Minggu, 19 Mei 2013

Menulis Musik

Apa asyiknya menulis musik dengan teori? Tak ada. Malahan, bagi saya, menulis musik dengan teori itu membosankan. Sangat membosankan sekali.  Tapi menulis musik dengan pemahaman mendalam dan sikap opini pribadi itu menyenangkan. Ia memperjelas pengetahuan dan posisi kita dalam memaknai musik sebagai sebuah karya seni yang perlu apresiasi. Menulis musik bukan hanya tentang berbincang tentang apa dan siapa. Tapi lebih dari itu, menulis musik adalah menulis tentang gairah dan kecintaan pada band, lagu, skena atau penyanyi yang bahkan lebih mempengaruhi kita dari agama manapun di dunia ini.

Lalu sebenarnya apa itu menulis musik dengan teori? Saya tak tahu, yang saya tahu ketika menulis tentang musik selalu ada perasaan meletup-letup tentang keinginan berbagi. Bahwa menempatkan pembaca artikel musik sebagai seseorang yang mungkin belum pernah mendengar, secara literer, karya dan nama mereka. Hal ini saya lakukan untuk meraih kebebasan bahwa menulis musik tak melulu bicara tentang suara gitar, merdu vokal, atau lirik yang indah. Menulis musik bisa juga bicara tentang proses kreatif manusia, latar cerita perihal sebuah karya diciptakan. 

Beberapa orang meributkan tentang kemurnian menulis musik. "Menulis musik ya menulis musik saja. Apa perlunya menambahkan sejumput pemikiran filsafat, teori ekonomi atawa cerita yang tak relevan?" Tapi apakah itu relevan? Ketika Lester Bangs menuliskan tentang “The White Noise Supremacists” apakah ia bicara tentang industri musik yang bobrok? Atau ketika Theodor Adorno berbicara tentang "On Popular Music" apakah ia bicara bagaimana musik populer merusak kesucian musik serius? Menulis musik bisa jadi sangat serius. Ia tak sekedar tentang bagaimana gitar dipetik, atau syair dinyanyikan, atau bagaimana meriahnya sebuah konser.

Menulis musik telah jauh berkembang menjadi sebuah usaha untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah karya dilahirkan. Mungkin beberapa dari kita barangkali dilahirkan terlalu tua sehingga tak bisa mengikuti gerak jaman yang gegas. Barangkali bagi beberapa dari kita menulis musik adalah perihal menulis tentang musik itu sendiri. Tentang bagaimana lirik sebuah syair ditulis, tentang lengking dan teknik gitar dimainkan, atau bagaimana kualitas suara seorang penyanyi dinilai. Hal-hal teknis membosankan yang bagi saya hanya bisa dinilai dan dimaknai jika kita secara pembaca mengalami sensasi estetis yang sama dalam mendengarkan.

Masalahnya penilaian tentang musik adalah penilaian tentang selera dan ia selalu personal. Bagi beberapa orang musik klasik adalah karya arkaik. Mereka adalah legenda yang sudah melahirkan karya kanonik yang susah dibantah keburukannya. Namun bagi yang lain musik klasik adalah relik yang mestinya dilupakan. Ada pula yang menganggap kebaruan adalah sesuatu yang cool. Avant-garde yang menemukan bebunyian dan suara baru sangat keren. Tetapi bagi yang lainnya, itu dull sebuah usaha keren-kerenan yang tidak ada artinya. De gustibus non est disputandum bukan?

Saya pikir menulis musik dengan menyertakan sebuah narasi cerita sosiologis dari sebuah lagu/band/konser/album adalah hal yang stylish. Tapi tentu akan ada orang-orang pemalas yang malas membaca mengira itu snobbish. Selalu ada yang mengira menyertakan informasi tambahan pada sebuah tulisan adalah bagian dari budaya posh. Sementara buat yang lainnya, itu bosh (ngutip kalimat dari sini). Kita tak bisa memuaskan semua manusia perihal apa yang kita rasakan. Sekali lagi saya percaya bahwa 'thousands of friends and zero enemies' adalah omong kosong pengecut yang tak berani bersikap perihal selera sendiri.

Satu permasalahan klasik dalam menulis musik, sebut saja review album atau konser, adalah menghadirkan kembali pengalaman sakral sensasi mendengarkan sebuah lagu. Review album memiliki celah bahwa selera si penulis bisa jadi sangat berbeda dengan selera pembaca. Permainan kata serta deskripsi kalimat tak akan pernah utuh menyampaikan pengalaman mendengarkan secara langsung. Bagaimana seorang penulis bisa membuat pembaca membayangkan suara yang dihasilkan oleh katakanlah Sigur Ros. Apa yang membedakan suara yang dibikin oleh Jonsi dengan Eny Sagita? Terlepas dari bahasa yang digunakan keduanya punya nilai estetik tersendiri. 

Apa yang membedakan ad libitium Miles Davis dalam So What dengan Sodiq ketika menggarap Keramat bersama OM Monata? Atau apa yang membuat konser Blur di Jakarta beberapa waktu lalu lebih istimewa daripada konser dangdut dengan 25 tahun sejarah panjang di Purawisata di Jogja? Apakah ada kasta dalam musik? Bagi saya tak ada. Tapi saya percaya ada pembagian ruang pembaca dalam penulisan musik.  Mereka yang menulis tentang gelimang visual dan suara magis ala Godspeed You Black Emperor, saya ragu ia berharap tulisannya akan dimengerti oleh tukang becak.

Apakah tukangg becak tak boleh menikmati GYBE! atau memahami musik mereka? Tentu saja boleh. Tapi ada baiknya menulis musik disesuaikan dengan target pembaca kita. Menyebut seseorang hipster hanya karena ia tahu lebih banyak dan ingin lebih berbagi cerita sebuah band bagi saya adalah absurd. Ah sudahlah. Toh bagi saya JKT48 merupakan mood booster paling ampuh daripada album terbaru Explosions In The Sky.

2 komentar:

  1. Seteju sekali kalo selera penulis pasti beda dengan selera pembaca, pemahaman setiap orang pasti berbeda :)

    BalasHapus
  2. wah keren bung! saya penikmat tulisan2 Anda.

    BalasHapus