Minggu, 06 Februari 2011

Tragedi Enam Februari

Tuhan jadi propaganda paling murah buat bunuh-bunuhan - cin(t)a

Hari ini boleh jadi menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Pagi tadi sekitar pukul 10 siang terjadi sebuah pembantaian terhadap tiga Jamaah Ahmadiyah Cikeusik, Banten. Diamana menurut radio KBR68H, mereka yang tewas sempat digantung massa di pohon depan rumah jamaah yang dirusak. Menurut saksi mata Jamaah Ahmadiyah. Ferdiaz, tiga orang tewas itu bernama Rony, Mulyadi dan Tarno. Kata dia Mulyadi merupakan penduduk Cikeusik dan dua lainnya berasal dari Jakarta. Sementara 20 an jamaah lainnya yang juga menjadi korban, belum dia ketahui kondisinya. Semoga mereka baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah.

Sesaat membaca kabar tersebut tanpa sadar saya menangis. Karena marah yang seperti bara api. Buat saya pembunuhan terhadap seseorang yang meyakini sesuatu adalah tindakan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia. Dimana nalaar mereka? Atau yang paling penting Hati mereka? Atau memang mereka yang melakukan ini bukan manusia. Mereka sekedar hewan bersorban yang kebetulan bisa bertakbir kala menebas leher manusia. Dalam salah satu halaman youtube dengan bangga mereka mengabarkan dan menyerukan pembunuhan dengan entengnya. Apakah ini Islam? Bukan ini adalah penistaan terhadap islam!

Tidaklah satu manusia lain adalah saudara bagimu? Mungkin mereka lupa, mungkin mereka pura-pura tidak tahu, atau bahkan mereka tidak mau tahu. Entahlah, Cuma mereka dan tuhan yang bisa menjawab, itupun kalo mereka punya. Tidak ada manusia yang bertuhan bisa melakukan kekejaman semacam itu. Cuma pengikut iblis yang bisa melakukan kekejaman serupa genosida ini. Seorang umat yang meyakini keimanan dipaksa keluar dan dibunuh dihalaman rumah mereka. Masyarakat macam apa yang membiarkan sesamanya dibunuh karena memiliki keyakinan berbeda?

Sebenarnya saya sudah lelah membahas tentang ini. Mengingat hal ini tetapi kali ini, oknum pembunuh yang berlabel agama keterlaluan. Sangat keterlaluan karena bertingkah dengan sangat brutal dan membabi buta. Sesaat saya mengingat Heinrich Kramer. Seorang salih yang dipenuhi kedengkian kemudian melahirkan manifesto kebencian yang berjudul Malleus Maleficarum. Sebuah tuntunan pembantaian terhadap para penyihir. Yang dengan segala prasangka telah menewaskan lebih dari 60.000 wanita yang ‘dituduh’ menjadi penyihir. Ya, sejarah mengenal mereka yang membunuh atas nama kedengkian dan prasangka.

Tidak seperti biasanya, saya tidak menikmati saat-saat menyusun tulisan ini. Ada kemarahan yang teramat sangat dihati saya. Kemarahan terhadap keacuhan dan pendiaman yang selama ini terjadi. Pendiaman terhadap salah satu oknum pembunuh yang berlabel agama. Nyata-nyata melakukan kejahatan namun para pemimpin yang ada seolah diam. Mungkin mereka sudah terlalu tuli, terlalu bebal dan terlalu pengecut untuk mengakui ada hal tengik dalam organisasi pembunuh berlabel agama ini. Mungkin Ucok Homicide benar dalam salah satu syairnya, dengan atau tanpa label agama, fasis adalah fasis. Mereka mungkin telah fasis sejak dalam pikiran. Saya tidak tahu bagaimana harus bersikap, harus marah atau kasihan terhadap mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar