![]() |
Diunduh dari http://browse.deviantart.com/?q=football%20field&order=9&offset=48#/d1xwpiz |
Sepak
bola adalah bukti bahwa manusia menyimpan kengerian fasis dalam dirinya
masing-masing. Sebuah permainan yang awalnya lahir sebagai sebuah kesenangan
berubah menjadi ajang pertempuran ala gladiator. Sepakbola menemunkan jalannya
sendiri sebagai pemuas nafsu purba manusia atas dominasi.
Lihat
berapa banyak manusia yang menjadi korban dari sepak bola. Di luar dan di dalam
lapangan, sepak bola, menjadikan manusia mahluk a sosial yang memangsa manusia
lain. Menumbuhkan sikap persaingan dan dominasi. Bukan lagi fair play dan
kesenangan. Sepak bola adalah apa yang kita kini biasa kita sebut sebagai
tragedi kemanusiaan.
Dalam sepak bola kemenangan tidak memiliki arti lain. Bukan
lagi kesempatan bersosialisasi. Adu skil dan juga adu strategi. Semua lebur
dalam kaca mata kepentingan kemenangan. Menang adalah saat satu tim mengalahkan
tim lain dengan marjin angka yang lebar. Juga saat tim menghalalkan segala
cara, termasuk bersekongkol dengan wasit, untuk mencapai kemenangan.
Seringkali para pendukung adalah sekumpulan umat yang
buta. Mereka menutup mata saat timnya menang dengan cara yang kotor. Karena
dalam lapangan. Sepak bola bukan lagi sebuah ajang adu kemampuan. Sepakbola
telah menjadi coloseum dimana para gladiator bertanding untuk memuaskan
keinginan kemenangan para pendukungnya. Ia telah luluh dalam segala yang kita
namai agresivitas.
Semua pendukung Liverpool dan Juventus pasti tak akan
pernah melupakan Tragedi Heysel yang terjadi pada 29 Mei 1985. Di salah satu laga Piala Champions pendukung
dari masing-masing tim saling menghina. Kebanggaan semu dan agresivitas
pendukung hidup karena enggan idola mereka diclecehkan. Beberapa saat sebelum
pertandingan dimulai pendukung Liverpool masuk ke wilayah pendukung Juventus.
Namun bukannya pertumpahan darah karena baku pukul yang
terjadi. Melainkan lemahnya dinding pembatas di salah satu sisi stadion
tersebut. Menampung ribuan orang pada satu titik membuat penyangga dinding
kehilangan kekuatan dan roboh. Harga untuk sebuah kebanggan semu dan taklid
buta itu adalah nyawa dari 39 orang dan luka dari 600 orang lainnya.
Konon untuk mengenang kematian yang disebabkan ego itu. Sebuah
puisi karya W. H Auden berjudul “Funeral Blues” dituliskan dalam sebuah plakat.
Serta memorabilia berupa 39 lampu bersinar untuk setiap korban Heysel. Tugu
peringatan ini didesain oleh seniman Perancis Patrick Remoux. Di sini sepakbola
telah kehilangan maknanya sebagai sebuah rekreasi dan berganti menjadi arena
jagal.
Sepakbola mengalami komodifikasi dari sebuah proses mengisi
Leisure Time menjadi tuntutan untuk pemenuhan premordial pride. Padalah dalam banyak narasi sepakbola
adalah insureksi. Ia menjadi sarana perlawanan bagi yang liyan untuk melawan para
tiran. Kisah para
pejuang Basque dan Catalan, melawan despot Franco melalui madrid. Juga lahirnya
Internationale Milan melawan kedegilan Musolini lewat AC Milan. Di lapangan
bola tidak ada pemain yang bersih dari lumpur, termasuk juga para pemiliknya.
Semua diehard Barcelona pasti akan mengingat pertandingan
melawan Real Madrid 1943. dimana saat itu mereka harus menyerah kalah dengan
kedudukan 11-1. Semua karena perintah Franco yang merasa kalah karena pada laga
semifinal semifinal sebelumnya di Copa del Generalisimo (kini disebut Copa del
Rey) Barca menang 3-0. Franco tentu marah karena harus dikalahkan oleh tim yang
dianggap ”pengganggu stabilitas Spanyol”.
Jelang pertandingan leg kedua, seorang pejabat intelejen
keamanan Spanyol memperingatkan para pemain Catalan. Bahwa mereka masih bisa
hidup dan bermain bola tidak lain karena sikap dermawan Franco. ”Maka tahu
dirilah kalian,” kira kira seperti itu yang ingin dikatakan oleh Franco. Hasilnya?
Tim Madrid memimpin 8-0 pada paruh pertama untuk kemudian mempercundangi Barcelona dengan hasil
11-1 luka selama enam dekade itu masih belum lunas terbayar hingga saat ini.
Para penonton (atau katakan maniak bola) modern terlanjur
disuguhi oleh permainan yang terukur, diprediksi, diramu dan diolah dengan
teknologi dan pengetahuan modern. Tidak ada lagi kejutan dalam sepak bola.
Karena semua telah diprediksi dan diukur melalui variabel-variabel bernama
transfer, pelatih, modal dan juga wasit. Seringkali kita sudah terlanjur tutup
mata pada hal-hal yang demikian.
Pendukung (atau fans) klub adalah sekumpulan naif yang
tutup mata demi kemenangan. Mereka adalah para serigala yang haus gelar dan dominasi.
Tidak ada lagi yang bernama kemenangan yang terhormat. Permainan yang baik.
Atau pun proses yang total. Kemenangan adalah harga mutlak eksistensi seorang
pemain dan seorang pelatih.
Gambaran sempurna bagi kebanyakan para pendukung tim sepakbola adalah umat Musa dibawah
bukit Sinai seusai menyeberang dari Mesri. Sekumpulan mahluk manja yang ingin
selalu dipuaskan, dimanjakan dan diberikan kemudahan. Menuntut para pemain,
pelatih, dan pemilik klub untuk selalu menang. Selalu memperoleh gelar dan
akhirnya selalu mendominasi.
Tuntutan akan kemenangan itulah yang akhirnya
menyingkirkan para pecundang dari panggung dunia. Mereka sekedar menjadi remah
dan penggembira dalam setiap laga. Menjadi sekedar ”pengisi agar sebuah liga
tidak berisi tim pemenang yang itu-itu saja,”. Seolah menggenapi diktum George
Orwell. Siapapun penguasa saat ini akan menguasai sejarah masa lampau dan masa
depan.
Kita tentu masih ingat pemain kolombia yang harus
meregang nyawa karena kalah pada sebuah pertandingan piala dunia. Dengan dingin
Andreas Escobar dibunuh dengan keji karena mencetak gol bunuh diri yang membuat
timnya kalah. Juga cerita dimana tim sepak bola Korea Utara harus turun menjadi
buruh seusai menjadi bintang di pentas dunia.
Sepak bola kini diukur dari seberapa banyak tropi yang
dimenangkan sebuah klub. Diukur dari seberapa banyak gelar yang ia menangkan
dalam liga. Bukan lagi mengukur dari seberapa indahnya pertandingan yang
digelar. Sebuah pertandingan yang buruk tetap akan menjadi legenda jika hal itu
melahirkan pemenang.
Sebenarnya apa artinya menjadi seorang pendukung klub
sepakbola? Kita menonton keindahan dalam pertandingan. Atau menuntut hasil
kemenangan tanpa cela? Apakah sebuah gelar lebih penting dari totalitas
bertanding di lapangan? Atau menjadi lebih hina karena dalam satu putaran musim
klub tak memenangkan gelar apapun. Pelan-pelan pendukung telah menjadi seorang
kanibal yang menuntut klubnya terus dominan.
Untuk itu
nihilisme dalam sepakbola adalah sebuah keniscayaan. Sepakbola harus
ditempatkan sebagai sebuah dagelan yang lakon, tokoh, gerak dan narasinya telah
diprediksi. Mereka yang mempercayai masih ada ketulusan dalam lapangan adalah
seorang yang benar-benar naif (atau tolol?). Dalam setiap pertandingan,
pertaruhan merupakan efek apa boleh buat.
Mereka yang meyakini ada tuhan dilapangan adalah para
manusia naif yang perlu ditampar untuk diberi kesadaran. Maradona menjadi tuhan
karena ia menentukan kemenangan Argentina dengan insting dan kemampuannya
sendiri. Ia
bukan santo soleh yang selalu membaca doa novena setiap malam. Malah si jugador bola ini
adalah Beelzebub si rakus narkotika.
Tuhan telah tamat nasibnya saat peluit babak pertama
sebuah pertandingan bola dimulai. Di situ seorang mafia judi bisa mengatur
irama pertandingan dengan todongan pistol. Seorang pemilik klub bisa menyogok
dengan tumpukan uang untuk meengendalikan ritme pertandingan. Mereka yang masih
meyakini sebuah pertandingan bebas dari kepentingan. Adalah sebenar-benarnya
manusia naif yang perlu diberi petasan untuk bisa sadar.
andai saja, para petinggi-petinggi PSSI, wadah sepakbola tertinggi di negara kita membaca tulisan ini.....
BalasHapusmeskipun saya tak yakin akan berpengaruh pada mereka yang telah buta :)