Rabu, 18 April 2012

Übermensch

Saya selalu percaya bahwa sebenarnya di dunia ini Power Rangers dan Satria Baja Hitam itu benar benar ada. Hanya saja mereka selalu berembunyi di bawah tanah dan memilih untuk tidak berperang secara terbuka di dunia. Manusia-manusia perkasa dengan kekuatan besar yang selalu membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Dalam hati saya percaya mereka dilengkapi kekuatan-kekuatan magis dan psikis yang maha dahsyat untuk bisa mengalahkan monster.

Tapi saya juga percaya ada kekuatan-kekuatan pada manusia-manusia fana yang lahir dari kerja keras dan rutinitas bertahun tahun. Well, setidaknya saya beberapa kali melihat dan berinteraksi dengan mereka secara langsung. Seperti para kuli cilik di pasar Tanjung Jember, yang mampu mengangkut beban 30-50 kg di atas badan mereka beberapa kali sehari. Atau murid-muird SD Dusun Rayap Desa Kemuning Lor Jember yang harus berjalan selama tiga jam lebih mendaki gunung dan menembus hutan untuk bisa sekolah. Kekuatan-kekuatan seperti inilah yang saya kira banyak membentuk wajah dunia.

Saat saya mengikuti Ekspedisi Nusa Barong 2012 pada Maret lalu saya berkesempatan untuk melihat kekuatan semacam ini. Kekuatan yang lahir dari kondisi apa boleh buat karena tak ada lagi pekerjaan atau pilihan lain yang lebih baik. Saya melihat kekuatan para nelayan-nelayan Puger yang besar namun juga menyedihkan dalam satu waktu. Di balik tubuh-tubuh kokoh dan kekar itu tersimpan cerita nyilu tentang putus sekolah dan kemiskinan yang mendera.


Hari itu tepat pukul 11 siang tim ekspedisi yang saya ikuti sampai di Teluk Kandangan. Kebanyakan dari mereka dalam keadaan basah kuyub karena tumpahan ombak yang masuk ke dalam jukung. Sebelumnya kami harus berhadapan dengan ombak besar dari pantasi selatan Jawa. Mengingat besaran ombak dan angin yang menerpa agaknya suatu keajabian seluruh tim bisa selamat. “Puji Tuhan kita semua selamat sampai di sini. Saya sendiri sempat mabuk tadi,” kata Dheny Mardiono ketua ekspedisi kali ini.
            
Selepas turun dari jukung Dheny memerintahkan seluruh porter (tim pendukung pembawa beban logistik) untuk menggelar tenda dan membagikan nasi bungkus. “Kita makan dulu, tadi tak sempat makan apa-apa saat berangkat,” katanya kepada seluruh tim peneliti. Matahari sudah meninggi dan terik mulai menyengat, beberapa dari tim memang terlihat lelah dan langsung melahap makanan yang ada.


Salah seorang porter bernama Hasyim membagikan nasi bungkus ke seluruh tim ekspedisi. Sehari hari ia berprofesi sebagai nelayan di Puger. Namun karena ajakan Mokhamat Rudianto, kepala Resor Cagar Alam Pulau Nusa Barong, ia tertarik untuk masuk ke dalam pulau. “Ini merupakan yang pertama kali saya ikut masuk ke sini (Nusa Barong) biasanya hanya ngantar berkeliling atau menjaring di sekitarnya saja”



Dalam ekspedisi ini ada empat orang porter yang ikut serta. Selain Hasyim ada Walidin, Wakidi, dan yang termuda Fandi. Keempatnya merupakan orang pilihan dari Puger yang memang biasa mengangkat beban berat dan stamina tinggi. “Saya pilih yang sudah kenal medan dan paham daerah sini yaitu pak Walidin. Sisanya tenaga pengangkut logistik,” jelas Rudi.

