Minggu, 12 September 2010

Histeria-Histeria

Mari bermain dalam ruang imaji tanpa tepi. Berlari dalam katalis supra banal. Dan telanjang dalam perspektif definisi. Kita masing-masing adalah Alice in wonderland. Kita adalah Frodo yang berziarah ditemani cincin kuasa. Dan pada akhirnya menyerah pada realitas hiper fiksi produksi google. Beranikah anda bermimpi?

Beberapa bulan lalu saat maen ke Jogja dan mampir sebentar disarang penyamun, saya diberi oleh-oleh film. Sebuah film yang berjudul The Imaginarium of Doctor Parnassus, film yang saya sebut supra-dupra-asoi artinya film yang bisa dilihat berkali-kali tanpa bosan. Dalam list saya hanya sedikit film kualitas supra-dupra-asoi. Paling Cuma Forrest Gump, V for Venddeta, dan My Girl seri pertama. Saya tidak akan membahas tentang The Imaginarium of Doctor Parnassus, anda bisa lihat pembahasan itu di blog teman saya. Ia mungkin bisa lebih handal dan cerdas dalam menjelaskan makna film itu, sedang saya disini hanya akan berbagi wacana kosong. Jika berkenan mari kita berangkat.

Saya sedang bermimpi menjadi Tony dalam film itu, menjual impian produksi iblis dan tuhan. Menawarkan mimpi paling liar untuk ditukar kenikmatan purna. Bersediakah kita? Saya mengharap-kan kata amien serentak. Tolong serentak jangan parsial, biar kita komunal. Jika masuk Surga bisa rombongan, dan jika pun harus mampir ke Neraka bisa paketan. Ayo apa mimpi anda yang tersembunyi dan paling liar? Keluarkanlah. Mimpi itu murah, meraihnya yang sangat mahal. Mimpi itu mudah, meraihnya yang susah. Lalu mampir kesini, masuk dalam dunia cermin. Sebenarnya siapa anda? Mudah menjawabnya jika ada cermin bukan? Lalu mungkinkah ada dunia dibaliknya? Coba tebak dan masuklah. Gumam saya adalah gumam resah. Karena gumam tak perlu arti ia hanya mau dimengerti. Terserah anda bagai mana mengartikannya.

Lalu apa sebenarnya mimpi anda? Dan bagaimana anda akan berusaha dalam pemenuhan mimpi tersebut? Saya ini mungkin sedang resah, sedang mengalami post graduate syndrome. Berdiri didalam lobi antara idealisme masa muda dan realitas keras dunia. Takut untuk melangkah keluar dan berlari dari comfort zone. Serasa twenty something, tahu kan? Itu lirik Jamie Cullum. Ia berujar “After years of expensive education, A car full of books and anticipation, I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot, But the world don't need scholars as much as I thought”. Yihaaa! Dia harus jadi santo! Yakin saya, sabdanya begitu mantab dan keras.

Jujur saya memang tidak menyenangi dunia kerja, dimana kita harus tunduk menghamba pada orang lain. Lalu digencet habis-habisan untuk mengejar tenggat, target penjualan atau laporan keuangan. Saya terlalu banyak kenal orang yang pada akhirnya tidak bisa menikmati hidup dan dirinya sendiri karena dikukung oleh keinginan konsumtif dan kesalihan normatif dari cara pandang masyarakat. Seseorang dianggap sukses jika ia kerja kantorang atau bahkan jadi amtenaar. Tetapi saya memimpikan hal lain. Saya ingin hidup dan bekerja dengan jiwa paling binal dan liar, mengabdi pada kebebasan, bukankah hidup adalah mencatat sejarah?

Adalah Marquis de Sade, seorang sastrawan masokis paling liar yang pernah saya tahu. Penulis novel 120 Days of Soddom, sebuah novel erotis penuh pemberontakan norma dan asusila paling subversif pada zaman Napoleon. Ia menuliskan kisah pesta seks dan orgy selama 120 hari dengan detail adegan dan semua perilaku seks yang paling menyimpang. Dari sodomi, masokisme, oral, pedofilia dan oedispus. Semua adegan tersebut ditutup dengan adegan konsumsi terhadap tahi. Oke itu menjijikan, tetapi dia adalah orang yang paling merdeka yang menghamba pada kebebasan absolut dalam penulisan. Sejauh ini saya pikir begitu.

Marquis de Sade juga salah seorang yang meginspirasi Foucault. Dengan pemikiran yang paling liar mengenai seks, Focault membuat magnum opus berjudul Historie de la Sexualitie. Telaah kritis mengenai tirani moralitas dan norma terhadap ruang privat manusia. Foucault mengindikasikan bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi besar dalam masyarakat dalam penentuan baik dan buruk, salah dan benar, suci dan haram. Konspirasi yang pada akhirnya mengekang kebebasan manusia dalam berpendapat, bereksistensi dan berkepribadian. Dalam History of Madness misalnya, ia mengemukakan alasan Panoptikon sebagai bentuk represi aparat terhadap masyarakatnya. Sebuah kepatuhan yang dibangun dari rasa takut akan simbol-simbol aparatus negara. Lalu pada akhirnya akan ada bentuk penindasan-penindasan elementer terhadap masyarakat melalui simbol tersebut. Seperti keraguan dalam berpendapat, kebebasan yang dibatasi dan kemampuan yang dikekang.

Kebebasan yang dikekang selalu melahirkan resistensi. Perlawanan dari segala macam hal, mulai budaya, sosial, politik dan keagamaan. Karena sejatinya manusia merdeka. Foucault dan Andy Warhol mungkin belum pernah kenal. Tetapi warhol adalah sebuah simbol penolak dominasi seni pop. Serupa Foucault, Warhol disiksa oleh ketenaran karyanya, pengkultusan dan ekspektasi besar terhadap kegemilangan. Foucault adalah seorang individualis yang karyanya sinis, seolah mengejek masyarakat, namun hal itulah yang membuat ia makin terkenal. Warhol juga demikian, karya-karya nya yang anti pop, malah membuatnya makin pop. Ia menolak segala macam penghargaan dan nominasi, karena menurutnya itu hal bodoh. Namun ia kemudian dikultuskan sebagai seniman flamboyan yang anti kemapanan. Selalu ada dualisme pemahaman terhadap suatu aksi. Dan seringkali terhadi salah tafsir dalam pemaknaan, dan celakanya tafsir yang salah tersebut seringkali jadi pedoman yang di imani dengan baik.

Warhol menggeberak dunia dengan silouete warna-warni dari foto ikon seks Amerika Marilyn Monroe. Sederhana namun menghentak, bukankah simplicity is the best? Warhol memanifestasikan kegairahan dalam kanvas. Memaknai lekuk wajah Monroe sebagai nafsu. Dan menurut saya ia benar, siapa yang tidak ingin menikmati Monroe? J.F.K saja terpikat. Namun bukan itu yang menjadi poros, tetapi lebih kepada seduction of leisure. Baudrillard menyebutnya sebagai ‘vulgar but easy’. Pop dan lugas. Apalagi yang diharapkan dari seorang seniman yang dengan mudah menyampaikan pesan tanpa perlu seorang kurator sok pintar menerjemahkan sebuah karya?

Lebih jauh Baudrillard bercerita dalam Seduction tentang rayuan. Dimana rayuan bukanlah tentang hirarki alamiah, namun lebih kepada ritual dan perayaan terhadap tanda-tanda. Iklan, model, televisi dan poster telah menjadikan hidup manusia lebih susah daripada apa-apa yang ditawarkan. Kehidupan lebih mudah melalui teknologi malah membuat manusia menjadi menghamba pada produksi. Pernahkah anda menjadi korban mode yang menginginkan benda yang sebetulnya tidak anda butuhkan? Ponsel, I pad, Blackberry dan gadet-gadget lainnya? Itulah histeria konsumsi.

Apolonious, seroang filsuf yang hidup sezaman dengan Gaius Julius Caesar. Manusia yang ingin merdeka dengan menjadi budak. Menurutnya kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diberi, melainkan sesuatu yang diperjuangkan. Perbudakan teknologi, pengetahuan dan kekuasaan telah merasuk begitu rupa dalam diri kita sehingga kita lupa sebenarnya kita sedang di tindas. Diperparah lagi dengan sifat pelupa dan pemaaf yang akut, menjadikan manusia (Indonesia) seringkali tidak belajar dari kesalahan. Lalu akhirnya menjadi affirmatif dan pasif. Cerminan paling busuk yang digambarkan Herber Marcuse dalam One Dimensional Man.

Disinlah saya, masih dalam persimpangan antara so called idealism versus life itself. Pencapaian yang saya kira luarbiasa, nyatanya tidak membuat saya menjadi berharga. Malah semakin membuat saya diasingkan. Perkataan-perkataan saya serupa sabda yang ditunggu pelaksanaannya. Histeria linguitik. Entah mengapa, kapan hari, atau bahkan seumur hidup saya, saya dituduh sebagai manusia bermulut besar. Mungkin karena terlalu banyak janji yang belum terpenuhi, atau orang terlalu buta dan tidak mau tahu atas pencapaian lain yang telah saya buat? Entahlah.

Saya jadi teringat Muhammad Ali, si mulut besar juara dunia tinju kelas berat itu. Orang yang selalu menepati omongannya yang besar. And then again, when he loses nobody argued. Atau almarhum Tupac Shakur dan Notorius B.I.G duo legenda rap scene dari westcoast dan eastcoast. Seumur hidup mereka diciptakan untuk membual dan mereka hidup dari itu. Manusia itu cenderung alpa, saya juga. Namun sangat ironis dan satir jika hanya menertawakan kegagalan sementara keberhasilan dinilai separuh. Mereka yang dikecewakan seringkali gagal bersifat adil dalam memandang sesuatu. Menyedihkan sekali. Dan inilah saya, pembual paling hebat yang anda kenal. Histeria saya akan membuat anda terkapar. Karena saya adalah pembual yang memenuhi janjinya pada waktu yang tepat, bukan seorang pembual yang tepat waktu. Tabik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar