Minggu, 09 Desember 2012

Selesai

Pada akhirnya saya berhenti membaca Catatan Pinggir karya Goenawan Mohammad setelah sekian lama. Zarah, yang ia kutip dari buku Partikel karya Dewi Lestari, menjadi Caping terakhir yang saya baca. Ada kekecewaan yang merayap dari dada saya. Mengapa harus Zarah?

GM dalam caping berjudul Zarah, sepertinya hendak menggambarkan bagaimana anak-anak bicara. Bagi saya Partikel adalah bagaimana orang dewasa membentuk anak-anak untuk berpikir dewasa. Zarah dibentuk sang ayah. Ia tak pernah benar-benar berpikir sendiri. Dan seperti semua umat Locke yang setia. Tabula Rasa adalah kanvas. Orang dewasalah yang kemudian menggambar bagaimana anak mereka akan menjadi sebuah pribadi. 

Ada pertaruhan besar yang dilakukan seorang penulis saat menyusun sebuah sequel cerita dengan rentang jarak waktu yang lama. Di sana seorang penulis akan mempertaruhkan segala yang ia miliki. Seringkali seorang penulis menjadi pemenenang dengan kembali merebut perhatian para pembacanya. Namun tak jarang juga ia harus terjungkal dan dilupakan karena sequel yang disusun tak sebaik karya awalnya.

Coba tengok Alexandre Dumas dalam kisah The Three Musketeer-nya. Setidaknya ada dua kisah lain yang mengisahkan petualangan Athos, Pathos dan Aramis. Namun tak membuat kisahnya yang lain semeriah pendahulunya. Meski kemudian Dumas bisa kembali bangkit melalui kisah lain, The Count of Monte Cristo. Saya kira penulis novel yang macam ini dituntut untuk memiliki mental seorang intifada yang tak kenal menyerah.

Formulasi tidak biasa dengan menolak bercerita secara linier. Hampir setiap cerita dalam episode Supernova seolah tidak memiliki keterhubungan. Namun hal inilah yang membuat setiap cerita Supernova menjadi sangat menarik dan selalu saya tunggu. Ksatira, Putri dan Bintang Jatuh barangkali adalah cinta pertama saya pada Dee. Ia membuat saya termanggu dan terus kagum dengan permainan kata dan sajian data yang luar biasa luas. Ia, barangkali, orang yang sukses menyederhanakan terma berat sains kepada banyak pembacanya.

Akar adalah kisah Supernova kedua yang membuat saya terbayang petualangan akbar macam kisah balada si Roy karangan Gola Gong. Kisah misterius Bodhi mampu menarik pergulatan pemikiran mengenai siapa tokoh ini, mengapa ia melakukan perjalanan dan silang sengketa pertemuannya dengan berbagai kejadian sungguh sangat menarik. Lebih dari itu Akar barangkali model travelogue yang sangat keren yang dipadukan dengan kisah fiksi.

Sementara Petir meski sedikit mengecewakan merupakan kisah komedi gelap. Saya suka penyosokan elektra dan bagaimana detil-detil kecil seperti tony@yahoo.com bisa membuat kita tersenyum lepas. Juga bagaimana fragmen perpindahan agama kakak elektra dan pergumulannya tentang keyakinan. Dalam banyak hal Petir merupakan episode underdog yang justru bagi saya memiliki potensi pergulatan cerita yang paling rumit. Meski ia bernada seperti menggurui atau bahkan mirip kampanye entrepreneurship.

Tapi di atas itu semua episode Supernova Partikel sangat mengecewakan.

Sejak awal membaca saya sudah membayangkan ekspektasi yang luarbiasa tinggi tentang partikel. Bagaimana tidak setelah delapan tahun menunggu saya kira Dee akan membuat sebuah gebrakan baru. Cerita yang akan membikin jantung meloncat atau kepala pening. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan diri akan keterkejutan. Tapi rupanya benar harapan seringkali menjadi pengkhianat paling tengik.

Ada inkonsistensi yang saya temukan dalam kisah Partikel. Pada halaman 219 "Aku hanya berdoa agar Sarah tetap tenang." Berdoa? Oleh orang yang menganggap dirinya atheis? Okelah anggap ia penganut agama jamur. Berdoa kepada jamur? Err…Saya tak paham apa maksud Dee dengan menuliskan ini. Pada halaman 227 sebuah paradoks hadir. Ketika sang ayah bilang manusia adalah anak yang lupa keluarga dan perlu diingatkan perihal amnesia (?) sejarah dirinya. Tapi dilain sisi ia gagal menunjukan apa itu keluarga yang sebenarnya.

Menarik kemudian bagaimana penggambaran Zarah yang tak mampu bersosialisasi baik dengan manusia kebanyakan, mampu menyatu dengan baik dengan sekian banyak orang asing pada komunitas penyelamatan orang utan. Pada halaman 228 tergambar jelas bagaimana ia sebagai manusia yang selalu dianggap berbeda menemukan hubungan yang lebih manusiawi dengan orang utan. Fragmen ini barangkali yang paling menyentuh bagi saya.

Partikel adalah usaha menemukan timur di barat. Seusai membaca partikel ada banyak hal yang saya pikirkan. Jika ini adalah dalam episode ini ia bicara soal praktik spiritualitas pagan, mengapa tak membahas para shaman mentawai? Bishu di Sulawesi atau praktik Gandrung di Banyuwangi? Entahlah. Setiap penulis memiliki kebijaksanaanya masing-masing. Namun saya sangat terganggu perihal adanya fakta bahwa kita memiliki kedekatan geologis dengan shamanisme di negeri sendiri.

Jika pada KPBJ Dee memasukan banyak wacana sains dalam novelnya. Maka dalam episode kali ini ia bermain main dengan isu lingkungan, biologi dan shaman. Dengan sebuah perbedaan besar yang menyenangkan. Pada supernova seri pertama Dee seolah menjadi mahasiswa semester satu yang ingin memasukan semua pengetahuan baru yang ditemuinya dalam text books. Partikel lebih halus dan lebih renyah merangkai pengetahuan sains dengan kata-kata yang rapi dan tepat guna.

Secara umum partikel mencoba bercerita tentang anak pemberontak super cerdas yang ingin mencari (keberadaan ayahnya) identitas dirinya sendiri. Juga usaha mencoba berdamai dengam masa lalu daripada menentangnya sebagai sebuah realitas yang liyan. Tema ini adalah sebuah tema usang yang sebenarnya sudah sering dituliskan. Perihal pencarian diri? Hal ini hampir membuat semua episode Supernova seperti menjadi sebuah novel motivasional atawa self help book.

Namun kesalahan terbesar Dee adalah penjelasan mengenai apa tujuan penulisan Supernova. Menurut saya seorang penulis besar akan mampu menyampaikan maksudnya tanpa memberikan penjelasan. Ia akan sampai dengan sendirinya kepada pembaca. Sayangnya Dee dengan ceroboh menuliskan bahwa Supernova adalah “Buku tentang penelusuran spiriutalitas.” Apakah ia pikir pembacanya tak bisa menilai hal ini sendiri?

Partikel dan Zarah adalah karya yang seharusnya tak pernah dibuat. Ia adalah manisan yang membuat gigi nyilu. Saya rasa ini tanda untuk tak membaca lagi Supernova dan Catatan Pinggir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar