Pertama-tama selaku seorang manusia yang telanjur dicap sebagai pendosa tanpa diberikan ruang untuk membela diri, saya mengucapkan permohonan maaf kepada sidang socmed yang mulia dan tanpa cela. Saya tahu kehidupan para anggota sidang pemilik akun social media merupakan laku hidup yang syarat kezuhudan, kesalehan yang tiada cela serta selalu bersikap lurus tanpa kompromi. Apalah saya ini seorang turis hina yang memang terbukti dengan meyakinkan telah menjadi seorang pesakitan, karena bertindak amoral dalam menikmati momen sebagai turis.
Merupakan benar adanya apabila saya datang ke Borobudur pada perayaan Waisyak kemarin bukan untuk merayakan ritus keagamaan. Sama seperti ribuan orang lain saya hendak melihat langsung tentang prosesi penerbangan lampion. Apakah ini salah? Saya hanyalah sedikit dari ribuan orang yang tertarik tentang momen Waisyak di Borobudur dari bacaan saya di majalah, buku atau situs perjalanan. Mereka hanya berkata "Menikmati Momen Magis Waisak", "Eksotisme Lampion Borobudur", "Keindahan Tersembunyi Perayaan Waisak," tanpa satupun menyertakan tautan tentang do and don't do ketika Waisyak.
Sebagai bebek saya hanya bisa ikut-ikutan hype para pesohor tanpa sempat belajar tentang sakralitas sebuah destinasi. Sebagai konsumen industri pariwisata saya merasa berhak menikmati apa yang saya bayarkan. Selama ini toh saya menilai dari berbagai situs, bacaan dan panduan yang ada keberadaan saya, turis, membawakan kemakmuran. Harusnya para bikhu ini senang dong saya datang dengan membawa uang untuk berbelanja. Undangan datang, promosi pariwisata dan buzzer event pariwisata mengatakan bahwa acara ini adalah is a must to attend. Saya hanya mengamini apa yang diminta apa saya salah?
Juga benar adanya apabila kemarin saya tanpa tendeng aling-aling memotret para bikhu dengan perilaku seekor hyena yang haus mangsa. Mengapa demikian? Saya hanya ikut arus dimana seorang pelaku lain memulai mata rantai yang kemudian membuat saya terekam pada satu gambar. Gambar yang kemudian membuat saya diadili sebagai seorang turis yang tak beretika dalam mengambil foto.
Tapi apakah etika dalam fotografi itu? Apakah kita harus santun dengan sikap pramuka ketika mengambil gambar? Ataukah sebelum mengambil foto harus menggunakan ewuh pakewuh dan basa basi pengantar izin memotret? Ataukah sidang pembaca sekalian mengharapkan saya si turis amatir ini untuk duduk takzim memohon doa pada yang kuasa sebelum menekan shutter? Apakah etika itu? Jikalau ada etika dalam fotografi apakah itu?
Dalam sebuah perdebatan tentang etika fotografi jurnalistik ketika sebuah momen muncul, katakanlah tragedi atau kelaparan, apa yang harusnya dilakukan fotografer. Menolong dulu atau memotret dulu? Tentu sebagai fotografer yang bertugas ia berkewajiban mengambil foto dahulu baru menolong. Bagaimana jika turis? Sejauh mana sebuah etika dalam mengambil foto bisa diberlakukan. Jika diberlakukan siapa yang berhak menentukan? Misal pada sebuah trip ke Argo Puro seorang fotografer amatir kebetulan memotret Harimau Jawa yang hilang. Lantas karena keberadaan foto itu berbondong-bondong turis datang dan merusak ekosistem yang ada etiskah?
Bagaimana jika seorang penyelam memotret dengan bangga telah melakukan penyelaman di sebuah daerah konservasi laut. Karena foto itu destinasi tersebut menjadi banyak peminat, investor masuk, daerah yang dulunya sepi menjadi ramai. Masyarakat menjadi makmur, tanah dijual murah untuk resort, pemuda desa yang nganggur menemukan pekerjaan. Lantas apakah tak beretika si pemotret karena menjual daerah konservasi untuk kemaslahatan bersama.
Jika dalam kasus ini sidang pembaca socmed menganggap saya bajingan karena naik stupa lantas memotret bikhu dengan pakaian minim. Mari kita tentukan apa yang tak beretika. Pakaiankah? Naik ke stupa kah? Memotret dari atas seolah saya raja dan bikhu budak. Jika kemudian sudah ditentukan. Mari kita tanyakan apa yang lebih penting bagi fotografer, baik amatir maupun profesional, momen atau etika?
Dalam sebuah tesis berjudul Ethics In Photojournalism: Past, Present, and Future karya Daniel R. Bersak ada sebuah poin penting etika yang ingin saya sampaikan pada sidang pembaca socmed yang adiluhung. Perihal konsep Golden Rules dimana pada sebuah subjek pelaku dan objek foto ada relasi penempatan posisi. "Apakah saya nyaman jika difoto demikian?" pada suatu kesempatan beberapa bikhu malah memberi ruang pada fotografer untuk memotret mereka. Mereka, para bikhu, kadang bisa bersikap welas asih daripada hakim-hakim yang tidak berada ditempat ketika sebuah momen diambil.
Dalam sebuah perdebatan tentang etika fotografi jurnalistik ketika sebuah momen muncul, katakanlah tragedi atau kelaparan, apa yang harusnya dilakukan fotografer. Menolong dulu atau memotret dulu? Tentu sebagai fotografer yang bertugas ia berkewajiban mengambil foto dahulu baru menolong. Bagaimana jika turis? Sejauh mana sebuah etika dalam mengambil foto bisa diberlakukan. Jika diberlakukan siapa yang berhak menentukan? Misal pada sebuah trip ke Argo Puro seorang fotografer amatir kebetulan memotret Harimau Jawa yang hilang. Lantas karena keberadaan foto itu berbondong-bondong turis datang dan merusak ekosistem yang ada etiskah?
Bagaimana jika seorang penyelam memotret dengan bangga telah melakukan penyelaman di sebuah daerah konservasi laut. Karena foto itu destinasi tersebut menjadi banyak peminat, investor masuk, daerah yang dulunya sepi menjadi ramai. Masyarakat menjadi makmur, tanah dijual murah untuk resort, pemuda desa yang nganggur menemukan pekerjaan. Lantas apakah tak beretika si pemotret karena menjual daerah konservasi untuk kemaslahatan bersama.
Jika dalam kasus ini sidang pembaca socmed menganggap saya bajingan karena naik stupa lantas memotret bikhu dengan pakaian minim. Mari kita tentukan apa yang tak beretika. Pakaiankah? Naik ke stupa kah? Memotret dari atas seolah saya raja dan bikhu budak. Jika kemudian sudah ditentukan. Mari kita tanyakan apa yang lebih penting bagi fotografer, baik amatir maupun profesional, momen atau etika?
Dalam sebuah tesis berjudul Ethics In Photojournalism: Past, Present, and Future karya Daniel R. Bersak ada sebuah poin penting etika yang ingin saya sampaikan pada sidang pembaca socmed yang adiluhung. Perihal konsep Golden Rules dimana pada sebuah subjek pelaku dan objek foto ada relasi penempatan posisi. "Apakah saya nyaman jika difoto demikian?" pada suatu kesempatan beberapa bikhu malah memberi ruang pada fotografer untuk memotret mereka. Mereka, para bikhu, kadang bisa bersikap welas asih daripada hakim-hakim yang tidak berada ditempat ketika sebuah momen diambil.
Tentu sidang pembaca socmed yang budiman pernah menonton film klasik tentang mahaguru James Nacthwey seorang "War Photographer" yang masyur itu. Kita tahu, foto-foto yang ia buat selalu intim, selalu dekat, selalu penuh dengan manusia yang menjadi objek gambar. Lantas bolehlah saya, seorang turis amatir yang hina lagi kotor ini bertanya, apakah ia juga tak beretika ketika mengambil objek gambarnya? Lihat saja foto ketika ia memotret anak korban perang atau keluarga yang berduka karena kematian. Apakah itu juga disebut melanggar etika?
Sidang pembaca socmed yang budiman tentu saja akan berkilah "Mahaguru James Nacthwey sebelumnya sudah berkomunikasi dengan objek foto. Ya tentu saja boleh dong mengambil foto dengan jarak dekat," jika demikian adanya. Saya hendak bertanya dengan sidang pembaca socmed yang suci, apa yang membuat anda berpikir ketika saya memotret para bikhu budha saya tak meminta izin sebelumnya? Apakah ada panduan khusus pengadilan sebuah foto hanya dari sebuah gambar tanpa narasi yang jelas. Apakah rekan MY, fotografer pengunggah foto turis memotret bikhu, sudah bertanya, menegur ataukah ia hanya sekedar mengambil gambar lantas menunggahnya sebagai sebuah sensasi konyol?
Tapi bagai gunting makan di ujung, saya sebagai turis bodoh yang telah terlanjur bersalah tanpa pembelaan ini, sekali lagi meminta maaf kepada para sidang pembaca socmed yang luhur budi. Jika bung Ayos Purwoadji dalam The Almighty Photographer menggunakan metafora lukisan sebagai penjelasan perilaku saya. Maka saya selaku turis hina ini akan melakukan hal yang sama. Saya akan menggunakan lukisan S Sudjojono yang berjudul “Tjap Go Meh” yang dibuat pada 1940. Dalam karya ini maestro jiwa ketok ini menggambarkan emosi yang meluap-luap, tentang hiruk pikuk manusia yang tanpa kendali, dengan pusat horison seorang penari yang tersenyum lebar. Apakah ada rerlasi penaklukan disitu?
Jika bung Ayos yang terhormat menggambarkan lukisan maestro moii Raden Saleh sebagai relasi penaklukan. Maka saya ingin bicara, terlepas sakralitas dan nilai transenden Waisak, perayaan di Borobudur kemarin adalah sebuah momen vakansi. Seperti lukisan “Tjap Go Meh” ia bisa berarti karnaval yang tentu saja akan naif jika tiada bicara tentang luberan ektase rasa gembira. Apa yang akan anda lakukan jika anda seorang turis, dengan kamera, lantas melihat sebuah momen/tradisi/kebiasaan asing yang anda kira itu eksotik? Saya kira jawaban kita seragam akan mengambil gambar tersebut tanpa pretensi apapun.
Maafkan saya sidang pembaca socmed yang santun tanpa cela, jika saya mengatakan tanpa prentensi apapun. Saya tak pandai fotografi jika kemudian gesture saya dalam mengambil foto disebut sebagai sebuah relasi antara budak dan penguasa. Sekali lagi saya ucapkan maaf. Sebagai turis yang tak tahu diri dan tak tahu apa-apa yang saya tahu dalam pengambilan gambar selain momen, hal penting lain yang penting diawasi adalah cahaya, dan cahaya dan cahaya. Sudahkah anda melihat latar dimana cahaya datang dan pergi?
