Selasa, 07 September 2010

My next generation




Malam (29/8/2010) itu sebenarnya saya tidak ada niat menonton acara Kesenian Musik Patrol yang diadakan unit kegiatan kesenian kampus Universitas Jember (Unej). Saya sedang capek sekali, karena baru saja melakukan perjalanan dari Bondowoso-Jember. Namun karena sudah kadung berjanji pada Halim kawan saya untuk membuat semacam tulisan mengenai Patrol, ya saya putuskan untuk nonton patrol.

Patrol adalah semacam kelompok musik etnik ritmik, seringkali diperdengarkan saat bulan ramadhan untuk membangunkan orang-orang agar bisa sahur. Instrumen dari musik patrol sangat sederhana, beberapa jenis kentungan, perkusi dan seruling. Jika memiliki sedikit modal berlebih, bisa memberi sedikit modifikasi sound sistem dan lampu-lampu dengan bantuan tenaga genset.

Malam Itu acara "Carnaval Musik Patrol" menginjak tahun kesepuluh. Satu dekade ajang kreasi seni yang mengangkat tema lokalitas. Beberapa hari sebelumnya saya dan Halim sempat bertemu di kampus, tepatnya di Gedung Rektorat. Kami membahas tentang eksistensi keberadaan kesenian Patrol di Jember, serta bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Jember. Kami bicara panjang lebar dan berdebat tentang keotentikan kesenian ini. Namun kami sepakat, bahwa kesenian ini perlu dikenalkan dan disebarluaskan. Oleh karena itu malam ini saya berniat menulis acara Patrol tersebut.

Dipintu gerbang ‘boulevard’ Unej saya bertemu dengan Oryza Ardiansyah, wartawan Bejat (beritajatim.com), yang juga kebetulan menjadi senior saya. Beliau kemudian mengajak saya untuk melakukan peliputan bersama, dia yang wawancara dan saya yang motret. Kami berdua kemudian memutuskan untuk memulai peliputan dari sekumpulan kelompok Patrol di sebelah utara tugu. Kelompok yang kami wawancarai bernama ‘Kharisma’.

Pemimpin kelompok Patrol itu bernama Pak Slamet, beliau berasal dari Gebang. Wajahnya bulat, ada semburat kumis tipis muncul diatas bibirnya. Malam itu ia mengenakan celana kain warna hitam, dipadu dengan jaket jeans warna senada, di kepalanya memakai kopyah rajutan dan kaus merah putih ala sakera nongol sedikit diantara jaket pak Slamet. Malam itu ia serupa Sakera, hanya lebih modis dan gaul. mulutnya tak berhenti tersenyum saat Mas Oryza mengajaknya berbicara. Dengan bahasa Indonesia yang padat dialek madura, pak Slamet menceritakan kecintaannya pada musik Patrol.

saya ikut musik patrol dari taun 89 dek, waktu itu nama kelompoknya masih Arisma

Lebih dari 20 tahun pak Slamet mengenal musik patrol, dan sampai hari ini masih tetap setia mengawal keberadaan musik tersebut. Pak Slamet mengaku, dedikasinya ini dilandasi atas kecintaan belaka. Ia kemudian menceritakan pengalamannya dahulu saat masih aktif dalam kesenian musik Patrol. Dan bagaimana perhatian dari pemerintah daerah Jawa Timur kala itu.

Ya dulu kan sering dipanggil, yang ke Surabaya, Malang, pas masih jaman pak Basofi (mantan Gubernur Jatim)”

Meski kemudian seiring perkembangan waktu para personil ”Arisma” fokus pada kehidupan masing-masing dan meninggalkan kesenian Musik Patrol. Namun pak Slamet masih tetap menyisakan obsesi untuk terus melestarikan kesenian ini. Sehingga ia nekat mengumpulkan uang tiga juta rupiah untuk membangun infrastruktur kelompok Musik Patrol miliknya.
Peserta Carnaval Musik Patrol malam itu


saya kerjanya wiraswasta dek, jahit, ini habisnya tiga juta, ya dapet ngumpulin, dari panitia cuma dibantu enamratus duapuluhlimaribu. ”

Pak Slamet datang bersama kelompok patrol yang para pesertanya sebagian besar masih remaja usia sekolah. Bahkan ada yang masih sekolah kelas 4 SD. Salah satu dari peserta adalah anak Pak Slamet sendiri yang bernama Riko. Sejak kecil ia ingin memperkenalkan kesenian Patrol pada anaknya itu, agar nanti ia diharapkan bisa meneruskan cita-citanya.

Riko, putra pak Slamet, penerus kesenian (semoga) 

saya pengen ini terus ada yang ganti, makanya (tim) ini tak namai generasi.” pak Slamet sendiri merasakan betapa kesenian ini seperti kehilangan semangatnya. Padahal dulu pada tahun 90an sangat banyak kelompok-kelompok musik patrol di Jember. Tetapi karena kurangnya apresiasi dan sarana untuk menuangkan karya, ada kelompok musik patrol yang kemudian vakum atau bubar sama sekali.

Pak Slamet sendiri mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan kesenian ini. Tidak perlu uang namun lebih kepada perhatian. ”Ndak perlu kasih uang dek, yang penting perhatian, masak lomba patrol kayak gini yang adain Unej” ia juga berkisah. Sebenarnya malu juga untuk minta bantuan dana dari Pemerintah Daerah meski sebenarnya bisa. ”Buat apa dek? Wong ngadakan (acara patrol) aja ndak, masak mau minta uang”.

Pak Slamet, tetap berkarya dengan kumis tipisnya


Pak Slamet mungkin adalah salah satu orang yang merasa bahwa menjaga kesenian harus dengan menanamkan kecintaan sedini mungkin. Saya jadi teringat musik dari the Who dengan lagunya My Generation. Sebuah lagu yang sempat in di tahun 60an akhir. Lagu yang mengumandangkan pemberontakan generasi. Sebuah generasi yang seperti kehilangan identitas dan menolak jadi tua. Hingga pada akhirnya mereka berusaha melepaskan diri dari segala yang lampau. Siapkah kita, jika pada akhirnya kesenian ini jadi artefak?

People try to put us d-down (Talkin' 'bout my generation)
Just because we g-g-get around (Talkin' 'bout my generation)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar