Jumat, 19 April 2013

Cita-Cita



Saya tak pernah punya cita-cita yang wajar. Ketika kawan lain di TK ingin jadi pilot, dokter, tentara dan polisi. Saya ngotot pada Ibu Halifah, guru TK saya, ingin jadi Ranger Biru yang pintar dan insinyur itu. Menginjak SD cita-cita kawan saya sudah mulai rasional ingin jadi guru atau sekedar orang kaya, iya ada anak kecil yang berpikir orang kaya itu adalah hal yang hebat, saya malah ingin jadi Kotaro Minami si Putra Matahari Ksatria Bajahitam RX. Barangkali mimpi-mimpi saya adalah hal naif yang jadi lelucon tengil.

Menginjak SMA ketika hidup saya sudah mulai masuk akal dan pikiran mulai logis. Keinginan saya sederhana saja. Bukan cita-cita tapi obsesi dan tujuan hidup. Saya ingin punya banyak buku, membacanya, lantas menulis seusai membaca. Sesederhana itu dan semudah itu. Ketika kawan-kawan lain seusia saya terobsesi menggeber dan memodifikasi motornya hingga jadi sangat ciamik. Saya mengumpulkan uang rupiah demi rupiah dari uang saku dan kerja sambilan untuk membeli buku. Saya jadi aneh dan tersisih menjadi sekrup tumpul yang tak bisa berfungsi dengan baik.

Setelah kuliah dan melihat betapa brengseknya dunia orang dewasa saya jadi semakin mantap bahwa saya lebih baik mati muda saja. Saya tak tahan untuk hidup dirundung hutang untuk melunasi rumah, kendaraan, dan cicilan-cicilan lainnya. Saya tak tahan untuk terus bekerja keras untuk memenuhi keinginan memiliki gajet, memiliki ini itu yang tak saya butuhkan. "Kamu harus bekerja keras jadi kamu bisa memenuhi segala keinginanmu. Kamu harus bekerja keras supaya nanti bisa menikmati hasil jerih payahmu. Kamu harus kerja keras supaya kaya dan punya tabungan jadi bisa melakukan hal yang kamu mau," begitu orang-orang bilang.

"Apa selamanya mau jadi karyawan? Kamu gak mau jadi bos punya uang banyak bisa punya ini itu dan bisa ini itu?" kata seorang kawan yang kini jadi pengusaha, dia menyebut dirinya sosial enterpreneur, peternak sapi yang lumayan sukses. Sejujurnya saya tak masalah menjadi karyawan. Saya tak suka memimpin, tak suka berpikir lebih dari yang saya butuhkan dan juga tak mau punya terlalu banyak uang. Saya sudah cukup belajar bagaiman uang membuat keluarga saya berantakan karena perebutan ini dan itu. Saya sudah cukup tahu bahwa punya banyak uang untuk sedikit lagi sampai pada tahapan menjadi tamak dan tak mau tahu asal punya lebih banyak.

Saya tak suka bekerja dan memiliki lebih dari yang saya butuhkan.

Kakak saya yang lumayan mapan dan kaya berkata bahwa menjadi kaya itu pilihan. Tapi memiliki persiapan untuk sebuah skenario terburuk di negeri yang kepalang bangsat adalah keharusan. Di negeri ini mereka yang punya uang adalah orang orang yang selamat. Tidak melulu dalam hal negatif seperti korupsi dan sebagainya. Tapi seperti jika orang yang kau sayang sakit, kau tentu ingin ia dirawat dengan pelayanan terbaik. Itu butuh uang. Ketika keluargamu terjerat masalah hukum dan butuh pembelaan terbaik. Itu butuh duit. Ketika kau ingin anakmu punya ijasah dari lembaga pendidikan yang terbaik. Kau butuh hepeng. Tapi untuk pengetahuan tak harus mahal, aku akan mengajarkan anakku pengetahuan dari buku yang aku miliki. Sementara untuk ijasah sarjana ia harus beli dengan sangat mahal di institusi pemerintah atau swasta.

Orang berlomba-lomba untuk jadi kaya, sangat kaya, tapi sedikit yang mau jadi pintar, terdidik dan memiliki pengetahuan. Mengapa? Karena uang praktis. Kau bisa membayara mahal seorang profesor untuk membuat dildo super yang memproduksi orgasme ganda. Kau bisa membayar mahal seorang penyair atau penulis best seller dunia untuk menulis buku tentang dirimu dan kesuksesanmu. Kau bisa membayar mahal satu pasukan elit yang dididik dari uang pajak negara untuk melindungimu dan aset kekayaanmu. Uang sangat praktis dan mudah digunaka, sedangkan pengetahuan begitu abstrak dan tak bisa langsung dirasakan manfaatnya.

Sekarang ketika kawan-kawan lain yang saya kenal bekerja keras membanting tulang memeras keringat gila-gilaan. Saya malah bersantai dan tak mengerjakan apa-apa kecuali membaca dan menulis blog ini. Mereka bilang saya bodoh dan gila. "Nanti kamu ketika tua akan pontang-panting memenuhi kehidupanmu. Nanti kamu akan susah ketika berkeluarga gak punya uang," kata mereka. Lho saya menjalani mimpi saya. Mereka bermimpi punya rumah besar dan mobil mewah. Sedang saya hanya bermimpi punya buku dan membacanya. Mereka bekerja keras demi mimpi itu sementara saya sudah mencapainya. Apa yang salah?

Mungkin memang saya harus menabung. Bukan untuk saya. Buat orang yang saya cintai. Uang bisa dicari tapi kebahagiaan itu bisa dibeli? Jika ya dimana? Abadikah? Bagi saya ada yang lebih subtil dan profan daripada sekedar bekerja menabung untuk sesuatu hal yang tidak pasti. Berjaga-jaga untuk sebuah skenario terburuk seperti berpikiran buruk pada nasib. Seolah olah ingin berkata "Aku harus punya uang, siapa tahu Tuhan akan memberiku penyakit ganas yang membutuhkan banyak biaya," atau  "Aku harus punya uang, siapa tahu aku akan dipenjara karena kejahatan yang tak aku lakukan," bagi saya tak ada hal yang lebih konyol daripada takut pada hal yang belum tentu terjadi.

Saya akan menabung. Bukan karena ingin kaya. Tapi karena saya percaya Tuhan yang maha baik itu suka iseng memberikan cobaan yang barangkali bisa diatasi dengan uang. Siapa tahu anak saya akan menabrak orang dan balita hingga mati, dengan uang saya akan bisa membebaskannya. Siapa tahu istri saya yang baik tersangkut kasus suap sehingga lupa ingatan dan butuh dirawat di Singapura sambil belanja dengan uang saya bisa menyediakannya. Siapa tahu sodara saya yang aparat itu membunuh preman bajingan atas nama korps kan dengan uang saya bisa membebaskannya. Uang punya manfaat praktis. Berbeda dengan filsafat dan sastra yang saya sukai.

Barangkali cita-cita dibikin bukan buat diwujudkan. Ia ada karena hanya sekedar pemuas ego narsis fasis manusia akan pencapaian dan dominasi. Atau bisa jadi ia adalah wajah lain ketakutan-ketakutan yang belum terjadi. Karl Gustav Jung menyebut hal ini sebagai anima. Sisi agresif manusia adalah sisi feminim. Sisi yang butuh dipuaskan, yang seringkali, tak perlu alasan mengapa ia harus dipuaskan. Cita-cita, keinginan, obsesi dan tujuan hidup. Barangkali tak terlalu rumit dari sajak Wiji Thukul tentang menonton harga. "Ayo! Keluar kita keliling kota / Tak perlu ongkos tak perlu biaya / Masuk toko perbelanjaan tingkat lima / Tak beli apa - apa / Lihat - lihat saja,"

Toh hidup yang hanya sekedar ingin tak akan pernah ada habisnya.

5 komentar:

  1. Coba cek 2 tahun lagi. Kamu masih akan berfikir seperti inikah? :)

    Bagaimanapun, seperti apapun, kita akan selalu kalah dengan angka, nominal ataupun usia. :)

    BalasHapus
  2. semangat!
    Saya juga ingin ahh menjadi diri sendiri.start from now.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi diri sendiri? Diri sendiri yang mana?? Sudah menemukan to?? Menemukan diri berarti menemukan Tuhan sist,,

      Sipp,,Lanjutkan!!!

      Hapus
  3. Dari judulnya, keberanian menjadi kita, lha kita itu apa???
    Apa nda ada keinginan yg lebih baik selain menjadi kit???

    Jika kita sudah tahu apa yang ditetapkan buat kita itu yang terbaik pasti tidak ada keinginan lain selain mengikuti. Masalahnya kita nda tahu ketetapan itu, jadi mencari jalan yang sudah ditetapkan itu aja bro,,

    BalasHapus