Selain itu Roland Barthes jika sidang pembaca yang terdidik sudi membaca pernah berkata "The Photographic Message" relasi foto (jurnalistik) terletak pada bagaimana sebuah institusi media (dalam hal ini pengambil foto saya berdiri di atas stupa) membentuk konsepsi kepada resepien yaitu pembaca media (atau sidang pembaca socmed yang suci). Sebuah foto bisa berfungsi sebagai framing perception, apa yang hendak disampaikan dari pengambil foto seorang turis yang berdiri di atas stupa? Apakah dia ingin bilang "Ini loh turis norak, gue gak norak," ataukah "Ini adalah turis hina yang salah kaprah, tapi saya gak mau memperingatkan baik-baik, saya posting di instagram aja biar dia malu"
Meminjam istilah Susan Sontag dalam On Photography "Reality has always been interpreted through the reports given by images," pada kasus ini saya tak diberikan kesempatan membela diri, diperingatkan jika salah atau diberi tahu jika tidak etis. Klaim sepihak seringkali menyebalkan bukan? Ludwig Feuerbach pun telah menubuatkan hal ini dalam The Essence of Christianity. Dimana kelak pada satu titik peradaban akan lebih mementingkan apa yang nampak dari pada apa yang sebenarnya terjadi
"Society prefers the image to the thing, the copy to the original, the representation to the reality, appearance to being" Ludwig Feuerbach - The Essence of Christianity
Apakah salah? Saya kira tidak. Kita adalah mahluk visual yang hanya menilai dari apa yang tampak. Ketika sebuah foto turis sedang menaiki stupa dengan pakaian minim menjadi sebuah pusat perhatian. Barangkali kita juga alpa menafsir bahwa dibelakangnya juga beberapa pelaku, yang dalam konteks etika, sama bersalahnya. Meminjam istilah bung Ayos Purwoadji, dalam sebuah foto akan muncul tafsir atas "atribut yang dikenakan; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya." Salah jika kemudian penumpahan kesalahan pada satu wanita bisa ditafsirkan sebagai usaha penindasan terhadap eksistensi wanita secara misoginistik?
Lantas sekali lagi saya bertanya apakah etika itu? Apakah ia yang dengan bijak memperingatkan "Hei nona anda bisa lebih baik loh memakai penutup badan dan tidak memotret di atas stupa," atau dengan keji dan pretenius "ah gue foto lo biar dibully orang setemlen!" Dari sekian banyak tulisan dan pengadilan di social media oleh para anggota sidang yang terhormat sedikit sekali narasi yang berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian selain turis turis brengsek atau traveler sakit jiwa.
Apakah anggota sidang socmed yang bijak bestari tahu jika ada praktik scamming alias penipuan kecil-kecilan di lokasi Waisak? Tentang tukang becak yang bekerja sama dengan penjual bakpia, atau jarak tempuh yang dibuat jauh untuk membuat tarif bertambah, atau tentang mobil sewa yang tak bekerja profesional sesuai ijab-qabul? Atau barangkali etika dan moral lebih penting daripada relasi kemanusiaan. Kita berbicara soal baik dan benar tanpa mau mendengar penjelasan, apa yang lebih tengik dari itu?
Sebagai penutup saya hendak mengutip perkataan mahaguru James Nacthwey dalam The War Photographer. "Every minute I was there, I wanted to flee. I did not want to see this. Would I cut and run, or would I deal with the responsibility of being there with a camera" Apa artiya sebuah kamera yang dibawa jika tidak dimanfaatkan sebagai peruntukannya? Tabik.
Jika Anda tidak demikian, setidaknya Anda punya naluri utk memperingatkan sesama lainnya. Tetapi jika membiarkan tanpa usaha apapun, semua dalih Anda menjadi sia-sia.
BalasHapusSekali lagi, "kebenaran" adalah bukti dan saksi dari perbuatan Anda. Jika Anda beritikad benar, tapi di lapangan tidak, alasan Anda disini tak lebih dari pembelaan semata. Apakah Anda mau dicap fotografer yg mementingkan diri (dan karya) sendiri?
Fotografer yg baik adalah mereka yg mampu 'invisible'; tak mengganggu walau mereka tampak, karena mereka respek kepada pakem.
Semoga hari suci ini menjadi pembelajaran banyak pihak tentang arti keberagaman. Cobalah sesekali waktu belajar di situs Big Photos dari Boston.com. Cerdas adalah memahami situasi, memahami kendala. Bukan memaksakan dan membenarkan diri dalam situasi.
Tak perlu sebanyak ini mengutip, karena kesalahan bukan utk dibenarkan tetapi utk dibijaksanai di lain hari.
Semoga selalu mampu berkarya tanpa tendensi.
Salam.
pledoi panjang-panjang dengan isi ga nyambung cuma berkesan tidak mau disalahkan bagaimanapun caranya.... justru menunjukkan ketidakcerdasan.
HapusCoba simak: "BERDIRI DI ATAS STUPA. DI DEPAN BHIKSU YANG BERSEMBAHYANG."
Tidak sopan, tidak toleransi, tidak menghormati agama lain. Simple? Jelas.
Tinggal minta maaf dengan tulus. Susah amat sih.
Sudah dibaca kah peraturan dr pihak borobudur yg menyebutkan boleh motret klo punya ID dan dengan pakaian sopan? :)
BalasHapusMemotret dengan sopan pun sudah secara nalar dan logika seharusnya sudah paham. Udah dewasa kan? Udah bisa bedain baik dan buruk kan? :)
Halo Mas, kebetulan saya dateng pas Waisak tahun lalu. Tapi saat itu saya mau melintasi karpet kuning yang menghampar aja rasanya takut salah, lalu nanya dulu ke panitia soal boleh atau tidaknya saya injak karpet tersebut. Apalagi untuk naik ke panggung? Saya nunggu acara selesai dulu baru naik ke panggung, itu pun lepas sendal.
BalasHapusNaik ke stupa? Turis yg jalan2 ke borobudur pun ga boleh naik ke atas stupa, apalagi sedang ada biksu berdoa di bawahnya?
Saya bukan fotografer, cuma hobi foto. Saya ga paham ilmu2 fotografi, film dan buku fotografi juga. Tapi klo menurut saya, hal sejenis itu harusnya kesadaran aja, mencoba menempatkan posisi di biksu-biksu tersebut. Dan klo saya, sebagai muslim, sepertinya saya keberatan klo lg sholat ied ada yg memfoto saya dari atas mimbar.
Empati dan simpati memang tidak ada di buku atau film mas, apalagi di google. Adanya di hati nurani dan otak aja sih. Terima kasih ya penjelasannya..
"Empati dan simpati memang tidak ada di buku atau film mas, apalagi di google. Adanya di hati nurani dan otak aja sih"
Hapussetuju sekali dengan quotes diatas.. :)
Kata sultan: kakean cocot!
BalasHapusEpic!
Hapusom, sampeyan sudah jelas2 salah masih saja membela diri :)
BalasHapusibaratnya, sampeyan beribada di masjid atau di gereja. lalu tiba2 ada orang masuk ke tempat ibadah sampeyan, naik ke atas meja atau duduk di depan sampeyan yg sedang beribadah, lalu memotret sampeyan. apakah itu bisa dibenarkan? apakah sampeyan setuju yg seperti itu?
sampeyan bilang para biksu memberikan ruang. subhanallah...ruang apa yg dimaksud? apakah ruang di depan para biksu yg sedang berdoa itu maksudnya?
Mohon maaf sebelumnya mas..apa yang anda kemukakan diatas selalu ditilik dari segi etika fotografi..
BalasHapusCoba jika ditinjau dari segi TENGGANG RASA*) antar umat beragama..bagaimana jika seandainya saudara sedang dalam prosesi peribadatan dan khidmad dan diperlakukan seperti itu..Misal karena saya muslim,ketika shalat berjamaah di masjid dan tiba2 ada fotografer yang ingin mengambil moment itu berjalan di depan kita..kira2 apa yang terjadi..
Untuk argumen anda kalo semua yang anda lakukan adalah mata rantai dari orang2 sebelum anda,tinggal kembali lagi ke hati nurani dan TENGGANG RASA*) anda sendiri..mau mengikuti atau tidak..setidaknya anda pernah tau atau mendengar kalau pelajaran PPKN atau PMP di SD sudah mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama..
Salam..
*) buka buku PPKN KELAS 1 SEKOLAH DASAR
ya saya tidak mau menyalahkan siapa atau siapa, sebaiknya saling menghormati aja, lagipula ini merupakan ritual keagamaan yang telah lama diberlakukan, setidaknya semua saling menjaga agar tidak ada yang saling dirugikan. dan kalau saran saya untuk fotografer sebaiknya menggunakan logika juga apabila terdapat ritual keagamaan jangan sampai mengganggu ritual tersebut, memotret tidak menggunakan flash lebih baik agar tidak mengganggu ritual keagamaan
BalasHapusRasanya tidak perlu menggeret nama2 pujangga terkenal yg kami pun gak tau siapa itu.
BalasHapusMinta maaf dengan sederhana pun cukup, justru terlihat ketulusannya.
Ini sih bukan minta maaf, tapi pembelaan.
Hapus"Reality has always been interpreted through the reports given by images,"
BalasHapusTanpa sadar anda terjebak dalam diskusi yang tiada akhir. Etika dan Moment? Keduanya tidak bisa disandingkan bahkan untuk dipilih sebab darisananya sudah berbeda. Biksu ybs yang berhak menjustifikasi bahwa tindakan anda benar atau salah.
BalasHapusSaya seorang Muslim, mudah-mudahan anda juga muslim.
Dengan moment yang sama, Jika anda memotret depan IMAM yang sedang memimpin shalat, sangat mengganggu konsentrasi kami. Sangat tidak etis tindakan anda.
Bok kalo orang bodoh rame2x masa lo mau ikutan bodoh. Your logic is flawed.
BalasHapusJleb!
HapusAnda tidak salah. Anda hanya pretentious. Ah, lebih tepatnya Ostentatious. Tembel sana-sini untuk caper. Lha komentar ini korban caper. Wes ostentatious cem hipster po deck ora iki?
BalasHapus-Apoy-
Sesungguhnya apa yang anda tulis hanya membuat anda terlihat bodoh dan ditertawakan banyak orang. Sesungguhnya postingan anda ini secara berantai sudah tersebar lewat twitter. Seharusnya anda minta maaf saja secara sederhana dari hati yang tulus, niscaya masalah akan selesai dan anda bisa tenang. Kalau begini ya bagaimana?
BalasHapushahahaha ini dhani jadi disalah2in orang2 gini gara2 tulisan ini padahal dia cuman bermain peran di sinih xixixixixixixixixixi
BalasHapussaya agak2 sedih dan kasihan nih juga ngeliat komen2 di sini. Mas Dani candaannya ketinggian nih
HapusGue bingung kenapa banyak banget kutipan yang ga relevan sama tujuan "pledoi" lo, seperti yang bagian lukisan Sudjojono sama sindikat tukang becak dan penjual bakpia…
BalasHapusTulisan ini maksudnya mau pamer ilmu biar lo keliatan lebih pinter dari yang ngomel-ngomel di socmed gitu ya?
hahaha, kok pada gak mudeng yah :)
BalasHapushahaha, sudah buka buku ngutip sana sini, tetap saja anda salah
BalasHapusselamat anda mengukuhkan diri sebagai PHOTOGRAPHER AMATIR
mau anda merasa benar ataupun salah, meminta maaf lah.
BalasHapusitu jauh lebih terhormat dan disukai Tuhan. :)
mau anda merasa benar ataupun salah, meminta maaf lah.
BalasHapuskarena itu jauh lebih terhormat dan disukai TUHAN. :)
Anda tidak salah. Anda hanya pretentious. Ah, lebih tepatnya Ostentatious.
BalasHapusTembel sana-sini untuk caper. Lha komentar ini korban caper. Wes
ostentatious cem hipster po deck ora iki?
-Apoy bin Adiluhung-
sayang, kepandaian memilih kata2 tidak diikuti kepandaian memilah tingkah pola.
BalasHapusSejak kapan fotografi lebih tinggi dari agama? Sepenting apa foto2 begitu untuk hidup anda & sekitar? *facepalm*
BalasHapusNulis panjang lebar gak ada intinya. Tapi salut, karena kebetanian untuk meminta maaf itu luar biasa.
BalasHapusyg nulis ini belum pernah ke borobudur katanya
BalasHapusKader kakek-kakek narsis salaharah
BalasHapusPenutup yg bagus.. Apa artiya sebuah kamera yang dibawa jika tidak dimanfaatkan sebagai peruntukannya?
BalasHapusJawabnya : Apapun selain mengganggu ibadah orang lain.
Pelajaran untuk kita bersama masbro. Selain Anda yang belajar, kami para juri di sidang socmed ini pun belajar dan diingatkan.
Halo Mas, sampeyan kurang satu lagi mengutip untuk menegaskan thesis. "If your photo doesn't good enough, you are not close enough" :p
BalasHapusenaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah :p
HapusGa pernah beribadah ya?
BalasHapusFotografer sampah! Kembalikan kamera saya yang kamu pinjem itu! Pledai pledoi, padahal ke borobudur aja ngutang ke temen-temen! Goblok! Mau belagak pinter di sini? Cuih! Pokoknya balikin kamera saya segera atau saya beli baru lagi!
BalasHapusini veler banget sih ini :))))))
HapusHuahahahahahaha....paleeeeh!!!
HapusSeharusnya cuma minta maaf, lalu lupakan, biar yg lain jg lupa. Kalau anda panjang, yg lain bs lbh panjang.
BalasHapusBerasa baca skripsi gue
BalasHapusSeharusnya cuma minta maaf, lalu lupakan, biar yg lain jg ikutan lupa. Kalo anda panjang, yg lain jg bs ikut panjang brae..
BalasHapusbanyak yang kena jebakan betmen
BalasHapusiya, termasuk akoohh...
HapusBwahahaha....
Hapussedih banget negliat tingkat kegoblokan orang2 di komen2 ini, mana pada sok2 ngasi ceramah lagi, ya allah..
HapusMenurut Dwi Kurniawan, "Mending motret dedek celana gemes"
BalasHapuswoy! tonyo juga gue di quote... asyu :)))
HapusDari awal kalimat (jika sudah kenal Dhani sebelumnya) sudah jelas bila tulisan ini cerita fiktif pledoi dari si tukang foto amatir yang berpakaian minim nan tak beretika dan vice versa. Salam.
BalasHapushipster, hahahaha
BalasHapusSaya hanya mau mengutip secuil aja di 3 paragraf terakhir:
BalasHapus"Apakah salah? Saya kira tidak."
Penuh sarkasme. Semoga 'pelaku' yang sebenarnya membaca ini juga :)
BalasHapusini pledoi apa cerpen ya? oh, caper ding :D
BalasHapusBilang aja lu mau ngecengin mbak hotpants yang moto dari atas stupa
BalasHapushahahahhah banyak yang kemakan tulisan ini..pinter dikit ah... mari kita berkebon!!
BalasHapusTapi longgaar!!
HapusMblus
BalasHapusmau minta maaf aja alesannya panjang bener... bacanya aja capek... kebanyakan bacot jadinya...
BalasHapusLah, ini kenapa pada minta dhani buat minta maaf? Piye to?
BalasHapusJames Nacthwey itu kalo lagi ngambil gambar apa juga sampai ikut ambil bagian dalam tindak kerusuhan?
BalasHapus:D
Berarti abis ini gw mau buat tulisan 'Pledoi seorang pembaca tulisan di blog tentang sebuah pseudo pledoi seorang turis yang Pergi Ke Borobudur Untuk Menonton Lampion Terbang'
BalasHapusatau mungkin buat 'Pledoi seorang penulis dengan kata-kata dan pemahaman yang terbatas yang hanya mampu menulis tak lebih dua tiga kalimat komentar', seperti saya ini
BalasHapusmasuk akal juga pembelaannya, tapi kalo benar atau salah ya subjektif sih.
BalasHapusMinta maap aja, jgn geret2 yg lain untuk bahan pembenaran kalii
BalasHapusShit happened...dont put another shitty excuse
Berarti abis ini gw mau buat tulisan 'Pledoi seorang pembaca tulisan di blog tentang pledoi seorang pembaca tulisan di blog tentang sebuah pseudo pledoi seorang turis yang Pergi Ke Borobudur Untuk Menonton Lampion Terbang'
BalasHapus:|
acting yg luar biasa...hebat!!!
BalasHapusTulisan yang menghibur, cuma yang paham aja yang ngerti maksud si penulis.
BalasHapustulisan pseudo pledoi ini menghibur juga nyentil di pengelola borobudur. coba liat twit @BorobudurPark sebelum tgl 21 mei, twitnya berbau promosi ngundang para turis dateng saksikan ritus waisak dan akhirnya kerepotan sendiri dg kelakuan para turis. ritus ibadah harusnya jgn didagangin jd wahana wisata.
BalasHapusini kok yang komen banyak yg bego pada gak ngerti sarkas pow, malah ada yg minta dani minta maap yg bener pulah :D
BalasHapusini yg nulis emang pelerr banget !!!!
fotografi is fine
BalasHapusmasalahnya,anda melakukan photo hunting BERJAMAAH, sehingga mengganggu orang beribadah.
ealah, malah kutap kutip dari berbagai sumber. Bawa2 photo journalist beneran pula. Biar keliatan 'pro' ya? hehe nurani mah nurani aja, ga usah pake James Nacthwey atau Kevin Carter atau siapalah..
BalasHapusGausah sekolah juga bisa ngerti tenggang rasa kok. seunik-uniknya angle foto yang diambil, buat apa sih? menghasilkan kepuasan diatas kedongkolan dan gangguan ibadah orang lain??
apakah anda pernah keborobudur sebelumnya..
BalasHapusjika pernah ataupun tidak pernah ataupun anda pernah membaca tentang borobudur di media pastinya anda tahu etika masuk ke borobudur bagaimana..
pledoi anda gk jelas, merembet kemana2
stupid people with stupid (pledoi) writter
kebanyaka bacot lu! pake bawa2 nama James Nacthwey lagi.. ketauan bgt nggak pernah beribadah..
BalasHapuskata si mbah, 'kakean cocot!'
BalasHapusHAHAHAHAHAHAHA..
BalasHapusselamat datang di negara salah urus..
BalasHapusTulisan yang keren.. sayang ini fiksi... wakakakakakak :)
BalasHapusxixixixi, panjang yah curcolnya :p
BalasHapusMas, bagus tulisan sampeyan. Itu juga sudah bagian dari permintaan maaf sampeyan secara tulus. Justru yang berkomentar semua disini, hatinya belum seperti bhiksu...wis ngono wae. maju terus mas, ciptakan karya yang lebih hebat dari sebelumnya...piss kabeh yo..merdeka...!
BalasHapuswow, obsesi anda mengabadikan momen sungguh amat luar biasa...
BalasHapusbagaimana jika perspektif nya dibalik, anda berposisi sebagai object penderita?
sebagai fotografer hebat seperti anda, bukankah melihat obyek dari banyak sudut pandang?
sepertinya pada saat "itu", keserakahan menutup mata anda...
Pledoi yang panjang,
BalasHapusada tertulis dalam profil anda, bahwa anda bekerja di Industri Komunikasi atau Media dengan Jabatan :journalist
tapi dalam pledoi ini anda mengaku hanya turis hina yang ikut arus.
jadi mana yang benar?
Mungkin ada yang tidak bohong dalam profil anda:Kata orang banyak omong.
semoga nanti ketika peti jenazah yang berisi mayatmu mo ditutup, ada fotografer lain yang memanjat peti itu dan menyingkap kelambu yang menutupi mukamu, agar dia bisa mengabadikan muka anda sedekat mungkin...amiiiin....
BalasHapusIni mas Dhani TB toh.?
BalasHapusKEREN Mas!
Sepertinya org2 gak ngerti Pledoi!hehe
Penulis goblok! Kabarnya dia ini aktivis JIL. Dasar kafir!
BalasHapusSaya bisa memahami kondisi ini. Jadukanlah ini pelajaran. Terus terang, saya ingin mengambil gambar pada momen2 keagamaan, seperti di candi prambanan dua tiga bulan yg lalu. Tapi sy batalkan krn males aja,.. kebayang ribetnya dan takut salah langkah,.. apalagi klo g punya id card pasti 'diusir2' (jawa: di-siya2)apalagi saya g tau aturan2 nya. Jujur saja banyak photografer (baca: orang yg ingin bikin foto) melakukan tindakan2 yg kurang 'sreg' pada suatu momen. Jadi bukan cuma anda kok. Semua di sini mungkin juga suatu saat bisa saja melakukan kekhilafan2 tsb, ... krn terbawa suasana, kitidak tahuan dsb. menghakimi dg omongan memang sangat mudah, dan itu kok jadi trend saat ini. Sebetulnya anda bs menembus ring2 yg sudah diatur di borobudur, itu jg ada kelengahan petugas,.... yg penting klo anda sudah merasa khilaf, memohon maaf atas kekhilafan itu,.. semua kita jadikan pelajaran yg sgt mahal, kan begitu.
BalasHapusSaya setuju. Sayangnya disini penulis bukannya meminta maaf dengan tulus malah menyindir dan melakukan pembelaan diri :(
Hapusbukannya yang dalam foto itu cewek beercelana pendek, kok yang punya blog ini cowok? transgender ya?
BalasHapusOo.. jadi Anda ini turis, sok jadi fotografer tapi amatiran, yang suka ikut-ikutan hype, dan gak punya empati terhadap pemeluk agama lain. Okelah saya paham...
BalasHapusini adalah sebuah pembelaan yang sama tololnya dengan memutuskan naik ke stupa memotret moment yang anda sebagai turis tidak bisa lewatkan.
BalasHapusapakah anda ingat teguran saya dari bawah belakang biksu, dengan lantang saya mengatakan "wah anda tidak sopan sekali" apakah anda menggubris?? tidak anda tetap diatas sana. yang lantas menggundang banyak reaksi dari para orang yang memegang kamera dibawah biksu yang langsung memotret momen yang kami juga tidak bisa lewatkan. apakah kami juga salah menggugahnya di socmed dan orang2 yang melihatnya lalu berkomentar? saya hanya menggugah foto yang saya anggap menarik, kesimpulan ada pada orang yang melihatnya. saya berbaju abu2 memakai topi coklat. coba lihat di hasil foto anda.
yang diperlukan saat itu hanya logika dan sadar diri.
Arman Dhani 1 - 0 Makhluk makhluk tuna aksara
BalasHapusih, kalian goblok banget sih?
BalasHapusapapun alasannya anda tetap salah!!
BalasHapusah, enak.
BalasHapussy mau baca lagi.
terima kasih, ya.
kabari kalau sudah ada yang baru lagi ya.
aduh mas ini, mau pamer koleksi kutipan-kutipan dari penulis-penulis fotografi yg embuh siapa itu....
BalasHapusPercuma mas, malah makin kelihatan culun anda... Dan memperkuat tudingan bahwa anda orang yg tidak ber-etika.
Gak usah banyak teori, etika dan moral itu bisa dirasakan dengan hati nurani yang bersih.
eh ini pada di Anonim begini? kagak seru ah... =))
BalasHapuseniwei si Othervision ada ninggalin komentar ndak disini?
mesti yang baca tulisan disini pada kejebak? ciyan deh :P
haha, lucu mas tulisannya
BalasHapusSumpah Mas, kalo ini teater saya sudah berdiri dan tepuk tangan dengan meriah. Anda jenius. Salam.
BalasHapusmenurut pendapat saya... semua tulisannya adalah palsu... sepalsu beli tas LV di ITC...
BalasHapus"Apa artiya sebuah kamera yang dibawa jika tidak dimanfaatkan sebagai peruntukannya?"
BalasHapusAmbil contohnya ketinggian bro. James Nacthwey berada di sebuah lokasi, karena dia memang ada tanggung jawab untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada dunia. Dia kan jurnalis. Di belakang dia ada media yang siap mempublikasikan hasil fotonya. Tanggung jawabnya sebagai jurnalis, memang untuk motret sehingga dia bisa menceritakannya kepada dunia. Anda sebagai turis, punya tanggung jawab seperti itu? Turis tidak bisa disamakan dengan jurnalis karena turis tidak punya tanggung jawab apapun. Turis murni untuk kesenangan pribadi.
Jadi, keseluruhan pembelaan Anda bahwa kalau bawa kamera kita harus ambil momen sebaik-baiknya, tanpa memperdulikan etika, tidak berlaku. Anda bukan jurnalis atau pewarta foto.
Faktanya Anda naik ke stupa. Hal itu sudah menunjukkan bahwa Anda tidak menghormati tempat itu. Anda merujuk pada film "War Photographer" kan? Apakah Anda tidak bisa melihat di dokumenter itu, bagaimana James Nacthwey begitu menghormati subjek fotonya? Bagaimana perasaan Anda, kalau pada saat Anda shalat Ied, lalu ada fotografer yang motret persis di depan mukanya Imam, atau ada yang masuk masjid pakai sandal?
selamat ......anda berhasil menjebak banyak orang ..........
BalasHapus("berkesimpulan tanpa melihat keseluruhan")
Kalo emang tulisan ini fiktif adanya, dalam kacamata saya, anda sang penulis bener2 kurang mengerti arti menghargai agama lain ya. Sudahlah (dengan tanpa alasan yg jelas) anda menulis pledoi palsu thd fotografer atheis yg ga bisa menghargai keberadaan upacara agama yang suci, tulisan ini juga anda tulis dengan maksud tersirat pembelaan terhadap fotografer tersebut. Maksud penulis ini sebenarnya apa?
BalasHapusDan keanehan saya muncul pada nama2 fotografer yang anda kutip, coba tunjukkan satu saja dari mereka yang menulis ttg etika foto pada acara sakral 'keagamaan'?
Maaf buat semua yang ada di forum ini, terlepas yang pro atau kontra atau yang fiktif belaka dan cuma ikut2.. Bisakah anda bayangkan kalo anda adalah pemeluk agama budha yg minoritas, yang sudah kecewa dengan toleransi beragama dari sikap fotografer tanpa etika yg mengusik kesakralan upacara hari besar agamanya, kemudian membaca tulisan ini?
yang jelas, entah tulisan ini fiktif atau tidak--yang justru kalo fiktif malah kurang ajar sekali menurut saya.. siapapun anda yang menulis pledoi ini benar2 tidak punya agama, nilai moral, dan pengertian. Seharusnya anda malu.
Setuju....ini fiktif yg goblok sekali. Dari awal saya udah tau yg nulis cowo lah kok pura2 sbg cewek tapi isinya g ada juntrungannya. G ada hasil. G ada sisi lain. Pembelaan yg gagal. Kalo sarkasme juga g berhasil tuh. Bener2 cuma tulisan caper.
Hapusmakin rame dasar emang ini arman buzzer dhani bustomi hahahhahahaha
BalasHapusdewa perang :{
BalasHapushahahaha...aq rasa kalo di sinetron kan,, bagus ini ceritanya...
BalasHapusKurang ajar... tulisan fiktif kok dipublish, BAJINGAN KAU!
BalasHapus*eh tapi aku kok komentar pake akun fiktif juga ga (Anonim)
Gembel ah cari sensasi doang
BalasHapusTernyata yang pake hotpants itu pria bernama Arman Dhani ya *muntah *histeris
BalasHapusapapun alasannya menulis artikel ini, entah fiktip atau bukan. terlihat jelas sipenulis tidak bisa mengerti untuk menghargai agama orang lain
BalasHapusAsuuu... :)))
BalasHapusMinta maaf, minta maaf aja, nggak perlu dibikin rumit dengan segala kutipan yang nggak nyambung tapi dipaksa-paksa nyambung.
BalasHapusSederhana sebenarnya. Kalau motret acara keagamaan, ya usahakan tidak mengganggu yang sedang melakukan ritual agamanya. Pernah dengar kata 'respek'?
entah kamu sedang main peran atau apa. tapi ulahmu di dunia maya memang gak jauh2 dari yg beginian kan?
BalasHapussetelah ini, apa lagi yg bakal kau gugat?
dasar caper.
Tingkat stresss orang Indo sudah level sepuluh ... tulisan imajiner kok dibahass serius ... aaaahh siapa yg tolol :D
BalasHapusDalam sebuah perdebatan tentang etika fotografi jurnalistik ketika sebuah momen muncul, katakanlah tragedi atau kelaparan, apa yang harusnya dilakukan fotografer. Menolong dulu atau memotret dulu? Tentu sebagai fotografer yang bertugas ia berkewajiban mengambil foto dahulu baru menolong.
BalasHapusKOMENTAR TOLOL !! MANA HATI NURANI ANDA ???? TOLONG DULU N FOTO BELAKANGAN ! BUKA BUKU PPKN KELAS 1 SD ( TENGGANG RASA )
Dalam sebuah perdebatan tentang etika fotografi jurnalistik ketika sebuah momen muncul, katakanlah tragedi atau kelaparan, apa yang harusnya dilakukan fotografer. Menolong dulu atau memotret dulu? Tentu sebagai fotografer yang bertugas ia berkewajiban mengambil foto dahulu baru menolong.
BalasHapusPERNYATAAN TOLOL FOTOGRAPHER AMATIRAN !!
MANA HATI NURANI ANDA ??? BUKA BUKU PPKN KELAS 1 SD
ada yang tau dimana bisa nemuin si tante bercelana pendek dengan paha komodo yang naik ke atas stupa itu?
BalasHapusini tulisan harus dikasih ke dia, lengkap dengan commentsnya! :D
AAHAHAHAAA.....
BalasHapusDhani stress... pengen kayak Arya Wiguna ya.. kekeke...
sampai ketemu di karpet merah lebaran nanti.. "siapkan pantatmu
butt_head...
njuk bocahe kudu piye?
BalasHapusHuahahahahaha!
BalasHapusAray Wiguna-nya Fotografi... Cuma mau pamer referensi memanfaatkan polemik Borobudur... Apapun isi tulisannya, tetep murahan...
BalasHapuskayanya sarkasme itu gak cocok buat tipe lawakan masyarakat indonesia. pada kagak ngarti soalnya. slapstick lebih ok hehe..
BalasHapussaya menghargai ide & usahanya aja deh buat nulis pseudo pledoi. gimana ya reaksinya si mbak hotpants. bakal makin dibully dia. :p
Waktu solat Ied, ada yg motret2 didepan Imam, lebih2 lagi pakai pakaian yang ngga senonoh.....apakah sopan?
BalasHapustulisannya bagus,kelihatan kalo pny byk pengetahuan.tetapi kok tidak seperti kenyataannya.anak kecil aja tau lho kl stupa tdk blh dinaiki.kl mengaku salah dan meminta maaf,yasudah titik.tdk usah byk alasan.artinya benar2 menyadari salah dan tidak mau mengulangi lagi.
BalasHapussingit, mas Dhani Te O Pe....
BalasHapusTulisannya muluk, tapi jujur lebih bingung baca komentar pembaca daripada tulisannya.
BalasHapus"bodoh dipiara, kambing dipiara bisa gemuk" - Kasino, Warkop DKI : Pintar-pintar bodoh.