Senin, 14 Februari 2011

Insureksi dalam Melodi


Pada awalnya adalah keheningan, saat saya berjalan beramai-ramai dalam sebuah demonstrasi di awal masa kuliah. Melakukan long march dari depan gedung fakultas menuju rektorat yang cukup jauh, demi satu tuntutan pencabutan uang gedung. Namun seketika keheningan itu dipecahkan oleh salah seorang mahasiswa senior yang menyanyikan lagu sederhana ‘Berderap dan Melaju’. Saat itu saya tahu satu hal, musik dan aksi masa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dalam keramaian.

Irama nada ‘Berderap dan Melaju’ yang repetitif dan easy listening langsung merayu pendengarnya untuk memBeo dalam sebuah nyanyian massal. Lirik yang lugas, sederhana dan mudah diingat membuat saya kecanduan sekedar bergumam atau malah latah ikut bernyanyi. Siapapun anda, jika asyik dalam kerumunan aksi dan mendengar lagu ini. Saya jamin akan ikut dihipnotis untuk ikut bernyanyi atau sekedar mengepal tangan lalu bersiul mengikuti nadanya. Inilah kekuatan musikalitas crowd, mampu menarik anda dalam sebuah hingar bingar pergerakan sosial.

Dalam suatu masa, Njoto salah satu dedengkot Politbiro PKI pernah berkata “Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan”. Ia menyampaikannya didepan rombongan paduan suara “Tak Seorang Berniat Pulang” yang baru saja selesai berlomba dalam ulang tahun KSSR tahun 1964. Seolah berkata, Jika anda mengamini revolusi adalah hiruk pikuk jalanan, maka anda boleh ambil barisan. Jika tidak, diam atau bersiaplah disingkirkan. Setidaknya begitu saya menafsirkan kata-kata Njoto tersebut.

Njoto bukan asal bicara atau waton muni, karena yakinlah Ia adalah seorang Violist jempolan. Salah satu Pemikir PKI paling jitu dan kata-kata itu ia refleksikan dari jati dirinya sebagai musisi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana gendjer-gendjer menjadi begitu hip dikalangan keluarga PKI dan bagaimana Internationale mampu menggugah para sosialita marxist di Moskwa saat itu. Musik adalah salah satu sarana revolusi, maka agitasi dimulai di udara!

Maka pada saat kelahiran adigium Medium is the Message! akhir tahun 60an, McLuhan sebenarnya hanya memuntahkan kembali atas apa yang diamini Njoto. Musik adalah medium sekaligus pesannya. Maka tidak salah jika kemudian musik menjadi salah satu insrumen perjuangan sosial. Entah itu dilakukan dalam sebuah konser, jam sessions, atau bahkan pada aksi sebuah massa. Musik telah menemukan perannya sendiri dalam hiruk pikuk demonstrasi.

Dalam pergerakan sosial sendiri, dalam hal ini demonstrasi, musik adalah salah satu elemen penunjang yang mampu membentuk kesadaran kolektif. Seringkali malah dalam lirik yang didendangkan ia sendiri telah menyuarakan tuntutan dan ratapan dalam satu waktu. Ia ikut serta menjadi ‘orang tak nampak’ yang meramaikan sebuah aksi massa.

Saya sendiri setidaknya pernah ikut merasakan sublimasi semangat dalam lirik profetik lagu-lagu pergerakan sosial yang jamak dinyanyikan saat demonstrasi. Sebut saja Darah Juang, Totalitas dan Buruh Tani. Sebagai mahasiswa yang juga pernah mengikuti euforia ‘agent of change’ ikut demonstrasi adalah sebuah keharusan dan demonstrasi tanpa ketiga lagu tersebut, rasanya seperti menonton konser Rage Againt The Machine tanpa kehadiran Zack De La Rocha. Terasa Hambar!

Dalam sebuah berita pagi, sekilas saya menonton berita tentang protes mahasiswa di Jambi. Tanpa sengaja ada sepotong fragmen berita yang memperlihatkan seorang mahasiswa dengan ikat kepala bertuliskan ‘keadilan’, mengepalkan tangan kiri ke udara, menutup mata dan menyanyikan sepotong lirik Darah Juang. Dan demi setiap tetes keringat perjuangan Munir dan Marsinah, getaran lirih semangat perlawanan dalam lirik ‘Darah Juang’ itu masih mampu membuat saya meneteskan air mata.

Darah Juang boleh jadi adalah anthem dalam setiap demonstrasi mahasiswa. Dia adalah zetgeist yang mengingatkan para mahasiswa untuk senantiasa berjuang (itu pun kalo demonya beneran niat tulus dan bukan pesanan. Mereka dirampas haknya / tergusur dan lapar / bunda relakan darah juang kami / tuk membebaskan rakyat. John Sonny Tobing dan Andi Munajat adalah duo Mahasiswa UGM yang konon mengaransemen lagu ini. Seolah-olah ingin menyampaikan pada semua pseudo mahasiswa agar tak lupa turun ke jalan menjadi oposisi bagi rezim yang ada.

Seakan merayakan liturgi dari kebudayaan massa, lagu-lagu demonstrasi di Indonesia juga memiliki pasar tersendiri. Meski tidak berorientasi pada keuntungan, peredaran lagu-lagu ini biasanya dimulai dari komunitas/organisasi kemahasiswaan yang kemudian merembet pada segenap komunitas/organisasi kemasyarakatan atau kesenian yang merasakan semangat perjuangan dalam lagu-lagu tersebut.

Apakah kemudian lagu tersebut kemudian berhenti menjadi bahan bakar semangat pergerakan? Saya kira tidak, setidaknya mahasiswa Indonesia khususnya meyakini bahwa semangat juang itu mengalir dalam lagu-lagu yang lain. Coba saja anda menyimak bait lirik dari lagu Totalitas Perjuangan. Kepada para Mahasiswa / yang merindukan kejayaan / Kepada rakyat yang kebingungan / Di persimpangan jalan. Seakan berkata bahwa peran mahasiswa adalah mutlak dan perlu dalam sebuah perjuangan. Dan lebih jauh lagi Ia berbunyi Kepada pewaris peradaban / Yang telah menggoreskan Sebuah / catatan kebanggaan / Di lembar sejarah manusia. Lirik lagunya masih optimistik memandang peran mahasiswa sebagai gembala perubahan.

Perkembangan lagu-lagu pergerakan yang ada dari jaman ke jaman juga mengalami perubahan baik secara konteks lirik dan isu yang dituntut. Jika pada angkatan 66 lagu-lagu perjuangan mahasiswa Indonesia masih berkutat pada perbaikan nasib rakyat, pembubaran PKI dan bobroknya sistem. Maka pada era digital keong racun pada saat ini lirik-lirik lagu juga mengalami perubahan dramatis. Memang isu isu kerakyatan masih menjadi tema sentral, tapi lirik-lirik yang digunakan tidak lagi menjadi gegap gempita dan patriotik. Beberapa malah menjadi sangat centil dan lucu.

Lirik lagu Cinta Demonstran misalnya, lagu ini menggambarkan sepasang kekasih yang sedang berpamitan. Mirip dialog seorang prajurit yang dilepas perang oleh kekasihnya. Sudah berulang kali abang katakan / Jangan bermain cinta dengan demonstran / Nanti ditangkap polisi / Sakit-sakit sekali. Lagu ini memang tidak banyak dikenal oleh kalangan aktifisme mahasiswa, karena seringkali memang hanya digunakan sebagai lagu nongkrong. Namun liriknya yang seakan-akan memberikan peringatan tentang resiko hubungan pacaran dengan aktifis membuat lagu ini digunakan sebagai lagu pelepas lelah paska aksi.

Dalam suatu fragmen pemberitaan Tempo pada tahun 21 Januari 28 tahun yang lalu tergambar situasi panas yang menyelimuti kamous ITB. Terik matahari membakar kampus "Ganeca" ITB Bandung. Dimana Tak kurang dari 3.000 mahasiswa berkumpul di sana dari hari Senin siang sebelumnya. Selembar spanduk merah terpampang di mulut pintu kampus. Bunyinya serem, senada dengan pernyataan mereka: "Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia." Sambil menyanyikan lagu perjuangan seperti halo-halo bandung, para mahasiswa seakan ingin meminjam semangat para pejuang untuk meneriakan ketidak adilan yang saat itu terasa menekan.

Hardeep Phull sendiri dalam bukunya STORY BEHIND THE PROTEST SONG ; A Reference Guide to the 50 Songs That Changed the 20th Century, mengungkapkan lagu-lagu yang dalam sejarah tercatat menjadi mesin pendorong perubahan sosial. Hardeep Phull berkata bahwa sebenarnya ingin menunjukkan tentang makna dan bagaimana lagu-lagu tersebut bisa mempengaruhi dunia. Lagu we shall overcome yang dipopulerkan oleh Joan Baez pada tahun 63. Sebenarnya telah memiliki sejarah lebih lama dari itu. Setidaknya pada awal tahun 1900 dan berkembang menjadi lagu kebangsaan pergerakan sosial pada tahun 1960an.

Lalu saya teringat tentang Marthin Luther King Jr. Seorang tokoh Afrika Amerika yang sangat luar biasa. Seorang tokoh yang ikut andil dalam meruntuhkan kebijakan rasialis Jim Crows Laws di Amerika melalui aksi "The Great March on Washington". Sebuah aksi yang dipicu rasa muak atas segala diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Amerika. Mengingat momen dimana Marthin Luther King Jr bersama ratusan ribu orang saling bergandengan tangan menyanyikan we shall overcome. Sebuah lagu yang menyiratkan semangat untuk tetap konsisten melawan ketidakadilan.

Beberapa Band di Indonesia kemudian mengadopsi lirik-lirik yang secara cerdas melawan, mengkritik dan mengejek kondisi sosial kemasyarakatan kita. Band seperti Efek Rumah Kaca, Melancolic Bitch, dan Grup Hip-Hop Homicide misalnya. Mereka telah meninggalkan kelas perjuangan jalanan, dan menjadikan panggung musik sebagai arena perang wacanan dan pemikiran. Dalam banyak hal saya menilai musik-musik mereka memiliki kelemahan. Yaitu musik mereka hanya bisa dinikmati oleh golongan kelas menengah terdidik.

Lirik lagu Boombox Monger dari Homicide misalnya, lebih menuntut pemahaman pendengarnya atas wacana Marxist secara utuh. Jika konsumen adalah raja / maka industri adalah Kasparov / dan setiap vanguard lapangan / tak lebih Lenin dari Ulyanov / mencari poros molotov. Karena sangat susahnya pemahaman atas lirik ini, pendengar dari Homicide bisa jadi adalah mereka para pegiat buku yang sudah tamat membaca pengantar filsafat dan kajian budaya.

Melancolic Bitch dan Homicide dalam liriknya selalu menggunakan istilah yang multi tafsir yang saya ragu para tukang becak di Indonesia bisa mengerti padu padan arti dari lirik lagu mereka. Saya sendiri kemudian mengartikan bahwa dalam genre lagu perjuangan, terdapat pembagian kelas tentang dimana ia akan berperang. Lagu-lagu semacam we shall overcome dan Darah Juang akan menempati pergerakan kelas bawah, karena liriknya lugas dan mudah dimengerti. Sedang Tantang Tirani nya Homicide dan Take B.Y.O.B dari System of Down adalah lagu perjuangan pada golongan kelas menengah.

Dalam banyak hal saya mengagumi Iwan Fals karena mampu membuat lagu-lagu cerdas yang memiliki lirik musik dekat dengan kondisi realitas kerakyaatan. Seperti sore tugu pancoran, orang pinggiran, sugali dan ujung aspal pondok gede misalnya. Iwan Fals secara cerdas menangkap fenomena sosial yang terlihat (namun jarang kita akui keberadaannya) menjadi lirik-lirik yang cerdas, menghibur, nakal dan juga menyindir dalam satu waktu.

Pada lagu sore tugu pancoran misalnya Iwan Fals menangkap fenomena sederhana tentang para pedagang asongan di lampu merah yang sering kita lihat namun tidak kita sadari realitasnya. Si budi kecil kuyup menggigil / Menahan dingin tanpa jas hujan / Di simpang jalan tugu pancoran / Tunggu pembeli jajakan koran. Secara sederhana ia merekonstruksi sebuah kondisi di pertigaan ibu kota, dimana anak kecil menjadi pelaku usaha sektor informal. Padahal seharusnya ia larut dalam permainan dan masa sekolah.

Dalam kesempatan lain ia bisa sangat satir menyindir penguasa melalui lagu Bento. Namaku Bento rumah real estate / Mobilku banyak harta berlimpah / Orang memanggilku bos eksekutive / Tokoh papan atas atas s'galanya asyik. Lagu yang sampai saat ini menimbulkan polemik dan mitos tentang siapa sebenarnya Bento tersebut. Beberapa orang menyebut tokoh Bento adalah Soeharto ada pula yang berkata itu adalah Tommy Soeharto. Entahlah yang jelas lagu itu pernah membuat Iwan Fals diciduk tentara dan ditahan beberapa hari.

Iwan Fals boleh jadi salah satu dari sekian banyak musisi yang kemudian menjadi patron dalam lagu-lagu yang bertemakan kondisi sosial di Indonesia. Namun tetap pergerakan lagu-lagu perjuangan mahasiswa masih menjadi sangat ekslusif. Peredaran lagu yang masih berkutat pada komunitas, lirik yang cenderung terlalu patriotik dan kebanyakan tidak digarap dengan audio mixing yang baik boleh jadi. Genre musik demonstrasi (saya menyebutnya demikian) hanya menjadi musik-musik yang seremonial saja. Terbatas pada saat terjadi aksi-aksi saja.

Beberapa band indie grassroot yang memang dekat dan konsistenn dengan isu-isu sosial seperti Marjinal dan Lontar dari Surabaya, mulai coba menggarap serius musik-musik perjuangan jalanan tadi dengan audio mixing yang baik. Alhasil perkembangan genre musik ini sedikit banyak mulai berkembang dari scene-scene punk di Indonesia. Lalu beralih pada gig gig di konser konser kesenian. Dalam banyak komunitas lagu perjuangan mahasiswa diidentifikasi sebagai lagu-lagu yang senada dengan cita-cita perjuangan mereka.

Semangat dalam lagu-lagu perjuangan mahasiswa adalah semangat perlawanan. Hal ini selalu tergambar dalam setiap lirik lagu-lagu mereka. Lagu perjuangan mahasiswa adalah kisah tentang perjuangan yang tak selesai, perjuangan yang kemudian seakan-akan menjadi pertarungan tanpa henti. Karena selama masih ada penindasan kepada rakyat, maka selamanya lagu-lagu perjuangan mahasiswa ini tidak akan berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar