Minggu, 29 April 2012

Epigon Platonik

Jakarta adalah sebuah nama yang sama-sama kita kutuki. Bukan karena lambat macet yang membuat waktu terasa lamat. Juga bukan karena sesak udara yang terlalu pekat. Tapi karena memang kita sama-sama dipisahkan oleh sebuah fakta bahwa jarak, bukan lagi kesepakatan geografis. Tapi juga sebuah fakta keji betawa lelah dan materi juga membelenggu keinginan bertemu.

Bahwa seringkali, meminjam sajak Chairil Anwar, rindu bisa "Tambah ini menanti jadi mencekik, Memberat-mencekung pundak," Dan kerap kali kita dihadapkan sebuah pilihan-pilihan untuk pisah atau lanjut. Dengan konsekuensi yang sama sama menakutkan bahwa "Ini sepi terus ada. Dan menanti."

Kukira persekongkolan keji yang membuat kita ragu ini mesti ditamatkan.

Ada baiknya kita bertemu. Di sebuah kafe yang menyajikan kopi pekat hitam yang berampas banyak. Di sertai lagu-lagu kesukaan kita, katakanlah Mocca atau Moldy Peaches. Kamu tertawa dan aku pura-pura berpenampilan bijak. Kita bertukar kata sampai mulut pejal, perut kaku karena canda dan juga jeda diam saat kita mendengar fragmen "anything but you" atau "what if".

Ada baiknya juga kita flâneur mengelilingi kota tua Jakarta (atau Surabaya atau Jogja? terserah kau). Pelan-pelan menikmati sejuk sore setelah sebelumnya kita memaki panas yang terlalu, bising yang terlalu, dan polusi yang terlalu.Di kota ini kukira segala yang terlalu adalah sebuah keharusan. Mungkin ini yang menjelaskan bahwa aku merindukan kau. Terlalu.

Menyusuri sesak bus yang menghantarkanmu pulang. Di sana. Di bagian paling belakang. Berbagi telinga. Mendengarkan lagu-lagu yang syahdu. Menikmati hujan deras. Tapi kini tak sendiri. Ada aku disitu. Bersama kau. Kita boleh baku pukul sepanjang jalan. Beradu debat tentang mana lezat Indomie Goreng kegemaranku. Kubiarkan kau merajuk untuk nanti aku mengalah.
Dan kau nona. Berhentilah gelisah. Berhentilah gelisah mengenai nama tuhan yang berbeda.
Bahwa setiap tuhan menawarkan surga juga neraka. Tak perlu ribut siapa yang benar. Karena ada baiknya kita ribut mengenai kegemaranku membeli buku yang tak habis-habis. Karena siapa tahu kelak, jika kita harus menikah, itu akan mengurangi jatah nasi, telur dan daging anak-anakku. Bahwa jika nanti anakku kurus kering kurang gizi itu karena bapaknya tak tahu diri menahan nafsu membeli kitab-kitab yang belum tentu dibaca.

Melalui hubungan ini kita akan belajar untuk benar-benar menghargai perbedaan. Bahwa Salam Maria dan Sholawat Badar adalah sebuah puja-puji yang kudus. Bahwa Yesus dari Nazareth dan Muhammad dari Mekkah adalah manusia-manusia yang luar biasa. Manusia fana yang mencintai tuhan dengan caranya masing masing. Kau dengan tuhanmu dan aku dengan tuhanku.

Oh tentu saja jika kau masih gelisah. Akan kutemani kau setiap minggu untuk misa. Kuantar kau setiap Paskah untuk liturgi. Seperti kau juga masih sudi marah-marah setiap sahur tiba. Mengingatkanku bergegas untuk sahur dan sebagainya dan sebagainya. Bukankah bangun dini hari paling baik untuk menonton bola? Kelak kau akan kuajarkan untuk memilih satu di antara sekian banyak klub bola.
Karena mencintai tak pernah serumit ini. Apakah segala yang bernama kasih sayang harus seragam?
Apa yang tadi kukatakan itu mungkin mimpi. Tapi tak apa bermimpi. Mimpi itu bagus. Menandakan kita masih menjadi manusia. Masih memiliki keinginan-keinginan untuk berusaha menggapai sesuatu yang belum dimiliki. Juga melatih kita untuk bertanggung jawab pada keinginan. Tentu kita, kau dan aku, tak ingin berakhir sebagai pembual bukan? Yang berhenti pada keinginan dan tak melakukan apapun untuk menuntaskannya.

Kita, maksudnya kau dan aku, akan terus mengingat saat-saat kita bersama. Di pelataran kampus Fisip UI yang rindang, halaman perpustakaan kolosalnya, danaunya yang luas lagi sepi dan juga hutan beserta pohon-mirip-hantu-orang nya. Di sana akan berserak segala macam kenangan yang akan membuat kita menyungging senyum atau menusuk hati.

Kukira racauan ini semua disebabkan kerinduan yang terlalu lama tak bertemu. Kerinduang yang pelan-pelan membuat bara ragu semakin besar. Kemudian kita melihat perbedaan semakin menakutkan. Perihal nama tuhan. Perihal jarak. Perihal waktu yang tak banyak dilalui bersama. Perihal pesan-pesan sms. Dan semua itu menyatu bersepakat membuat kita ragu.

Setiap cerita punya akhirnya sendiri. Ia merupakan anak sah peradaban. 

Toh jika kemudian semua ini tidak terjadi. Kau perlu ingat bahwa kita pernah mencoba. Pernah sama-sama menolak kalah. Meski kemudian harus mundur. Lalu mengakui ada beberapa hal yang terlalu bebal untuk mau peduli dan berubah. Menganggap segala perbedaan kita adalah suatu takdir mati yang tak mungkin berganti. Untuk memaksa mereka percaya bahwa perbedaan adalah sebuah pemberian yang tak terelakan.

Tak perlu menangis atau marah. Karena sebenarnya mereka yang tak ingin kita satu, adalah pribadi-pribadi yang harus dikasihani, sebab gagal memahami makna tuhan dalam perbedaan. Karena seringkali apa yang tersirat, terlalu berat untuk dipahami. Kita harus bersyukur karena pada satu titik. Kita bisa lunas mencintai hingga menafikan segala yang beda.

Dan kelak kita akan duduk bersama. Di sebuah cafe yang redup. Tersenyum tipis mengenang kata-kata Nyai Ontosoroh "Kita telah melawan nak, Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya."

3 komentar:

  1. sial.edisi revisinya bikin mewek. gak pas dibaca sambil nyolong2 jam kerja di kantor. dan aku melakukannya. :'))

    BalasHapus
  2. ihhhh kenapa nangis coba. emang ini buat kamu gt?

    BalasHapus
  3. emang bukan. ga ada yang bilang gitu. cuma sebagai penulis yang baik, harusnya kamu seneng karena berhasil membuat pembaca ikut 'masuk' ke dlm tulisan yang kamu buat.
    bukan malah nyolot gitu. anak sevel mana sik emang?!! :))

    BalasHapus