Senin, 14 Februari 2011

Suatu sore di Kereta Laju


Kereta pakuan ekpress itu berhenti dengan bunyi jesss perlahan di Stasiun Tanah Abang pada sore hari tepat pada pukul 17.15 wib. Kereta itu sederhana, meski menggunakan kata ekspress ia tak bisa dibandingkan dengan kereta super cepat Shinkansen di Jepang. Gerbong keretanya seragam, berwarna putih pucat dengan garis kuning di sepanjang badannya. Ia disambut oleh kerumunan manusia yang sudah berdiri tegang di belakang garis putus-putus di tepi Rel. Setelah berhenti sempurna, tiga pintu di salah satu sisinya terbuka perlahan. Udara dingin kereta segera menyambut, pengunjung yang masuk kemudian duduk lemas di atas bangku sambil menikmati sejuk udara dari hembusan kipas angin dilangit-langit kereta.

Ada sekitar 4 bangku biru panjang diantara pintu kereta dan 4 bangku biru pendek yang terletak diantara kompartemen penghubung gerbong kereta itu. Warnanya kontras dengan warna putih yang dingin dalam kereta itu. Setelah menunggu beberapa menit, kereta itu melaju perlahan dengan kekuatan penuh menuju stasiun berikutnya. Tidak banyak suara dalam kereta yang mulai melaju kencang itu, selain derap rel yang beradu dengan roda kereta, sesekali terdengar bunyi tuit-tuit dari kereta yang berpapasan. Kesunyian itu karena hanya ada beberapa orang saja dalam gerbong nomor 4, beberapa penumpang yang ada bersandar pada bangku biru yang empuk itu menunduk memejamkan mata, sebagian asyik memainkan blackberry, yang lainnya diam membaca.

Penumpang diujung bangku kompartemen sisi kiri kereta itu memakai cardigan hitam, dilehernya bergantung slayer semacam batik, rambutnya hitam di ikat keatas. Mendekap sebuah tas jinjing dengan sangat erat. Badannya terayun-ayun seirama perjalanan kereta. Saat kereta oleng ke kanan, penumpang itu hampir tersungkur lalu kembali duduk sempurna.

Ia mengangkat tangan kiri dan menyibakan ujung kardigannya, menatap arloji. Ia terbelalak dan tergesa-gesa mengeluarkan ponsel, matanya nanar, mulutnya yang mungil mulai komat kamit. Ponsel itu ditempelkan pada telinga kiri. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi, kini mata sipitnya semakin terbelalak, duduknya menegak, tangan kanannya meremas tas jinjing warna hitam itu makin keras. Mungkin ada jawaban, ia mulai berbicara, suaranya tak terdengar, karena kalah beradu dengan deru kereta.

Duduknya tak lagi tegak menegang, tas jinjing itu mulai di biarkan bersandar malas di perutnya, mukanya yang tadi mengeras perlahan tenang. Ia mulai tertawa memperlihatkan barisan rapi gigi yang dibalut kawat warna hijau. Lalu greeeeettt Pakuan Ekpress mulai berulah lagi. Kereta itu melaju tersendat, nampaknya ia akan berhenti pada stasiun berikutnya. Laju kereta semakin tertahan, pelan dan jesss sekali lagi berhenti sempurna. Disambut suara operator stasiun, pintu kereta pakuan ekpress terbuka lebar.

Geruduk-geruduk puluhan orang masuk serentak, beberapa berebutan duduk di bangku biru di tiap sisi kereta. Yang lain mengeluarkan kursi lipat dan bersandar di ujung lain pintu kereta. Mereka yang tak beruntung, berdiri berpegangan pada lingkaran putih yang tergantung di atas langit kereta. Hampir tak ada celah, semua ruang terisi.

Penumpang diujung kereta tadi tak lagi tertawa, ponselnya pun sudah usai dipakai. Tas hitam itu kembali di dekap keras. Namun ia tak lagi sendiri, seorang pria botak dengan banyak keringat duduk disamping kiri, pria lainnya berdiri tepat di depannya. Sementara dipintu masuk tadi telah duduk perempuan muda diatas kursi lipat. Ia terjebak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar