Senin, 29 April 2013

Serpih / Bagian

Lelaki itu kuyup dihujani cemburu. Matanya nanar menatap layar terang yang bertuliskan cerita tentang persetubuhan. Tapi bukan persetubuhan yang ia inginkan. Cerita itu adalah perihal persetubuhan lain yang diukir oleh kekasihnya bersama lelaki lain.

"Rasa ingin tahu itu membunuh. Kamu tahu itu," kata Awan Mendung kelabu yang begitu saja duduk di hadapan lelaki yang kuyup kehujanan itu. "Lagi pula apa yang kau cari? Bukankah kau sendiri berjanji tak akan cemburu pada kisah-kisah masa lalu kekasihmu." Awan Mendung itu tersenyum sinis. Kerak kerak muram di tubuhnya menandakan hujan lain akan segera tiba.

Si lelaki hanya diam. Ia menahan setengah mati segala kecemburuannya. Ia tahu kecemburuan pada sebuah kisah tersembunyi adalah vonis mati. Barangkali lebih mematikan daripada janji yang tak ditepati. Atau durhaka pada ibu. "Kenapa tak kau nikmati saja. Kau lelaki. Bukankah hanya butuh pemuasan. Persetubuhan yang panas lantas pergi?" Awan Mendung itu tetap meracau. Ia tahu ia benar. Ia bisa melihat ke dalam isi kepala si lelaki yang dikebiri dengki.

"Ada yang ngilu di hatiku. Mungkin ini cinta," kata si lelaki memecah kesunyian. Ada perigi yang tiba-tiba muncul di sudut matanya. 

"Kau menangis? Hahahaha," Awan Mendung tertawa keras hingga petir-petir dalam tubuhnya menggelegar. Menyambar vas bunga, lampu meja dan remot tivi. "Kamu? Si lelaki tengik dengan otak tak lebih besar dari kacang kedelai jatuh cinta? Leluconmu nyaris sangat lucu kawanku."

Si Lelaki sekali lagi diam. Ia hanya mematung. Menatap nanar dan membaca berulang ulang detil persetubuhan kekasihnya dengan pria lain. Tentang bagaimana ia tak tahu bagaimana cara memuaskan kekasihnya. Bagaimana persenggamaan tak lebih dari sekedar pelaksanaan kewajiban. Tanpa ada perasaan. Tanpa ada ritus. Tanpa ada cinta. "Kamu bukan pujangga. Kamu hanya pengangguran yang terjebak dalam imaji. Bahkan kau tak punya kawan nyata untuk berbagi sehingga menciptakan aku khayalan yang jadi nyata," ujar Awan Mendung nyaris tanpa ekspresi.

Si lelaki lantas berdiri "Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang - gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh. Berenang, dalam  yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati di mataku.*" deklamasi.

"Apa yang lebih menyedihkan dari lelaki yang tak kuasa menahan rindu lantas membaca puisi orang lain tentang kerinduan?" si Awan Mendung tetap mengajek. Ia telah berubah menjadi sekerak badai. Angin ribut, hulu petir dan dentum kilat bersautan dari tubuhnya. "Aku sedang mempersiapkan hujan paling basah yang bisa diingat manusia. Kau akan kubikin lebih perih jika masih seperti ini," Awan Mendung mengancam.

"Hidup hanya menunda kekalahan. Pada akhirnya akan ada yang tetap tak terucapkan sebelum akhirnya kita menyerah bukan?**" Si Lelaki sudah kepalang kasmaran. Ia menegak cinta. Sebuah racun lebih mematikan hemlock yang membunuh Socrates. "Seperti Yesus. Aku akan menebus dosa kekasihku. Tak akan aku bertanya pada-Nya. Mengapa Ia meninggalkanku. Tubuhku luruh menerima luka cinta-Nya."

Betapa lekas puisi membuat kepala si lelaki yang kuyup dengan kecemburuan itu beralih. Ia yang tadi sedang bersedih lantas berubah menjadi pemabuk yang fakir cinta. Mencabik cabik dadanya dengan kuku tumpul. Lantas menuliskan bait-bait sajak omong kosong murahan dari darah yang menetes. Barangkali inilah kegilaan. Barangkali juga bukan. "Kamu adalah sepotong obat merah yang kadaluarsa. Rinduku adalah sabun cuci setengah harga." kata si lelaki tertawa tawa membaca sajak bikinannya.

"Aku mencintaimu lelakiku. Mencintaimu dengan seluruh aku dan kematianku. Mencintaimu dengan peluh dan hidupku. Mencintaimu dengan risau dan marahku," Awan Hitam mulai melahirkan air. Hujan yang membasahi kasur, meja, televisi dan ribuan buku yang dibarkan rusak dimakan rayap. Puluhan kaset tape yang entah apa isinya. Berbagai potongan surat dan sebuah ponsel yang retak.

Barangkali kegilaan adalah kemurnian itu sendiri.




*Puisi Afrizal Malna Aku Setelah Aku. Pada Bantal Bersayap: Empat Kumpulan Sajak.
**Puisi Chairil Anwar Derai-Derai Cemara.

1 komentar: