Kamis, 19 April 2012

Card to Post

Motivational Postcard karya Putri Fitria.


Pada 1985 David Brin menyusun sebuah novel apokaliptik yang berjudul The Postman. Kisahnya bercerita tentang kondisi masa depan bumi pada 2013 yang hancur karena perang. Menyisakan masyarakat tanpa teknologi dan peperangan antar kelompok. Hingga muncul seseorang tanpa nama yang kemudian menyebut diri "tukang pos" (The Postman). 

Dia memberikan harapan dengan mengantarkan surat-surat yang tak sempat terkirim sebelum perang terjadi. Si tukang pos adalah representasi messiah atau nabi. Nabi sendiri dalam terminologi bahasa arab secara umum berarti sang pembawa pesan atau penyampai berita. The Postman, dalam pemahaman saya, adalah sebuah novel fatalis yang disusun dengan sangat cantik tanpa harus menonjolkan identitas keagamaan.

Saya sendiri sangat suka filmnya. The Postman diperankan oleh Kevin Costner, yang sebelumnya membuat saya jatuh cinta dalam Waterworld, tampil sangat ciamik memerankan pak pos. Film ini sendiri mengingatkan saya tentang trend remaja pada tahun 80-90an. Tentang demam literasi yang membuat para remaja usia sekolah dasar untuk saling mengirim surat pada orang asing yang ia kenal dari majalah.

Siapapun yang lahir pada tahun 80an akan sempat mengalami demam sahabat pena. Biasanya para anak-anak SD zaman itu berlangganan majalah semacam Bobo atau Mentari Putra Harapan. Di halaman akhir majalah itu selalu ada halaman khusus tentang sahabat pena. Di situ tertulis nama, alamat, sekolah dan hobi mereka. Dari situlah biasanya anak-anak akan saling berkenalan melalui surat dan menjadi sahabat pena.

Sudah lebih dari 15 tahun sejak terakhir saya berkirim surat dengan kawan-kawan di seluruh Indonesia. Terakhir saya berkirim surat adalah saat saya kelas 5 SD. Saat itu saya kerap menyimpan semua surat sebagai kenang-kenangan. Ada suka duka saat kita menulis surat dalam sahabat pena. Saya harus mengumpulkan uang untuk membeli kertas surat yang bagus dan wangi. Juga membeli perangko dan juga untuk ongkos pengiriman. Ada sebuah usaha dalam setiap surat yang saya kirim dahulu.

Namun seiring berjalannya waktu saya melupakan semua euforia dan kesengangan itu. Saat saya SMP saya berkenalan dengan Playstation. Otomatis waktu saya tercurah habis dalam media game itu. Pelan-pelan saya menyihkan para sahabat pena. Saya kira mereka juga demikian. Mereka hilang ditelan kesibukanya sehari-hari.

Tapi saya selalu percaya. Tuhan punya banyak lelucon yang tak selesai. Dia gemar bercanda dengan orang gemuk.

Akhir 2010 lalu saya berkenalan dengan Putri Fitria seorang traveler dan penulis paruh waktu. Dia adalah salah satu ambasador gerakan  “Card to Post” —yang terdengar hampir sama dengan “kartu pos”— sebuah gerakan online yang mengajak siapapun untuk menghidupkan kembali budaya berkirim kartu pos. Iseng kemudian saya membuka website Card to Post, di situ saya berteriak keras "Eureka!" apa yang saya kira telah hilang dan punah. Ternyata malah lahir kembali dan bermetamorfosis jadi lebih baik lagi.

Gerakan ini dimulai dengan kesadaran akan perkembangan teknologi komunikasi melalui internet yang dapat menciptakan model komunitas yang terbuka, sehingga melahirkan gerakan-gerakan sosial baru. Tak lain, karena internet telah menjadi bagian rutin dari aspek kehidupan sosial sehari-hari, sebagaimana aktivitas virtual dan fisik menunjukkan peningkatan integritas terhadap satu sama lain. Dengan semangat tersebut kami mengajak teman-teman yang senang beromantisme dengan cara di masa lampau sambil tetap bermain-main di dunia jejaring yang khas era sekarang.
Di tengah hiruk pikuk perkembangan dunia digital yang tengik. Rupanya masih ada orang-orang yang waras dan membuat gerakan, yang buat saya, lebih menarik daripada maraton menonton film bokep. Apa yang lebih menyenangkan daripada berjejaring sambil melakukan hal yang kita suka? Saya suka menulis, suka memotret dan juga suka berbagi. Well, saya pikir Card to Post adalah semacam kredo atas kondisi ahistoris generasi Bieber terhadap listerasi.

Jika kalian agak sulit untuk bisa paham mengenai gerakan ini. Saya coba kumpulkan informasi dari situs dan beberapa pegiatnya. Hasilnya adalah untuk bergabung dengan Card to Post caranya sangat sederhana. Kalian hanya harus mendaftarkan diri di Website Card to Post. Untuk segera berinteraksi, mulailah membuat kartu pos dan mengirimkannya kepada teman-teman Card to Post lainnya. Caranya dengan mencari nama dan alamat mereka di sini. Skema berkirim ini akan terus berulang selama teman-teman aktif mengirim dan juga membalas kartu pos yang diterima.

Tentu gerakan atau komunitas semacam ini akan tamat saat aktivitas mereka hanya berhenti pada tataran rutinitas. Nah pada Februari lalu rekan-rekan Card to Post membuat gerakan Kartu pos Untuk presiden. Gerakan ini bisa dimaknasi sebagai sebuah aksi sosial, protes dan juga seni klandestin. Di sini kalian bebas menulis apapun untuk presiden. Entah itu kritik, entah itu pujian atau juga ajakan kolaborasi dalam album terbaru SBY kelak.

Dari Putri, saya mengetahui bahwa kartu pos untuk presiden akan melalui proses kurasi. Hal ini dilakukan agar kartu-kartu pos tersebut bisa dipamerkan dengan tajuk “1000 Kartu Pos Untuk Presiden” pada 9 September 2012, tepat saat ulangtahun Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Well, apa yang lebih elegan daripada berkirim kartu pos dengan presiden dan sekaligus berdiskusi dengannya. Jangan kalah dengan Nazzarudin yang hanya sekali kirim dapat surat balasan. Kalian, juga saya, harus bisa membuat dia peduli!

*self note : udah lama gabung tapi saya gak sempet sempet juga kirim kartu pos. :D

3 komentar:

  1. sebelum bergabung dengan card to post beberapa hari lalu, saya bergabung dengan postcrossing. idenya hampir sama, hanya saja postcrossing yang memilihkan alamat penerima kartupos secara random utk si peminta alamat. ternyata saya ga cocok dengan cara kerja postcrossing krn saya tidak dapat memilih kepada siapa saya kirim kartu pos dan ternyata banyak anggota komunitas yang cenderung saling berkirim hanya utk koleksi kartu pos saja. padahal, memilih kartu, menulis di pesan di belakang kartu, kemudian mengirimkannya adalah salah satu ritual paling menyenangkan dan personal yang sangat saya sukai, hehehe.

    salam kenal, nice blog :)

    BalasHapus
  2. terima kasih sudah mampir hehehe.

    BalasHapus