fenomena Jajang Kusnandar dan seleb tweet lainnya. Ia lahir dari rahim teknologi internet yang mudah pakai, gadget culture paska BlackBerry booming, dan juga kehausan spiritualitas diri. Kehausan spiritualitas? Selebtweet lahir karena kalimat-kalimat yang terbatas 140 huruf itu terasa benar dan membuat kita tergelak. Beberapa dari kita mengikuti sebuah akun twitter karena kebutuhan motivasi, kata-kata puitis, pengetahuan, dan beberapa hanya sekedar sensasi virtual.

Toh kita menyadari benar lambat laun hampir semua selebtweet akhirnya menawarkan suatu produk, kampanye atau sekedar endorse. Mereka dibayar untuk melakukan ini dan kita secara sukarela kadang melakukan re tweet tanpa menyadari bahwa hal itu berujung pada naiknya nilai tawar sang selebtweet. Apakah ini salah? Tidak. Hal ini sah-sah saja dilakukan. Beberapa gerakan sosial yang lahir di Indonesia diinisiasi oleh selebtweet tadi. Sepertii gerakan #SaveLokananta #SavePDSHBJassin dan berbagai gerakan #Save-#Save lainnya.

Kebaikan, apapun itu bentuknya, adalah kebaikan. Ia wajib diapresiasi.

Selebtweet tadi bahkan bukanlah seorang pesohor di dunia nyata. Banyak tokoh-tokoh di twitter lahir dari sebuah sensasi (seperti Jajang), dari sebuah ajang pertaruhan konyol (ingat janji Joko Anwar), atau karena ia pejabat publik yang naik daun tapi intensitas tweetnya tak jelas (Jokowi). Belum lagi selebtweet yang lahir karena lahir dari fenomena twitwar, twitmesum dan juga seleb dadakan atas sebuah kampanye (#IndonesiaTanpaJIL whatsoever). Mereka adalah sosok-sosok imajiner yang bahkan saya tak pernah temui di alam nyata.

Kita adalah manusia yang kosong. Sampai-sampai membutuhkan orang lain untuk berpikir dan berkata-kata di jejaring sosial media. Pernah saya berpikir dan berdiskusi keras dengan seorang kawan yang aktivis masjid. Mengapa akun motivator keagamaan bisa begitu populer hanya karena ia men-Tweet ayat-ayat Quran atau hadis. Padahal kita bisa dengan mudah dapatkan dan pahami dengan membaca langsung. Apakah kita perlu membuat Al Quran dijital hanya untuk mendekatkan diri pada tuhan?

"Barangkali manusia terlalu sibuk Dhan. Sehingga ia butuh orang lain untuk mengingatkan," begitu kata kawan saya. Sibuk tapi masih sempat membuka twitter dan melakukan interaksi hingga berjam-jam ketimbang bersosialisasi, membaca atau bahkan mencari tahu sendiri? Bagi saya ini lebih pada kemalasan sosial daripada sebuah fenomena sosiologis. Kita dijebak dan dikonsumsi oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri.

Atau mungkin kebanyakan dari kita merasa twitterland lebih baik daripada dunia yang sebenarnya.

2 komentar:

  1. Kita adalah manusia yang kosong.

    Saya merasa tersindir, sekaligus suka sekali, dengan tulisan ini (:

    BalasHapus
  2. Apik e dab. Thanks for writing this.

    BalasHapus