Jumat, 12 April 2013

Untuk Anakku Kelak

Nak. Ijinkan ayahmu ini meminta maaf. Barangkali ayahmu ini adalah orang yang selalu alpa berada di dekatmu. Orang yang mungkin hanya bisa berjumpa denganmu di tengah malam dan akhir pekan. Mungkin ayah adalah seorang tua yang hanya bisa marah padamu dan pelit memberi uang saku. Mungkin ayah tak bisa membelikanmu sekotak lego paling baru atau konsol playstation paling canggih. Mungkin ayah tak bisa mengantarkanmu dengan mobil yang bagus seperti milik ayah Dio kawanmu di sekolah. Mungkin ayah tak punya rumah dengan lantai tiga dengan kamar bermain seperti bunya Nina kawanmu.

Tapi yakinlah anakku. Ayah hanya ingin kamu tahu semua itu ayah lakukan karena sayang padamu. Ayah tak ingin kau kelaparan oleh karena itu ayah bekerja hingga larut malam agar kau tidur dengan perut kenyang. Ayah tak ingin kau tidur dengan kedinginan oleh karena itu ayah bekerja di akhir minggu dengan tenggat yang ketat agar bisa melunasi cicilan KPR. Ayah tak ingin kau berotak kosong dan jadi pemalas oleh karena itu ayah berikan ribuan buku untuk kau baca. Anakku yang baik maukah kau bersabar? Suatu hari ayah akan membelikanmu sepeda balap dengan lampu semprong model Gundala yang selalu kau inginkan itu.

Anakku yang baik. Kemarin engkau bertanya padaku apakah cinta itu? Ayah jujur tak tahu harus menjawab apa. Dengan bahasa terbata dan cadel kau bertanya "Ayah. mengapa Lanang tak punya ibu? Mengapa ayah Lanang ada dua?" Ayah tak tahu bagaimana cara menjawabnya anakku. "Mengapa Ayah Ayah lanang dijauhi Ayah? Ayah apakah lelaki dengan lelaki boleh menikah?" Sungguh mati anakku yang baik. Anakku yang pintar. Ayah tak tahu harus menjawab apa. 

Ayah benar-benar terkejut anakku yang baik. Bagaimana anak seusiamu mempertanyakan hal seberat itu? Siapakah yang mengajarimu? Tapi kau tak berhenti sampai disitu. "Ayah, mengapa Ayah lanang dibenci? Mengapa ayah Lanang dijauhi? Ayah, apakah Ayah Lanang penjahat?" Oh anakku yang pintar yang selalu kubanggakan. Ayah selalu kagum dan gemetar pada daya nalarmu. Pada kemampuanmu untuk menyerap dan peduli pada sekitarmu. 

Mencintai, anakku yang baik, adalah anugerah. Tak semua orang memiliki ini anakku. Cinta itu adalah kesenanganmu minum milo hangat di pagi hari. Cinta itu adalah menikmati naruto dan ipin upin di sore hari. Cinta itu adalah libur panjang di rumah nenek. Cinta itu adalah berenang di sungai. Cinta itu adalah ijin dari ibumu untuk menikmati es krim dan kerupuk ketika kau tak mau makan nasi. Anakku yang baik. Cinta itu adalah kamu yang tak pernah lelah merengek agar ibu menemanimu tidur ketika hujan datang.

Cinta adalah usaha untuk memberikan kebahagiaan. Bukan merayakan kebencian.

Anakku yang baik janganlah cepat dewasa. Bermainlah sepuasmu. Karena ketika kau jadi anak-anak bermain adalah bahasa yang paling mudah kau mengerti. Tak ada kebencian dan tak ada prasangka. Bermainlah bersama Lanang, meski pernah kau bertanya "Ayah, mengapa Ibu Dio melarang Dio bermain dengan Lanang? Ayah, mengapa Ayah Nina melarang Nina mendekati dengan Lanang?" Anakku yang baik, ayah tekankan lagi, tak ada manusia yang berhak melarangmu berteman dengan siapapun. Tidak Ayah, tapi kalau ibumu melarang. Turutilah, kamu sayang ibu bukan?

Ayah bingung bagaimana cara menjelaskan padamu. Pasti kamu bingung bagaimana lelaki dengan lelaki saling mencintai? Lantas bagaimana bisa lelaki dengan lelaki menikah? Atau bagaimana Lanang bisa tak punya ibu? Ketahuilah anakku. Ayah tak tahu. Ayah tak pernah mempertanyakan hal itu sebelumnya. Ketika ayah jatuh cinta pada ibumu ayah tak pernah peduli siapa dia. Ayah hanya peduli apakah ia mencintai ayah? Apakah ayah akan selalu mencintainya? Apakah ayah bisa membahagiakannya? Cinta anakku, adalah usaha untuk melupakan perbedaan atau paling tidak menerimanya sebagai sebuah keadaan.

Orang dewasa sering bicara tentang moral, tentang sikap baik dan tentang norma. Ayah tak pernah mengajarkan itu padamu. Ayah mengajarkanmu untuk jujur pada dirimu sendiri. Ayah mengajarkan padamu untuk berpihak kepada mereka yang lemah. Ayah mengajarkanmu untuk selalu berbagi. Lebih dari itu ayah mengajarkanmu untuk mencintai manusia apapun keadaannya. Ayah tak pernah marah meski kamu bandel tak mau tidur siang, atau tak mau makan sayur, atau tak suka minum susu. Ayah akan marah padamu jika kau melawan ibu atau kau menyakiti orang lain.

Minggu lalu ayah mengajakmu bertemu dengan Om Oey Yip. Katamu namanya lucu Oey Yip. Om Oey adalah orang tionghoa. Dulu ada zaman ketika menjadi tionghoa adalah dosa. Kebencian, rasa iri dan ketidakmampuan untuk berusaha membuat sebagian dari kita membenci orang tionghoa. Sama seperti orang orang yang membenci ayah temanmu Lanang. Mereka adalah orang-orang kerdil. Manusia yang gagal memahami bahwa mencintai sesama manusia adalah keniscayaan. Dan kau anakku. Kau, seperti juga ayah, adalah keturunan dari seorang tionghoa yang berani melawan kekolotan dan menikah dengan pribumi. Maka selama ayah hidup dan engkau bernafas. Jangan pernah menyakiti dan mengganggu mereka.

Kamu entah mengapa mewarisi sikap keras kepala dan mau tahu yang ayah miliki. Ketika ayah penasaran ayah tak akan berhenti sampai benar-benar paham dan tahu jawabannya. Ayah tahu kan akan terus merengek, merajuk dan ngambek jika ayah tak bisa menjawab. Persis ketika kau bertanya tentang apakah itu teori ledakan besar atau ketika tiba tiba kau membaca buku Edmund Hussler dan bertanya tentang Fenomenologi. Ayah dan Ibu kau buat lintang pukang kebingungan menjawab. Tentang ayah Lanang, ayah hanya bisa berkata bahwa beberapa dari kita memilih jalan berbeda untuk mencintai. Ada beberapa dari kita lebih suka makan pisang goreng dengan sambal ketimbang keju sepertimu. Ada beberapa dari kita yang suka menyukai Alexander Graham Bell ketimbang Ilmuan Nikolai Tesla idolamu.

Kau mungkin akan mengerutkan dahi tentang sebuah perbedaan tapi tak berlu menghadapinya dengan kemarahan.

Dulu ayah pernah mendongengkanmu tentang kisah Nabi Luth. Tentang kota Sodom dan Gomorah yang mesti hancur karena murka Tuhan. Tapi yakinlah anakku. Ayah tak ingin kau membenci mereka. Ayah tak ingin kau mengadili mereka yang tak kau kenal. Tahukah kau wahai anakku yang baik? Ayah bercerita bahwa tak ada manusia yang berhak mengadili manusia lain. Hanya Tuhan yang berhak. Meski kelak kau akan menemukan beberapa dari kita merasa punya kuasa lebih tinggi dari yang lain untuk menjadi wakil tuhan. Tahukah kau anakku. Di setiap kisah lampau nabi-nabi dan rasul-rasul tak pernah mengadili manusia yang lain. Azab maupun mukjizat selalu diberikan oleh Tuhan. Aku ingin kau tahu itu anakku yang baik.

Jadi lupakanlah apa yang dipikirkan teman-temanmu. Jadilah sahabat yang baik bagi Lanang. Jadilah teman yang selalu setia dan membela. Apapun yang ayah Lanang lakukan tak membuat Lanang menjadi hina. Nasib, seperti kata penyair favoritmu Chairil Anwar, adalah kesunyian masing-masing. Bukankah ayah pernah berkata padamu kita bertanggung jawab pada takdir dan perbuatan kita sendirian di hadapan tuhan. Bersikap jahat dan angkuh tak membuat kita lebih baik di hadapannya.

Anakku yang baik. Pelita hatiku. Ayah tau kau tak paham ini. Suatu saat nanti ketika kau sudah sedikit lebih dewasa kau akan paham. Ini saja pesan ayah nak. Oh ya nak, jika kelak ada yang memanggilmu sahabat tapi mengajakmu menyebarkan kebencian berpalinglah. Tak ada yang lebih menyedihkan dari manusia yang berlindung dari ketiak moral dan meminjam nama tuhan untuk menyakiti orang lain. Sudah begitu saja. Esok sabtu kita ajak Lanang bermain di kebun nenek. Ayah akan mendongengimu tentang nenek sihir kesepian yang hanya bisa nyinyir. 

Kecup sayang dan doa panjang.

Ayahmu.

4 komentar:

  1. Kalau Cuma tuhan yang berhak menghakimi, maka hukum ga jalan, kebebasan tanpa moralitas itu egois .

    BalasHapus