Senin, 27 Mei 2013

Penindas


AA Navis pernah berkisah tentang sebuah lebai masjid yang terlalu sibuk mengejar akherat hingga lupa mengurus dunia. Ia bicara tentang sebuah sindiran. Sarkasme yang berbalut sebuah kisah tentang bagaimana sebuah hidup semestinya dijalani dijalani. Pada beberapa derajat kita menyebut perbuatan tidak menyenangkan itu sebagai peringatan. Tapi kita tahu bagaimana akhirnya. Si lebai memutuskan bunuh diri karena tak tahan dengan sindiran. Kata-kata seringkali bisa lebih keji dari kematian itu sendiri. Ia merusak mental, menghancurkan kebanggaan dan ia membuat manusia merasa kalah tak berharga.

Alegori kisah tentang kyai yang masuk neraka adalah usaha Navis untuk mengkritik dengan cara yang halus. Tapi ketidakmampuan lebai masjid tersebut untuk menerima kritik tidak jadi membuat Navis orang yang salah. Kritik, juga sindiran, sayangnya kerap dimaknasi sebagai bentuk kebencian. Padahal jika bisa sedikit saja berpikir lantas merenung, kritik bisa diartikan sebagai usaha untuk mencintai. Lagipula siapa yang rela buang waktu mencari celah buruk dari kita lantas lantang berucap jika tidak untuk cinta?

Dahulu orang menulis cerpen untuk melakukan kritik. Menyamarkan rupa cerita untuk memberikan peringatan. Kita mengenal Harian Rakjat sebagai koran yang kerap menghajar para tokoh melalui rubrik kebudayaan. Ada yang frontal menyebut nama ada pula yang sembunyi dengan metafora. Polemik lahir sebagai ajang untuk menjatuhkan nama dan mental. Koran menjadi hantu yang mengerikan karena disana borok bisa ditunjukan, aib diumbar dan perilaku diadili. Tak ada satu orang yang selamat dengan muka tegap, bahkan buya HAMKA menjadi bulan bulanan.

Social Media adalah hantu baru itu, ia adalah kengerian yang kita sebut sebagai akses langsung untuk berpendapat tanpa harus bertatap muka. Nafsu dominasi dan usaha membuat manusia lain lebih rendah melalui kata-kata nyinyir dan umpatan. Kita menemukan terma baru bullying atau penggencetan sebagai bentuk relasi agresif untuk membuat satu pihak lebih terhina dari yang lain. Seringkali bullying diawali dari guyonan, namun tak sedikit yang memang dilahirkan dengan keinginan menyakiti.

Apa yang salah dari bullying? Saya kira tak ada. Sudahlah jujur saja jika kita menikmati perilaku ini. Ada rasa puas ketika kita melakukan penindasan pada orang yang dianggap lebih inferior dari kita. Ada euforia dan kenikmatan endorfin dari perasaan dominasi atas nasib orang lain. Bahwa orang yang kita tekan, tindas, gencet dan nistakan itu memang pantas diperlakukan demikian. Nafsu primata hewani kita mengambil alih melalui kata-kata keji, pedas, kejam dan ancaman. Saya tak malu mengatakan saya menikmati itu.

Ada perasaan luar biasa nikmat ketika menyakiti orang yang kita anggap sok tau, sok benar, salah dan sebagainya. Kita mengatakan hal-hal buruk, dengan maksud jahat, dan berusaha agar si objek yang kita tuju tak bisa membantah. Twitter dalam hal ini adalah medium yang paling efektif dan paling efisien dalam melakukan tindak penindasan ini. Saya sering mencari-cari kesalahan orang lantas menindasnya, menghujat, atau sekedar pamer superioritas. Saya tak malu. Saya mengakui menikmati hal ini.

Kemarin ada seseorang yang memutuskan mengakhiri nyawa karena tak tahan menerima hujatan. Mungkin begitu. Entahlah saya tak tahu pasti, tapi kebencian juga amarah bisa mengakhiri nyawa seseorang adalah benar adanya. Seorang remaja putri di Atjeh mengakhiri nyawa karena dituduh sebagai pelacur, beberapa siswa SMA depresi karena dihujat setelah melakukan tarian seperti ibadah. Para predator seperti saya seolah mendapatkan legitimasi dan panggung untuk melakukan hujatan dan menyalurkan kebencian.

Internet adalah perwujudan dari ruang publik yang dicita-citakan oleh Habermas. Bahwa seseorang bisa menjadi bagian dari dunia terlepas dari identitas yang ia miliki. Internet menjanjikan sebuah akses tanpa batas kepada para penggunanya untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau. Termasuk juga nafsu untuk menyakiti orang lain. Penindasan atawa cyber bullying adalah hal yang jamak ditemui. Seseorang dengan pengetahuan lebih merasa berhak meluruskan fakta yang salah dengan menyakiti.

Pada akhirnya saya pikir penindasan itu tak akan pernah bisa diakhiri. Diredam mungkin bisa untuk beberapa hari kedepan. Kematian adalah keseharian yang bisa terjadi kapan saja. Tragedi hari ini akan berakhir jadi statistik toh social media merupakan panggung dimana bullying atau penindasan itu sebagai salah satu hiburannya. Mereka yang berpikir untuk berhenti sebentar melakukan bullying karena berpikir itu tidak etis bagi saya sama munafiknya dengan membiarkan kematian itu sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menakar diri bahwa ada ruang-ruang dimana sebuah umpatan bisa dilakukan, sebuah kata tajam bisa utarakan dan kritik pedas disampaikan. Tak pernah ada yang tahu batas etika dan moralitas di internet. Bagi saya itu semua tak penting. Menjadi jujur bahwa saya adalah biang kerok dan orang ketus setidaknya lebih membuat hidup ringan. Tidak perlu menjadi seorang yang belagak sok bijak atau rendah hati. Ketus, keji dan tidak mau kalah adalah jati diri yang tidak takut saya akui.

Beberapa dari kita merasa bisa jadi bijak dengan bersikap santun menghadapi kematian seseorang. Padahal esensinya bukan itu. Bukan pada kematian itu kita bersikap bajik tapi pada keseharian yang lampau. Menjadi bijak adalah usaha untuk menjadi santun dan jujur pada setiap saat. Bukan hanya satu momen tertentu atau hanya karena masyarakat menekan kita berbuat demikian. Seseorang yang berkata lacur tiba-tiba menjadi suci hanya karena dikritik dan takut dicap sebagai amoral. Apa yang lebih menjijikan dari ini?

Twitter memang menjanjikan kemuliaan semu. Perasaan bahwa kita memiliki penggemar yang ribuan, ratusan ribu hingga jutaan. Tapi untuk apa? Untuk menunjukan bahwa kita tahu banyak dan tak setuju pada banyak hal? Kultweet agar dikira cendekia yang bijak bestari. Mungkin satu hari kejujuran dan bersikap apa adanya adalah sebuah sikap membosankan. Kepura-puraan yang keji adalah hal yang kita pikir benar tapi hal itu adalah sebenar-benarnya hal busuk! Lantas kita memujanya sebagai kehidupan, apa yang lebih konyol dari itu?

1 komentar: