Tapi saya juga percaya ada kekuatan-kekuatan pada manusia-manusia fana yang lahir dari kerja keras dan rutinitas bertahun tahun. Well, setidaknya saya beberapa kali melihat dan berinteraksi dengan mereka secara langsung. Seperti para kuli cilik di pasar Tanjung Jember, yang mampu mengangkut beban 30-50 kg di atas badan mereka beberapa kali sehari. Atau murid-muird SD Dusun Rayap Desa Kemuning Lor Jember yang harus berjalan selama tiga jam lebih mendaki gunung dan menembus hutan untuk bisa sekolah. Kekuatan-kekuatan seperti inilah yang saya kira banyak membentuk wajah dunia.
Saat saya mengikuti Ekspedisi Nusa Barong 2012 pada Maret lalu saya berkesempatan untuk melihat kekuatan semacam ini. Kekuatan yang lahir dari kondisi apa boleh buat karena tak ada lagi pekerjaan atau pilihan lain yang lebih baik. Saya melihat kekuatan para nelayan-nelayan Puger yang besar namun juga menyedihkan dalam satu waktu. Di balik tubuh-tubuh kokoh dan kekar itu tersimpan cerita nyilu tentang putus sekolah dan kemiskinan yang mendera.
Hari itu tepat pukul 11 siang tim ekspedisi yang saya ikuti sampai di Teluk Kandangan.
Kebanyakan dari mereka dalam keadaan basah kuyub karena tumpahan ombak yang
masuk ke dalam jukung. Sebelumnya kami harus berhadapan dengan ombak besar dari pantasi selatan Jawa. Mengingat besaran ombak dan angin yang menerpa agaknya suatu keajabian seluruh
tim bisa selamat. “Puji Tuhan kita semua selamat sampai di sini. Saya sendiri
sempat mabuk tadi,” kata Dheny Mardiono ketua ekspedisi kali ini.
Selepas turun dari jukung Dheny memerintahkan seluruh porter (tim
pendukung pembawa beban logistik) untuk menggelar tenda dan membagikan nasi
bungkus. “Kita makan dulu, tadi tak sempat makan apa-apa saat berangkat,”
katanya kepada seluruh tim peneliti. Matahari sudah meninggi dan terik mulai
menyengat, beberapa dari tim memang terlihat lelah dan langsung melahap makanan
yang ada.
Salah seorang porter bernama Hasyim membagikan nasi bungkus ke seluruh tim ekspedisi. Sehari hari ia berprofesi sebagai nelayan di Puger. Namun karena ajakan Mokhamat Rudianto, kepala Resor Cagar Alam Pulau Nusa Barong, ia tertarik untuk masuk ke dalam pulau. “Ini merupakan yang pertama kali saya ikut masuk ke sini (Nusa Barong) biasanya hanya ngantar berkeliling atau menjaring di sekitarnya saja”
Dalam ekspedisi ini ada empat orang porter yang ikut serta. Selain Hasyim ada
Walidin, Wakidi, dan yang termuda Fandi. Keempatnya merupakan orang pilihan
dari Puger yang memang biasa mengangkat beban berat dan stamina tinggi. “Saya
pilih yang sudah kenal medan dan paham daerah sini yaitu pak Walidin. Sisanya
tenaga pengangkut logistik,” jelas Rudi.
Selepas sholat dhuhur seluruh tim bersiap untuk bertolak menuju pantai
Ndogndogan yang berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dengan beban.
Selain karena medan yang berliku dan menanjak, waktu empat jam itu dilalui
karena sebagian tim porter membawa beban logistik rata-rata seberat 20kg. Dheny sendiri yang melakukan pembagian berat ini. Karena ia yang paling paham tentang kebutuhan dan kekuatan masing-masing porter. “Itu
untuk makanan kita selama tiga hari ke depan selama proses pengamatan
berlangsung”
Porter tertua yang ikut serta dalam ekspedisi kali ini adalah Walidin. Sejak
usia lima tahun ia sudah biasa bermain di lingkungan Cagar Alam Pulau Nusa
Barong ini. Sehingga ia menjadi penunjuk jalan utama. “Sebagian jalan dilalui
lewat pantai pasir dan tebing. Tapi nanti juga akan lewat jalan berawa. Bagi
yang tak biasa akan sangat berat.” Saya sendiri awalnya merasa kata-kata itu berlebihan. Ah paling itu hanya sekedar gurauan. Tapi rupanya tuhan senang bercanda dengan manusia-manusia berlemak tebal.
Begitu keluar dari Teluk Kandangan tim ekspedisi harus
menghadapi jalur rawa yang memiliki kedalaman setinggi lutut. Lumpur dan
serangga mulai melekat dan menyerang semua tim. Beberapa ada yang kehilangan
keseimbangan dan tercebur ke dalam genangan lumpur. “Semua hati-hati! Gak usah ngoyo! Hati-hati semua jangan
jauh jauh!” kata Dheny memberi komando. Saya sendiri bahkan sudah tenggelam hampir sebatas pinggang. Dalam hati saya berjanji sepulang dari ekspedisi ini kan diet ketat. Termasuk diet berpikir congkak.
Semua porter yang ikut dalam ekspedisi ini sebenarnya berprofesi sebagai
nelayan di pantai Puger. Mereka ikut ekspedisi ini karena memang angin barat
masih sering melanda. Sehingga mereka tak bisa melaut terlalu jauh. “Kalau
melaut kan belum tentu dapat. Tapi kalau ikut pak Rudi ini kan jelas
bayarannya,” kata Hasyim yang membawa beban logistik sayuran dan minyak goreng. Ia terlihat masih segar. Padahal bebannya merambat dari pundak ke pundak. Saya sendiri belum tentu mampu membawa itu meski hanya untuk satu kali jarak jalan.
Pantai kedua yang dimasuki oleh tim ekspedisi adalah pantai Plirik yang
dikelilingi oleh pasir putih. Angin dari arah selatan berhembus kencang dan
memberikan pesona menakutkan debur ombak setinggi empat meter lebih. Sebagian
besar porter dan tim ekspedisi di pantai pertama ini masih kuat dan tak
terlihat kelelahan. Namun Walidin yang ada di depan mengingatkan untuk tidak berleha-leha karena jarak masih belum tertempuh separih. “Masih ada enam bukit dan lima pantai lagi sebelum kita
sampai di Ndogndogan. Jadi hemat tenaga semua”
Salah satu porter yang menarik perhatian saya adalah Gonzales. Nama aslinya
adalah Wakidin, namun saat itu ia memakai kaus yang bertuliskan Gonzales sehingga kami memanggilnya demikian. Pria
46 tahun ini terlihat sangat lincah dengan tubuh kurusnya. Padahal ia membawa
beban beras 20 kg dan air kemasan yang ditautkan pada pundaknya. “Ini masih
jauh. Jangan dipikirin beratnya pikirin sampai saja.” Ngomong memang gampang, saya sendiri sudah seperti udang rebus. Muka memerah dan badan berliuk seperti belut yang mau digoreng.
Gonzales hanya tamatan SD sama seperti seluruh anggota tim porter ekspedisi
kali ini. Di masa kecilnya pendidikan merupakan barang yang mewah. Sehingga
kebanyakn dari para nelayan Puger lebih memilih melaut daripada harus membuang
waktu dan biaya di bangku sekolah. “Tapi minimal keluarga saya harus bisa baca
tulis. Itu dasar biar gak bodoh.” Saya tersentak. Setidaknya ada sebuah tamparan yang mampir di muka ini. Saya bahkan belum bisa lulus kuliah. Ada rasa malu yang pelan pelan merambat.
Dari pantai Plirik tim ekspedisi harus menaiki tebing curam setinggi lima
meter. Dengan deburan ombak yang besar di bawah perjalanan ini lebih mirip
sebuah petualangan berbahaya. Namun Dheny selaku ketua ekspedisi selalu
mengawasi dan menyakinkan bahwa tak ada satupun tim yang tertinggal atau
cidera. “Ini ekspedisi memang sedikit riskan karena medan Nusa Barong yang
berat. Bagi yang tak biasa memang sangat berbahaya,” katanya.
Tim lantas masuk ke dalam pantai Tambakan yang memiliki garis pantai lumayan
panjang. Salah satu yang khas dari pantai ini adalah salah satu pulau karang
yang menyerupai gajah dengan belalai menjulur. Walidin mengingatkan tim bahwa
perjalanan masih jauh sehingga tak ada waktu untuk bersantai. Di sini beberapa
porter mulai terlihat kelelahan dan memerah karena terik matahari yang sangat
menyengat.
Fandy porter termuda dalam tim ekspedisi Nusa Barong 2012 sedari tadi sudah
berjalan dengan terseok seok. Mukanya berpeluh keringat dengan deras dan
memerah karena terik. Beberapa kali ia berhenti untuk duduk dan minum air untuk
melepaskan dahaga. “Waduh kok jauh ya? Padahal kalau naik jukung dekat,”
katanya sambil duduk. “Heh bangun jangan banyak minum. Nanti kamu tambah capek,
ini jalannya masih jauh,” kata Walidin mengingatkan.
Seusai pantai Tambakan tim lantas masuk ke Pantai Klatakan yang memiliki kontur
karang sepanjang pantainya. Sehngga lebih memudahkan perjalanan selama tim
berjalan. “Pasir membuat jalan semakin berat. Sementara tenaga berkurang dan
beban tetap,” kata Walidin berteori. Padahal sendiri membawa beban yang lumayan
namun masih sempat memerikan dorongan kepada rekan-rekannya.
Di bukit seusai Pantai Klatakan saya terjatuh dari
tebing setinggi tiga meter dengan posisi badan terlentang. Dheny dan Hasyim
lantas mendekat memberikan bantuan, namun saya meyakinkan
untuk dapat meneruskan perjalanan. “Kalau memang tak kuat biar bebannya
diberikan pada porter yang lain,” kata Dheny menawarkan bantuan. Karena tak merasakan sakit saya menolak tawaran itu. Saya tak ingin membebani anggota lain yang sudah tampak keleleahan.
Baru setelah sampai di Pantai Pasir Malang saya menyerah. Memar dan luka di kaki ini terasa sangat sakit sehingga tak bisa
melanjutkan perjalanan. “Kalau begitu lebih baik bebannya diberikan saja pada
Walidin,” kata Dheny. Akhirnya Walidin membawa beban ganda sampai dengan pantai
Ndogndogan yang hanya berjarak satu bukit dari Pantai Pasir Malang. Dalam hati saya merasa malu namun juga merasa menyesal. Walidin yang bertubuh jauh lebih kurus dari saya mampu mengangkat beban ganda tanpa mengeluh.
Dengan tubuh bersimbah keringat dan kehausan saya sampai di Pantai Ndogndogan. Sementara para porter itu masih terlihat segar dan bertenaga. Sayup-sayup saya mengingat sajak dari Nietzsche. "Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu." katanya dalam Buku Maka Bersabdalah Zarathustra. "Übermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini." Melihat kekuatan dan kisah hidup para porter ini membuat segala yang saya banggakan selama ini menciut. Merekalah sebenar-benarnya superman.
*foto-foto oleh Heru Putranto
keren2 cerita ekspedisi Nusa Barong 2012 nya, btw itu nusa barong ada di mana ya?
BalasHapusNusa Barong ada di Jember Jawa Timur. tepatnya di Kecamatan Puger.
BalasHapus