Selasa, 24 April 2012

Menyigi Naskah Penggali Intan




Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai. Ia akan melahirkan dendam, kemarahan dan amuk yang bisa mengubah pemikiran seseorang. Inilah kiranya yang mewarnai lakon Penggali Intan yang ditampilkan kelompok Teater Tiang Universitas Jember (Unej) di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) pada Jumat (19/4) lalu.

Naskah yang  disusun oleh Kirdjomulyo ini sarat dengan kemarahan, kebencian dan juga kekecewaaan. Sebuah pergulatan makna atas eksistensi manusia terlukiskan dalam karakter tiga orang penggali intan. Ketiganya adalah Sanjoyo diperankan Ferick Sahid Persi, Siswadi diperankan Kristanto, dan Sarbini Ary Wibowo dipernakan. Tak lupa satu-satunya karakter perempuan dalam naskah itu, Sunarsih, yang diperankan oleh Rina Yuastri.

Bagi saya yang awam dalam menikmati teater lakon kali ini entah mengapa sangat sedap dinikmati. Waktu selama satu setengah jam terasa sangat singkat untuk lakon yang lumayan lama. Babak demi babak mengalir dengan sendirinya. Seolah-olah lakon yang ada di depan saya ini merupakan tontonan televisi yang tak diselingi oleh iklan.

Entah karena penggarap lakon ini adalah Teater Tiang yang telah lama di kenal di Jember sebagai salah satu kelompok Teater yang mumpuni. Mereka adalah sekumpulan maestro yang sudah terlanjur dianggap sebagai para resi seni pertunjukan teater. Entah itu Monolog ataupun Drama kolosal. Teater Tiang selalu bisa memberikan yang terbaik meski seringkali panggung dimana mereka berpentas minim pendukung.



Salah satu bagian yang membuat saya tertarik adalah penokohan Sanjoyo. Dalam hal ini Ferick, aktor Teater Tiang, mampu memerankan karakter Sanjoyo yang hatinya keras bagai batu. Dia dengan total berganti ujud menjadi manusia delusional yang bermimpi menjadi orang kaya, dengan menggali intan di aliran Sungai Barito di Kalimantan Selatan. Dalam lakon para tokoh dikisahkan berasal dari Yogyakarta yang merantau ke Kalimantan dengan harapan menjadi Borjuis sehingga bisa berbuat apa saja dengan kekayaannya, termasuk menggaet gadis-gadis.

 Kekuatan keaktoran Ferric yang bagus membuat sosok Sanjoyo yang dendam karena sakit hati cintanya ditampik oleh gadis pujaannya, Sunarsih, menghidupkan suasana kesendirian. Ia tampil seperti manusia paling malang di dunia dan mengutuk segala orang yang ada. Contoh yang mirip dengan karakter Heathcliff kisah Wuthering Heigts yang disusun oleh Emily Brontë.

”Sarbini yang tidak mengharapkan apa-apa dapat sebutir intan di belokan sungai yang dangkal. Sebenarnya siapa yang menguasai nasib,” 
Seringkali pertautan emosi terhadap sebuah tokoh begitu kuat sehingga seolah-olah aktor yang bermain bukan seseorang yang kita kenal. Dalam pementasan ini saya melihat gejala itu. Bahwa para aktor Tiang merupakan seniman tulen itu jelas. Namun bila sampai bisa menjadi seorang aktor yang berganti kepribadian maka baru kali ini saya melihat pementasan yang demikian.



Dalam seni pertunjukan elemen-elemen estetik dan juga kedalaman penokohan merupakan sesuatu yang mutlak. Namun teater tidak melulu tentang keindahan dan penguasaan tokoh. Di dalamnya ada juga kemampuan blocking, suara dan juga kecerdasan membuat improvisasi.  Naskah Penggali Intan ini sebelumnya pernah dipentaskan dengan baik oleh Teater Koma. Tentu ada sebuah tanggung jawab dalam setiap pelaku seni pertunjukan untuk membuat sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Gejala ini merupakan apa yang disebut Benny Yohanes, penulis naskah drama dan esai teater, sebagai reklamasi biografis. Di dalamnya kita menggali naskah, mengisi tokoh, memadatkan cerita dan juga membentuk sentuhan-sentuhan baru agar penampilan yang selanjutnya lebih baik atau sama sekali berbeda. Dengan mengindari penanaman idiologis dalam pertunjukan tentunta.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis pernah berkata “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran”. Namun membaca Penggali Intan tidak bisa tidak membuat kita bertanya tanya. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Kirdjomulyo dalam lakonnya ini. Apakah melulu berkisah tentang cinta yang tak bersambut atau ada pemaknaan lain yang lebih holistik?
          




Untuk itu saya kemudian membaca kembali Bre X, Sebungkah emas Di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno. Untuk mempelajari kondisi sosial masyarakat saat naskah ini dibuat pada 1957. Tahun dimana saat itu Indonesia sedang berusaha berdiri sebagai negara berdaulat. Kalimantan sendiri pada saat itu merupakan propinsi primadona untu mencari emas dan intan. Sebagai jalan pintas untuk mencapai kekayaan. Maklum sebagai negara yang masih muda tak banyak pekerjaan yang ada saat itu.


Kegiatan penambangan di Kalimantan sudah terjadi sejak jaman pendudukan Belanda. Menurut catatan geologi Belanda pada 1930 ada sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai. Juga pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat.

Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zatalami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama“Trisakti.

Dengan memahami konteks sosial saat naskah ini dibuat maka kita bisa menengahi pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic. Atau perdebatan antara textual meaning of plays dan authorial meaning.of plays. Tentu saja hal ini tidak serta merta kita terbebas dari beban pemaknaan subjektif penonton. Atau apa yang George Lukacs  menyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”.

Namun secara umum saya menikmati naskah Penggali Intan lewat dialog dan juga ceritanya. Terbebas dari kondisi yang terjadi saat naskah ini dibuat tentunya. Tentang manusia yang ingin berjuang dengan kekuatannya sendiri melawan nasib. Juga perjuangan seorang kekasih yang dikecewakan yang berujung pada luka. Tentunya ada wajah-wajah kumuh manusia dalam setiap lakon teater yang sengaja dibuat untuk mengejek para penontonnya. Dan saya tak sabar untuk menonton lakon berikutnya.



4 komentar:

  1. Sudah tontonnya bulan lepas di Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, Malaysia. Teater terbaik pada perkiraan saya. Wataknya benar-benar hidup.

    BalasHapus
  2. makasih mas atas apresiasinya.. kapan-kapan kalau kami pentas lagi mas pasti akan saya hubungi..

    BalasHapus
  3. Terima kasih mas atas apresiasinya. Jangan bosen-bosen nonton pementasan Tiang selanjutnya yah. :)

    BalasHapus
  4. mas arman, boleh minta softfile naskah penggali intan. email saya yudidodok@ymail.com
    terima kasih

    BalasHapus