Sabtu, 30 April 2011

Untuk Tatah Di Ulang Tahunnya Yang Kesekian

Foto Thalita Aprillia, As She Be My Sunshine Once


~ pada satu titik kita harus memilih sebuah akhir atau memulai awal

Saya selalu tahu bahwa kamu itu akan berhasil. Meski kadang sikap acuh dan leletmu itu membuat saya merasa muskil. Tetapi kamu selalu tahu bahwa dengan segala anggapan yang melekat, kamu bisa membuktikan bahwa keyakinan akan mempermudah segala yang susah. Meski kadang dalam melakukan sebuah keinginan harus tertatih bukan terbata. Ya ya kamu selalu bisa mencapai apa yang mungkin orang anggap remeh padamu.

Kita semua, kamu dan saya dan orang orang yang kita sayang, pernah punya cerita. Tak utuh, kadang ada bopeng di keempat ujung cerita yang memuat kisah kita. Dan tentu saja semua itu tak penting, bukan kisah indah ala cinderela yang hendak kita lalui. Serupa kisah perjalanan Don Quixote dan Sancho Panza yang konyol menggelikan. Juga sedikit dibumbui sedu sedan supaya hidup tak melulu mencecap manis.

Kamu lalu memutuskan pergi, tak jauh, hanya diseberang kota. “Hendak belajar lebih tinggi,” kamu bilang. Ya Saya tau Tah, mungkin dalam banyak pandangan orang yang terlanjur percaya. Kamu hanya sekedar guyonan, tak percaya atas kapabilitas nalarmu yang tajam. Mereka, kebanyakan orang yang jahil, tak hendak mencari tahu siapa kamu Tah. Mereka hanya menilai permukaan saja.

Lalu kamu kini berulang tahun, seperti orang lain, saya masih merindukan kamu. Kangen dengan segala tawa canda kita. Berbicara tentang langit dan layout sesekali makan di pizza hut, berdebat mengenai siapa yang pantas dipuja di club eighties. Serta segala macam umpatan dalam kazanah kebun binatang Uganda yang tak berbatas itu. Bukankah kenangan adalah ilalang yang selalu datang meski dipangkas?

Pada hari ulang tahunmu yang entah keberapa saya tak tahu. Membayangkan segala yang kado yang kamu mau. Mungkin hadiah berupa lensa baru atau kelulusan yang segera. Apapun itu kudoakan dengan lantun kidung yang paling khusyuk. Dan sedikit puisi dari William Blake. Ah! Sunflower. Puisi yang bercerita tentang semangat masa muda. William yang mencintai seroang gadis, dulu harus merelakannya, karena ia tahu si gadis akan lebih bahagia dalam kebebasan.

Ah! Sunflower

Ah Sunflower, weary of time,

Who counts the steps of the sun;

Seeking after that sweet golden clime

Where the traveler’s journey is done;

Where the Youth pined away with desire,

And the pale virgin shrouded in snow,

Arise from their graves, and aspire

Where my Sunflower wishes to go!

Sekarang kita berjanji Tah, pada usia kita yang tak lagi anak-anak. Memupuk kedewasaan dan mengenang masa lalu sebagai sebuah tantangan. Kedepan kamu dan cita-citamu, saya dan cita-cita saya. Kita berjalan beriringan selayaknya sahabat baik. Pada satu titik nanti kita akan berjumpa, kamu jadi orang yang hebat, Saat itu kamu akan membuktikan, bahwa segala serapah lelet dan lemot yang dahulu melekat hanya sekedar cerita basi.



*ditulis dihari Minggu, 10 April 2011 saat rindu berkecambah jadi pohon Oak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar