Kamis, 26 April 2012

The Hifatlobrainers


Best Combo - Lemper dan Bakpao


Hari sudah menjelang senja di Gunung Bromo, Probolinggo, saat puluhan wisatawan asing hilir mudik di depan pos masuk Cemara Kandang. Beberapa dari mereka mengenakan jaket tebal dan sibuk menggosok-gosokan kedua tangannya. Suhu gunung Bromo saat itu memang terasa sangat dingin meski mereka telah memakai jaket tebal. Sesekali uap keluar dari mulut kita saat menghela nafas atau untuk sekedar bersenang-senang dengan fenomena semacam itu.

Tepat di pintu masuk gerbang Taman Nasional Bromo berdiri sebuah warung. Pijar lampu neon menunjukan nama Warung Makan Tante Toli di salah satu kisi sudutnya. Untuk menuju ke dalam warung, pengunjung diharuskan menuruni lima anak tangga yang lumayan curam. Di kiri-kanannya ada sebuah gerobak dengan wajan dan dandang. Salah satu kaca gerobak itu bertuliskan "Bakso dan Gorengan. 

Di dalam warung Tante Toli ada sekelompok anak muda yang tengah sibuk berbicara dan bersiap berbuka. Saat itu, pertengahan Agustus 2011, memang sedang bulan puasa. Saya sendiri mengenali  seorang dari pengunjung tersebut sebagai Dwi Putri Ratnasari, seorang festival hunter kawakan yang soon to be legend asal Jember. Kenapa saya dan dia bisa kenal? Well sebagai anak gaul yang up to date dan nge hips (pinggul) abies tentu saya harus kenal beliau ini.

Petang itu ia memakai jaket berwarna kuning terang. Wajahnya bulat dengan sepasang pipi yang membentuk bulat bakpao. Mengapa berbentuk bulat bakpao? Well itu sudah menjadi salah satu dari tujuh misteri dunia yang tak terpecahkan versi on the spot. Tapi tentu bukan tentang itu saya menulis ini. Hari itu dia dan teman-temannya khusus datang ke Bromo untuk survey lokasi dan pengambilan video terbaru (kelak bernama Homeland) dari hifatlobrain. “Sekalian untuk liat upacara Kasodo,” katanya.

Tak lama setelah itu televisi di sudut ruangan mengumandangkan adzan maghrib. Putri dan rekan-rekannya segera menyambar teh panas untuk kemudian membatalkan puasa. Dari bilik warung yang agak tertutup seorang pria berkaus hitam keluar. Wajahnya oval dengan rambut tipis. Sebuah kacamata sederhana berframe hitam sederhana menaut di wajahnya. “Ayo kita buka dulu,” ujar pria itu. Dia adalah our working class heroes Ayos Purwoaji, pemilik travelblog legendaris hifatlobrain.

Salah satu Scene di Homeland

Selepas berbuka Ayos lantas pergi untuk menyelesaikan urusan penginapan. Putri dan teman-temannya yang ternyata pegiat film surabaya itu duduk mengobrol. “Mereka ini temen-temen dari Surabaya, ada juga anak fotografi antara dari Jakarta,”. Mereka adalah Samuel Respati, Giri Prasetyo, Luki Sumarjo, Jeri Kusuma dan Idham Rahmanarto. Belakangan saya mulai menyesali karena mengakrabi kawan-kawan Putri dan Ayos itu. Kenapa? Well karena mereka adalah orang yang ma'rifat. Atau dalam bahasa Bastian Tito, orang orang yang pilih tanding.

 Sebagai bloger yang lumayan dikenal di jagad dewa, Putri memang memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Mulai dari fotografer, editor, film maker, bakul sego goreng, calo tiket, imam masjid sampai penulis buku. Pergaulan ini juga membuktikan bahwa si Pyut adalah sosialita kelas wahid. Konon tersiar kabar di kalangan para traveler underground Indonesia bahwa Putri telah berhasil menaklukan jagawana Taman Nasional Laiwangi di Wanggameti. 

Saya sendiri datang bersama tiga orang lainnya. Ini merupakan kunjungan kali ketiga Putri ke Bromo dan pertama kalinya untuk saya. Sebelumnya Putri bilang sudah menghadiri dua kali upacara kasodo bersama Ayos. Alumnus Farmasi Unair ini bercerita jika jalan menuju puncak Lautan Pasir Gunung Bromo hampir sepenuhnya tertutup debu vulkanik. Perigi yang dulunya pernah teraliri air, kini hampir kering sepenuhnya dengan pasir. “Dulu bukit di samping itu Bromo indah sekali. Sayang kamu datangnya telat.”

Kecintaan Putri untuk melakukan traveling berawal dari keluarganya. Paman dan bibi Putri senang mengajak keponakan mereka untuk jalan-jalan. Sebelumnya dia malah bukan seorang yang cukup punya nyali untuk berpetualang sendirian. Rupanya kenangan bersama paman dan bibinya begitu membekas. Sehingga  suatu saat ia memberi pesan singkat pada Ayos jika ia baru saja selesai mendaki ijen. “Ojo ngomong thok ditulis pyut, kata Ayos. Nah sejak saat itu aku mulai nulis.”

Putri lantas membuat blog saat ia magang di sebuah perusahaan Semarang. Tentu tak serta merta dia menulis tentang traveling. Kebanyakan malah curhat dan racauan yang tak jelas. Namun Ayos melihat potensi menulis Putri. Inilah awal mula dia menjadi kontributor tetap hifatlobrain. “Dan inilah saya menjadi rekan dan anak buah Ayos,” ujarnya sambil tertawa. 

Dalam melakukan traveling Putri berprinsip sederhana. “Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” katanya. Tentu ini adalah sebuah konsep imajiner yang perlu aplikasi nyata dilapangan. Dalam sebuah catatan manis di blognya ia kemudian mendefinisikan diri sebagai slow traveler. Sebuah konsep perjalanan yang menghindari traveling-numpang-mandi yang hanya menguras tenaga dan waktu.


Senyum manis menawan citra pria metrominiseksual
“Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.”  ~ Ayos Ingin Wisuda

Putri sendiri memang nekat untuk menjadi travel blogger. Karena dalam keluarganya ada sedikit rasa khawatir mengingat Putri, yang terakhir saya ingat masih berstatus sebagai wanita ini, harus bertualang di sudut Indonesia. “Bapak pernah marah, tapi selalu aku bisa jelaskan baik-baik.” katanya. Toh ini juga tak menghentikan dia untuk mengikuti Aku Cinta Indonesia (ACI). Sebuah program yang memberikan kesempatan pada orang untuk berjalan ke satu destinasi Indonesia secara gratis. Untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk catatan perjalanan.

Tepat pada pukul 20.00 Ayos datang lagi ke warung Tante Toli. Setelah selesai membayar makanan ia mendekati kursi dan meja dimana Putri duduk. Dengan bergegas mahasiswa ITS jurusan desain produk ini meminta teman-temannya bersiap. “Besok kita bangun pagi, jadi kalo bisa istirahat dulu malam ini,” ujarnya singkat. Seperti biasa ketua dewan pembina gerakan Gusti Allah Foundation ini selalu taktis. Meski kadang suka bau amis.

Agenda Ayos memang padat, selain sibuk menyelesaikan studinya di ITS, ia kini sedang mengembangkan sebuah konsep institusi penulisan baru. Konsep yang terbilang leap year dari kebanyakan  penulis kreatif di Indonesia. Jika kebanyakan penulis masih berpikir pada tataran menciptakan karya  'best seller', maka penggila Senthong Belakang ini sudah memikirkan untuk penciptaan pasar. “Hifatlobrain travel institute itu tentang pengembangan baru penulisan traveling di Indonesia. Kita coba membuat pasar baru,” ujarnya.

Baru beberapa hari belakangan saya menyadari apa yang dimaksud Ayos sebagai membuat 'pasar baru'. Dalam sebuah postingan satir, kritis dan cenderung gemas. Hifatlobrain pernah menuliskan apa yang ia sebut sebagai buku perjalanan yang sesat lagi dangkal. Buku yang memberikan panduan sekian juta ke destinasi A. Atau cara murah ke destinasi B. Buku-buku semacam ini dalam bahasa Hifatlobrain "buku (yang) menawarkan utopia: dengan sedikit uang, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri sampai mblenger."

Saya pribadi sejak lama telah memproklamirkan peperangan terhadap segala buku yang berbau motivasi, panduan dan juga cara jitu. Buat saya buku yang ingin menjadi messiah kerap kali gagal mengartikulasikan masalah secara lebih global. Selalu ada variabel X yang membuat masalah dan hidup seseorang berbeda. Demikian juga perjalanan. Tak ada satu pun institusi (atau buku) yang bisa menyeragamkan sebuah konsep perjalanan kecuali travel agent.

Maka lahirlah Hifatlobrain Travel Institute. Sebuah proyek yang saya nilai ambisius lahir dari perjaka tambyn berusia tengah duapuluhan tahun. “Awalnya ini saat aku kecewa dengan buku travel kala ini. Kita dicekoki buku travel picisan. Harusnya mereka belajar banyak dari sebuah perjalanan,” keluhnya. Nah dari situ Ayos mencoba membuat sebuah institusi yang mencoba mendobrak keseragaman penulisan  travel. “Dengan memberi bacaan bagus, otomatis mereka akan semakin bijak dalam melakukan perjalanan.” 

Ayos sendiri telah menyukai traveling sejak duduk di bangku sekolah. Ia merasa sangat menikmati perjalanan, bertemu dengan orang asing dan menikmati pengalaman yang benar-benar baru. Atau memang saya curiga dia sebenarnya mengalami gangguan-tinggal-lama-di-rumah. Tapi kecurigaan ini dipatahkan dari pernyataanya yang sangat seksi sekali. “Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.” 

Cantik? Sori-sori Jek sudah ada yang punya
“Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” ~ Putri pengen Nikah.
Hal ini ternyata banyak diapresiasi oleh blogger dan sosial  junkies di dunia maya. Berbagai komentar yang menunggu kemunculan travel institute ini semakin mendorong finalis esai Tempo ini untuk terus berkarya. “Salah satunya dari editor national geographic Indonesia. Kenapa gak dibikin secara masif? Aku pikir juga sama,” kata Ayos. Untuk itu ia kemudian menggiatkan perjalanan dengan perspektif yang lebih intens dan personal.

Apa yang dilakukan Ayos dan Putri tidak sia-sia memang. Gerakannya untuk mendobrak definisi lama mengenai traveling dan berpetualang melahirkan penulis-penulis cum petualang baru. “Hifatlobrain sekarang lagi banyak tulisan yang masuk, tapi lagi nunggu editing dan foto yang baik,” kata Ayos. Sebagai editor Ayos memang dikenal sebagai orang yang disiplin dan tegas. “Dia itu sadis, gak segan nolak tulisan kalo fotonya kacau,” kata Putri.

Konsistensi dan kedisiplinan Ayos pada penampilan foto ini bukannya tanpa alasan. Sebagai bentuk quality control dan peningkatan kualitas tampilan web, Ayos tak mau setengah-setengah. “Nulis jelek masih bisa diperbaiki, kalau foto kacau. Tiada toleransi.” Tapi hal ini bukan berarti Ayos tak mahir menulis. Ia sendiri adalah salah satu penulis terbaik yang pernah memenangi kompetisi menulis tingkat Asean. Di mana dia berkenalan dengan salah satu icik ehem demenan saya dulu (lost focus).

Namun baginya passion terbesar adalah tetap merawat hifatlobrain. Dalam salah satu postingan klasiknya Ayos pernah menjadi sebuah pribadi yang rapuh dan manusiawi. “Ketakutan terbesar saya adalah suatu saat saya tak bisa merawat blog ini lagi.” Ia ingin terus mengembangkan dan menjadikan hifatlobrain sebagai katalis perjuangan melawan buku travel yang nir makna.


Seperti juga Soe Hok Gie, pria botak yang masih perjaka ini percaya bahwa salah satu cara mencintai Indonesia adalah menjelajahinya. Saya juga mengamini pendapat Ayos. Saya pribadi telah lumayan melakukan perjalanan menjelajahi sudut-sudut Indonesia. Meski tak banyak pengalaman yang saya tuliskan karena memang tak punya kemampuan sebagai travelogue. Mungkin ini kutukan penulis kelas kambing seperti saya.

Dus, Ayos dan Putri, seperti juga pembantu saya bernama Nuran, selalu percaya akan ada campur tangan the invisible hand dalam sebuah perjalanan. Bagaimana Tuhan mampu mengubah destinasi dan destiny petualang dalam sekejap. “Saya selalu percaya, ada banyak kebetulan yang terjadi dalam perjalanan,” tuturnya. "Kisah-kisah coincidental seperti ini hanya Tuhan yang bisa atur. Dan saya selalu percaya: God always save the traveler!"


Anda bisa liat video Homeland di sini.
In honorary mention Savitri Winda: Sori wind belum pernah ketemu jadi gak bisa di tulis. :D

2 komentar:

  1. Iki tulisan afu tenan! Saya pikir penulisnya berpikiran dangkal dan belum pernah traveling!

    BalasHapus