Senin, 15 April 2013

Ya dan Tidak

"Kita mendulang harapan dari sebuah percakapan masa silam yang harusnya sudah selesai, karena episode itu terlalu bacin untuk diingat lagi," lelaki itu bicara pada perempuan yang tak pernah ada. Perempuan yang telah menahun lalu hilang dan menolaknya mentah-mentah. 

Tapi siapa yang bisa mendesak lelaki kasmaran untuk berpikir lurus yang patah hati karena pengkhianatan? "Harapan-harapan itu selayaknya bayonet. Ia tak berfungsi membunuh seketika. Ia membuatmu terluka begitu hebat, lumpuh, lantas mati perlahan dengan rasa sakit yang keterlaluan," si lelaki masih saja bicara pada masa silam. Telinga lelaki itu dijejali rentetan suara The Mars Volta yang meraung lebih kencang dari kotbah tuhan hari Jum'at.

"Kamu bicara soal pengkhianatan seolah kau satu-satunya korban," di atas pintu awan mendung yang sedari tadi murung angkat bicara. "Dalam sebuah kompetisi tak ada korban. Kau harusnya paham itu ketika memutuskan mengumbar segala perasaanmu di pasar," katanya. 

Si lelaki diam-diam mengutuk kebenaran dalam kata-kata itu. Ia seharusnya tahu. Jatuh cinta semestinya sunyi. Tak perlu keramaian apalagi pengumuman. Cinta yang ditunjukan seperti kabaret sirkus tak lebih berharga dari kentut. Lagi pula sejak kalimat ini kau susun berapa banyak kata cinta yang kau tuliskan? Terlalu banyak cinta hanya akan berakhir pada sebuah kepalsuan.

"Goenawan Mohammad tak tahu maksudku. Juga sahabatmu," kata si lelaki matanya merah dengan dendam. "And now no path on which we move, // But shows already traces of // Intentions not our own," Auden yang merenung merindu lelakinya yang tabu, "Thoroughly able to achieve // What our excitement could conceive, // But our hands left alone," tapi si lelaki tahu. Tak ada puisi yang bisa mengembalikan lagi masa lalu. Tidak juga berjuta kata-kata dari raja kata-kata yang titahnya adalah nasib itu sendiri.

Menyesali masa lalu adalah pekerjaan paling bodoh selain menunggu mati. Si lelaki gadis dari masa lalunya seperti Tuhan dalam kisah Tolstoy. Ia menunggu pertanyaan untuk sebuah jawaban "Ya". Tapi si lelaki hanya bisa terdiam. Bahkan setelah berjam-jam perjalanan bersama, perbincangan hangat dan mimpi yang dibangun sepuluh tahun ke depan. "Lelaki yang tak mempertaruhkan nasibnya untuk sebuah kesepakatan nasib bertanya, tak berhak bicara tentang pengkhianatan," kata mendung yang makin keruh.

"Kau hanya lelaki manja yang takut kalah lantas menyalahkan manusia lain atas kelemahanmu sendiri,"

Si lelaki hanya diam. Pena, kertas dan sebait puisi sudah selesai ia telan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar