Jumat, 15 April 2011

Demos-Kratos dan Sekedar Catatan Mengenai Sahabat

~ pada saatnya semua lelaki berjuang sendiri.

Saya mengingat sembilan April sebagai hari kematian Mohammad Baqir al-Sadr, seorang filsuf dan pemikir syiah dari Iraq sekaligus juga menantu pejuang kemerdekaan berpikir Iraq, Muqtada al-Sadr. Mohammad Baqir al-Sadr pernah mengagumi ide menganai kilafah dan salah satu dari sedikit sekali pemikir syiah islam yang bergulat dengan ide-ide kontenporer diluar konsepsi imam mahdi. Buat Mohammad Baqir al-Sadr, Islam adalah keseluruhan yang mutlak dan tak perlu menjadi berbeda-beda. Hal ini terbukti dalam karyanya Wilayat Al-Umma, atawa pemerintahan umat. Ia hendak mengkonsepsikan khilafah ala Hizbut Tahrir yang pernah ia geluti dan pemikiran marxisme yang sempat ia cicipi.

Meski pada akhirnya Mohammad Baqir al-Sadr harus gugur dalam siksaan kuasa rezim Sadam Husein. Mohammad Baqir al-Sadr memberikan sebuah warisan pada dunia. Dalam salah satu jaryanya Lamha fiqhiya, Mohammad Baqir al-Sad hendak mengabarkan keberpihakan islam pada ide-ide demokratis.

'Islamic theory rejects monarchy as well as the various forms of dictatorial government; it also rejects the aristocratic regimes and proposes a form of government, which contains all the positive aspects of the democratic system.'

Demokrasi, saya selalu berpikir apalah arti kata itu sehingga begitu murah dan megah diucapkan oleh banyak orang. Sejenak saya mengingat seorang kawan. Demos, yang dalam bahasa latin adalah rakyat, adalah teman baik saya saat SMA dulu. Orang yang baik benar dan mengerti bagaimana bersikap, setidaknya itu menurut saya. Seorang mantan ketua Osis dan juga Ketua kelas 1 F. Entah kenapa ia dipilih menjadi kelas, tetapi kemudian dalam banyak kesempatan ia selalu menunjukan kualitasnya sebagai seorang pemimpin.

Tapi sayang seribu sayang, tuhan menciptakannya terlalu pendek. Padahal dalam beberapa catatan pacar yang ia miliki, semuanya tinggi dan jangkung. Dalam banyak hal saya selalu percaya, tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Ia menciptakan anomali dalam setiap keindahan. Pacar Demos adalah segala yang bernama keindahan dan Demos itu anomalinya.

Saya mengenang Demos saat ia masih SMA, karena selepas sekolah ia memutuskan pisah ranjang dengan saya. Mungkin karena alasan ketidakharmonisan antara kami berdua membuatnya jengah dan tak lagi nikmat berdua bersama saya. Ya sebagai seorang yang tahu diri, saya ya manut manut saja. Wong hidup itu mengenai pilihan. Seingat saya Demos kemudian memilih untuk kuliah perhotelan di Surabaya. Saya curiga dia pergi kesana karena hendak dekat dengan seorang pria jalang bekulit hitam legam.

Saat SMA saya dan Demos duduk berdua. Kami melalui masa indah bersama, berlarian di padang rumput, berdendang riang di taman bunga, kadang berkejaran di hutan. Eh? Maaf itu kajol dan amir khan bintang film bollywood kesukaan Demos. Demos memang menyukai pelm india, jauh sebelum briptu Norman terkenal, Demos sudah mengenal kuch-kuch ho ta hai dan Govinda. kalau tak percaya anda bisa main ke kamarnya yang terpampang poster besar amitabachan dengan tulisan kecil 'i love you' dari Demos.

Demos adalah seorang seniman. Selain hobi sesekali menggambar, ia tercatat sebagai seorang keybordis terbaik pada masanya. Terkenal seantero Bondowoso dan sekitarnya. Bersama sebuah band yang dilabeli Master Q, ia mencatat sejarah sebagai keybordis paling cilik yang bisa memenangi sebuah festival. singkatnya memenangi kebanggaan atas prestasi mukanya yang pas-pasan itu.

Kenangan yang tak mungkin bisa saya lupakan adalah saat-saat dimana kami berdua harus cabut saat pelajaran bahasa Indonesia dan makan pecel di warung pak toyo. Makan pecel bersama dan musti ketemu kepala sekolah di kantin. Dalam banyak hal Demos merupakan potret kecil masyarakat kebanyakan di Indonesia. Kecil, melarat, kumuh dan tak berdaya. Sebagai sahabat yang kaffah baik pribadi maupun fisik (namun sama-sama melarat) kami berbagi. ya itung-itung amal

Dalam banyak hal seharusnya saya mendendam pada Demos. Ia merebut cahaya hatiku, pelita cintaku dan semangat hidupku. Ya benarm, dia merebut gadis yang saya sukai, Fatimah anak wan abdul. Hati saya hancur berkeping keping serupa surai kuda yang dihembus angin. Tetapi karena persahabatan tulus dan kenangan indah bersama. saya rela mengalah.

Untuknya di hari ini, ulang tahunnya, saya hendak membacakan sebuah syair dari Walt Whitman. Yang pernah menjadi sebuah simbol persahabatan dalam film Dead Poet Society. Sebuah film yang bercerita tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan perbedaan.

O CAPTAIN! my Captain!

O CAPTAIN! my Captain! our fearful trip is done;
The ship has weather'd every rack, the prize we sought is won;
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring:

But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of red,
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up--for you the flag is flung--for you the bugle trills; 10
For you bouquets and ribbon'd wreaths--for you the shores a-crowding;
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;

Here Captain! dear father!
This arm beneath your head;
It is some dream that on the deck,
You've fallen cold and dead.

My Captain does not answer, his lips are pale and still;
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will;
The ship is anchor'd safe and sound, its voyage closed and done;

From fearful trip, the victor ship, comes in with object won; 20
Exult, O shores, and ring, O bells!
But I, with mournful tread,

Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

Untukmu Mos, adalah semangat yang tak kunjung padam. Serupa pelita pengetahuan yang di curi Prometheus dalam mitologi yunani. Saya mengingatmu sebagai pribadi gelisah yang hendak berjuang lebih tinggi. Jauh lebih tinggi dari ukuran tubuhmu yang mini. Selamat ulang tahun kawan. Sodara Sampai Mati.

Sabtu, 9 April 2011. Saat malam terlampau keji menindas ulu hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar