Rabu, 12 Desember 2012

Sepotong Fragmen di Jogja


Memulai kisah tentang Jogja tidak pernah mudah. Apalagi harus memulai sebuah tulisan panjang perihal lepasnya diri dari kota ini. Di Jogja kita tidak melupakan kenangan, kita merayakannya diam-diam hingga tanpa sadar menyublimnya sebagai sebuah ritus.

Lempuyangan menjelang sore adalah panorama yang selalu membuat saya takjub. Melihat gerbong-gerbong dingin yang bersandar malas. Logawa barangkali satu-satunya kereta yang paling saya akrabi dalam hidup. Entah sudah berapa kali saya menaiki kereta ini dari Jember menuju Jogjakarta. Tiap pedagang asongan, tiap sudut toilet, tiap rangkaian gerbong dan tiap menu makanan yang ada di kereta itu sudah saya lewati. 

Lempuyangan adalah seorang ibu yang selalu rela menyambut anak-anak asing di pelukannya.

Saya selalu percaya rumah adalah tempat dimana kita bisa berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Di rumah kita juga bisa membangun mimpi, menata masa depan dan merencanakan kehidupan. Rumah adalah dimana setiap impian dimulai. Namun bagi saya rumah bisa berarti apa saja. Di Jogja saya tak punya rumah, barangkali hanya beberapa tempat menginap. Itupun sementara dan tak pernah lama. Namun di manapun tempatnya, Jogja selalu berhasil membuat saya merasa pulang.

Mencari tempat yang kita sebut rumah barangkali bisa lebih rumit memilih pasangan hidup. Di rumah itu kita akan menjalin cerita. Mematri kenangan bersama orang-orang yang kita sayangi. Tapi dimanapun sudut Jogja adalah sebuah halaman rumah. Entah berapa kenangan yang saya buat di sudut-sudut kota ini. Di lingkungan keraton, di lingkungan kampus UGM-UNY, toko-toko buku dan puluhan angkringan. 

Barangkali kita diteluh, Jogja membuat mereka yang hadir selalu kasmaran untuk terus kembali.

Tapi dimana kau bisa menemukan cinta di Jogja? Semua sudut kota ini menawarkan cinta, barangkali kau hanya butuh bekerja keras untuk merasakannya. Kita tak perlu malu untuk jadi melankolis di Jogja. Setiap trotoar, pertigaan dan emperan toko barangkali sudah habis menawarkan kisah. Hanya saja sebagian dari kita ogah diam sebentar menyesap dan memaknai sebuah adegan dengan cara yang lain.

Di sebuah burjo, semacam warung 24 jam, saya duduk sendirian. Lantas seorang pria datang, dengan logat batak ia memesan nasi sayur. Tak lama seorang pria Tionghoa datang memesan Indomie dengan telor. Kami duduk terdiam lama sampai kemudian hujan datang ketika mamang burjo yang orang Sunda itu berkata. "Wah mas telornya abis," dengan polos saya menjawab "Telor siapa A' yang abis?"  Kami semua tertawa. Orang asing di tempat asing dengan berbagai latar yang sama sekali tak sama, tertawa pada sebuah lelucon yang tak sengaja.

Pernahkah anda ke Jogja dan dibuat jatuh cinta? Saya pernah. Berkali-kali.

4 komentar:

  1. jogja akan selalu ramah pada siapa yg datang dan tinggal disana mas:)

    BalasHapus
  2. Pernahkah anda ke Jogja dan dibuat jatuh cinta? Saya pernah. Berkali-kali.

    :)

    BalasHapus
  3. Langsung mbrebes mili usai baca. Tiga bulan lagi harus meninggalkan Jogja. Ah, perasaan ini!
    ='(

    BalasHapus