Sabtu, 04 Mei 2013

Paradoks Mo Yan


Mo Yan adalah paradoks hidup. Ia meraih nobel karena karya-karyanya berusaha bicara tentang represi, narasi kecil, dan segregasi jender yang masih ketat di China. Tapi di sisi lain ia mendukung sensor oleh partai komunis China, menolak dukungan petisi pembebasan pada pejuang HAM China Liu Xiaobao. Lantas bagaimana cara kita bisa memahami jalan pikir novelis yang pada 2012 lalu meraih penghargaan nobel kategori sastra ini? Jawabannya bagi saya adalah tidak perlu. Sebisa mungkin kita melepaskan relasi penulis terhadap karya sastra mereka. 

Tapi pun jika kita hendak berusaha untuk memahami Mo Yan ada baiknya membaca Big Breasts and Wide Hips (BBAWH). Karya ini yang konon digadang-gadang merupakan karya terbaik dan alasan mengapa ia terpilih menjadi jawara Nobel. Kita sekali lagi bisa melihat secara gamblang paradoks Mo Yan. Ia bicara tentang sembilan perempuan, seorang ibu dan delapan kakak perempuan dari berbeda ayah, melalui lisan lelaki bungsu yang masih gemar menyusu. Ia bicara tentang kekerasan, represi dan penindasan namun di sisi lain ia membiarkan pemerintah China menindas Tibet. Meminjam salah satu dialog dalam film V for Vendetta, seorang seniman berbicara tentang kebenaran melalui dusta.

Sejujurnya saya bukan penggemar karya sastra asal Tiongkok. Selain terlalu berbelit, rumit dan filosofis. Karya sastra dari China seringkali melahirkan gegar budaya yang terlalu. Banyak leksikon lokal yang gagap saya pahami. Sementara metafora dan penamaan karakter yang seringkali banyak dan tak Jelas (seperti dalam Gunung Jiwa karangan Gao Xingjian) menciptakan gaya tutur yang rumit dan sangat membosankan. Namun dalam buku BBAWH ini, Mo Yan bisa menghancurkan dikotomi itu dan membuat pembaca awam seperti saya bisa sedikit lebih menikmati karya sastra ini.

Novel ini dimulai dengan kelahiran Jintong yang telah lama diharapkan oleh keluarga pandai besi Shangguan. Setelah tujuh kali melahirkan anak perempuan Shangguan Lu berharap bisa melahirkan anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga. Ketika Jintong lahir desa dimana mereka tinggal sedang dalam suasana invasi jepang. Lantas disela-sela itu ada berbagai detil kecil tentang bagaimana Laidi yang kakinya diikat hingga kecil untuk bisa laku (belakangan kita akan membaca alasannya pada halaman 78). Lantas cerita beralih pada kisah hidup sang ibu dan ketujuh anaknya yang masing-masing merepresentasikan periode sejarah China.

Sang narator mulai berkisah sejak ia disapih sampai dengan dewasa dan kembali ke kampung halaman menahun setelah ia pergi mengungsi akibat invasi Jepang. Ada yang coba ditunjukan dari marginalisasi karakter laki-laki dalam cerita BBAWH. Seluruh karakter lelaki dalam keluargga Shangguan sang Kakek, Ayah sampai dengan Jintong digambarkan lemah hati, pengecut, egois, pemalas dan tak berguna. Sementara di sisi lain seluruh tokoh perempuan dari nenek mertua, ibu dan delapan anak perempuan menjadi tokoh kuat dan tabah.

Fragmen pepatah nenek mertua Shangguan Lű yang diucapkan ketika ia sakit saya kira menjadi inti utama dari cerita ini. “Ayah dan anak lelaki terikat kebaikan, sedangkan ibu dan menantu perempuan terikat kebencian,”. Mo Yan sedari awal barangkali tak hendak menunjukan sebuah romansa yang indah tentang kehidupan para perempuan dari keluarga kelas pekerja di China. Delapan saudara Jintong juga ibu dan nenek mertua merupakan penggambaran degil bagaimana perempuan dijadikan komoditas dan objek represi pada masyarakat patriarkhis.

Bagi saya kekuatan Mo Yan dalam BBAWH adalah deskripsi yang detail. Entah ini karena kepiawaian Rahmani Astuti selaku penerjemah atau memang diksi yang digunakan Mo Yan memang sangat hidup. Deskripsi inilah yang mampu menebas jarak antara pembaca dan imaji ruang dalam novel ini. pada halaman 383 misalnya ketika tokoh Ibu mengangkat mayat Zhaodi, Mo Yan seolah membuat pembaca bisa hadir dan melihat langsung adegan tersebut. Padahal seluruh deskripsi hanya ditulis dalam satu paragraf saja.

Deskripsi ini bisa menjadi sebuah blunder jika pembacanya tak sabaran. Belum lagi dialog yang bertele-tele dan terkesan seperti basa basi tak penting. Pada sebuah dialog pembaca dipaksa untuk sangat berkonsentrasi karena Mo Yan akan dengan mudah membuat kita membaca dan menyelami pikiran si karakter. Hal ini belum ditambah dengan kebiasaan Mo Yan untuk melakukan flash back dan deskripsi perihal masalah sederhana yang menuntut para pembacanya benar-benar teliti.

John Updike, kritikus buku New Yorker, menyebut deskripsi Mo Yan sebagai abundant and hyperactive. Ia tak salah. Mari kita baca deskripsi Jintong tentang payudara Laidi, pada halaman 289 “Dengan gugup aku menuju paling, dimana tubuhnya kini melengkung seperti seekor ikan air tawar yang melompat,” atau pada halaman 429 “Air mata mengalir dari matanya yang sendu, bercampur dengan keringat di wajahnya dan menciptakan petak petak ngarai berwarna ungu,” deskripsi ini di satu sisi sangat hidup dan menciptakan imaji yang sangat liar. Namun di sisi lain seperti kata John Updike berlebihan.


Berbeda dengan banyak warga China yang hidup pada masa revolusi, Mo Yan menolak melupakan masa lalu. Sadar akan sejarah kelam bangsa yang mengalami banyak kematian di bawah rezim Mao. Ia menggunakan metafor dua ibu Shangguan Lű dan Shangguan Lu sebagai representasi negara China. Satu produk kejayaan terakhir kerajaan yang berikutnya adalah produk transisi revolusi kebudayaan yang kejam. Namun peraih nobel sastra 2012 ini dengan satir mengubah tragedi menjadi sebuah lelucon yang pahit getir menjadi menggelikan.

Pengambilan judul Big Breasts and Wide Hips misalnya. Merupakan contoh bagaimana masyarakat patriarkhis China sangat memuja kesuburan. Dada besar dan pinggul lebar dianggap akan memudahkan punya banyak anak. Karena filosofi banyak anak banyak rezeki ini mengingatkan Mo Yan pada bagaimana ia dilahirkan dan dibesarkan sebagai anak petani miskin. Keluarga yang mengharapkan anak lelaki sebagai pembawa kehormatan justru mampu bertahan hidup karena keberadaan perempuan-perempuan yang dianggap tak penting.

Mo Yan sendiri sebenarnya bukanlah nama asli dari pengarang yang dijuluki Shalman Rusdhie "Penulis Aji Mumpung" ini. Mo Yan dalam bahasa Cina artinya “Jangan Bicara” adalah sebuah nama pena dari Guan Moye. Penamaan ini terkait dengan sikapnya yang doyan bicara dan terlalu terbuka, sehingga kerap membuat warga China dan khususnya partai Komunis menjadi tak nyaman. Namun meski banyak karyanya lantang bersuara melawan partai oleh banyak kritikus buku ia tak disukai karena tak mau ambil bagian dalam oposisi yang tegas.

Penulisan lingkungan dan suasana dari novel ini konon merupakan penggambaran dari kampung halaman Mo Yan di daerah Pedesaan Shandong, daerah bagian Gaomi. Daerah yang digambarkan perbukitan mistis yang ketika kabut datang seolah merupakan negeri para dewa. Namun dalam saat yang bersamaan para petani, buruh dan warga miskin (seperti juga keluarga Mo Yan) bekerja sebagai sebuah ironi. Deskripsi dan penggambaran inilah yang membuat ia disandingkan maestro genre realisme magis Gabriel Garcia Marquez.

Novel ini oleh beberapa kalangan disebut sangat orisinal dan menggugah karena melahirkan sebuah genre baru. Genre Hallucinatory Realism atau Realisme Halusinasi. Banyak fragmen dan penggambaran dalam novel-novel  Mo Yan yang sangat aneh atau puitik. Deskripsi mengenai lingkungan, suasana, dan emosi karakternya seolah tergambar menjadi masyarakat yang tinggal di negeri khayangan. Bayangkan sebuah lukisan kaligrafi China maka Mo Yan bisa menggambarkan deskripsi itu sebagai latar dan pembacanya tak perlu repot memahami apa yang ia mau.

Howard Goldblatt, penerjemah karya-karya Mo Yan di Amerika Serikat, menyebut Mo Yan sebagai penulis berani dan nakal yang setara dengan Charles Dickens dan William Faulkner. Goldblatt menyebut kekuatan Mo Yan adalah pada kekuatannya untuk menunjukan bahwa manusia memiliki sisi lemah. Namun dengan penggambaran imajinasi, bahasa dan humor satir kita bisa memahami manusia itu. Mo Yan memang dalam berbagai karyanya seringkali membalut kisah tragedi sebagai sebuah komedi. 

Perempuan-perempuan dalam kisah ini adalah perempuan-perempuan yang menolak tunduk dan menyerah. Mereka adalah China itu sendiri. kekuatan ibu bumi dari simbol kekuatan yang menjadikan china bangkit dan berkembang. Terlepas kontroversinya belakangan ini yang berseteru dengan Salman Rushdie dan Zang Zimou yang membuat film Red Sorghum. Novel Mo Yan ini pantas dibaca namun tidak direkomendasikan bagi mereka yang tak suka dengan dialog panjang dan metafora yang berlebihan.

Sayangnya Serambi, selaku penerbit buku ini, melakukan kesalahan yang bagi saya lumayan fatal. Pada awal bab pengenalan tokoh-tokoh secara tersirat jalan cerita novel ini sudah bisa diraba. Sebagai pembaca tentu saja saya merasa terganggung. Bukan hanya karena kesenangan untuk menguak misteri cerita direbut, tetapi juga definisi karakter yang terlebih dahulu telah diberi label. Semoga jika novel ini mengalami cetak ulang penjelasan serta deskripsi karakter bisa sedikit diperbaiki, sehingga pembaca tak perlu mengalami kecemasan yang saya rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar