Kamis, 03 Februari 2011

Diatas Nisanku Kelak Kutulis Bahwa :


Sahabatku pernah belajar mengeja kekalahan saat ia kecewa pada nasib yang seumpama belati terlalu tajam menghujam jantungnya hingga berkali-kali ia minta ampun belati itu tak sedikitpun menghela nafas malah semakin dalam menikam sehingga ia lupa bagaimana rasa sakit itu dan menikmati segala luka dengan khidmat.

Sahabatku pernah belajar mengeja kesunyian saat ia tertunduk jatuh dan mengiba pada keramaian agar ditinggalkan jauh dan bersembunyi tetapi tetap saja derai tawa dan gelegar kebisingan yang hingar bingar masih mampir sehingga ia percaya nasibnya yang tak lebih baik dari seekor katak yang belajar berenang dalam kubangan lumpur.

Sahabatku pernah belajar mengeja kebekuan saai ia berjalan ditepi sungai memunguti sisa harapan menunggu kalau saja ada jalan memutar menuju waktu yang lampau ia akan kembali menggubah segala rentetan kisah kelam yang hitam dan sedikit memberinya warna-warna cerah agar tak perlu lagi menangisi yang sudah usai.

Sahabatku pernah belajar mengeja kemarahan saat ia mesti tunduk patuh pada guru-guru yang tak mau salah merasa dirinya lebih tinggi dari pada tuhan sementara murid hanya hamba budak yang hina sehingga dalam hati kecilnya sahabatku itu mulai memelihara dengki sebesar gunung-gunung dan menunggu meletus dengan segala kehancurannya.

Sahabatku pernah belajar mengeja keterasingan saat ia sekali lagi musti dipaksa percaya bahwa tak ada kuasa yang lebih besar daripada selembar kertas bernama uang sehingga sepintar apapun pengetahuan yang kau yakini tak akan bisa merobohkan dinding bebal isi kepala manusia-manusia yang di otaknya hanya ada uang uang uang dan uang.

Sahabatku pernah belajar mengeja kesendirian saat ia harus menelan sekali lagi penolakan atas nama cinta dan dikhianati keyakinan platonis bahwa ada semacam malaikat dalam hati manusia-manusia yang tak lagi berpijak pada wajah untuk mengharungi kehidupan lebih baik atas nama kasih sayang yang ternyata tak lebih taik kucing daripada wajahnya itu.

Sahabatku pernah belajar mengeja ketakutan saat ia berlari menghindari kehidupan yang isinya tak lebih dari masalah-masalah yang bahkan tak satu (t)uhan pun sanggup membantunya sehingga ia berpaling pada ketidaksadaran yang dijanjikan botol-botol, kapsul-kapsul dan selangkangan-selangkangan - amboi nikmat sekali mampu membantu melupakan hidup.

Sahabatku seperti juga Aku sekarang sedang belajar mengeja kematian karena tak mampu lagi berdamai dengan masa lalu yang hanya menjanjikan kisah pahit sementara masa depan terlalu suram untuk dijalani sendirian sehingga segala yang bernama keyakinan sudah kami gorok beramai-ramai dan mengalirkan darahnya di tiap-tiap surat lamaran pekerjaan.

Lalu apa yang saat ini kau eja? Kemenangan kah atau yang lain?

Apapun itu jangan lupa kau kirim kisahmu di atas nisanku yang disampingnya berdiri milik sahabat-sahabatku dan dalam damai kami merayakan betapa tengik hidup yang kau jalani. Proficiat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar