Selasa, 15 Februari 2011

In My Life, Kredo untuk Ahmad Dahlan Asyari


(1 januari 1986 – 15 Februari 2007)

Foto Oleh Ahmad Faruqie



Ijinkan saya berkisah tentang seorang laki-laki yang serupa Matahari bulan Januari. Seorang pria baik hati yang keras kepala, terang dan tanpa kompromi. Seorang laki-laki paling romantis yang bisa diciptakan Tuhan dengan citra matahari. Dimana pada setiap ingatan dalam hati sahabatnya hanya bisa dilukiskan dengan kata ‘senyum’, ‘baik’, ‘ramah’, ‘sengit’ dan ‘kangen’. Seorang laki laki yang akan selalu tetap abadi dalam hati saya. Adakah kalian mengenalnya? Jika tidak, sekali lagi ijinkan saya berkisah tentang hidupnya yang terang benderang.

There are places I remember, all my life, though some have changed

Kami berdua berkenalan di sebuah sekolah swasta muslim sederhana di Bondowoso. Sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Kami berdua bersekolah di SD Muhammadiyah, sekolah samping kali yang baunya sering menyengat. Sekolah yang kami cintai meski dalam kelas kami terisi tak lebih dari 11 orang anak. Hal inilah yang selalu memacu kami untuk berusaha dengan segala keterbatasan untuk jadi yang terbaik. Saya dan juga sahabat saya ini selalu pulang siang setelah melaksanakan sholat Dzuhur berjama’ah - meski seringkali kami hanya bercanda. Suatu saat kami pernah berdebat sengit, saling marah, membenci dan memutuskan untuk melakukan duel. Ditepi sungai itu. Kami berduel selayaknya dua samurai mempertahankan kehormatan. Selepas baku hantam yang sengit kami berdua terduduk. Tanpa sadar saya tertawa bukan karena menang, tetapi karena rasa bersalah. Entah mengapa segala kebencian kami itu hilang. Berganti dengan rangkulan hangat seorang teman. Kebencian selalu mempunyai cara sendiri untuk meneguhkan sebuah persahabatan.

Sekolah yang akan saya ingat. SD Muhammadiyah Bondowoso yang kini mungkin sudah berdiri gagah tak seperti dulu, tetapi kenangan kami banyak tertinggal dalam tiap tembok kelasnya, tiap datar lapangannya, dan tiap ilmu yang diajarkannya. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

Some forever not for better, some have gone and some remain

Kisah saya adalah sebuah kisah persahabatan. Tentu dengan segala perdebatan, tangis haru, riang tawa dan debat sengit. Apalah arti sebuah persahabatan yang datar dan tanpa cela. Saya dan sahabat saya berpisah setelah lulus dari SD Muhammadiyah. Saya memutuskan untuk melanjutkan ke SMP 1 Bondowoso. Sedangkan Sahabat saya ini kemudian melanjutkan di MtSN. Sekolah lanjutan Islam dimana Ayahnya mengajar. Hampir selama tiga tahun kami berpisah, tetapi bukan tanpa kabar, bukan tanpa hubungan. Sesekali saya masih sempat bermain kerumahnya. Entah mengapa sekali lagi kami diikat oleh sebuah takdir yang aneh. Kami berdua, saya dan sahabat saya, sama-sama menyukai Base Jam. Sama-sama suka mendendangkan ‘bukan Pujangga’ dan ‘Radio’. Dalam banyak hal saya meyakini sebenarnya saya dan sahabat saya adalah sepasang saudara yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan selamanya, saling berbagi, saling bersaing, saling berdebat dan saling mengikat. Tetapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai.

Sekarang kaset Base Jam saya sudah hilang entah ada dimana. Tetapi ingatan tentang ‘bukan pujangga’ dan bagaimana kami tiba-tiba tertawa karena menyanyikan lagu itu akan selalu ada. Tentang bagaimana kami berdebat mengenai alasan Sita keluar dari base jam. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

All these places have their moments, with lovers and friends, I still can recall

Saya adalah pria cengeng yang tak ragu menangis akan hal-hal sentimentil nan sepele. Sebaliknya dia adalah seorang gagah yang selalu tegar menyembunyikan segala permasalahannya rapat-rapat. Terkadang saya ingin marah pada sahabat saya ini karena sikap kerasnya dan ia pun tak kalah jengah melihat saya menjadi terlalu melankolis dengan segala permasalahan yang ia anggap sepele. “Bukankah dalam hidup kita hanya bisa meratap?” saya berkata. “tidak” jawabnya tegas “ada perbedaan besar antara meratap dan manja” lanjutnya. Ia bilang saya terlalu manja, terlalu sentimentil, terlalu cengeng dan terlalu lembek dalam hidup. Sebuah perbincangan yang mungkin akan nampak konyol sekali saat ini. Kami berdua bicara dalam sebuah wartel, didepan rumahnya, sambil menonton berita dan makan kacang koro. Saya pikir sahabat saya itu akan sangat kecewa jika ia mengetahui bahwa saya masih tidak berubah sejak kami bicara tujuh tahun lalu. Waktu seringkali terlalu cepat berjalan dan segala yang bernama penyesalan hanyalah debu yang harus dihilangkan.

Sekarang saya sudah bisa menerima kekurangan saya, mulai belajar untuk memperbaiki. Perlahan tetapi pasti saya tidak mau dia disana kecewa. Setiap mozaik waktu yang telah saya lewati bersamanya adalah nasehat, seringkali adalah teguran. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

Some are dead and some are living, in my life, I've loved them all

Hingga pada akhirnya datang hari itu. Limabelas januari duaribu tujuh. Sebuah pesan singkat dari teman yang berkata bahwa sahabat saya itu telah meninggal. Meninggal dalam kecelakaan pulang menuju Malang dimana ia menuntut ilmu. Saya dan beberapa sahabat ACC Brotherhood bergegas menuju Lumajang. Tempat dimana sahabat saya disemayamkan. Disana kami bertemu dengan ayah sahabat saya. Seorang bijak yang telah tiga kali dipaksa melihat kematian dan tetap tegar menerimanya sebagai takdir Allah. Seorang bijak yang menggenggam erat tangan saya dan menahan air mata berkata “terima kasih sudah mau datang, tolong maafkan Ari kalu ada salah”. Dengan segala beban dan ketegaran yang bersisa, saya dan beberapa sahabat ACC Brotherhood menuju tanah dimana ia mendapat kehormatan untuk mengebumikan sahabt saya itu. Saat itu segala pertahanan saya untuk tetap tegar hancur berantakan. Didepan nisan sahabat saya yang sederhana saya menangis. Menangis dengan kampungan. Dengan ingus yang meleler. Dengan tolol dan gagal menerima kematianmu sebagai takdir. Saya merasakan benar apa perasaan Chairil Anwar dalam ‘Nisan’ Bukan kematian benar menusuk kalbu / Keridhaanmu menerima segala tiba / Tak kutahu setinggi itu di atas debu / Dan duka maha tuan tak bertahta.

Tak ada Musafir yang gugur lalu masuk neraka dalam perjalanan menuntut ilmu” saya berkata itu dalam hati. Saya berdo’a bahwa kamu akan masuk surga sahabatku. Segala pesanmu tentang pentingnya ilmu dan membaca buku akan tetap ada. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

But of all these friends and lovers, there is no one compares with you

Entah mengapa kemudian saya mengingat momen-momen kami semasa di SMA. Sekali lagi kami diikat oleh sebuah takdir yang aneh. Sejak kelas satu SMA sampai dengan kelas tiga kami duduk dalam kelas yang sama. Kelas satu E, dua E dan IPA Empat. Takdir adalah lelucon paling aneh yang diciptakan tuhan. Kami berkumpul kembali, dengan sahabat-sahabat baru juga. Sahabat yang saling berbagi dalam kesederhanaan. Sahabat yang selalu berbagi dalam suka. Sahabat yang selalu punya cara satir untuk menertawakan ironi. Sahabat yang saya anggap saudara. Sahabat ACC Brotherhood. Saya dan sahabat saya mulai sering berkumpul dengan ACC Brotherhood sejak kelas satu dan menjadi aktif berkumpul saat kelas tiga. Alasanya sederhana, kami adalah orang-orang yang memiliki kesamaan visi tentang masa remaja. Ingin melewatinya dengan perlahan dan penuh lelucon. ACC Brotherhood sendiri tak saya ingat siapa yang membuat. Nama itu muncul karena kami sering berkumpul di sebuah corong disudut sekolah. Anak corong club, beberapa orang yang nyinyir menyebut kami gerombolan anak manja yang playboy. Saya dan sahabat saya tak habis tertawa. Anak manja dan playboy? Entahlah, terserah apa kata orang. Saya dan sahabat saya di ACC Brotherhood merasa diterima sebagai apa adanya kami, bukan sebagai siapa kami di sekolah. Sangat mengherankan bagaimana sebuah kenangan bisa mampir dan membuat segalanya nampak lucu. Padahal kita sudah berulang kali mengingatnya.

ACC Brotherhood adalah sekeping kecil fragmen saya dan sahabat saya yang tidak akan pernah dilupakan. Tentang lelucon yang garing, teh hangat manis gratis, adik kelas yang lucu, mushola yang bising. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

And these memories lose their meaning, when I think of love as something new

Dalam hati saya selalu meyakini. Tidak ada hal yang lebih menakutkan daripada dilupakan. Dilupakan merupakan sebuah hukuman yang paling keji kepada manusia. Mereka yang dilupakan adalah mereka yang dianggap tidak pernah mengecap kehadiran di muka bumi. Keberadaannya dinisbikan dan terserak dalam sejarah sebagai tumbal. Dengan alasan itu saya menulis kredo ini, karena saya ingin sabahat saya dapat tetap hidup dalam kenangan. Dalam ingatan tiap-tiap sahabatnya. Dalam hidup yang seringkali terlalu ramai dengan hingar bingar cerita remeh. Saya ingin tetap mengingat sahabat saya sebagai orang yang santun. Mengingatnya sebagai orang yang selalu taat beribadah. Mengingatnya sebagai pemberani yang tidak pernah percaya dengan pocong maupun setan. Seorang pemuja Manchester United yang fasis. Seorang laki-laki yang selalu sukses menyembunyikan perasaannya pada perempuan. Seorang laki-laki yang tak pernah pelit berbagi saran. Seorang laki-laki yang rajin sholat di sepertiga malam. Semuanya dilakukan dengan cinta dan bukan ketaatan buta.

Terkadang saya merasa Tuhan terlalu cepat memanggilnya dan disisi lain saya merasa Tuhan begitu bijak memanggilnya disaat yang paling purna. Saat ia masih menjadi orang yang baik dan soleh. Dengan segala perilakunya yang konyol dan naif. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan

Though I know I'll never lose affection, for people and things that went before

Kami telah sama-sama berpisah, baik raga maupun jiwa. Di sudah tenang berada di alam sana. Mungkin sudah berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai. Sudahkah saya ceritakan bahwa sahabat saya adalah orang yang tegar menghadapi kehilangan? Jika belum akan saya akan ceritakan. Sekitar kelas dua sekolah dasar, sahabat saya itu harus dihadapkan dengan kenyataan pahit. Bahwa kakak perempuan yang dia sayangi telah meninggal dunia. Saya ingat sekali waktu itu, kami dikumpulkan seperti sedang upacara, kami diberitahukan tentang berita ini. Kemudian kami berdoa bersama-sama. Lantas secara bergantian kami, saya, teman-teman dan para guru memberikan semangat pada sahabat saya itu. Ia nampak tegar, atau bahkan mungkin masih belum paham tentang arti kematian itu. Enam tahun kemudian ia dipaksa menerima kehilangan lagi. Kali ini tepat pada tanggal satu januari, hari ulang tahunnya, sang Ibu yang saya ingat begitu baik itu, meninggal dunia. Sahabat saya itu, sekali lagi sangat tegar. Dengan senyum yang samar ia berkata “maafkan ibu saya kalau ada salah”.

Hal yang saya sesali sampai hari ini adalah, saya tidak sanggup menjadi sahabat yang baik yang memberikan semangat padanya. Saya, sampai kapanpun, mungkin tak akan pernah bisa tegar menghadapi kematian. Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan.

I know I'll often stop and think about them, in my life I love you more, in my life I love you more

Kita adalah sahabat, selamanya demikian, selalu akan demikian. Waktu boleh berubah, saya perlahan akan menjadi egois dan pikun. Sampai pada suatu saat nanti saya akan melupakan kamu dan segala kenangan tentang kehidupan kita. Saya tahu bahwa dengan kelemahan saya sebagai manusia kamu telah menerimanya. Seringkali saya hanya bisa menyusahkan. Mungkin sekarang saya hanya bisa berharap. Bahwa Kamu, Saya dan semua sahabat kita di ACC Brotherhood akan selalu dicatat dalam sejarah. Sebagai seklompok teman yang saling mengingatkan, saling berbagi, saling mengenang dan saling berkembang. Pada akhirnya saya berdoa agar kamu selalu bahagia dan selamat di alam sana. Dan perlahan saya berbisik lirih pada bilik waktu Semua masih ada pada tempatnya dan tak pernah terlupakan”.

Kamu akan dikenang. Beberapa orang menyebut kamu Klasik, sebagian lainnya memanggilmu Dahlan, dan selamanya saya akan mengenang kamu sebagai Ari. Semua boleh punya kenangan tentangmu. Boleh mempunyai nama tentangmu. Karena kamu selamanya akan kami ingat. Amicitiae nostrae memoriam spero sempiternam fore”.

2 komentar:

  1. "turut berduka cita ya mas,,, tabah aja. biarkan beliau tenang di alam sana. kita hanya bisa mengenang namun tak bisa mengharapkannya kembali, salam kenal"

    BalasHapus