Selepas sholat dhuhur seluruh tim bersiap untuk bertolak menuju pantai Ndogndogan yang berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dengan beban. Selain karena medan yang berliku dan menanjak, waktu empat jam itu dilalui karena sebagian tim porter membawa beban logistik rata-rata seberat 20kg. Dheny  sendiri yang melakukan pembagian berat ini. Karena ia yang paling paham tentang kebutuhan dan kekuatan masing-masing porter. “Itu untuk makanan kita selama tiga hari ke depan selama proses pengamatan berlangsung”

Porter tertua yang ikut serta dalam ekspedisi kali ini adalah Walidin. Sejak usia lima tahun ia sudah biasa bermain di lingkungan Cagar Alam Pulau Nusa Barong ini. Sehingga ia menjadi penunjuk jalan utama. “Sebagian jalan dilalui lewat pantai pasir dan tebing. Tapi nanti juga akan lewat jalan berawa. Bagi yang tak biasa akan sangat berat.” Saya sendiri awalnya merasa kata-kata itu berlebihan. Ah paling itu hanya sekedar gurauan. Tapi rupanya tuhan senang bercanda dengan manusia-manusia berlemak tebal.



Begitu keluar dari Teluk Kandangan tim ekspedisi harus menghadapi jalur rawa yang memiliki kedalaman setinggi lutut. Lumpur dan serangga mulai melekat dan menyerang semua tim. Beberapa ada yang kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam genangan lumpur. “Semua hati-hati! Gak usah ngoyo! Hati-hati semua jangan jauh jauh!” kata Dheny memberi komando. Saya sendiri bahkan sudah tenggelam hampir sebatas pinggang. Dalam hati saya berjanji sepulang dari ekspedisi ini kan diet ketat. Termasuk diet berpikir congkak.

Semua porter yang ikut dalam ekspedisi ini sebenarnya berprofesi sebagai nelayan di pantai Puger. Mereka ikut ekspedisi ini karena memang angin barat masih sering melanda. Sehingga mereka tak bisa melaut terlalu jauh. “Kalau melaut kan belum tentu dapat. Tapi kalau ikut pak Rudi ini kan jelas bayarannya,” kata Hasyim yang membawa beban logistik sayuran dan minyak goreng. Ia terlihat masih segar. Padahal bebannya merambat dari pundak ke pundak. Saya sendiri belum tentu mampu membawa itu meski hanya untuk satu kali jarak jalan.

Pantai kedua yang dimasuki oleh tim ekspedisi adalah pantai Plirik yang dikelilingi oleh pasir putih. Angin dari arah selatan berhembus kencang dan memberikan pesona menakutkan debur ombak setinggi empat meter lebih. Sebagian besar porter dan tim ekspedisi di pantai pertama ini masih kuat dan tak terlihat kelelahan. Namun Walidin yang ada di depan mengingatkan untuk tidak berleha-leha karena jarak masih belum tertempuh separih. “Masih ada enam bukit dan lima pantai lagi sebelum kita sampai di Ndogndogan. Jadi hemat tenaga semua”

Salah satu porter yang menarik perhatian saya adalah Gonzales. Nama aslinya adalah Wakidin, namun saat itu ia memakai kaus yang bertuliskan Gonzales sehingga kami memanggilnya demikian. Pria 46 tahun ini terlihat sangat lincah dengan tubuh kurusnya. Padahal ia membawa beban beras 20 kg dan air kemasan yang ditautkan pada pundaknya. “Ini masih jauh. Jangan dipikirin beratnya pikirin sampai saja.” Ngomong memang gampang, saya sendiri sudah seperti udang rebus. Muka memerah dan badan berliuk seperti belut yang mau digoreng. 



Gonzales hanya tamatan SD sama seperti seluruh anggota tim porter ekspedisi kali ini. Di masa kecilnya pendidikan merupakan barang yang mewah. Sehingga kebanyakn dari para nelayan Puger lebih memilih melaut daripada harus membuang waktu dan biaya di bangku sekolah. “Tapi minimal keluarga saya harus bisa baca tulis. Itu dasar biar gak bodoh.” Saya tersentak. Setidaknya ada sebuah tamparan yang mampir di muka ini. Saya bahkan belum bisa lulus kuliah. Ada rasa malu yang pelan pelan merambat.

Dari pantai Plirik tim ekspedisi harus menaiki tebing curam setinggi lima meter. Dengan deburan ombak yang besar di bawah perjalanan ini lebih mirip sebuah petualangan berbahaya. Namun Dheny selaku ketua ekspedisi selalu mengawasi dan menyakinkan bahwa tak ada satupun tim yang tertinggal atau cidera. “Ini ekspedisi memang sedikit riskan karena medan Nusa Barong yang berat. Bagi yang tak biasa memang sangat berbahaya,” katanya.

Tim lantas masuk ke dalam pantai Tambakan yang memiliki garis pantai lumayan panjang. Salah satu yang khas dari pantai ini adalah salah satu pulau karang yang menyerupai gajah dengan belalai menjulur. Walidin mengingatkan tim bahwa perjalanan masih jauh sehingga tak ada waktu untuk bersantai. Di sini beberapa porter mulai terlihat kelelahan dan memerah karena terik matahari yang sangat menyengat.

Fandy porter termuda dalam tim ekspedisi Nusa Barong 2012 sedari tadi sudah berjalan dengan terseok seok. Mukanya berpeluh keringat dengan deras dan memerah karena terik. Beberapa kali ia berhenti untuk duduk dan minum air untuk melepaskan dahaga. “Waduh kok jauh ya? Padahal kalau naik jukung dekat,” katanya sambil duduk. “Heh bangun jangan banyak minum. Nanti kamu tambah capek, ini jalannya masih jauh,” kata Walidin mengingatkan.



Seusai pantai Tambakan tim lantas masuk ke Pantai Klatakan yang memiliki kontur karang sepanjang pantainya. Sehngga lebih memudahkan perjalanan selama tim berjalan. “Pasir membuat jalan semakin berat. Sementara tenaga berkurang dan beban tetap,” kata Walidin berteori. Padahal sendiri membawa beban yang lumayan namun masih sempat memerikan dorongan kepada rekan-rekannya.

Di bukit seusai Pantai Klatakan saya terjatuh dari tebing setinggi tiga meter dengan posisi badan terlentang. Dheny dan Hasyim lantas mendekat memberikan bantuan, namun saya meyakinkan untuk dapat meneruskan perjalanan. “Kalau memang tak kuat biar bebannya diberikan pada porter yang lain,” kata Dheny menawarkan bantuan. Karena tak merasakan sakit saya menolak tawaran itu. Saya tak ingin membebani anggota lain yang sudah tampak keleleahan.

Baru setelah sampai di Pantai Pasir Malang saya menyerah. Memar dan luka di kaki ini terasa sangat sakit sehingga tak bisa melanjutkan perjalanan. “Kalau begitu lebih baik bebannya diberikan saja pada Walidin,” kata Dheny. Akhirnya Walidin membawa beban ganda sampai dengan pantai Ndogndogan yang hanya berjarak satu bukit dari Pantai Pasir Malang. Dalam hati saya merasa malu namun juga merasa menyesal. Walidin yang bertubuh jauh lebih kurus dari saya mampu mengangkat beban ganda tanpa mengeluh.

Dengan tubuh bersimbah keringat dan kehausan saya sampai di Pantai Ndogndogan. Sementara para porter itu masih terlihat segar dan bertenaga. Sayup-sayup saya mengingat sajak dari Nietzsche. "Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu." katanya dalam Buku Maka Bersabdalah Zarathustra. "Übermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini." Melihat kekuatan dan kisah hidup para porter ini membuat segala yang saya banggakan selama ini menciut. Merekalah sebenar-benarnya superman.


*foto-foto oleh Heru Putranto

2 komentar:

  1. keren2 cerita ekspedisi Nusa Barong 2012 nya, btw itu nusa barong ada di mana ya?

    BalasHapus
  2. Nusa Barong ada di Jember Jawa Timur. tepatnya di Kecamatan Puger.

    BalasHapus