Rabu, 08 September 2010

Untuk Bapak dan lima tahun bulu kemaluan


Ibu bilang, Bapak itu bekerja di Kalimantan supaya aku anaknya ini bisa makan dan sekolah yang baik. Agar tidak lagi jadi gembel yang musti menghamba pada belas kasih supaya bisa makan. Tapi aku tahu Ibu bohong, Bapak sudah mati, ditikam orang di pelabuhan waktu rebutan penumpang dengan calo-calo goblok yang tak tamat sekolah rakyat. Ya, aku tahu ini dari Mu'iz, karena Bapak Mu'iz yang menikam Bapakku tiga kali di leher sampai mati.

Hari ini sudah 4 tahun 11 bulan sejak Bapak tidak pulang. Aku tahu, karena tiap malam sebelum tidur, tanpa sepengetahuan Ibu, aku mencabut bulu jembut ku dan ku simpan baik-baik dalam toples. Dan aku tahu karena jembut dalam toplesku sudah berjumlah 1765 helai hitam dan bau tengik. Dimana dalam toples bening itu, aku menyimpan dendam tentang kerinduan yang tak berbalas. Dan seribu tujuhratus enampuluhlima harapan akan kedatangan Bapak.

Aku sayang Ibu, tapi aku lebih sayang Bapak. Bapak yang dahinya hitam karena sering bersujud kala malam, Bapak yang tak lupa memasang bendera tiap bulan Agustus, Bapak yang tak pernah alpa meronda tiap Senin, Bapak yang selalu makan ketan sebelum pergi kerja, dan yang paling penting bapak yang selalu membawaku ke pelabuhan untuk melihat matahari terbit. Aku kangen momen itu.

Kata orang Bapak itu maling, bejat, tukang mabuk, dan suka berjudi. Aku tau itu tidak benar, Bapak hanya pinjam milik orang tapi tak pernah sempat minta ijin. Bapak selalu saja memukul Ibu dan Aku saat mabuk, tapi tak pernah membuang kami ke jalanan seperti Bapak Mu’iz yang sarjana itu, Bapak mungkin suka bertaruh sehingga kadang harus pulang jalan kaki karena motornya tergadai, tapi Bapak tak pernah mengurangi hak kami keluarganya.

Sejak Bapak hilang -atau lebih tepatnya mati ditusuk orang- aku selalu saja pergi ke Pelabuhan tiap matahari rubuh. Mungkin tidak tiap hari, kalau aku sempat aku akan datang. Berharap bahwa Bapak Mu’iz yang sarjana itu salah tikam orang dan Bapak memang benar-benar pergi ke Kalimantan untuk pergi cari uang yang banyak. Jadi aku tak perlu lagi sendiri datang ke pelabuhan untuk melihat matahari terbit sendirian. Karena kesunyian yang muncul setelah subuh itu lebih menikam daripada kehilangan.

Pagi ini selepas Sholat subuh aku pergi ke bilik Ibu, untuk sekali lagi bertanya dimana Bapak. Aku ingin Ibu jujur bahwa Bapak telah mati, karena kejujuran yang pahit lebih baik daripada dusta yang dibalut gula-gula.

Ibu masih mengenakan mukena usang warna biru saat aku buka pintu kamarnya. Senyumnya masih sama, masih serupa bulan sabit di malam paling terik. Kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah ranjang. Aku disuruh duduk sementara ia membereskan altar pemujaanya pada tuhan yang dibawa Muhammad.

“eh, sudah sholat kau? Tak mengaji? Mamak kangen suara kau membaca Ar-Rahman, suaramu itu macam Soekarno berpidato, tak bosan Mamak mendengarnya” seraya mencium keningku.

“sedang malas Mak, Buyung tak suka baca Ar-Rahman, Buyung suka baca Al-Ghasiah, Bapak suka surat itu, apalagi dibaca keras-keras di masjid”

“eh, tapi bapak kau kan Jauh, disini ada Mamak, kenapa tak kau suarakan untuk Mamak Kau ini?” Ibu menatap lekat-lekat.

“nanti, kalo mamak sudah bilang Bapak dimana”

Ada jeda yang menyesakkan setelah aku mengucapkan kalimat itu. Jeda yang menukik seperti udara yang menipis. Aku tahu Ibu akan sekali lagi berbohong. Tentang Bapak yang mati ditikam. Tentang Bapak yang bekerja di Kalimantan dan serentetan teater murahan betapa Bapak jadi heroik untuk kami keluarganya. Dan aku tahu itu, kebohongan yang apak tidak akan mudah disembunyikan. Dan Ibuku terlampau jujur untuk bisa berbohong.

“Bapak Kau itu di Kalimantan Buyung, berapa kali musti Mamak kau ini kasi tau, bebal kau nak? Mau jadi malin kundang?”

“tidak Mak, Buyung hanya kangen. Kata orang Bapak Mati ditikam, benar itu mak?” aku tetap bersikeras.

“bah, bohong itu. Percaya kau Mamak kau ini bohong? Muslim kau? Ingat kata Tuan Guru Ahmad, berbohong itu sifat ahli neraka, dan Mamak kau ini tak mau masuk neraka”

Akhirnya dialog subuh itu berakhir dengan sebuah perdamaian semu, nanti jika puasa sudah mau tiba. Ibu akan meminta Bapak pulang, dan menemui aku. Aku tahu itu mustahil. Karena Bapak mungkin sudah jadi tanah ditumpas belatung dan cacing dalam tanah. Atau mungkin sudah tuntas dilahap ikan di lautan. Mana yang benar aku tak ambil pusing. Karena nyata Bapak sudah mati, itu kata orang, dan makin hari prasangka itu makin aku yakini.

Bukan buatan jika prasangka yang terbang dijalanan itu kemudian aku yakini sebagai sebuah kebenaran. Sudah putus mungkin kesabaranku menanti telepon dari Bapak atau sekedar surat. Jikapun ia di pedalaman, tak adakah hari libur untuk merajang rindu bertanya kabar tentang keluarganya? Itulah kekuatan prasangka, yang diracun harapan mampu mengubah keyakinan jadi selongsong murtad.

….

Dan puasa yang dijanjikan itupun tiba. Serupa perayaan pagan, semua umat Muhammad mendayu-dayu dalam masjid. Seolah menjadi santo paling purna. Mereka yang dulunya fakir Qur’an, tiba-tiba jadi ahli murotal. Mereka yang juhud berjudi, tiba-tiba jadi ta’mir masjid teladan. Bukankah ini bulan penuh rahmat? Semoga bukan polesan banal yang menkufurkan keyakinan akan kebenaran titah.

Bapak tak jua memberi kabar, hanya celoteh Ibu makin sering terdengar jikalau aku terlambat tarawih. Entah mengapa, umat-umat yang lusuh itu mewajibkan sunnah sedang yang wajib dibiarkan lacur di jalanan. Tapi aku tahu, Ibu hanya tak mau aku ingat Bapak. Jadi Ia paksa aku hanyut dalam ibadah-ibadah tuma’ninah ini. Tapi Ibu tak tahu, aku selalu ingat, dan lupa bukan hobiku.

Setiba malam yang dituduh Nuzulul Qur’an aku datang sekali lagi ke bilik Ibu. Kali ini dengan sebongkah keyakinan. Malam ini akan kupaksa ibu berucap jujur. Bahwa Bapak telah mati dan Ibu telah berdusta. Sehingga ia terbebas dari api neraka dan aku syah sebagai anak durhaka.

Tetapi yang kutemukan hanya Ibu yang mengangis menatap surat. Ubannya yang rimbun semakin mengkalutkan hatiku. Ibu sudah tua dan kenapa Ibu menangis? Ibu adalah singa betina yang tak pernah kutengok menangis meski baku pukul dengan Bapak saat mabuk? Namun mengapa kali ini air mata begitu murah rontok dari matanya yang bening?

“Mak, kenapa kau? Ujarku sambil pelan-pelan duduk di ranjang Ibuku.

“ah, tak ada Buyung, kenapa nak? Dan seperti maling ia simpan surat itu baik-baik.

surat dari Bapak Mak? Apa katanya? Akan pulang Bapak, Mak?” lalu kudekap tangan Ibu yang mulai mengkerut kasar.

“Buyung, kau sudah besar, sebentar lagi kau akan jadi murid universitas, ada hal yang musti kau tau soal Bapak kau buyung”

Ini dia, kejujuran yang akan membebaskan Ibu dari dosa. Dan sertifikat kedurhakaanku. “apa itu mak? Jika bapak mati, Buyung tau mak, bapak mati ditikam Ayah Mu’iz, Mamak tak perlu lagi bohong dan Buyung bisa lega”

“bukan buyung, itu kabar tolol yang dihembuskan tukang obat yang tak tahu malu, Bapak kau masih hidup, tapi ia tak di kalimantan, ia ditempat lain di republik ini” tangan ibu makin keras menggengam.

“Tapi Mamak mau, kau tidak membenci Bapakmu atau menjadi semacam Bapak kau”

Ibu bukan aktris sinetron, menjadi dramatis bukan salah satu keahliannya. Ibu adalah laut pasang, ia terlihat seperti apa yang ia rasakan. Dengan kalimat pendek-pendek dengan tekanan ini aku tau Ibuku sedang serius. Atau ia sedang menceritakan kebenaran yang terlampau berat. Aku tahu ini, karena saat ini sama dengan momen dimana Ibu menceritakan bahwa Bapak sedang bekerja di Kalimantan dan tak akan kembali dalam waktu yang lama.

“iya Mak, Buyung akan berusaha”

“mamak mau kau berjanji” ibu menarik tanganku dan meletakkannya di dahinya.

“Buyung tak mau berjanji yang tak bisa Buyung lakukan Mak”

“Mamak tahu, karenanya Mamak mau Kau berjanji untuk Mamak”

Aku benci berjanji, karena janji adalah sebuah ikrar akan kepastian kata-kata.

“hhhss… Baik Buyung berjanji”

Sebilah senyum muncul dari wajah tua itu. Aku penasara dengan lanjutan kata-katanya dan dalam diam aku menanti.

“Bapakmu menganggap dirinya Patriot, tapi Mamak menganggap dia Idiot” ia menghembuskan nafas.

“Bapakmu ingin menunjukan kecintaan selaku umat dengan menumpahkan darah umat yang lain. Ia pikir dengan Jihad darah ia akan lebih terhormat di mata Tuhan. Mamak tau Bapak kau itu terlalu bodoh untuk bisa mengerti tafsir. Tapi apa daya, Mamak hanya seorang Istri yang tak punya nyali dalam berdebat”

“bapak Kau sekarang ada ditanah para dewa, yang pantainya luas dan gunungnya sejuk. Ia pikir ia akan melawan maksiat dengan mesiu. Mamak tau itu salah, namun Mamak tak ada daya untuk ubah pikir Bapak Kau yang serupa kerbau itu.”

“Bapak jadi rampok mak?”

“Bukan Buyung, Bapakmu mau jadi pahlawan agama, tapi dengan cara yang paling tolol. Ia meledak kan diri bersama orang-orang yang menikmati hidup”

“jadi Mati Bapak Mak?”

“iya Buyung, Bapak mu mati dalam kebodohan yang diampu langit. Maafkan Mamak Kau ini Buyung. Surat tadi adalah surat pertama dan terakhir yang dikirim Bapak Kau sebelum akhirnya ia mati di ludahi api. Sekarang Mamak minta kau maafkan Bapak Kau, dan Jangan pernah kau tiru perbuatan Bapak kau itu”

Malam itu adalah malam terakhir aku dan ibu membahas tentang Bapak. Karena malam itu Bapak resmi mati dan aku tak jadi durhaka. Butuh bertahun-tahun kemudian bagiku untuk mencerna maksud perkataan Ibuku. Tentang Bapak yang jadi ekstrimis. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin bapak yang tak lulus sekolah bisa jadi ekstrimis? Dan bagaimana pula bapak bisa pergi ke tanah dekat jawa yang konon letaknya ditengah nusantara? Sampai sekarang aku tak habis pikir.

….

Bertahun-tahun kemudian disinilah aku, berdiri di pelabuhan yang sama dimana aku dan Bapakku selalu melewatkan waktu. Menatap matahari terbit dan menghirup udara setamak-tamaknya. Kali ini aku datang bersama toples bening dan dua ribu helai bulu jembutku. Ya, karena pada malam ke duaribu aku kemudian memutuskan untuk percaya bahwa Bapak memang mati dan aku resmi jadi anak durhaka.

Toples itu aku tatap erat-erat, bulu jembut usang yang bertumpuk-tumpuk itu adalah manifestasi kebencian dan dendam yang tak berbalas pada Bapak. Dimana setiap helainya bercerita tentang malam-malam sunyi tanpa kehadiran Bapak. Tapi kini itu sudah tuntas, aku dan Ibu telah ikhlas. Bahwa Bapak adalah orang goblok yang tak perlu di rindukan. Toples itu aku lempar ke laut, bukan sentimentil upacara perpisahan. Karena toples itulah ruang yang mengingatkanku pada Bapak. Dan kini aku relakan kepada laut untuk mencerna bulu jembutku. Karena kenangan serupa tahi, yang menolak dibasuh.


(cerpen yang dibuat untuk Adhie teman Rani, serta Aufa dan “Balada orang tua” nya. Kalian menonjokku dengan kenyataan bahwa sebenarnya aku tak punya kepribadian. Bukankah hidup untuk mencari rupa?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar