Sabtu, 16 April 2011

Tegalboto Mother Marry


~ Sahabat itu pendengar yang bisu

Pada saat saya pertama kali membaca Mother karya Maxim Gorky, saya seperti sedang melihat sebuah drama. Kisah satir yang harusnya tak pernah terjadi tetapi seringkali hadir di sekitar kita. Untuk itu setelah membaca Mother saya terisak. Menangis layaknya manusia yang sembilu melihat kesengsaraaan.

Dalam kisah itu Mother, yang dikisahkan Gorky dengan sangat purna, menampilkan sosok ibu yang nrimo sekaligus single fighter. Gambaran yang kemudian mengingatkan saya pada bunda Theresa dan tokoh Momma dalam film Forest Gump. Seorang sosok keibuan yang tak peduli label mengenai status hidup. Hanya berpaku pada usaha untuk membahagiakan kehidupan orang lain. Sepertinya citra ideal ini hanya cemooh komikal dalam dunia nyata dewasa ini.

Ada kalanya dimana saya menjadi sangat skeptis terhadap sosok semacam ini. Saya yakin tak akan pernah ada lagi sosok semacam ini. Sampai suatu hari pada bulan Nopember 2008 saya memutuskan untuk ikut UKPKM Tegalboto. Semacam organisasi paramiliter sok intelektual yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Sebuah pseudo pers mahasiswa yang bercita-cita mencerahkan masyarakat. Saya pikir mereka ini adalah sekumpulan pemimpi utopis yang terlena.

Di dalam organisasi tersebut saya bertemu banyak orang, seperti fotografer partikelir asal mbatu, bromocorah pinggiran yang belagak penggemar musik hair metal, orang batak yang menyaru menjadi ateis KW2, desainer grafis berkrudung yang tak jelas orientasi seksnya dan berbagai macam yang lainnya. Saya lupa, karena beberapa ingatan tentang itu menyebabkan kondisi traumatis dalam kondisi kejiwaan saya yang labil ini.

Tetapi dari sekian banyak orang yang aneh itu ada seorang ibu-ibu muda yang terngiang jelas dalam ingatan saya. Seorang pengungsi asal papua yang menyaru dalam wujud gadis berkerudung lebar serupa konstituen PKS, namanya Artitik Dyah Iksanti. Saat itu ia adalah pemimpin redaksi dari Tegalboto, satu-satunya pemred perempuan yang pernah ada dalam organisasi semi patriarkhis itu. Atau mungkin sebenarnya dia adalah lelaki? Entahlah.

Sejak awal bertemu dengan Dyah saya merasa ada aura-aura keibuan yang memancar darinya. Tetapi di kemudian hari saya menyesali pemikiran saya ini. Karena aura yang saya pikir keibuan itu adalah aura-aura semi transendental perusak jiwa. Yah hingga akhirnya saya menjadi pecandu baca, pemikir koplak, dan penulis payah. Dalam banyak hal saya menyalahkan Dyah karena telah menjadi salah satu orang yang membuat saya cinta mati dengan dunia tulis dan buku.

Dyah adalah representasi gadis paruh baya yang baru saja menginjak dewasa. Saat saya pertama bertemu ia masih berstatus mahasiswa jurusan Sastra Inggris angkatan sekian. Dengan kata lain salah satu dari beberapa relik purba yang belum juga lulus. Ia tak lulus bukan karena bodoh atawa tak mampu mencerna kuliah dengan baik. Saya dengar ia tak lulus karena matakuliah agama beberapa kali ia mendapat D. Tentu hal ini bukan lantaran Dyah adalah penganut agama pagan dari Papua, samasekali bukan. Konon karena dosen Dyah tak suka saja dengan pemikiran cerdas yang dimilikinya.

Dyah memang selalu berpakaian lebar-lebar, bekerudung besar, berbicara tenang dan halus. Pada awalnya saya kira Dyah adalah penganut wahabi dan salah satu dari pengaku ahlus sunah wal jama’ah. Tetapi tak demikian adanya, Dyah hanya sekedar menjaga aurat. Dan definisi menjaga aurat yang ia pahami ya begitu, dengan menggunakan jilbab ekstra besar.

Sejalan dengan diterimanya saya sebagai anggota UKPKM Tegalboto, pertemuan saya dengan Dyah semakin intens. Ya tentu saja dengan sikapnya sebagai senior dan pemred ia memerintahkan saya membaca banyak buku, banyak latihan menulis dan sesekali memaki saya. Oh benar, dia memaki. Jangan anda pikir karena ia menggunakan jilbab besar, membaca buku Hasan Al Banna, Ibnu Taimiyah dan Salim A Fillah membuat ia menjadi sosok idola ala A’a Gym. Tidak sama sekali tidak. Dengan logat lucunya, Dyah kerap menghujani saya dengan kata Jancuk.

Sebagaimana hidup masa muda yang indah lagi ceria saya pun pemuda tampan ideal idola remaja ini pun pernah mengalami masa-masa patah hati. Dan Dyah, seringkali tanpa pamrih, menjadi orang yang bersedia berbagi dengan saya. Entah karena kesamaan narasi cerita patah hati awata karena dia memang senang melihat orang menderita. Dyah menjadi tempat sampah kami, dimana saya dan teman-teman di Tegalboto bercerita keluh kesah. Ia selalu mendengarkan kami dan jarang sekali memotong. Hanya mendengar, seolah dalam hidupnya yang menjelang paruh baya itu tak pernah memiiki masalah.

Selain itu Dyah adalah pribadi hangat yang tak segan menjadi bank donatur bagi saya yang sering bokek. Tak terhitung jumlah waktu saat Dyah dengan semangat filantropis mentraktir saya makan atawa memasakkan saya makanan. Meski saya tahu, Dyah sendiri kesulitan uang dan kurang makan. Tetapi apalah arti itu semua demi saya yang kece ini? Tetapi bukan pada saya saja Dyah begitu, hampir semua rekan saya di Tegalboto adalah para klien yang ditolongnya. Mungkin Dyah bertekad masuk sorga dengan amalan memberi makan kaum fakir.

Dan hari ini Dyah ulang tahun. Sebagai penganut euforia globalisasi yang memuja tradisi barat. Saya hendak merayakan hari kelahiran Dyah. Saya hendak memberinya gelar Mother Mary, terlepas dari perdebatan teologis nantinya. Buat saya Dyah memberikan kesempatan saya untuk jadi lebih baik, dan hanya ini yang saya bisa beri. Sekedar catatan konyol goblok yang mungkin pada 2089 nanti akan dicerca orang sebagai teks banal yang worthless. Tetapi peduli setan dengan mereka, bukankah sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini?

Untukmu, entah apa yang bisa kuberi. Selain beberapa rapal doa mengenai jodoh yang semoga segera kau temukan. Entah itu bersama kepala suku di Papua sana, juragan batik di Solo, atawa fotografer asal ponorogo. Entahlah, jikalaupun kau memaksa hendak berjodoh dengan pesakitan asal Depok. Maka biarlah. Dyah dalam teks ini saya hendak berterimakasih padamu. Tentang semangat, jancuk, makanan, malam-malam penuh curhat dan segala ingatan kita tentang masa lalu. Kamu adalah Ave Maria dan selamanya demikian. Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar