Rabu, 26 Desember 2012

When Love Is All You Need


Saya tak pernah benar-benar suka The Beatles. Bagi saya mereka adalah sebuah patron yang mesti dihancurkan generasi berikutnya. Sayangnya yang menjawab tantangan ini adalah anak kecil bernama Justin Bieber yang membandingkan dirinya dengan Beatles yang maha kanon. 

Beberapa lagu mereka saya akui  merupakan pencapaian jenius yang barangkali hanya akan terjadi sekali dan tak pernah akan diulang. Ia adalah representasi sebuah zaman yang bergerak secara dinamis, cerdas, unik dan yang paling penting mampu beradaptasi. Paska bersinggungan dengan begawan musik India Ravi Shankar, warna musikalitas The Beatles mampu menunjukan bahwa apa yang dimaksud timur dan barat hanya sebuah label. Lewat musik mereka mampu membahasakan diri secara lebih ringan, lebih mudah dipahami dan yang jelas lebih baik dari segala yang menyertai setelahnya.

Saya percaya ada tiga hal di dunia yang mampu menyatukan dunia. Pertama adalah karya seni lukis, yang kedua seni pertunjukan dan yang terakhir adalah musik. Lukisan semestinya universal, ketika estetika menjadi bahasa ia bisa dipahami oleh semua orang. Seni pertunjukan tak mengenal bahasa, ia adalah sebuah keseharian yang dimanifestasikan dalam gerak. Namun di atas itu semua adalah musik yang memberikan kita kesadaran bahwa hidup bukan perkara klaim kebenaran atas yang lain. Tapi perkara merasakan, mendengarkan dan menikmati hidup dengan kesederhanaan.

Video ini adalah jawaban dari itu semua. Kebencian Terry Jones, yang dahulu pernah membakar Al Quran, luruh hanyut dibawah nyanyian cinta. The Beatles menaklukan segala perbedaan, bahwa hidup yang sebenarnya adalah hidup yang dijalani dengan cinta. Bahwa tak ada lagu yang tak bisa dinyanyikan, tak ada hal yang tak bisa dilakukan, dan tak ada yang bisa menghentikan kita untuk belajar. Selama kita memiliki cinta. Love is all you need.

Samar-samar saya membayangkan, barangkali kelak di surga jika ia ada, tuhan akan memulai pagi dengan memutar lagu ini. Kidung manusia-manusia dari segala zaman, segala peradaban dan segala ras menyatu. Mendendangkan syair yang begitu syahdu. Semoga.

There's nothing you can do that can't be done.
Nothing you can sing that can't be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game
It's easy.
There's nothing you can make that can't be made.
No one you can save that can't be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you
in time - It's easy.

All you need is love, all you need is love

2 komentar:

  1. bener banget tuh hidup butuh cinta

    BalasHapus
  2. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.

    BalasHapus