Minggu, 15 April 2012

Berhenti Galau dan Mendendamlah

Kukira, kerapkali dalam hidup kita terlalu baik pada orang lain dan lupa belajar mencintai diri sendiri. Perihal kekalahan dan rasa percaya yang kemudian berbalik menjadi musuh. Mengenai perasaan yang kamu hibahkan dengan begitu rupa lalu dibalas dengan sebuah persekutuan tengik. Ya, sepertinya bagiku hidup adalah perihal mempersiapkan kehilangan dan ditinggalkan.

Tapi untuk setiap pengkhianatan dan cara membalasnya kamu harus belajar dari Edmond Dantès. Pria yang ditikam sahabatnya sendiri, dicuri cintanya dan harus membusuk dalam penjara Château d'If. Apa yang lebih buruk dari disakiti orang yang kamu sayangi? Aku kira kita, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, seringkali terlampau lugu untuk berpikir bahwa orang lain akan bertindak sebaik kita dan sejujur kita. Dan memang kenyataannya tidak demikian.

Alexandre Dumas, penulis novel historis Perancis, kukira adalah pria yang selalu berkarib dengan kehilangan dan tipu daya. Hampir dalam setiap kisah yang dia tulis merupakan narasi narasi yang berisikan kekalahan dan kebangkitan melalui dendam. Ya dendam. Kekalahan yang lahir dari sebuah tipu daya dan persekongkolan akan melahirkan dendam.

Coba tengok kisahnya dalam The Twenty Years After yang mengisahkan fragment tengik kebusukan Milady de Winter dan Athos yang malang. Mengenai seperangkat perasaan yang kerap kali kita namai cinta dan sayang, dibalas dengan sebuah kekejian. Athos mencintai orang yang salah. Sedangkan Milady de Winter mencintai dengan cara dan keadaan yang salah. Kukira batas antara rasa cinta dan sebuah kebencian itu setipis kentut dan berak. Bau busuknya sama saja.

Aku tak tahu apa alasanmu untuk kemudian meracau galau dalam kesedihan bertele-tele. Kukira kamu tak seberuntung Charlie Fineman di Reign Over Me. Setidaknya siapapun yang kamu rasa telah hilang, ia masih hidup, masih ada untuk kamu temui di jalan dan kamu kenali sosoknya dimanapun. Sedangkan kehilangan karena kematian atau mungkin karena persekongkolan tak mungkin semudah itu.

Aku kira Sipon, istri Wiji Thukul, dipaksa menghadapi kekalutan setiap hari. Ia berada pada sebuah persimpangan antara kematian, kehilangan dan harapan. Ia disiksa perasaan yang menggantunf pada bayang-bayang. "Apakah suamiku mati? Jika ya dimana? Jika tidak dimana?" Perasaan seperti itu jutaan kali lebih menyakitkan daripada harus menghadapi kematian yang sudah pasti nyata.

Kamu beruntung bahwa kamu tak perlu merasakan kehilangan seorang karib karena masalah perempuan. Juga karena kamu bisa dicintai dengan ap`danya meski dengan segala sikap tengikmu. Sedangkan banyak jutaan dan milyaran orang di kolong langit ini harus memakai gincu dan berkata manis untuk bisa diterima. Kukira juga ada baiknya kamu berhenti galau dan belajar untuk menghargai hidup sendiri. 

Ada sepotong dialog Reign Over Me yang kukira paling menyebalkan tapi juga paling membuat kusut masai perasaan yang paling rapi sekalipun. Aku kira ini yang sedang kamu rasakan. 
I don't need to talk about her or look at pictures... 'cause the truth is, a lot of times, I see her... on the street. I walk down the street, I see her in someone else's face... clearer than any of the pictures you carry with you. I get that you're in pain, but you got each other. You got each other! And I'm the one who's gotta see her and the girls all the time.
Setidaknya kamu memiliki satu sama lain. Kamu tinggal dalam satu kota yang sama. Dalam satu pertemanan yang sama dan mempunyai sahabat juga rekan yang sama. Berbeda dengan Edmond Dantès yang harus diasingkan dalam sebuah pulau penjara. Dikelilingi laut dengan arus deras serupa kemarahan induk singa yang anaknya dicuri. Kamu tidak perlu merasakan kehilangan dan dihantui jarak.

Kamu bicara perihal rindu yang ditahan, rasa yang ditekan dan apapun yang kamu kutuk dari sebuah perpisahan. Kamu tak pernah tau apa itu perpisahan. Karena kamu dan orang yang kamu rindukan tinggal dalam satu atap kota yang sama. Dan memang benar. Melankolia selalu menemukan ujudnya yang paling buas dalam kesendirian. Entah itu dalam keramaian ataupun sepi.

Baiknya kamu, seperti yang kulalukan, berhenti untuk menjadi galau. Berhenti untuk merutuki nasib dan sikap diri sendiri. Mulailah mendendam dengan cara yang baik dan benar. Dendam tak pernah diajarkan dalam perkuliahan juga dalam kutbah-kutbah para pendakwah. Dendam lahir dari diri sendiri. Itu yang membuat manusia menjadi mahluk yang otonom dari pengaruh tuhan dan iblis.

Manusia mendendam dan tuhan mengutuknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar