Sabtu, 25 Mei 2013

Seni Ruang Kota


Perbincangan mengenai seni kontemporer di Indonesia adalah perbincangan tentang menjelaskan sesuatu yang biasa-biasa saja sebagai sesuatu yang luar biasa tanpa perlu bertindak berlebihan dan melakukan klaim yang tak perlu. Seperti menjelaskan mengapa perupa Nasirun menggunakan medium undangan peluncuran pameran senirupa lantas menjadikannya sebagai karya seni yang baru. Atau menjelaskan mengapa Popoh memanfaatkan mural dan humor sebagai sarana penyampaian pesan di lingkungan urban perkotaan.

Seni kontenporer sebenarnya bukanlah hal yang baru di Indonesia. Ia lahir sebagai anti tesis dari segala tesis mapan terhadap seni, khususnya senirupa, di Indonesia. Semenjak pertentangan atas gaya Mooi indie yang dibawa Raden Saleh dan gaya lukis jiwa khetok yang dibawa S Sudjojono. Atau yang paling baru adalah Gaya Seni Rupa Baru yang dibawa Jim Supangkat dan kawan-kawan yang menolak dominasi galeri, kurator dan satu jenis aliran kesenian yang dianggap sudah terlalu mapan. Seni Kontemporer Indonesia hari ini telah mencapai masa keemasan karena kebebasan medium, cara dan lokasi ekspresinya.

Jember sendiri sayangnya bukan kota yang intim dengan perkembangan seni rupa. Boleh dibilang seni rupa merupakan anak tiri dibanding perkembangan sastra dan teater. Pameran seni rupa dalam rentang waktu delapan tahun sejak saya tinggal di Kota ini hanya dua kali terjadi. Pertama adalah pameran lukisan Mbah Fadli awal 2008 dan pameran grafis Sindikat yang dilakukan pada medio 2009. Selepas itu tak pernah ada lagi pameran seni rupa yang benar-benar serius digarap untuk bisa diakses oleh publik secara luas dan bukan hanya satu kalangan tertentu.

Maka ketika Cak Rahmat founder dan penggagas warung kopi Cak Wang mengajak untuk turut serta dalam pameran seni Instalasi Patah Hati saya menyambutnay dengan riang. Sebagai sebuah wahana untuk mengenalkan dan mengambangkan pemahaman tentang seni rupa, acara ini saya kira sangat baik untuk kembali menyegarkan publik Jember bahwa kota ini masih belum berhenti berdetak dan menyisakan ruang kreatif di dalamnya.

Seni instalasi sendiri adalah proses atau hasil karya seni yang dikerjakan dengan membentuk, memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Seni intalasi bisa jadi tidak bisa dipahami secara lugas karena relasi antara seniman dan audience seni sangat personal. Namun benda-benda yang dipamerkan bisa menjadi sangat dekat karena adanya ikatan emosional dan komunikatif.

Pada seni intalasi karya Dadang Christanto yang bertajuk “Hujan Merah” (Red Rain, 1988) misalnya. Ia bisa saja dimaknai sebagai sebuah karya seni yang menggambarkan gelimang darah, penderitaan, represi dan tragedi. Tapi di sisi lain secara estetik karya Dadang bisa menjadi sebuah seni intalasi yang indah, karena menawarkan sensasi visual berupa objek serupa benang-benang merah yang bertaut dan menghasilkan imaji hujan merah. Persepsi dan pemahaman audience seni menjadi salah satu hal yang menyebabkan tafsir berbeda dan unik satu sama lainnya.

Kemunculan Pameran Patah hati pada awalnya adalah usaha untuk meraakan gagasan, memori, ekspresi dan kenangan perihal jatuh bangunnya sebuah hubungan percintaan. Cinta, dalam hal ini sebuah relasi personal, tak melulu harus sebuah interaksi lawan jenis yang dimaknai secara platonik atawa pemuasan birahi. Tapi juga tentang ikatan pertemanan, persaudaraan, orang tua dan anak. Cinta tak terbatas pada sebuah konsep sederhana pacaran belaka. Pada 2011 ketika pameran Patah Hati #1 pertama di gelar di Jogjakarta mengangkat tema “Romantsick” yang dilanjut pada 2013 lalu dengan tema “Move On Phobia”.

Seni instalasi tak melulu harus lahir dari benda-benda dengan cita rasa tinggi dan memiliki kaidah seni konvensional yang menekankan pada konsep estetika dan keunikan. Seni instalasi justru berusaha untuk melawan itu semua dengan menawarkan modifikasi dan perlawanan dari benda-benda yang dianggap bukan produk kesenian. Salah satunya seperti Fountain (pancuran) tahun 1917 karya Marcel Duchamp seniman Dadaisme yang masyur. Ia mengejek sekaligus menawarkan komedi dengan membuat seni instalasi pancuran air minum yang dibuat dari kakus.

Di tanah air kita mengenal Pink Swing Park  karya perupa Agus Suwage dan Davy Linggar yang memicu kontroversi besar pada 2005 lalu. Konsep seni intstalasi yang mencoba merekonstruksi dibuangnya Adam dan Hawa itu sempat membuat geger karena diprotes oleh Ormas Fasis Keagamaan karena dianggap merusak moral bangsa. Pink Swing Park sendiri dibuat dari modifikasi ayunan dan tempat duduk becak yang dicat Pink dan ditempatkan dalam sebuah ruangan yang dikelilingi hasil foto dari Davy Linggar.

Pembahasan mengenai seni rupa di ruang publik mengingatkan saya pada kelas kritik seni rupa di Ruang Rupa tahun lalu. Salah satu pemateri Ardi Yunanto membuka kelas kritik seni rupa dan budaya visual dengan sebuah pertanyaan sederhana. Ia bicara tentang  apa itu “seni rupa publik” dan bagaimana ia bisa berkembang. Ardi, saya kira tengah mencoba  mempertanyakan kepada para peserta mengenai definisi awal tentang kesenian. Sehingga masing-masing dari kami para peserta workshop bisa memiliki pemahaman awal yang seragam tentang seni rupa publik dan bagaimana perkembangannya di Indonesia.

Ardi membagi tiga ranah dalam seni rupa publik. Yaitu; Budaya Visual Kota, Seni Rupa Publik dan Seni Rupa itu sendiri. Hal ini bukan merupakan klaim atau batasan. Namun lebih pada usaha untuk memudahkan pengelompokan dan penjelasan mengenai seni rupa publik. Lebih dari itu Ardi juga membagi periodesasi kemunculan seni rupa publik sebelum masa orde baru. Dalam penjelasannya itu seni rupa publik selalu dinamis dan mencari bentuk-bentuk baru dalam ekspresinya.

Pada akhir dekade 90an sesudah muncul GSRB, para seniman kerap membubuhkan pemikiran politis dalam karya seni rupa publik mereka. Hal ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang diklaim menjadi suara para liyan. Selepas Orde Baru runtuh karya politis menjamur karena mereka menikmati euforia kebebasan  bependapat. Ardi mensinyalir ini merupakan titik balik kesadaran para seniman terhadap keberadaan persoalan Urban. “Saya selalu percaya, meminjam istilah Ameng di Ruru, jika seni urban harus ada. Maka ia harus ditampilkan di jalanan dekat dengan kita,” kata Ardi.

Pada perkembangannya Ardi mencatat ada tiga bentuk seni rupa publik yang sangat berkembang di Indonesia. Seperti ; Praktik-praktik seni rupa yang memperlakukan ruang publik sebagai media komunikasi, di mana medium dan bentuk artistik karya biasanya sudah ditetapkan sebelum dieksekusi di ruang publik. Lalu praktik seni rupa yang menanggapi ruang publik dari aspek terlihatnya. Aspek-aspek terlihat tersebut biasanya menimbulkan permasalahan di suatu ruang publik.

Bagi saya yang menarik adalah bentuk seni rupa publik yang ketiga Praktik seni rupa yang terinspirasi dari permasalahan di suatu ruang maupun fasilitas publik tertentu. Ardi mencontohkan penggunaan seni intalasi ayunan yang ada di sebuah halte bus. Di mana karya ini membuat saya tersenyum hanya dengan membayangkan saja. Bahwa kita kerap kali lupa, di jalan, kita terpaku pada kehendak pulang.

Kita lantas sering luput menikmati perjalanan sebagai proses “mengalami dan memahami” lingkungan sekitar. Adanya ayunan tersebut membuat saya berdecak kagum atas kejelian si seniman dalam memandang  pemanfaatan ruang publik sebagai area bermain (playground). Ia otonom dari segala macam kehendak atau peraturan. Karena dalam ruang bermain segalanya memungkinkan dan diberi kebebasan yang mutlak. Tapi apakah itu penting? Entahlah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar