Minggu, 05 September 2010

Bagaimana - Bagaimana

Bagaimana cara melukiskan rasa cinta tanpa harus menumbuhkan kemarahan?

Kau harus belajar dari seekor induk bebek yang mengajari anaknya keluar dari kolam. Pelan-pelan ia akan mengajarkan sesuka apapun kau pada lembutnya air, daratan akan selalu jadi rumah yang baik.

Bagaimana menggambarkan benci yang ditahan sesak dada?

Kau harus belajar pada bendungan yang didadanya diberikan beban besar namun tetap memberikan ruang bagi air kecil mengalir pelan-pelan, hingga pada suatu masa semua air dalam bendungan itu ambrol memperoleh kemerdekaannya.

Bagaimana menuliskan kecemburuan yang menghimpit?

Kau harus belajar pada ruang-ruang gelap dalam gua yang seru sedan tangis hitamnya merindukan hangat sinar dari cahaya. Dimana ia belajar mengukir kecemburuan? selain dalam bilik-bilik sesak pekat di tubuhnya.

Bagaimana merapalkan kedengkian yang meledak?

Kau harus belajar pada petir yang menyambar pada saat langit paling mendung di bulan Nopember. Saat semua awan-awan hitam berkumpul dan memusyawarahkan tegangan pada langit yang cerah. Dan memaksa mereka menggelegarkan kemarahan yang paling purba.

Bagaimana mengeja kerinduan yang malu-malu?

Kau harus belajar pada matahari terik yang sedang terbit. Ia menyampaikan pesan hangat pada dinginnya pagi yang naik pelan-pelan dan memperkenalkan panas terik di ubun-ubun.

Bagaimana menghidu dendam yang paling tengik?

Kau harus belajar pada para lintah darat seusai gagal panen padi paling subur pada awal tahun. Mereka akan mengenali jiwa yang putus asa di hujat nasib dan memperkenalkan sumpah pada setan-setan yang dijauhi oleh iblis di neraka.

Bagaimana menjalankan hutang yang tak lunas?

Kau harus belajar pada malam yang mengejar siang. Ia selalu lebih dekat daripada napas yang akan putus. Sangat lelap dan senyap ia mendekat, namun selalu saja hadir subuh, yang menggagalkan pertemuannya dengan siang.

Bagaimana menyembuhkan luka yang tak kering?

Kau harus belajar pada desir angin saat lewat kebun mawar. Ia memberikan kesenangan, tanpa perlu merusak keindahaan yang tersusun. Bukankah wangi itu maya dan luka serupa wangi yang bersajad?

Bagaimana menemukanmu?

Kau tak perlu, dalam setiap detak napasmu yang selesai, aku hadir. Maka lupakanlah pencarian. Karena kau akan seringkali bertemu dengan kenyataan yang perih saat kau berharap pada penyair.

2 komentar:

  1. Dani goblok!!!

    Aku suka banget tulisanmu yang ini.

    Nyentuh banget.

    BalasHapus
  2. suka kenapa gw dikatai goblok? hahahahahahahaha

    BalasHapus