Jember pada akhir dekade 90-an dan awal 2000-an
dicitrakan sebagai daerah yang penuh konflik. Maraknya konflik agraria dan
perebutan lahan pertanian yang menautkan warga masyarakat kabupaten ini dengan
militer dan PTPN X, telah mengakat reputasi daerah ini sebagai daerah
pembangkang. Belum lagi reaksi keras warga Jember yang menolak ketika Gus Dur dimakzulkan
dari jabatan presiden dari 2002, dengan membentuk laskar jihad berani mati.
Citra keras, pemarah dan mudah dibakar isu hampir lekat dengan Jember.
Jember, saya akui, bukanlah surga. Tapi di sini kami
bisa menikmati perbedaan seperti sambal yang segar. Di dalamnya ada berbagai
elemen yang membuat citarasa sambal ini berbeda dan unik. Pedasnya mungkin akan
membuatmu terkejut, berkeringat bahkan mungkin berkeluh tak bisa bicara. Tapi
pedas itu memberikan kelegaan, sebuah kenikmatan, a blessing in disguise, sesuatu yang barangkali susah ditemukan di
manapun
Saya bukan orang yang lahir dan besar di Jember.
Tapi menghabiskan lebih dari delapan tahun kuliah dan tinggal di Jember
memberikan saya sedikit gambaran bagaimana kabupaten ini dibangun. Di sini
perbedaan adalah keseharian yang tak mungkin tak dihadapi. Dalam sejarahnya daerah
ini dibangun oleh dua suku besar yaitu Jawa di sisi selatan dan Madura di sisi
utara. Kedua suku ini bertemu dalam melting pot bernama Jember hingga
melahirkan ragam budaya yang hibrida.
Pada masa penjajahan Belanda dua etnis ini
didatangkan untuk membantu proses pertanian dan perkebunan yang menjadi tulang
punggung kehidupan di Jember. Warga di sisi Selatan yang didominasi oleh orang
jawa yang datang dari daerah Mataraman membuka lahan pertanian padi dan
sayuran. Sementara di sisi utara orang-orang Madura bekerja di berbagai
perkebunan milik pengusaha asing seperti Tebu, Kopi, dan Tembakau.
Melalui liputan mendalam yang dituliskan Andreas
Harsono, seorang jurnalis lulusan Harvard asal Jember, saya mengetahui sedikit
sejarah kota ini. Pada 1850an Jember
mulai berubah menjadi kota urban ketika George Birnie, seorang warga Belanda
keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke
Eropa. Birnie inilah yang di masa lalu mendatangkan pekerja dari daerah sekitar
Blitar dan Pulau Madura.
Karena keberagaman etnis yang ada di Jember ini salah
seorang peneliti bahasa jawa Prawiroatmodjo (1985) dalam Bausastra Jawa Indonesia
II, menyebut kelompok kebudayaan yang ada sebagai masyarakat Pendalungan. Pendalungan yang berasal
dari kata dhalung berarti periuk atau
bejana dianggap sebagai representasi kota yang menaungi banyak etnis,
kebudayaan dan identitas sosial. Di kota ini setiap perbedaan diakomodir,
setiap tradisi diberi ruang dan setiap masyarakat diberi kesempatan untuk unjuk
diri.
Tapi masyarakat Pendalungan bukan an sich hanya milik masyarakat Jember
saja. Lebih lanjut dalam penelitian milik Guru Besar Sastra Universitas Jember,
Prof Ayu Sutarto, masyarakat ini adalah mereka yang mendiami daerah tapal kuda
di Jawa Timur. Seperti Bondowoso, Lumajang, Probolinggo dan Situbondo. Ciri
dari masyarakat ini pada pola komunikasi yang tak mengenal strata. Dalam
lingkup personal (sesama suku jawa atau antar suku madura) tradisi lisan
penempatan strata bahasa mulai dihilangkan. Hal ini merupakan bentuk
egalitarianisme/kebersamaan yang terbentuk dari bertahun interaksi dari kedua
suku besar ini.
Namun demikian, meski terpisah jarak interaksi dua
suku ini malah sangat intens pada perayaan-perayaan keagamaan dan hari besar
dan di pusat kota. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Christanto P Rahardjo,
seorang budayawan dan akademisi, ditemukan jika di proses adaptasi kebudayaan
sangat cair. Artinya kebudayaan asli bawaan dari identitas kulutral mereka,
semisal jawa dan madura, bisa berubah tergantung dari audiens penikmat dari
seni tradisi tadi.
Contohnya seperti di Desa Candi Jati, Kecamatan
Arjasa Jember, ada kelompok ludruk Mara Jaya yang dalam pertunjukannya
menggunakan Bahasa Madura karena memang komunitas penontonnya berasal dari
etnis Madura. Namun di Desa Panti, terdapat kelompok jaranan Turonggo Sakti
yang memadukan jaranan Jawa dan Osing, sedangkan para pelakukanya merupakan
campuran antara warga etnis Madura, Jawa, dan sebagian kecil Osing.
Kondisi yang begitu cair ini melahirkan banyak ragam
modifikasi tradisi baru yang luar biasa. Contohnya adalah budaya Patrol,
kesenian patrol adalah seni yang lahir dari hibridasi kebudayaan
jawa-madura-islam. Dimana dua etnis ini bergabung dalam satu kelompok musik
yang dulunya dimanfaatkan untuk membangunkan warga yang sedang puasa, melalui
tetabuhan dan lantun sholawatan. Seiring berkembangnya zaman salawatan diubah
menjadi lagu daerah, lagu dangdut bahkan juga lagu-lagu perjuangan.
Instrumen musik pada acara patrol sangat mudah
dilacak sebagai gabungan antara perangkat Jawa dan Madura. Dalam penelitian
Prof Ayu ditemukan bahwa instrumen tersebut antara lain a) dhung-dhung, bambu besar sepanjang kurang dari 1m dengan alat
penabuhnya, berfungsi sebagai kendang; b) gong,
dua buah bambu terikat dalam satu bentuk insrumen, ditabuh dengan alat penabuh
yang dililit karet, berfungsi sebagai gong besar dan gong kecil; c) krucilan, perangkat angklung, berfungsi
sebagai pengiring lagu; d) seruling; dan e) kempul, bambu yang berdiameter
relatif kecil dan dipukul dengan penabuh yang juga dari bambu, berfungsi
sebagai pengiring gong.
Dalam setiap pementasan kelompok musik patrol
biasanya sang vokalis harus menjadi polygloth
yang menguasai banyak bahasa. Karena mereka kadang harus bernyanyi dalam bahasa
Madura, Jawa atau bahkan Osing. Ya Osing, suku asli Banyuwangi ini juga
tercatat menjadi warga yang banyak mendiami sisi kota Jember sebelah barat.
Meski tak banyak namun keberadaan suku Osing di Jember memberi warna tersendiri
dari proses kesenian yang berkaitan dengan seni musik dan seni tarik suara.
Tak hanya Patrol, kesenian yang berkembang di Jember
ternyata diilhami dari berbagai interaksi antar masyarakatnya. Seperti kesenian
Can-macanan Kadhuk yang sekilas
seperti barongsai ini, dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan macan
yang dianggap perkasa. Dalam penuturan para seniman yang masih aktif, kesenian
ini dulunya dipakai untuk menakut-nakuti garong,
gali atau maling yang kerap beraksi
ketika masa panen tiba. Belakangan kesenian ini sering dipentaskan pada acara
sunatan atau hajatan yang bersifat tidak resmi.
Acara musik patrol ini mendapati puncak
eksistensinya setiap bulan ramadhan tiba. Hampir setiap waktu sahur
kelompok-kelompok ini muncul di sudut-sudut desa dan komplek di kota Jember.
Meski tak sebanyak dulu mereka masih asyik dan tetap berupaya keras untuk
melestarikan warisan budaya kota ini. Setiap tahun ada pula kompetisi patrol
yang diadakan pada minggu kedua bulan ramadhan. Di sana tak hanya umat muslim
saja yang ikut berpartisipasi dan menikmati keriuhan suasana. Beberapa kali
dalam festival itu ada pula kelompok barongsai yang turut ambil bagian.
Kelompok Barongsai ini dipentaskan oleh kelompok
masyarakat Tionghoa yang ada di Jember. Mereka, berbeda dengan stigma
kebanyakan, merupakan kelompok masyarakat yang aktif berinteraksi dengan
sekitar. Dalam setiap momen Cap Go Meh atau tahun baru China, masyarakat
Tionghoa Jember diberi ruang untuk melakukan perayaan. Biasanya di
kelenteng-kelenteng yang tersebar di kota Jember mereka mementaskan tarian
naga, barongsai atau bahkan mengundang kelompok Reog untuk meramaikan suasana.
Meski tak sebanyak Suku Jawa dan Madura etnis
Tionghoa sudah mendiami Jember sejak lama. Hal ini terbukti dari tersebarnya
berbagai kelenteng di kota Jember yang memiliki umur puluhan atau bahkan
ratusan tahun. Salah satunya adalah kelenteng Fung San Sie yang terletak di pusat kota Jember. Kelenteng ini
dibangun pada 1940an, A Kiem generasi ketiga penjaga kelenteng ini tak hapal
benar. Namun yang jelas salah satu cerobong asap kelenteng ini dibangun pada
1946.
Untuk mencapai kelenteng ini kita mesti masuk
blusukan di antara kompleks pertokoan dan perumahan. Letaknya persis di samping
sungai Bedadung yang membelah kota Jember. Di samping kelenteng tua ini juga
terdapat pondok pesantren yang sama sekali tak pernah merasa terganggu dengan
aktifitas kelenteng. Meski termasuk dalam kategori bangunan bersejarah
sayangnya kelenteng ini kurang terawat. Padahal gedung ini merupakan salah satu
kelenteng tertua di Jember yang masih berdiri.
Sempat dilarang pada masa Orde Baru masyarakat
Tionghoa di Jember kini mulai berani berekspresi dengan memunculkan banyak
sekolah Wushu dan Barongsai. Bahkan Jember merupakan satu-satunya kota yang
menjadi tuan rumah PON XV diluar Surabaya, untuk cabang olahraga wushu. Kini
setelah sekian lama para mentor Wushu jember tak hanya menerima murid yang
berasal dari etnis Tionghoa namun juga masyarakat umum.
Tapi bukan hanya itu saja saya mengagumi Jember
dengan segala keriuhannya. Lebih dari itu Jember menunjukan wajah paling
manusiawi yang pernah saya lihat dalam upaya toleransi umat beragama. Tak
dipungkiri bahwa Jember merupakan kota santri. Ada lebih dari 40 pondok
pesantren besar atau kecil yang tersebar di seluruh penjuru kota ini. Mulai
dari pesantren salafiah yang mengajarkan pemahaman kitab kuning sampai dengan
pesantren modern yang akrab pada teknologi. Meski menjadi agama yang dominan
Jember tak pernah riweuh dan ikut
campur urusan kepercayaan orang lain.
Menurut catatan Kantor Pariwisata Kabupaten Jember
di Dusun Krajan, Desa Pontang Kecamatan Ambulu terdapat satu kelompok
kepercayaan Sanggar Candi Busana Persada. Kelompok ini adalah salah satu
‘agama’ yang diakomodir dan dilindungi hak-haknya. Agama ini merupakan salah
satu dari cabang aliran kebathinan Sapta Dharma yang berkembang di Jawa. Para
penganutnya memiliki ritus personal yang berkembang dan memberi warna pada
kebudayaan masyarakat Jember.
Hal ini diperlihatkan pada acara petik laut larung
sesaji yang dilakukan dua kali dalam setahun ketika bulan Suro. Dalam acara itu
kelompok kepercayaan Persada bersatu bersama ulama Islam setempat untuk
mendoakan sesaji yang akan dilarung. Menariknya adalah sebelum dilarung sesaji
ini juga diberkati di salah satu kelenteng Dewi Kwan Im di Pantai Putih Malikan
(Papuma) kecamatan Wuluhan Jember. Artinya ada harmonisasi tiga agama yang
melatari tradisi petik laut ini.
Berlatar pantai berpasir putih yang konon didampuk
menjadi salah satu pantai terindah di Jawa Timur, Papuma menjadi panggung
ritual adat istiadat yang berumur puluhan tahun. Petik laut seolah menjadi
sebuah ritus yang tak pernah lupa dilakukan pada setiap tahunnya. Kepala
kerbau, hasil bumi dan beragam sesaji ditaruh dalam kapal kecil yang telah
didoakan oleh pemuka tiga agama. Di pantai dengan air jernih dan pemandangan
indah inilah bukti bahwa Jember adalah surga bagi mereka yang merayakan
perbedaan sebagai fitrah.
Kecamatan Wuluhan dan Ambulu di Jember yang
bersebelahan barangkali bisa menjadi contoh bagaimana banyak agama dan
keyakinan tumbuh dan berkembang. Di dua kecamatan ini bertebaran pesantren,
namun ditempat ini pula ada sebuah gereja katolik dengan jumlah jemaah yang
besar, di kecamatan ini pula ada satu kelenteng yang diklaim sebagai klenteng
pemuja Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara. Belum lagi keberadaan lebih dari
200 jemaat keyakinan Persada mendapat jaminan untuk bebas berkeyakinan.
Pada natal tahun inipun sama saya kira. Umat katolik yang memiliki lebih dari 20ribu jemaat di Jember melakukan kebaktian seperti biasa. Penuh khidmat dan mesti bergantian karena hanya ada dua gereja besar di kota dan satu lagi di kecamatan. Meski tak besar namun umat katolik di Jember boleh menepuk dada lega. Setiap perayaan hari besar keagamaan selalu ada banser yang menjaga jalannya misa. Apakah ini suatu bentuk antisipasi? Saya kira tidak. Barangkali ini adalah hadiah natal.
Dalam sebuah canda, beberapa kawan aktifis Banser mengatakan mereka menjaga gereja agar semua umat katolik bisa ikut misa. Tak perlu takut lantas ikut berjaga. "Yang misa biar misa. Masa orang ibadah harus gantian karena mesti jaga?" kata kawan saya itu. Ini pula yang membuat Jember, sebagai kota dengan julukan kota Santri, bebas saja menunjukan ucapan selamat natal dengan vulgar. Belum pernah sekalipun dalam hidup saya di Jember menemukan larangan untuk mengucapkan atau melarang ibadah natal.
Pada natal tahun lalu gereja Indonesia mencanangkan tahun budaya iman. Maka tahun ini "Allah Telah Mengasihi Kita" yang diambil dari nukilan I Yohanes 4:19. Barangkali kita bisa belajar dari keteladanan Yesus dalam menyebarkan kedamaian. Saya percaya hidup akan lebih damai ketika kita berusaha menerima persamaan daripada berusaha mencari perbedaan. Seperti di Jember, kita boleh beragama apapun. Selama ia tak mengganggu orang lain. Lagipula apa asyiknya hidup dengan membenci?
cetar membahana .... keep on the move .....
BalasHapusBagus
BalasHapus